Menjadi Yang Ke-3

Menjadi Yang Ke-3
Mencari Aulia


__ADS_3

Bagas berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Safira barusan kalau sebenarnya Ternyata Aulia tidak berada di situ, dan sekarang dirinya hanya mempunyai satu opsi lagi yaitu menanyakan keberadaan Aulia di rumah kedua mertuanya Siapa tahu wanita itu menuju ke sana.


Bagas itu sebenarnya sedikit cemas kalau sampai-sampai dirinya harus menghubungi kedua orang tuanya Aulia sebab takutnya mereka bakalan mencurigai kalau dirinya itu melakukan hal yang kasar kepada anak mereka, padahal sebenarnya anaknya itu yang selalu kasar kepadanya tetapi ya balik lagi dari dulu sampai sekarang kau menteri pasti selalu salah karena mereka selalu dikenal dengan pribadi yang tegas dan juga keras dalam bersikap.


pria itu berjalan mondar-mandir ke sana kemari berusaha untuk menguatkan dirinya kalau ia bisa menelpon kedua mertuanya sebab Tidak ada salahnya kan kalau seorang menantu menghubungi orang tua dari istrinya, agar silaturahmi selalu terjalin tidak ada kecanggungan nantinya ketika bertemu dan juga otomatis pertanda bahwa dirinya menghargai mereka sebagai orang tua.


Dimas yang tadi hendak masuk langsung menghentikan langkah kakinya dan baru saja membuka setengah dari pintu ruangan majikannya itu, sebab dilihatnya ekspresi Bagas kali ini memang benar-benar tidak bisa diajak buat kompromi tentang pekerjaan dan ini semua pasti ada sangkut-pautnya dengan Nyonya muda mereka itu.


"nah tuh kan tadi Siapa suruh yang menurunkan Nyonya di tengah jalan sekarang lihat dia sendiri yang pusing sedangkan Nyonya Aliya entah memikirkannya atau tidak, makanya kayak si boleh tapi otaknya juga harus kaya supaya kalau mengambil sebuah keputusan tidak bikin diri sendiri yang kesusahan. "bisik Dimas pelan mana berani dirinya berbicara secara langsung.


Bagas yang mendengar bunyi deretan pintu langsung menatap ke arah sumber suara dan mengerutkan keningnya ketika melihat asistennya hanya berdiri terpaku di depan pintu tanpa ada berniat untuk masuk ataupun keluar, dirinya segera mendekati Dimas memilah detail ekspresi pria itu berusaha membaca Sebenarnya apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.


"kamu memang kalau tidak ada niatan untuk masuk lebih baik kamu keluar saja daripada berdiri di situ nanti yang ada virus bakalan masuk ke dalam ruangan saya, kalau kamu ingin masuk ke dalamnya sudah masuk setelah itu kamu taruh berkas kamu dan pergi karena asal kamu tahu ya semua berkas yang tadi menumpuk di depan situ saja tidak saya pedulikan! "begitulah orang kaya selalu bebas melakukan apapun yang mereka mau tanpa memikirkan pendapat orang lain.


"Saya hanya ingin memberikan berkas ini Tuan terus ini untuk kepentingan meeting nanti sore bersama dengan klien yang dari perusahaan Abdi Jaya Group, dan kalau anda tidak mood untuk memeriksanya nanti divisi terkait yang mau pergi meeting bakalan kesusahan nantinya karena mereka tidak punya pegangan!"jelas Dimas yang tidak peduli dengan tatapan dari Bagas yang penuh intimidasi ke arahnya.


"Jadi ceritanya kamu sekarang yang balik memerintah saya? Apa kamu sudah capek untuk hidup sampai-sampai sekarang giliran kamu mau cari mati dengan mengantar nyawa sendiri, kalau memang kamu mahal itu terjadi pergi loncat di jembatan terus Akhiri Saja hidup kamu setelah membuat surat wasiat agar saya tidak pusing nanti memikirkan pertanyaan Semua orang!" ujar Bagas santai seolah perkataannya itu memang bukan sebuah masalah yang besar.


"Kenapa malah menyuruh saya melakukan hal gila itu ya, padahal saya ke sini kan ingin melakukan hal yang benar! Mau berkomentar tapi di mana-mana itu Sultan auto Maha Benar, mau diam saja tetapi nanti rasa-rasanya kata-katanya itu loh bikin tenggorokanku rasa-rasanya langsung kering tiba-tiba! "gumam Dimas dalam hati Padahal niat hati ingin memberikan berkas berisi poin-poin penting tentang meeting nantinya Tetapi malah dirinya yang dibuat kewalahan dengan tingkah majikannya yang sangat aneh bin ajaib itu.


"Jadi bagaimana ada niatan untuk melakukan apa yang saya sarankan tadi? kalau memang tidak ada Ya sudah kamu pergi saja bawa tuh berkas semuanya terus meeting sama klien Bilang saja di cancel dulu soalnya aku belum ada mood untuk memeriksa benda-benda berkarat itu, kalau mereka komentar tentang kinerja aku suruh mereka ke ruanganku sekarang biar aku yang bakalan membina mereka menjadi manusia yang jangan terlalu ikut campur dengan urusan orang lain! "Dimas tidak bisa banyak berkata-kata hanya terdiam saja karena kalau dirinya sampai menyanggah perkataan Bagas yang ada itu merupakan permintaan terakhirnya untuk dilenyapkan segera.


"Apa anda mau saya mengecek keberadaan Nyonya muda?"Dimas ingin memukul telak tuan nya itu secara tidak langsung hanya melalui dengan kata-katanya saja.

__ADS_1


Bagas yang tadi sudah merasa sedikit terhibur dengan kata-katanya yang sedikit menyinggung perasaan Dimas tiba-tiba langsung memasang tatapan tidak sukanya kepada asistennya, beginilah hal yang paling ia tidak sukai dari Dimas yaitu terkadang mengatakan suatu hal yang langsung membuat dirinya selalu emosi.


"Kamu kenapa malah ikut campur urusan saya dengan istri saya? Jangan bilang kamu berminat dengan Aulia, Apa kamu pikir saya bakalan memberikan dia dengan sukarela kepada kamu? "tanya Bagas tidak terima membuat Dimas hanya bisa menghela nafasnya kasar Karena maksud dan tujuan pria itu tidak sampai ke sana tetapi kenapa Bagas malah berpikiran sampai sejauh itu.


"Astaga Tuan! saya tadi itu menawarkan kalau memang mau anda sedang tidak bagus gara-gara memikirkan keberadaan Nyonya Aulia maka Lebih baik saya pergi mencarinya saja, itu semua saya lakukan karena merasa khawatir dengan anda bukan karena memikirkan diri saya sendiri Lagian di luaran sana masih banyak wanita cantik yang bisa saya gaet!"jelas Dimas yang mulai Jengah dengan sikap majikannya itu selalu saja menyalah Artikan biarlah dirinya menjadi pria cerewet sejenak karena jika tidak maka bisa dipastikan Bagas bakalan terus menyalahkan dirinya dengan kesalahan yang tidak pernah ia lakukan Apapun itu.


"Oh jadi saya mencurigai kamu tadi saja ya ternyata kamu memang tidak ada niatan untuk selingkuh dengan istri saya? Baguslah kalau kamu sadar diri jika melawan dengan seorang Bagas Sanjaya itu merupakan suatu hal yang tidak akan bisa kamu menangkan, jadi lebih baik kamu pergi saja tidak usah mencari istriku karena Takutnya nanti dia bakalan kepincut sama kamu yang terlalu sibuk dengan urusannya!"usir Bagas sambil mengibaskan tangannya.


Dimas memilih untuk keluar saja daripada nanti urusannya bakalan lebih panjang kalau membahas soal Bagas pria yang selalu cemburuan dan curigaan tidak jelas , padahal istrinya yang lain ia tidak pernah melakukan hal itu tetapi berbeda dengan Aulia yang membuat pria tua itu semakin posesif.


"dasar majikan tukang kawin masak menghadapi dua istri yang lalu saja tidak apa-apa tidak kayak ABG labil sekarang mah tambah parah layaknya orang Korea jatuh cinta, Jika seperti begitu terus nanti yang ada semua karyawannya bakalan stres karena menghadapi kegilaan pria itu!"selama Dimas bekerja dengan Bagas Baru kali ini tuannya itu masa bodoh dengan pekerjaan yang begitu penting seolah apa yang dikatakan oleh asisten merupakan sebuah hal yang tidak pantas untuk pikirkan.


Bagas menatap nanar ke arah berkas yang semakin bertumpuk bukannya semakin berkurang. Bagaimana tidak berkas yang lama saja belum ia periksa ini malah Ditambah lagi dengan berkas yang diberikan oleh Dimas barusan, memimpin sebuah perusahaan kata orang itu enak-enak saja padahal sebenarnya ribetnya minta ampun yang memerlukan yang namanya ketelitian dan juga perhatian yang bagus tidak hanya sambil lalu saja.


beban pikiran seseorang itu bakalan semakin berat Ketika masalah yang satu belum kelar harus tertimpa dengan masalah yang lainnya lagi, Sebab Dia bagaimanapun setinggi apapun aku yang ia miliki tidak bisa langsung sekaligus menerima sebuah permasalahan yang datang pasti tubuhnya harus meminta jeda sebentar.


Bagas merasakan hal yang berbeda kali ini Ketika masalah untuk menaklukkan Aulia belum kelar wanita itu malah dengan terang-terangan bertemu dengan pria lain, sudah begitu ketika sampai di rumah istri keduanya itu begitu mempermasalahkan pernikahannya yang ketiga ini membuat mereka berdua pun seperti ogah-ogahan untuk saling berbicara.


Aulia jika lebih agresif dan juga lebih santai mungkin permasalahannya tidak seperti begini karena ada tempat untuk Bagas bisa berbagi, sebab memang Davina itu wanita yang santai dan juga kalem hanya saja dirinya sudah tidak srek untuk berbincang secara pribadi dengan dirinya.


"sepertinya kalau memang dia tidak suka aku tetap harus menghubungi kedua orang tuanya memastikan kabarnya dia, sebab Biar bagaimanapun dia itu sudah menjadi tanggung jawabku dan aku tidak bisa lepas kontrol dengan tidak memperhatikannya nanti aku yang bakalan disalahkan lagi!"akhirnya Bagas memilih untuk menerima segala macam risiko yang bakalan ditanggungnya hanya untuk memastikan keadaan Aulia dan juga keberadaan wanita itu untuk saat ini.


Deni yang sedang duduk santai Karena pagi-pagi begini Dirinya belum ada berniat untuk kemanapun sebab sedikit siangan dirinya akan pergi memantau Dojo tempat latihan anak-anak yang mengikuti pencak silat miliknya, dirinya kebingungan ketika melihat nomor menantunya yang menghubungi dirinya Padahal selama pria itu menikah dengan putrinya tidak sedikitpun Bagas menelpon ataupun Sekedar Bertanya keadaan mereka.

__ADS_1


"tumben ini kutu kupret menghubungiku? Biasanya dia mah auto kabur apalagi kalau keinginannya sudah terpenuhi kapan lagi dia bisa menghubungiku, semoga saja Aulia cepat bertindak agar bisa segera menjauh dari keluarga parasit seperti begitu karena aku juga tidak bakalan bisa tidur dengan tenang jika putriku masih saja tinggal dengan mereka!"gumam Deni selalu memilih untuk mengangkat panggilan dari menantunya itu.


"Iya Gas, Kenapa Nak?"tanya Deni yang sengaja menyebut kata gas untuk menyingkat panggilan Bagas agar melihat bagaimana respon pria itu.


Bagas sedikit kurang nyaman mendengar singkatan yang diberikan oleh Deni terhadap namanya barusan, untung juga tidak ada siapapun di dalam ruangan itu kalau tidak bisa habis harga dirinya diturunkan oleh mertuanya itu.


"seumur hidup baru punya 3 istri eh maksudnya sudah punya tiga istri baru kali ini ada yang berani menyingkat Namaku seperti begitu, lama-lama aku sudah disamakan dengan gas petromaks dan membuat Harga Diriku serunturuntuhnya bangunan pun masih bisa berdiri lagi tapi aku mah tidak bisa berdiri!"Bagas meratapi nasibnya yang benar-benar hancur di mata Ayah mertuanya itu.


"Selamat pagi Abah maaf jika aku mengganggu! "Bagas sengaj menjeda ucapannya.


"kalau kamu tahu mengganggu kenapa malah menghubungi saya, Bukannya kalau sudah sadar diri dari awal lebih baik langsung berhenti saja Jangan memaksakan untuk maju? "Deni mah sengaja mempermainkan menantunya itu agak melihat kira-kira CEO terkenal memiliki sikap yang sabar tidak soalnya seperti gosip-gosip yang beredar di luar sana seorang pemimpin perusahaan paling susah untuk diajak bercanda apalagi hal-hal yang tidak penting di luar dari garis perusahaan.


"Waduh tapi saya ada perlu penting nih maka dari itu saya terpaksa mengganggu, soalnya tidak mungkin saya harus menunda keperluan penting saya itu karena takutnya nantinya bakalan lebih parah jadinya! "Nah tuh kan sekarang giliran Bagas yang mempermainkan Deni dengan kata-kata ambigunya itu.


"Ya sudah sekarang kamu ngomong Ada perlu apa dan kepentingannya itu sampai di mana supaya saya bisa mencari jalan keluarnya dan juga memberikan solusi, meskipun saya tahu kamu itu cerdas dan merupakan pemilik dari sebuah perusahaan besar tetapi Intinya kamu itu dibawanya saya karena kamu itu menantu saya!"tegas Deni padahal sebenarnya dirinya sedang mempermainkan harga diri Bagas.


"Maafkan saya ayah mertua tetapi saya ingin bertanya apakah istri saya Aulia ada di situ, soalnya tadi katanya saat Dia pamit mau pergi ke rumah kalian makanya saya memastikan Apakah dia sudah sampai atau belum Soalnya sampai sekarang saya tidak bisa menghubunginya? "Bagas sengaja berbohong soal tidak bisa menghubungi Aulia karena memang sebenarnya kenyataannya pria itu tidak memiliki nomor wanita itu.


Deni mengerutkan keningnya ketika mendengar pertanyaan Bagas kepadanya barusan, sebab terdengar begitu aneh masa nomor ayah mertuanya ada sedangkan nomor istrinya sendiri tidak ada karena memang Bagas meskipun berbohong Deni sangat tahu dari gaya bicara pria itu.


"kamu jujur kepada saya Sebenarnya nomor Aulia itu bukan tidak bisa dihubungi tetapi kamu tidak punya nomornya kan? Wah suami macam apa kamu ini sampai-sampai melupakan tanggung jawab kamu untuk menjaga anak saya, mungkin karena kelebihan banyak istri sampai-sampai kamu bingung mau perhatikan yang mana begitu?"Deni benar-benar dibuat emosi sebab mungkin menurutnya pujian orang terhadap Bagas itu sepertinya salah tempat karena buktinya pria itu tidak pintar-pintar amat.


Bagas di seberang menggaruk kepalanya tidak gatal sambil tersenyum seolah saat ini tingkahnya itu dilihat jelas oleh Deni, pria itu ternyata memang tidak ada bakat alami buat berbohong atau mungkin Deni nya yang terlalu jeli dalam menangkap perbedaan suara orang.

__ADS_1


__ADS_2