
Nina di dalam kamarnya hanya bisa bersandar di depan pintu tidak bisa bergerak sama sekali, karena kedua kakinya terasa begitu lemas akibat mendengar Sebuah Rahasia yang baru saja dikatakan oleh Mamanya tadi.
wanita itu tidak menyangka kalau masa lalu sahabatnya itu sangat menyedihkan, dan harapan Semoga masa depannya bahagia ternyata tidak didapatkannya sama sekali.
Aulia sudah menikah dan juga mendapatkan suaminya yang sangat kaya serta bisa bertanggung jawab secara finansial kepadanya, namun pertanyaannya apakah hati dan pikiran sahabatnya itu juga ikutan bahagia dengan pernikahannya yang sudah terjadi itu?
jika memang Aulia merasa bahagia tentu saja wanita itu tidak akan berada di Bandung melainkan di Jakarta bersama dengan suaminya, ternyata harapan hidup seseorang ingin bahagia terkadang itu tidak sesuai dengan kenyataannya bahkan bisa dibilang berbanding terbalik.
Nina memilih untuk bersembunyi sejenak dari pandangannya Aulia, agar wanita itu tidak curiga Bahwa saat ini Nina ingin sekali menangis.
Aulia sebenarnya ingin mengambil tas dan ponselnya di lantai atas, tetapi karena melihat perubahan sikap Nina tadi dirinya memilih untuk membiarkan saja wanita itu lebih tenang dan juga rileks baru setelah itu mungkin bisa berbicara dengannya.
Kalaupun sampai sebentar dirinya pulang Nina belum ada perubahan sama sekali, Ia yang bakalan memaksakan diri untuk bertanya dan juga mencari tahu sebenarnya ada masalah apa yang tengah Nina hadapi.
"kamu tidak ada niatan mau ambil tas sama ponsel? "tanya Rahayu memastikan Karena setahunya anak muda zaman sekarang meskipun sudah nikah kalau mau pergi kemana-mana pasti senjata andalannya yaitu hanya ponsel dan juga dompet.
Aulia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum karena untuk apa membawa barang-barang tersebut, jika ponselnya saja masih tetap ya nonaktifkan kemudian mau membawa dompet juga ingin membeli apa karena pikirannya saja sama sekali tidak tertuju pada barang-barang yang ia inginkan.
"Ya sudah karena kamu tidak menginginkan apa-apa Jadi sekarang itu fix kamu hanya menemani Tante belanja, Tetapi kalau sampai di pasar Ada yang ingin kamu beli tinggal ngomong saja biar nanti Tante yang bakalan traktir kamu! "jelas Rahayu karena menurutnya sahabat Nina itu artinya anaknya juga.
Nina yang mendengar bunyi mobil mamanya yang keluar dari Garasi merasa yakin kalau wanita itu pasti membawa Aulia ikut serta dengannya, maka dari itu tangisnya pun langsung pecah karena dari tadi Ya berusaha untuk menahannya dan itu terasa sangat menyakitkan.
"Huwaaaa, Aulia Aku lagi sedih nih! kenapa sih nasib kamu selalu begitu, Padahal selama ini Aku merasa iri sama kamu menggera bahwa kamu punya segala-galanya mulai dari tampang yang sempurna dan juga kasih sayang orang tua? "ujar Nina dengan berteriak histeris tidak peduli kalau nanti asisten rumah tangga mereka bakalan mendengar karena sikapnya selama ini sudah menjadi makan minum sehari-hari mereka Jadi otomatis mereka tidak akan peduli apapun yang ia lakukan di dalam kamarnya.
setelah mobil Rahayu pergi meninggalkan rumah tidak lama terdengar ada suara mobil yang baru masuk ke dalam pekarangan rumah, Nina yang sedang banjir air mata mau tidak mau menghentikan Slow motion-nya itu dan memastikan kira-kira Siapa yang datang saat ini.
"Wah Pangeran katak datangnya terlambat! Setidaknya datangnya dari tadi lah orang princessnya sudah pergi, dasar ketahuan kalau nasibnya tidak pernah beruntung! "sungut Nina yang tadi ingin bersedih selama beberapa jam saat ditinggal Aulia dan juga Mamanya kini meng-cancel semuanya dan memilih untuk keluar kamarnya dan memarahi orang yang baru datang itu.
"Anybody home I am coming! "teriak Kevin antusias karena dirinya sudah mendengar daerah hayo kalau Nina sudah pulang dari Jakarta dan membawa seorang temannya yang sangat cantik.
Nina mendengus kesal ketika melihat wajah menyebalkan sepupunya Itu, karena setiap kali pria itu datang di rumahnya pasti bakalan terjadi kehebohan padahal wajahnya itu tampan sekali loh tetapi entah kenapa tingkahnya itu sudah seperti manusia bertulang lunak.
__ADS_1
(Kevin Saputra)
Lanjut**
"Eh tidak perlu pakai teriak segala orang lain juga pasti mendengarkannya, Memangnya kamu pikir penghuni rumah ini telinganya sudah bocor?"sungut Nina sambil menatap kesel ke arah Kevin yang terlihat santai saja seolah tidak punya salah sama sekali padahal jelas-jelas tadi sudah teriak di dalam rumah orang tanpa permisi.
"Ya maksudnya kan di mana-mana itu harus mendengarkan suara kita kepada orang yang bakalan menjadi jodoh di masa depan, karena Percayalah zaman sekarang itu dari suara turun ke hati karena sudah berubah jadi mau tidak mau aku harus teriak seolah-olah sedang memperkenalkan jati diri! "Sahut Kevin biasa saja seolah-olah wajah Nina yang tengah marah itu merupakan sebuah pemandangan yang biasa yang selalu dirinya temui.
"Idih yang ada di bakalan ilfil sama kamu karena mengira kamu itu laki-laki yang tulangnya lunak dan lentur serta gemulai, Lain kali itu jaga image dong Pantesan tidak laku sampai sekarang orang gayanya seperti begitu aja sih Oke tapi turun dari leher ke bawah mah parah!"sinis Nina sambil memasang tatapan yang begitu jijik kepada Kevin tetapi pria itu malah merasa biasa saja.
"Sorry ya Cess, kalau kamu wanita yang aku taksir pasti aku bakalan jaga image! Tetapi karena kamu itu barang lama yang sampai sekarang juga belum laku-laku jadi jangan menghina aku, maka dari itu bodoh amat mau kam lihat dengan cara apapun itu urusannya kamu!"ujar Kevin yang kepalanya planga plongok ke sana kemari entah apa yang sedang ia cari.
"Ente pikir Aye maling sampai mau mencari barang yang sedang aye sembunyikan?"tanya Nina yang berlagak seperti seorang Betawi gaya bicaranya saat ini.
"Where is my princess? "tanya Kevin yang tidak peduli dengan pertanyaan dari Nina tadi.
"Who is? "Tanya Nina balik.
"Sepertinya kamu telat soalnya sudah dibawa pergi sama orang, itu tandanya nasib kamu sedang tidak beruntung jadi lebih baik kamu duduk tenang dan diam di sini! Kalau orangnya itu baik hati pasti dia bakalan mengantarkan Aulia pulang secepatnya, tapi kalau lagi pengen jalan-jalan sepertinya sampai besok pagi pun tidak akan pernah kembali! "ujar Nina ambigu membuat Kevin benar-benar tidak terima ketika ada yang sudah mencoba mencolong start seperti ini.
"Itu manusia siapa sih yang membawa jodohku pergi? Ayo cepat kamu jelaskan biar aku pergi mencarinya kemudian mencekik batang lehernya itu, Siapa suruh enak sekali sudah membawa pergi tulang rusukku yang hilang satu itu! "perintah Kevin yang benar-benar gemas membuat Nina ingin sekali tertawa.
"kamu yakin ingin mengajak orang yang membawa pergi Aulia, Apa kamu tidak takut nanti kamu yang bakalan diserang balik? "tanya Nina memastikan.
"Sangat yakin lah masa iya jodohku dibawa pergi ke aku biasa saja, jadi cepat katakan Siapa orangnya supaya aku bisa segera menyusul mereka? "bujuk Kevin yang sepertinya sangat tidak sabar.
"Tapi kamu beneran janji bakalan melakukan sesuatu kalau sampai kamu tahu orangnya itu siapa, soalnya sih dari tadi aku ragu jangan sampai semua yang kamu katakan itu langsung hilang di udara ketika tahu orang yang membawa pergi Aulia? "tanya Nina sekali lagi.
Kevin membulatkan matanya karena merasa kesal jika Nina sepertinya sedang mempermainkannya, padahal Apa susahnya sih tinggal bilang jujur saja karena dengan begitu semua Masalahnya kan bakalan beres.
__ADS_1
"Dia dibawa pergi sama Mama entah mau ke mana, Aku juga tidak tahu soalnya tadi aku masih di kamar. Kalau memang kamu mau mengejar Mama terus marah-marah ataupun memaki, tidak masalah sih yang penting kamu siap-siap saja mendapat pukulan balik dari tuan Perdana!"ujar Nina dengan ekspresi datarnya membuat Kevin langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena syukurlah tadi perkataannya itu tidak didengar oleh Rahayu kalau tidak urusannya bisa panjang jika mendengar omelan tantenya itu yang selalu saja doyan marah-marah kalau dirinya melakukan kesalahan.
"Ih Nina kamu tadi itu mencoba aku kan? Soalnya dari awal kalau kamu ngomong bahwa tante Rahayu yang membawa pergi Aulia, aku mah pasti biasa saja. Tetapi tadi itu kamu ngomongnya ambigu,aku saja sampai tidak paham dan setelah ditanya kamu malah tidak mengaku sama sekali!"omel Kevin karena tidak terima jika Nina tadi sudah menjebaknya dan membuat dirinya marah-marah tidak jelas.
Nina hanya bisa tertawa ngakak melihat wajah ketakutannya Kevin, pria itu bakalan melawan dan menjawab perkataan orang lain jika membuat dirinya tersinggung. Tetapi jika menyangkut Rahayu Tantenya, Kevin itu takutnya minta ampun.
"Ah kenapa tadi aku tidak merekam ya saat kamu marah-marah kepada Mama, soalnya aku yakin kali ini bukan rambut kamu saja yang dicabut tetapi itu kumis sama bulu ketek kamu bakalan habis!"ledek Nina yang merasa sedikit terhibur ketika ada Kevin di situ karena tingkah sepupunya itu benar-benar sangat heboh.
"Ya jangan kamu adukan dong soalnya menakutkan sekali Tante Rahayu kalau lagi marah, Memangnya kamu tidak ada persetia sepupuan gitu kalau sampai aku dianiaya lagi?"tanya Kevin mau melas tetapi Nina Di sana sudah tidak bisa lagi menahan tawanya sampai-sampai wanita itu duduk di bawah lantai dan juga sambil memegang perutnya karena merasa lucu dengan wajah Kevin yang sedang ketakutan seperti itu padahal jelas-jelas Rahayu saat ini tidak pada di tempat.
...****************...
Sanjaya Group
Bagas dan juga kliennya dari Bandung yaitu Perdana Kusuma Sudah selesai membahas soal kerjasama yang bakalan mereka jalankan, karena mereka berdua itu bergerak di bidang yang berbeda yaitu jika Bagas bagian real estate maka perdana itu adalah menyiapkan bahan-bahan material dan juga alat-alat berat.
"Ah iya karena menyangkut pembahasan kerja sama kita sudah selesai dan saya juga masih punya waktu beberapa jam sebelum terbang ke Bandung, Apakah keluarga anda sehat-sehat saja Pak Bagas soalnya Anda masih muda kemudian sangat sibuk di kantor takutnya jangan sampai istri komplain di rumah?"tanya Perdana yang ingin membawa sesuatu itu secara santai tidak perlu harus terlalu formal karena akibatnya nanti saat bertemu tetap ada kecanggungan yang terjadi.
Bagas tertawa kecil ketika mendengar pertanyaan dari Perdana barusan, karena menurutnya memang benar sih jika dirinya masih terlalu muda dan terlalu sibuk di kantor otomatis melupakan tanggung jawab sebagai seorang suami di rumah.
"Ya begitulah sebenarnya bisa dibilang waktuku lebih banyak di kantor Daripada di rumah, Sebenarnya aku tahu kalau itu bbakalan nanti membuat hubunganku menjadi sedikit jauh dengan istriku! Hanya saja mau bagaimana lagi ketika banyak tagihan yang harus aku lunasi, dan juga banyak perut yang harus selalu tetap kenyang mau tidak mau aku harus tetap seperti begini!"ujar Bagas Tetap santai saja padahal sebenarnya karena mengurus pekerjaan dirinya sampai melupakan jika harus mencari Aulia saat ini juga karena sudah beberapa hari istrinya itu tidak pulang ke rumah dan ia sangat merindukannya.
"Sebenarnya menurut saya semua wanita itu terkadang lebih memilih suami ada di rumah daripada membawa pulang uang banyak tetapi waktunya tidak pernah ada, tidak semua istri itu materialistis dan juga yang ada dalam pikiran mereka itu hanya harta karena yang mereka inginkan adalah perhatian dan juga kebersamaan dengan suami sendiri!"jelas Perdana ingin menyadarkan juniornya itu karena biar bagaimanapun dirinya merupakan orang yang pertama kali berumah tangga barulah Bagas meskipun dirinya masih kalah jumlah istri dengan pria yang lebih muda darinya itu.
"Yah mau tidak mau saat ini saya tetap memposisikan kalau istri saya itu merupakan wanita materialistis, karena kalau posisi kami hanya di rumah terus saling jaga tidak dapat pekerjaan sama sekali sepertinya masalah baru bakalan Muncul lagi kan? "tanya Bagas.
Keduanya ngobrol ngalor ngidul kemana-mana tidak ada pembahasan yang monoton melainkan banyak pembahasan yang mereka lakukan, mulai dari masalah rumah tangga kemudian pekerjaan dan juga kegemaran mereka di luar jam kantor dan juga di luar dari urusan rumah tangga.
"Oh iya katanya Tuan Perdana mau pulang kembali ke Bandung ya sebentar sore, Wah ternyata tidak bisa lama-lama ya meninggalkan istrinya di rumah sendirian?"tanya Bagas ketika waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 siang.
Perdana menepuk jidatnya perlahan karena saking asyiknya mengobrol dengan Bagas ia sampai melupakan waktu, hanya saja syukurnya asistennya sudah menyiapkan tiket pukul 04.00 sore dirinya harus berada di bandara makanya ia sedikit bisa bersantai .
__ADS_1
"Aduh untung juga Tuan Bagas mengingatkan soalnya tadi anak saya menelpon katanya disuruh membeli bakso mercon yang di Jalan Angkasa itu loh, soalnya Katanya temannya itu doyan sekali makanan itu sampai-sampai rela nambah 2 mangkok padahal badannya kecilnya minta ampun!"sahut Perdana Sambil tertawa kecil tetapi berbeda dengan Bagas yang sepertinya mengingat sesuatu hal yang selama ini sudah ia ketahui tapi tidak pernah ia lakukan.
"Aulia kan juga sangat menyukai bakso mercon di Jalan Angkasa itu? Kenapa tidak sekalian aku juga ke sana dan membeli untuk bawa pulang ke rumah, siapa tahu dengan melihat bakso itu dia bakalan tidak marah lagi kepadaku?"gumam Bagas dalam hati.