
Bagas yang merasa posisinya tersingkirkan memilih untuk pergi ke ruangan kerjanya tetapi sebelum itu ingin memastikan apa yang sudah dilakukan oleh asistennya kepada Devina tadi, sebab kalau sampai Dimas membiarkan Davina lolos begitu saja maka pria itu yang bakalan berhadapan dengannya dan juga menerima amukan darinya karena sudah berani-beraninya membiarkan wanita yang sudah menyakiti istrinya itu pergi dengan begitu saja.
Sesampainya di lantai bawah di pikirannya tadi bahwa Davina masih bertahan di situ untuk berbicara dengannya, tetapi sepertinya apa yang ia pikirkan tidak sesuai dengan kenyataan karena buktinya di lantai bawah wanita itu nihil tidak ada tampak batang hidungnya di tempat itu.
Dimas melihat kedatangan majikannya itu memilih untuk menyusulnya karena ingin memastikan apakah gerangan yang diperlukan oleh Bagas sampai-sampai harus turun ke lantai bawah, sebab bukan seharusnya pria itu masih berada di atas untuk menemani istrinya yang keadaannya bisa dibilang sedang tidak baik-baik saja.
"Ada yang bisa saya bantu tuan, atau mungkin ada yang anda perlukan sekarang ini juga? "Tanya Dimas penasaran.
Bagas sedikit pun tidak merespon pertanyaan yang diberikan oleh asistennya tersebut karena dirinya sedang memindai seluruh sudut ruangan itu, karena dirinya sangat penasaran dengan keberadaan Davina kira-kira wanita itu sekarang masih ada di tempat itu atau sudah pulang.
"Wanita itu sekarang ada di mana? Apa kamu sudah menyuruhnya pulang tanpa memberitahukan dulu kepadaku, dan atas dasar apa kamu berani mengambil keputusan tanpa harus meminta pendapat dariku?"pertanyaan Bagas itu layaknya Boomerang bagi Dimas karena kalau dirinya berbohong rasa-rasanya tidak mungkin sama sekali dan jika dirinya berkata jujur tentang apa yang ia lakukan entah apa nanti bisa diterima oleh Bagas atau tidak.
"kamu itu seharusnya jangan marah-marah dong kepada dia, Memangnya itu mantan istri kamu bakalan menunggu sampai kamu turun ke lantai bawah dan bertemu dengannya serta berbicara antara kalian berdua saja? Masalahnya ini terletaknya pada kamu jadi jangan pernah membawa-bawa orang lain untuk ikut campur di dalamnya, soalnya nanti kan respon kamu seperti begini seolah tidak terima sama sekali dengan keputusan yang diambil oleh Dimas Padahal dari tadi sangat mustahil kalau harus menunggu kamu turun ke bawah sini terus ngomong sama itu Davina! " Nella bener-bener tidak terima kalau anaknya itu selalu saja melimpahkan keteledorannya kepada orang lain dan berbuat seolah dirinya yang paling benar.
Bagas Tentu saja tidak terima dengan pembelaan yang dilakukan oleh Mamanya itu terhadap pegawainya tersebut, karena menurutnya Dimas itu tidak punya hak sama sekali mengambil keputusan karena yang harus dilakukan oleh pria itu Yaitu mengikuti semua perintah yang diberikan Bagas kepadanya tanpa membantah sedikitpun.
"Mama tolong jangan ikut campur semua urusanku saat ini dan lebih baik kembali ke kamar serta berpikir jernih agar bisa memberikan solusi yang terbaik untuk masalahku saat ini, sebab Apa yang dilakukan Davina itu kalau bisa dibilang sudah masuk dalam tindakan kriminal dan Mama tahu sendiri kan kalau sampai Aulia tidak terima dengan Sikap yang ditunjukkan Devina kepadanya maka yang bakalan pusing ya aku sendiri bukan kalian!" jelas Bagas tampak frustasi karena semua orang di situ menuntut agar dirinya harus menjadi selalu sempurna padahal Ia hanya manusia biasa.
"Ya bukannya mau ikut campur semua urusan kamu, hanya saja sepertinya saat ini pikiran kamu itu sedang tidak baik-baik saja Makanya Mama bantu untuk memberikan solusi! Hanya saja kalau memang kamu tidak mau menerimanya Ya sudah tidak masalah yang penting intinya Jangan menyalahkan orang lain, Sebab ini semua akan menjadi pilihan kamu jadi kalau misalnya ke depannya kamu harus siap!" ujar Nella.
Dimas yang merasa bahwa antara ibu dan anak itu pasti nanti bakalan terjadi pertengkaran memilih untuk menengahi mereka, karena ini semua juga akibat kesalahan yang dia lakukan sampai-sampai membuat majikannya itu merasa tidak terima sama sekali.
__ADS_1
"Maafkan saya tuan! Tadi saya yang menyuruh Nyonya Davina untuk pulang ke rumahnya saja, karena tidak ingin nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kepadanya dan alhasil anda sudah tidak bisa lagi merawat Nyonya Aulia karena pikiran jadi terbagi! Kalau memang merasa tidak puas dengan keputusan yang sudah saya ambil maka sekarang juga saya akan menjemput Nyonya Davina, agar bisa meluruskan permasalahan yang terjadi antara Tuhan Bagas dan juga wanita tersebut," Sahut Dimas menimpali perdebatan antara ibu dan anak tersebut tidak masalah kalau akhirnya dirinya yang bakalan kena marah yang penting semuanya bisa aman terkendali tidak ada keributan yang dilakukan oleh Davina sebab sama saja mereka ingin meributkan sesuatu hal sedangkan orang yang melakukan hal tersebut sudah tidak ada di tempat.
"Tidak perlu kamu melakukan sebuah pekerjaan yang harus di double sampai dua kali, sebab itu nanti bisa menjadi kebiasaan Seharusnya dari awal Kamu berpikir baik-baik dulu baru mengambil keputusan supaya tidak ada penyesalan di kemudian hari! ini usahakan dijadikan pembelajaran biar menjadi paham dan juga sadar Bagaimana cara mengambil solusi yang terbaik, karena kamu tahu sendiri kan saya paling tidak suka jika waktu yang harusnya saya gunakan untuk melakukan sesuatu hal yang menghasilkan malah terbuang percuma!"Bagas tidak ada niatan mau menanyakan hukuman apa yang sudah diberikan Dimas untuk Davina karena sama saja mau mencari tahu pun Wanita itu sudah tidak ada di tempat yang ada ia bakalan merasa emosi dengan asistennya tersebut.
Bagas memilih meninggalkan Dimas di situ dan menuju ke ruangan kerjanya bukan untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda tetapi ingin mendinginkan pikirannya yang benar-benar sedang merasakan emosi, Bagaimana tidak ketika dirinya sedang berjuang mendapatkan Maaf Dari Aulia malah ada Devina yang memperkeruh suasana dengan melakukan hal-hal yang sangat tidak terduga sebelumnya.
"Aku harus membuat perhitungan kepada wanita itu agar besok lusa tidak Mengulangi kesalahan yang sama dan juga merugikan orang lain, enak saja dia pergi tanpa bertanggung jawab malah yang ada membuat orang lain yang kewalahan. "batin Bagas monolog.
Sedangkan Dimas merasa tidak enak hati memilih untuk menyusul Davina di rumahnya dan juga menyeret wanita itu kembali ke kediamannya Bagas, karena dirinya yakin majikannya itu pasti ingin melampiaskan kesalahannya terhadap Davina Hanya saja karena tadi ia merasa tidak nyaman dan juga sedikit waspada makanya menyuruh Devina untuk pulang Tetapi ternyata keputusan yang ia ambil itu tidak disetujui oleh Bagas buktinya sekarang pria itu tanpa kecewa kepada dirinya.
sesampainya Dimas di sana terlihat model Devina sudah terparkir rapi di halaman rumah membuat dirinya yakin kalau wanita itu berada di dalam, maka tidak ada salahnya kan kalau menyuruhnya untuk kembali bertemu dengan Bagas ya Meskipun apa yang dikatakan nantinya akan terdengar begitu ambigu tetapi tidak ada salahnya kan kalau mencoba.
Davina yang melihat mobil Dimas berada di halaman rumahnya memilih untuk keluar dan menemui pria itu, ingin menanyakan kira-kira apa gerangan yang membuat pria tersebut bisa datang ke rumahnya ini karena selama ini memang tidak pernah di masa datang sendirian kecuali jika bersama dengan Bagas maka pria itu akan mengawal majikannya itu sampai pulang.
"Wah ada apa gerangan kamu datang ke sini, jangan bilang kalau ini merupakan perintah dari majikan kamu yang benar-benar sudah menyesal dengan semua keputusannya? Baiklah kalau begitu aku bakalan pergi dengan kamu sekarang juga karena aku takut nanti Mas Bagas bakalan berubah pikiran, soalnya Suamiku itu memang orangnya kadang-kadang nyeleneh juga dan juga sulit ditebak Jalan pikirannya yang kebanyakan ya mengarah ke itu-itu saja. "ajak Davina antusias tetapi Percayalah Dimas dalam mode yang tidak ingin menjelaskan apapun maka dari itu ia memilih mengikuti saja apa yang diinginkan oleh Davina saat ini toh tidak ada salahnya kan jika dirinya sedikit memilih untuk tutup mulut nantinya wanita itu bakalan bertemu dengan Bagas baru akan memperjelas permasalahannya mereka itu seperti yang bagaimana.
Devina pergi kembali ke rumah yang tadi ia sudah melakukan keributan di sana dengan kondisi hati yang benar-benar bahagia, Sebab di dalam pikirannya saat ini ia yakin 100% kalau suaminya itu berubah pikiran eh lebih tepatnya mantan suaminya.
wanita mana yang tidak bahagia apa yang ia inginkan benar-benar menjadi kenyataan, namun itu semua tergantung lagi kepada kenyataan yang bakalan ia terima kalau memang sesuai dengan rencana Ya tidak masalah tetapi kebanyakan Harapan itu tidak sesuai dengan ekspektasi.
"oh Iya kalau boleh tahu gimana wanita sialan itu keadaannya saat ini, dia masih pingsan atau sudah tewas saat itu juga?" Tanya Davina tanpa beban pikiran sedikitpun seolah-olah nyawa seseorang itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dirinya.
__ADS_1
"Apa menurut anda kalau misalnya keadaannya Aulia tidak baik-baik saja saat ini anda bakalan duduk manis di samping saya, yaitu Tentu saja tidak akan terjadi karena bisa dipastikan Tuan Bagas bakalan bertindak dan menyeret anda ke kantor polisi saat itu juga! " sinis Dimas membuat Devina mendengus kesal karena sepertinya ngobrol dengan pria triplek seperti itu rasanya tidak akan pernah nyambung sedikitpun.
"ya kamu juga cara menyahutnya biasa saja jangan gagal seperti itu juga kan, saya bertanya karena merasa penasaran Tetapi kalau memang kamu tidak ada niatan untuk menjawab yaitu juga merupakan haknya kamu. "sahut Davina tidak kalah nyolot daripada Dimas.
Bagas yang merasa kalau Dimas sudah meninggalkan rumahnya tersebut merasa yakin kalau asistennya itu akan melakukan sesuatu yang membuat dirinya menjadi lebih baik moodnya hari ini, karena Biar bagaimanapun pria tersebut bekerja dengannya bukan hanya sehari doang melainkan sudah bertahun-tahun jadi otomatis bisa membaca pikiran Dimas saat ini.
Bagas tersenyum ketika melihat mobil Dimas sudah masuk ke dalam pekarangan rumahnya dan di sampingnya ada Davina yang tengah duduk manis, membuat pria itu benar-benar merasa muak dengan sikap Mantan istrinya itu karena dulu dirinya saja bingung kenapa bisa-bisanya menyukai wanita rubah sepertinya.
"Kenapa mataku dulu serabun itu ya sampai-sampai tidak menyadari kalau ternyata wanita-wanita yang aku nikahi itu satupun tidak ada yang benar Tata kramanya, semoga saja Safira bisa merubah pola pikirnya dan juga sikapnya yang hobinya hanya membuat orang lain merasa emosi ketika berdekatan dengannya! "ujar Bagas pelan.
Safira kini memang benar-benar merasa perubahan hidupnya itu berubah 180 derajat, mulai dari pergaulannya kemudian kehidupannya sehari-hari harus ia jalani dengan penuh perhitungan tidak seperti dulu apapun yang ia inginkan pasti bakalan langsung dibeli tidak peduli jika harganya selangit.
"Budi itu ke mana sih sampai sekarang kau tidak bisa dihubungi sama sekali, padahal dulu kan dia berjanji kalau Bagas menceraikanku maka dia yang akan menikahiku tetapi kenapa malah menjadi seperti ini? "omel Safira kesal karena memikirkan pria yang dulu pernah memberikan Janji Manis untuknya namun ternyata itu hanyalah sekedar bualan belaka tidak ada sedikitpun yang terealisasikan sebab buktinya sekarang ia menjadi gembel.
Safira sudah pergi menemui pria itu di apartemen yang biasa mereka berdua janjian untuk bertemu tetapi Sesampai di sana ternyata apartemen tersebut bukanlah atas nama Budi, melainkan pria itu hanya datang dan menyewa selama beberapa hari lalu pergi lagi membuat Safira benar-benar merasakan tidak berdaya ketika orang-orang di masa lalunya yang mulai menghilang secara satu persatu.
"Oh itu orang sebenarnya sekarang ada di mana sih sampai-sampai ponselnya pun tidak bisa dihubungi terus aku cari ke apartemennya yang seperti biasa Eh tahu bukan miliknya, apa Aku lagi mendapatkan karma atau semua yang aku lakukan selama ini dengan cara menghina orang-orang dan juga bermain serong di belakangnya Mas Bagas? "batin Safira yang tidak bisa berpikir dengan jernih lagi karena hidupnya sekarang itu sangat tidak berguna istilahnya hidup enggan mati pun tak mau.
"Hello Neng Geulis mau ke mana toh, ini panas Gimana kalau abang berikan tumpangan soalnya kasihan kulitnya yang kinclong itu bakalan jadi rusak! "ajak salah satu preman pasar yang kebetulan melintas dekat dengan Safira membuat wanita itu bergidik ngeri karena takut masa depannya bakalan terancam saat itu juga.
"Tidak perlu aku biasa kok kayak begini, Jadi jangan ikut campur dengan semua urusanku! kalau bisa kamu menyingkir dengan Jangan menghalangi jalanku, atau aku bakalan teriak agar semua orang mendengarkan apa yang kamu lakukan kepadaku! "sarkas Safira kasar yang bukannya membuat preman pasar itu menjadi takut Tetapi malah menertawakan Apa yang dilakukan oleh Safira itu.
__ADS_1
"kamu sok jual mahal sekali lah padahal terlihat sangat tidak mempunyai apapun, jadi jangan terlalu percaya diri karena ggengsi kamu itu tidak akan bisa membuat perut kenyang yang ada membuat kamu menderita!" Sinis pria itu sambil menghentikan mobilnya dan turun untuk bertemu dengan Safira.