Menjadi Yang Ke-3

Menjadi Yang Ke-3
Mimpi Buruk


__ADS_3

Devina sebenarnya tidak ingin berkata kasar kepada Nella karena mengingat wanita itu merupakan mertuanya yang artinya adalah Mamanya juga, hanya saja ketika mengingat semua yang terjadi di rumah itu dan juga tidak ada yang peduli dengan perasaannya membuat wanita itu terkadang sedikit-sedikit pasti memberontak.


Namun semua itu tidak terlalu ia lakukan karena menurutnya yang penting Intinya anak-anak bisa diurus diperhatikan sekolah dengan benar makan dengan baik, kalau mau minta lebih rasa-rasanya sangat tidak mungkin karena Bagas yang dulu tidak sama yang sekarang pria yang dulu sangat menyayanginya tidak pernah mau jauh darinya sekarang seperti menganggap kehadirannya itu layaknya orang asing.


Memang benar kata orang-orang janganlah terlalu berlebihan mencintai sesamamu manusia, karena jika bukan diambil oleh Tuhanmu maka dia akan diambil oleh orang lain.


Davina yang kepikiran dengan Indira karena tadi sore anaknya itu menangis mencari Aulia sampai di setiap sudut rumah pun dicarinya, tetapi tidak menemukannya sama sekali maka dari itu wanita itu memilih untuk memastikan keadaan putrinya saat ini.


Sesampainya di kamarnya Indira ternyata anaknya itu tidak ada sama sekali di dalamnya membuat Davina begitu panik, takutnya jangan sampai Indira pergi mencari Aulia di luaran sana dan jika hal itu terjadi maka ia tidak tahu lagi harus meminta tolong kepada siapa.


Namun pikirannya masih berfungsi dengan baik untuk mencari Indira di dalam kamar kakaknya, anak yang perempuan itu sudah kelas 1 SMP hanya saja jarang berada di rumah karena memilih untuk tinggal dengan orang tuanya Davina.


"kakak lihat Adik tidak? "tanya Davina memastikan ketika sudah berada di dalam kamar anaknya itu.


"Andara tadi tidak melihat adik sama sekali kok Mah, atau jangan-jangan dia lagi sama istri Papa yang baru itu soalnya kayaknya mereka berdua cocok? "tanya Andara balik yang merupakan anak sulung Bagas dan juga Davina yang selama ini tidak menyukai Papanya karena menurutnya terlalu doyan kawin.


Davina terlihat menghela nafasnya secara perlahan karena menurutnya jika Aulia ada di rumah itu pasti ia tidak bakalan cemas seperti ini, karena sudah dapat ditebak ke arah mana Indira nantinya bakalan menuju untuk tidur.


"Sepertinya tidak mungkin deh! Apa kamu tidak lihat di jalan kebagian mana gitu yang mungkin di bagian rumah ini tapi yang Mama tidak tahu sama sekali, soalnya adik kamu itu memang benar-benar tidak ada sama sekali di dalam kamarnya padahal kamu tahu sendiri kan ini sudah hampir jam 09.00 malam? "jelas Davina yang terlihat raut wajah penuh kecemasan karena tidak kunjung menemukan putri kecilnya.


"Astaga Mama kalau Indira tidak ada di kamarnya, pergi Cek saja di kamarnya itu wanita siapa sih aku juga tidak tahu namanya. Jangan cari ke tempat ini, soalnya Mama tau sendiri karena aku sama Indira itu kayak kucing sama anj**g susah sekali untuk bersatu apalagi ngomong bareng ? "ujar Andara membuat Davina akhirnya tersenyum kelegaan karena ia yakin saat ini pasti Indira sedang tidur di dalam kamarnya Aulia membayangkan Kalau Bundanya itu juga ada di tempat itu.


"Ya sudah kalau begitu mah pergi cek Adik kamu di sana dulu ya, ingat tidurnya jangan terlalu malam besok masih pergi sekolah loh! "ujar Devina harus segera pergi dari situ.


Sepeninggal Mamanya terlihat Andara sedang mendengus kesal, karena tidak menyukai sikap Mamanya yang menurutnya terlalu sabar. Padahal sudah dari awal ia menyuruh Davina untuk mengajukan gugatan cerai kepada Papanya saja, supaya hidup Mamanya itu mungkin lebih berwarna tidak terlalu tertekan seperti ini.


"Mama itu Kenapa sih susah sekali untuk dibilangin? Apa bagusnya bertahan dengan pria yang tidak bertanggung jawab seperti Papa itu, hobinya hanya membawa pulang istri-istri barunya nanti entah sampai jumlah Berapa banyak dulu baru bisa berhenti dari kesukaannya itu?" omel Andara yang tidak peduli jika ada orang yang mendengarnya atau tidak karena memang dari awal ia sangat tidak setuju ketika mendengar Bagas menikah yang ketiga kalinya.


Andara lebih memilih untuk tinggal bersama dengan kakek neneknya dari pihak Mamanya, karena dengan begitu pikirannya bakalan bisa tenang tidak harus terganggu dengan keberadaan Safira yang menurutnya terlalu suka marah-marah dan hobinya mengatur hidup orang lain.

__ADS_1


Davina yang kini sudah berada di depan kamarnya Aulia sebenarnya sedikit segan untuk masuk ke dalam, karena menurutnya kamar itu merupakan privasi seseorang jadi orang lain harus izin dulu baru bisa masuk ke dalamnya agar disangka bahwa tidak punya sopan santun sama sekali Jika langsung nyelonong masuk.


Namun kalau Hanya berdiam diri seperti ini ya otomatis dia tidak akan pernah tahu keberadaan Indira itu ada di mana, Apalagi malam bukannya semakin berjalan tenang di tempat tetapi waktu akan selalu berputar dan alhasil Takutnya nanti Indira bakalan kenapa-napa jika tidak dipastikan sekarang.


"Ya Tuhan aku minta maaf dan juga tolong sampaikan permintaan maafku secara langsung kepada Aulia, karena aku Bukannya ingin lancang masuk ke dalam kamarnya tetapi ini semua Terpaksa aku lakukan karena hanya ingin memastikan keadaan putriku saja! "gumam Davina pelan karena biar bagaimana itu merupakan kamarnya Aulia.


ketika sudah berada di dalam kamar tersebut Davina langsung tersenyum Padahal tadi wajah wanita itu terlihat begitu menegang karena saking paniknya, sebab terlihat dengan jelas kalau Indira saat ini tengah tertidur sambil memeluk guling yang berada di tengah ranjang.


Davina tersenyum melihat anaknya itu yang terlihat begitu sangat menyayangi Aulia, padahal jelas-jelas wanita itu bukan siapa-siapanya. Hanya saja mungkin perhatian dan juga kasih sayang yang diberikan Aulia sangat membuat Indira nyaman, Jadi anak itu memilih untuk betah berada di dekatnya.


"ini anak Kenapa sih datang tidur di sini tidak bilang-bilang kepadaku lebih dulu, karena dengan begitu kan aku tidak perlu sepanik tadi untuk mencarinya kesana kemari? Mama doakan ya semoga Bunda kamu bisa cepat pulang mungkin dengan begitu kamu tidak akan pernah rewel lagi, Bunda kamu itu pasti baik-baik saja di sana dia kan wanita yang kuat tidak akan mungkin bisa ditindas oleh orang lain! "batin Davina sambil mengusap pelan kepala putrinya itu yang terlihat tidurnya sangat pulas sekali sampai-sampai tidak menyadari jika di sekitarnya ada orang asing.


Davina memperhatikan sekitar kamarnya Aulia dan ia kebingungan karena tidak ada satupun foto pernikahan yang tertempel di dinding, sudah begitu tidak ada barang-barang yang berharga ataupun pajangan yang bisa membuat kamar itu terlihat sangat berkelas karena semua yang ada di situ tuh biasa saja.


"Aku ikhlas kamu melepaskanku hanya demi istri kamu ini karena aku yakin dia merupakan wanita baik-baik saja, tetapi kenapa kamu selalu menyakiti dia sampai membuat dia pergi Mas? Kalau memang ingin menunjukkan cinta yang pakailah dengan cara yang lebih romantis lagi, bukan dengan cara kekerasan untuk menunjukkannya karena itu sama saja kamu sudah menyakitinya secara perlahan. "gumam Davina terlalu segera pergi dari situ karena tidak mungkin berlama-lama di dalam kamar itu Takutnya nanti semua orang yang ada di situ bakalan salah paham dan ia pun membiarkan Indira tidur di situ karena terlihat anaknya itu merasa lebih nyaman.


Bagas malam ini tidak bisa tidur dengan tenang karena Entah mengapa ketika tidur walau hanya beberapa menit dirinya bermimpi buruk, dalam mimpinya itu terlihat Aulia sedang duduk di sebuah taman yang begitu indah dan ada seorang pria yang menghampirinya lalu memegang tangan Aulia dan membawanya pergi.


Membuat Bagas langsung bangun dan tidak jadi tertidur keringat pun sudah mulai membasahi sekujur tubuhnya, karena merasa bahwa mimpi yang baru saja terjadi itu sangat aneh dan juga tidak masuk akal.


pria itu bahkan memastikan keadaan sekelilingnya apakah yang tadi itu benar-benar mimpi atau kenyataan, dan ia bernafas lega sebab sekarang ternyata dirinya berada di kamar hotel yang biasa dirinya pakai ketika datang ke tempat itu.


"Apa jangan-jangan kamu di bawah Nina teman kamu yang sangat nyentrik dan juga nyeleneh itu, sampai-sampai Aku tidak tahu sama sekali kamu sekarang ada di mana dan juga kenapa perginya tidak pulang-pulang? "batin Bagas memastikan apa yang dia pikirkan saat ini.


Malam itu juga Bagas langsung menelpon Dimas agar menyuruh asistennya itu segera datang ke hotel saat sekarang ini juga, karena jika menunggu sampai besok takutnya jangan sampai apa yang ia waspadai bakalan terjadi kalau Aulia akan diambil oleh orang lain.


Dimas yang baru saja tertidur akibat menyelesaikan pekerjaan Bagas yang dibiarkan begitu saja akibatnya membuat dirinya terpaksa menghandle semuanya, mau tidak mau bangun karena mendengar hp-nya berbunyi dengan nada yang begitu keras dan ada tersebut itu berasal dari Bagas karena dirinya sudah mengatur nada dering secara khusus untuk pria itu.


"Astaga Tuhan Bagas ini kalau menelpon saya tidak melihat waktu dulu lah, memangnya Dia pikir aku ini Zombie tidak tahu tidur siang dan malam?"semut Dimas tetapi mau tidak mau tetap mengangkat panggilan dari pria itu.

__ADS_1


"Ya Tuan Ada yang bisa saya bantu? "tanya Dimas penasaran karena ada hal apa yang sangat penting sampai-sampai membuat Bagas tega menelponnya di jam seperti ini.


"kamu datang ke hotel sekarang juga, tidak pakai nanti tidak pakai sebentar tetapinya harus sekarang! "perintah Bagas lalu segera mematikan panggilannya karena menurutnya yang menjadi inti pembicaraan sudah ia ucapkan Jadi untuk apa lagi harus berbasa-basi dan mendengar alasan dari asistennya itu.


What the ....


Dimas menatap tak percaya ke arah ponselnya yang sudah dimatikan secara sepihak oleh Bagas tadi, padahal ini masih jam 02.00 dini hari setidaknya pria itu membiarkan Ia tidur dengan tenang Nanti saat pukul 05.00 atau pukul 06.00 baru menelponnya kan itu merupakan sesuatu yang masuk akal.


"Ya Tuhan kenapa sih punya majikan yang tidak punya pengertian sama sekali dengan bawahannya, ini masih jam segini aku disuruh pergi sudah tahu kalau Biasanya pagi begini Itu dinginnya minta ampun kemudian orang itu lagi pengen tidur karena terlalu lelah bekerja? "batin Dimas yang merasa benar-benar frustasi tetapi mau tidak mau Ia tetap harus mencuci wajahnya lalu mengambil jaket dan kunci mobilnya dan segera pergi menemui tuan raja Maha Besar.


Sepanjang perjalanan Bali Dimas berkali-kali menguap karena memang ia masih merasakan kantuk, soalnya tadi dirinya tidur itu di jam 12.00 lewat maka sekarang sedang posisi sangat mengantuk sekali tetapi mau bagaimana lagi.


Beruntung karena semua orang sedang bermimpi yang indah ataupun mimpi seram seperti baga sampai menyuruhnya datang, maka membuat jalanan begitu lengang dan juga sepi membuat Dimas bisa mencoba bakat terpendamnya yaitu sebagai seorang pembalap jalanan yang tidak diperhitungkan di mata dunia yang penting Intinya bisa cepat sampai.


Satpam yang mendapat giliran jaga malam merasa heran ketika melihat Dimas muncul di waktu yang masih dini hari ini, padahal bisa dibilang saat sekarang ini merupakan saat yang paling nyenyak saat tertidur Tetapi entah kenapa pria itu malah datang ke tempat ini.


"selamat malam Bos, ada keperluan apa ya datang tiba-tiba ke sini? Apa ada sesuatu penting yang dilupakan, kalau memang iya ya sudah nanti saya bantu cari bagaimana? "Tanya satpam itu penasaran.


"Lanjutkan saja pekerjaannya pak! Soalnya ini saya bisa kerjakan sendiri karena kalau bisa dikerjakan orang lain tidak mungkin saya bakalan datang ke tempat ini, kalau begitu saya masuk ke dalam dulu ya soalnya nanti telat bisa bahaya urusannya! "jelas Dimas yang tidak ingin mengatakan kalau sebenarnya Ia datang ke tempat itu karena disuruh oleh Bagas.


Bagas masih berada di dalam kamarnya tidak ada niatan untuk keluar dan menyambut kedatangan Dimas ataupun merasa bersalah kepadanya, karena sudah mengganggu istirahatnya yang entah tenang atau tidak karena selalu saja dirinya mengganggu pria itu Kapan saja dan juga di mana saja.


Tok tok tok


"Permisi tuan ini saya! "panggil Dimas dari pintu depan karena takutnya jangan sampai kalau hanya mengetuk saja jangan harap Bagas bakalan membuka pintunya.


"Ya masuk saja tadi sendiri tidak saya kunci!"perintah Bagas membuat Dimas pun langsung masuk ke dalam dan berdiri di samping pintu untuk mendengarkan perintah selanjutnya yang diberikan oleh Bagas untuknya.


"Kamu tolong hubungi Andra untuk membawakan helikopter ke sini, karena kita bakalan pergi ke Bandung saat ini juga!"perintah Bagas membuat Dimas membulatkan matanya sempurna karena kalau kayak begitu kenapa tidak lewat telepon saja memberi perintah kepadanya supaya tadi sekalian ia langsung mampir ke apartemennya Andra yang merupakan pilot yang biasa mengoperasikan helikopter milik Bagas.

__ADS_1


"Perasaan helikopter Anda masih tetap berada di atas gedung hotel ini tuan, Jadi sepertinya kita langsung menghubungi Captain Andra saja supaya langsung ke sini saja agar tidak perlu memakan waktu!"saran dari Dimas karena memang tidak ingin mencari tahu sebenarnya ada gerangan apa sampai malam-malam mereka harus pergi ke Bandung.


__ADS_2