
Safira Tentu saja tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Aulia barusan sebab menurutnya dirinya sedang emosi Tetapi wanita itu terlihat begitu santai, seolah-olah apa yang ia katakan itu tidak terlalu dipikirkan dan juga hanya dijadikan bahan pendengaran tetapi untuk menjadi ingatan tidak akan pernah terjadi.
Siapa sih yang tidak emosi ketika statusnya yang merupakan seorang nyonya besar tiba-tiba langsung diturunkan dengan begitu saja menjadi rakyat jelata, kalau lawannya itu sepadan tidak masalah tetapi ini kan bisa dibilang itu masih seorang gadis kemudian menjadi istri ketiga dan berbicara bisa memberikan Bagas anak atau tidak dirinya pun tidak bisa tahu karena pernikahan mereka masih dalam hitungan bulan.
"Kamu pikir aku sedang bercanda dengan kamu hari ini atau mengira aku sedang bermain-main dengan semua perkataanku? Wanita seperti kamu ini memang tidak punya malu sama sekali karena mau dibilang seperti apapun tidak akan pernah mendengarkan orang lain, dan aku menyesal karena masih Bagas mau menikah dengan wanita tidak jelas seperti kamu!" ujar Safira tajam membuat Aulia hanya menggedikan bahunya pertanda tidak peduli.
"Ya itu kan urusan kamu mau berpikiran seperti apa kemudian mau menerka-nerka yang bagaimana, karena aku tidak pernah memikirkan sampai di situ soalnya kan yang bermasalah itu antara kamu dan juga suami kamu bukan dengan aku. "jelas Aulia aku lagi sekarang dirinya dan juga Safira menjadi bahan tontonan semua orang yang ada di situ.
Aulia sebenarnya malu bertengkar dengan seorang wanita hanya karena memperebutkan seorang pria, namun bagaimana lagi ketika Safira yang lebih dulu mulai mau tidak mau ya harus meresponnya sebelum harga dirinya diinjak-injak oleh wanita itu.
Safira yang mendengar jawaban yang diberikan Aulia itu menjadi emosi dan juga sangat tidak menyukainya karena berpikir bahwa wanita itu tidak bisa diprovokasi, dan memang itulah kenyataan yang sebenarnya kalau Aulia mencoba untuk tetap sabar dan juga tenang dan tidak terhasut oleh kata-kata yang dilontarkan oleh Safira.
"Jadi gimana kamu masih mau ngobrol denganku sambil kita makan bareng atau masih mau marah-marah, soalnya menurutku itu kalau kamu marah kepadaku sepertinya bukan orang yang tepat karena masalah kamu itu kan dengan Bagas bukan dengan aku? "tawar Aulia yang ingin bersikap akrab dengan Safira Dan juga tidak ingin bermusuhan dengan siapapun di dunia ini.
"Kamu pikir aku sudi makan semeja berdua dengan kamu, Lebih baik aku kelaparan daripada menurunkan harga diriku dengan berbicara baik-baik dengan orang seperti kamu ? "ujar Aulia kasar tetapi Aulia hanya mengangkat kedua tangannya kemudian memberi kode agar Safira segera pergi Soalnya dirinya sudah merasakan kelaparan.
"Ya sudah kalau tidak ada niatan untuk makan denganku, lebih baik kamu pergi saja sekarang! Daripada berlama-lama di sini, dan semua orang tidak akan pernah menghargai keberadaan kamu? "Aulia lalu memilih untuk fokus pada makanan yang ada di hadapannya Karena bagaimanapun makanan itu adalah sesuatu yang harus dihargai karena susah payah baru bisa mendapatkannya.
Safira angkat kaki dari tempat itu dengan menahan emosinya sebab tidak percaya jika dirinya diperlakukan seperti itu oleh Aulia, tapi ya memang dunia sedang tidak berpihak padanya karena dulu Ia merupakan Nyonya dari Bagas sedangkan sekarang adalah mantannya.
setelah melihat Safira meninggalkan tempat itu Aulia kemudian menaruh sendok Makannya itu kembali, Entah mengapa selera makannya kini mendadaki hilang seketika akibat semua perkataan yang dilontarkan oleh wanita tadi.
"Ah kurang ajar sekali wanita itu sampai-sampai membuat selera makanku jadi hilang, Kenapa dia muncul di saat tidak tepat seperti ini Padahal Seharusnya dia tahu kalau aku sedang tidak ingin diganggu. " Omel Aulia kesal membuat Abizar yang duduk tidak jauh darinya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat nada sungutan dari sahabatnya barusan.
"Jadi ceritanya sekarang istri pria itu ada sisa dua orang, yaitu kamu dengan istrinya yang pertama? Wah itu artinya saingan kamu semakin berkurang dong, dan juga artinya kesempatan buat aku bakalan semakin menipis? "ujar Abidzar yang terlihat lemas.
Aulia mencebikkan bibirnya ketika mendengar perkataan dari pria itu menurutnya terlalu banyak men dramatisir keadaan , padahal dirinya saja sedang stress ia malah memikirkan hanya diri sendiri dan seolah-olah tidak memikirkan perasaan Aulia .
"kamu itu lebih baik diam saja deh soalnya setiap kali ngomong pasti bakalan membuat Aku puyeng memikirkannya, terus ini lagi kenapa makanannya seenak ini tiba-tiba membuat aku jadi Tidak selera ya Apa mungkin terlalu kenyang dengan perkataan wanita tadi? "tanya Aulia penasaran.
Abizar mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan dari Aulia barusan, karena menurutnya tadi itu Aulia yang berhasil membuat Safira tak berkutik tetapi kenapa sekarang kebalikannya wanita itu yang jadi stress.
__ADS_1
"Perasaan tadi kamu semangat sekali membuat wanita itu tidak berkutik dan juga tidak bisa menyangkal Apapun yang kamu katakan, tetapi kenapa sekarang kamu yang terlihat seperti orang-orang yang baru saja di Skak habis minta ampun sampai-sampai tidak bisa menelan makanan?"tanya abiser penasaran.
"Ya mana aku tahu kalau kejadian nya bakal seperti ini,dan lagi itu orang kok bisa-bisanya muncul di saat yang tidak tepat dan hanya membuat orang lain menjadi emosi? "sungut Aulia memasang wajah cemberut.
"Tidak usah dipikirkan karena nanti kamu yang bakalan jadi stres sendiri Akibat apa yang dikatakan oleh orang itu, sedangkan dia belum tentu memikirkan Apapun yang kamu katakan karena orangnya saja modelnya seperti itu! "bujuk Abizar membuat Aulia tersenyum dan selera makannya kembali mencuat dari permukaan dan kini wanita itu sedang sibuk dengan makanan yang ada di hadapannya sampai melupakan keberadaan Abizar yang tengah menatapnya.
"Kamu tadi ke sini ngomong tidak sama suami kamu itu soalnya aku takut nanti dia bakalan salah paham dan juga marah-marah tidak jelas, kalau marahnya hanya kepadaku saja Ya tidak masalah tetapi kalau Marahnya itu tertuju kepada kamu yang otomatis aku tidak bakalan terima? "tanya Abizar memastikan.
"Dia itu lagi pergi kerja Ngapain juga coba Segala sesuatu harus pakai laporan segala, Biarkan saja dia melakukan aktivitasnya dan aku melakukan kegiatanku sendiri tidak ada yang saling mengganggu satu sama lain! "jelas Aulia.
Abizar mengacak rambutnya frustasi karena menurutnya jika sampai Aulia tidak mengatakan keberadaannya kepada Bagas, Takutnya nanti pria itu bakalan salah paham dan melakukan hal yang tidak tidak serta nanti bakalan merugikan Aulia yang merupakan istri dari pria itu.
"ya tidak bisa begitu dong Memangnya kamu lupa dengan sikap nekatnya itu, yang bakalan menghalalkan segala macam cara yang penting intinya keinginan bakalan terpenuhi? "tanya Abizar penasaran.
"Biarkan saja jangan Menyebut Nama orang itu di saat aku sedang makan seperti ini , karena nanti bakalan membuat selera makan ku jadi hilang!"tolak Aulia yang memang tidak ingin membahas apapun tentang Bagas sebab dirinya yakin pria itu sekarang Pasti sedang sibuk di kantor dan juga sudah mengurus masalahnya dengan Safira Dan juga Davina yang dibawa pulang oleh orang tuanya.
"kamu yakin dia sedang tidak memikirkan kamu saat ini, dan dia malah memikirkan para istrinya yang lain?" tanya Abizar penasaran.
"Ya jelas aku yakin lah masa iya aku bohong sama kamu, Dia itu sekarang Pasti lagi memikirkan soal Davina yang kemarin dibawa pergi oleh orang tuanya dan juga soal perceraian dengan istri keduanya itu! "jelas Aulia semangat membuat Abizar sebenarnya sangsi dengan apa yang dikatakan oleh Aulia Jika Bagas saat ini tidak pernah memikirkannya sama sekali.
"ya memang harus seperti begitu kalau menghadapi suami yang hobinya punya istri lebih dari satu, Soalnya kalau kita terlalu baper nanti bakalan sakit hati sendiri Ketika suatu saat merasa diabaikan! "jelas Aulia sambil melanjutkan makannya dan kalau memang Nanti ketahuan Bagas jika dirinya datang ke tempat kerjanya habis terserah pria itu mau merespon Seperti apa kalaupun mau marah-marah ya itu merupakan haknya tetapi intinya Tidak pakai kekerasan seperti biasanya karena Aulia sama tidak menyukainya dan juga hal itu terasa begitu menyakitkan dirinya sebagai seorang wanita.
Abizar yang melihat Aulia makan dengan begitulah akhirnya ikut mencomot ayam goreng dan juga sayuran milik wanita itu, membuat Aulia mendelik kesal karena tidak suka jika miliknya itu diambil tanpa permisi apalagi menggunakan tangan.
" Ih kamu ini aku baru tahu loh kalau ada pemilik cafe yang saat pelanggannya makan dia juga ikutan makan, terus nanti kalau bayar disuruh utuh tidak boleh kurang sedikitpun?"omel Aulia kesel tetapi Abizar hanya cengengesan tidak peduli.
keduanya makan rasa-rasanya seperti Sepiring Berdua tetapi tidak secara langsung sih, dan entah mengapa Aulia seperti sudah tidak ingin mempermasalahkan Apa yang dilakukan oleh Abizar karena nantinya pria itu tidak akan pernah peduli.
Bagas yang merasa perasaannya tidak enak langsung menelpon ke rumah untuk memastikan Apakah istrinya itu ada di rumah atau tidak, Dan kebetulan yang mengangkat panggilan adalah Mamanya sendiri yang hari itu memilih untuk tetap di rumah tidak kemana-mana.
"Ya Bagas, kenapa tumben menelpon Mama di jam kantor seperti ini? "tanya Nella penasaran.
__ADS_1
"istriku ada di rumah? "tanya Bagas langsung tanpa ingin bertele-tele lagi menjelaskan pertanyaan dari Nella barusan.
Nella mengerutkan keningnya ketika mendengar pertanyaan dari Bagas Itu, sebab menurutnya pria itu mau menanyakan istrinya yang mana dan ia tidak tahu sama sekali tujuannya kepada siapa.
"kalau Davina kemarin kan kamu sudah tahu kalau dia dibawa pergi oleh kedua orang tuanya, Jadi kalau kamu bertanya soal dia rasanya...
"maksudku itu istriku Aulia sekarang ada di rumah atau tidak? "potong Bagas yang tidak ingin mendengar penjelasan Mamanya itu lebih lanjut.
Nella menghembuskan nafasnya kasar karena ternyata anaknya itu tidak terpengaruh sedikit pun dengan kepergian Davina dari rumah, padahal seharusnya Bagas itu mencemaskan Davina atau kalau memang sudah tidak memiliki rasa kepada wanita itu lebih baik langsung menggugat cerai saja supaya urusannya bakalan lebih beres dan juga cepat selesai serta tidak ada hubungan yang menggantung seperti saat ini.
"Oh kalau Aulia Tadi katanya dia mau pergi ke rumah kedua orang tuanya, tadi Mama mau ikut tetapi dianya tidak mau ya akhirnya Mama hanya di rumah saja. "jelas Nella yang tidak tahu apapun dan hanya ingin berkata Jujur saja terserah nanti respon Bagas seperti apa.
"Astaga kenapa Mama tidak memaksa saja untuk ikut? kalau misalnya dia tidak jadi ke rumah orang tuanya pasti dia sudah menuju ke cafenya pria Kurang ajar itu, yang tidak sadar kalau sebenarnya Aulia itu adalah istriku malah terus saja gencar untuk mendekatinya! "omel Bagas merasa sedikit frustasi ketika Aulia pergi dari rumah tanpa meminta izin dulu kepadanya.
"Bagas, Mama tadi itu sudah mau ikut tetapi dia nya tidak mau! Lagian Kenapa sih kamu terlalu mengekang Aulia, biarkan dia menikmati hidup seperti dulu sebelum menikah dengan kamu supaya dia tidak merasa kalau kebebasannya itu kamu renggut? " Nella yang sudah merasa kesal dan memilih untuk mematikan panggilan tersebut Soalnya kalau terlalu lama berbicara dengan orang bucin tingkat dewa seperti Bagas yang ada dirinya sendiri yang bakalan stress nantinya.
Bagas yang melihat panggilan dari Mamanya itu sudah dimatikan membuat pria itu ingin sekali membanting ponselnya ke dinding, Hanya saja karena ia masih harus menghubungi Aulia saat ini membuat dirinya terpaksa mengurungkan niatnya itu.
"Dimas kamu sekarang pergi ke cafe tempat pria tidak berguna itu, dan pastikan Apakah istriku ada di sana atau tidak! "perintah Bagas yang tidak peduli lagi jika sekarang asisten merangkap sebagai sekretarisnya itu Tengah mengerjakan laporan untuk sebentar mereka pakai bertemu dengan klien yang merupakan perwakilan dari tuan Perdana di Bandung yaitu Papanya Nina.
Dimas menghentikan kegiatannya itu kemudian langsung menghubungi Aulia tepat di hadapan Bagas, dirinya tidak ingin diperdaya lagi oleh majikannya itu dengan menyuruhnya pergi melakukan sesuatu hal yang sebenarnya hanya masalah sepele saja dan itu diakibatkan oleh rasa cemburu Bagas yang terlalu berlebihan.
Bagas menatap heran ke arah Dimas yang tidak merespon perintah yang ia berikan tadi tetapi yang ada malah menghubungi seseorang, dan lebih parahnya lagi ketika speaker dinyalakan ternyata itu merupakan suaranya Aulia.
Padahal dirinya yang notabene yang merupakan suaminya Aulia saja tidak berani menghubungi istrinya itu secara langsung, karena Takutnya nanti Aulia bakalan memarahinya akibat terlalu ikut campur dengan urusannya tetapi sekarang Dimas malah dengan berani melakukan hal itu.
"ini siapa ya? "tanya Aulia penasaran.
"Maaf Nyonya tolong katakan Di mana anda berada sekarang karena jika tidak maka bisa dipastikan pekerjaan saya tidak bakalan selesai, dan ini adalah menyangkut 1000-an karyawan yang bekerja di dalam proyek Jadi kalau Nyonya tidak jujur maka kita semua yang bakalan kena imbasnya! "jelas Dimas langsung to the point.
Aulia mengerutkan keningnya karena merasa seperti kenal dengan suara ini yang sedang menelponnya sekarang, dan akhirnya dirinya ingat kalau sebenarnya orang yang sedang berbicara dengannya ini adalah asisten dari suaminya.
__ADS_1
"Aku lagi makan di luar sedikit lagi mau pergi ke rumahnya Abah sama Umi, kalau majikan kamu itu bertanya katakan saja kalau aku tidak bakalan selingkuh dan juga tidak ada niatan buat punya suami lebih dari satu! "jelas Aulia lalu mematikan panggilan tersebut.
"Sudah bereskan Tuan ? "Tanya Dimas lalu kembali fokus pada berkas yang ada di hadapannya sedangkan Bagas sudah seperti orang yang tidak tahu berbicara lagi dan memilih untuk kembali ke ruangannya.