
Bagas yang merasa tidak ada tempat lain yang bisa ia tuju kecuali rumah maka dari itu ia memilih untuk pulang, berharap agar Sesampainya di sana Aulia sudah pulang dan dengan begitu mereka berdua bisa secara langsung menyelesaikan masalah mereka itu.
Dirinya bahkan mengendarai mobil dengan pikiran yang sangat menerawang jauh seolah tubuhnya saja yang berada di tempat itu tetapi jiwanya sedang Berkelana, pria yang biasa dikenal sangat cuek tidak peduli dengan urusan apapun di sekitarnya meskipun itu adalah kedua istrinya sekarang terlihat berbeda.
Jelas berbeda karena dirinya sekarang sudah seperti orang yang tengah kehilangan semangat untuk hidup, itu semua akibat kebodohan yang ia lakukan beberapa waktu yang lalu yaitu menyakiti wanita yang baru saja ia paksa masuk dalam kehidupan rumah tangga ini.
Sesampainya di sana rumah masih dalam keadaan sepi seperti biasanya Walaupun ada orang di dalamnya, tetapi karena para istrinya itu selalu sibuk dengan urusan masing-masing kemudian putrinya pun kebanyakan menikmati gadget dalam kamar mereka.
Dilihatnya mobil milik Davina dan juga Safira masih berada di tempatnya ya Otomatis pemiliknya pun ada di situ, ingin dilihatnya Apakah mobil Aulia ada atau tidak Ternyata pria itu baru sadar kalau senang mereka menikah ia tidak pernah memberi nafkah kepada Aulia.
Wanita yang seharusnya berhak mendapatkan hak seperti istri-istrinya yang lain ternyata tidak diingatnya sama sekali, karena Bagas lebih memilih Aulia harus menjalankan kewajibannya dan tidak boleh menuntut haknya sedikitpun.
Memang Aulia melakukan sesuai dengan yang Bagas inginkan yaitu tidak boleh meminta apapun dan ternyata Bagas sadar kalau itu merupakan sebuah kesalahannya, karena dengan secara tidak sengaja membeda-bedakan Aulia dengan para istrinya yang lain itu sebenarnya sudah sangat keterlaluan.
"Aku punya banyak harta punya segala-galanya yang membuat orang lain merasa bahwa aku tidak akan terkalahkan, tetapi kenapa aku tidak memberikan apapun kepada istriku sendiri sedangkan kedua istriku yang lain menikmati fasilitas yang begitu mewah?" Bagas dalam hati baru pergi segala kebodohan yang selama ini telah ia lakukan dalam hidup.
"Semoga saja dia di dalam sehingga aku bisa membawanya keluar untuk membeli mobil kemudian perhiasan yang pantas untuk dirinya pakai, karena aku tidak ingin nantinya disebut suami yang pilih kasih terhadap para istrinya karena memang aku tahu inilah Resiko yang harus aku terima ketika memilih untuk poligami ! " Bagas berharap agar Aulia sekarang ini sudah berada di dalam rumah karena memang dirinya sudah tidak tahu lagi Ke mana tujuan yang selanjutnya untuk mencari istrinya itu karena dirinya selama ini tidak mengenal begitu baik pergaulan Aulia.
Sesampainya di sana terlihat Indira dan juga Nella Mamanya sedang duduk sambil menonton film kartun kesukaan Indira, garis kecil itu bahkan sekali-kali tertolong ngakak karena merasa lucu berbeda dengan Nella yang hanya senyum-senyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya ampun nenek itu-itu kenapa lucunya minta ampun Ya Masak mau minum air saja harus ambilnya pakai cangkir segede itu, nanti kalau bajunya basah karena ketumpahan air dia nggak bisa ganti soalnya setiap hari dia kan pakainya baju itu saja?"tanya Indira.
"Soalnya dia itu sayang bajunya kalau diganti nanti baju yang lama tidak kepakai lagi dong, terus dianya juga kan tidak main nakal makanya bajunya selalu bersih jadi dia hanya perlu mandi setelah itu pakai bajunya lagi!"sahut Nella sekenanya karena memang selama dirinya menonton film kartun selama ini tidak pernah Indira Melihat pemain dalam serial tersebut menggunakan baju yang berbeda pasti bakalan selalu sama sampai film itu tamat meskipun memakan waktu bertahun-tahun.
Bagas tidak ingin menimpali perbincangan mereka yang ada kini dirinya melewati mereka untuk menuju ke dalam kamarnya Aulia , berharap agar istrinya itu sudah ada di dalam dan mau mengobrol dengannya agar dirinya bisa minta maaf dengan kekerasan yang ia lakukan tadi.
Namun sepertinya mungkin Bagas yang terlalu lama atau Indira yang terlalu jeli, soalnya sebelum Bagas menaiki tangga gadis kecil itu sudah berlari sambil menarik kuat tangan Papanya agar ikut dengannya.
"Papa kok baru datang padahal Indira lagi tungguin dari tadi loh sampai-sampai nggak masuk kamar nggak ada yang namanya main gadget, tetapi datang nggak tahu malah ke sana terus sudah begitu nggak panggil Indira lagi? "Tanya Indira dengan tatapan mata jernihnya itu.
__ADS_1
"Maafkan papa nak! Tetapi Bisakah kamu lepaskan tangan papa Soalnya papa ada urusan lebih penting lagi, nanti kalau urusannya sudah selesai Papa janji bakalan ke sini lagi buat nemenin kamu!"minta Bagas perlahan karena tidak mungkin dirinya menggunakan kekerasan kepada gadis yang masih kecil yaitu.
"Aku juga bukan mau gangguin papa kok Tetapi hanya pengen kalau Papa udah pulang Ngomong dong Karena aku mau main sama Bunda, kalau kakak mau ke mana saja ya terserah aku kan nggak mau sibuk urusan Papa nanti yang ada Mama Devina marah!"Bagas mengerutkan keningnya mendengar perkataan dari Indira barusan.
"Maksudnya kamu mau ngomong sama Bunda Aulia? Ya kenapa nggak ngomong dari tadi saja kan Bundanya udah pulang ke rumah, ini saja aku mau ketemu sama dia jangan ngelihat keadaannya kayak gimana?"Jelaskan tetapi Indira malah menggelengkan kepalanya pertanda tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Bagas barusan.
"Kalau Bunda Aulia sudah pulang dari tadi tidak mungkin dong Indira duduk di situ sambil nonton film kartun bareng nenek, karena pastinya Bunda yang bakalan menemani Indira Tetapi kan tidak ada ini saja lagi nungguin Bunda!"penjelasan Indira itu membuat bagasi yakin kalau istrinya itu belum pulang ke rumah sama sekali maka dari itu dirinya sudah tidak menghiraukan perkataan Indira melainkan dengan secepat kilat pergi ke arah kamar yang ditempati oleh wanita itu.
Indira mengikuti langkah kaki Papanya Itu karena dikiranya Bagas itu hendak pergi memanggil Aulia akan bermain dengannya, sampai di sana terlihat Bagas mengacak rambutnya frustasi mungkin karena Harapan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada saat ini.
Kamar tersebut masih dalam keadaan kosong melompong pertanda tidak ada kehidupan sama sekali di dalamnya dan juga pemiliknya sepertinya meninggalkannya dalam waktu lama, karena sprei yang tadi pagi sudah dirapikan oleh asisten rumah tangga tidak bergeser sedikitpun masih tetap dalam posisi yang sama.
"Kamu kok belum pulang padahal ini sudah mau malam loh dan aku juga sedang cemas memikirkan kamu, Apa karena kamu benar-benar tidak memaafkan kesalahanku yang kulakukan kepada kamu tadi itu?" lirih Bagas pelan tetapi masih bisa didengar oleh Indira gadis kecil tapi jenius yang selalu peka terhadap keadaan sekitarnya mungkin karena terbiasa melihat Papa dan juga Mamanya yang selalu berdebat dimana saja dan kapan saja.
Indira mendekati Papanya itu selalu menarik tangannya agar bisa merespon apa yang ia katakan nanti, sebab dirinya yakin kalau Papanya itu seperti tengah ada masalah terlihat dari guratan kelelahan di wajahnya.
Terdengar helaan nafas begitu berat dari Bagas, pertanda bahwa pemiliknya sedang merasakan beban yang begitu menghimpit tubuhnya saat ini. Bahkan bisa dibilang pria itu rasa-rasanya ingin sekali berteriak kepada semua orang, bahwa dirinya begitu mencemaskan keadaan Aulia yang tidak pulang itu.
"Memangnya Selama kamu ada di sini kamu tidak melihat Bunda Aulia pulang, karena Papa pikir tadi itu Bunda sudah pulang Soalnya waktu ditelepon Nomornya tidak aktif sama sekali?"tanya Bagas memastikan Siapa tahu Indira melihat Aulia pulang padahal tadi gadis kecil itu malah menanyakan Bundanya tetapi Bagas seolah melupakan hal itu sejenak.
"Bunda memang belum pulang Papa, kalau sudah pulang tidak mungkin lah aku bertanya kepada Papa lagi! "ujar Indira yang terlihat sudah mulai kesal dengan Bagas karena tidak mau membawa pulang Bundanya ke rumah.
"Kalau begitu nanti papa bakalan kasih nomor ponselnya Mama terus Dirah Yang telepon Ya siapa tahu dengan begitu Papa bisa tahu posisi Bunda, Dengan begitu kita bisa langsung menjemput Bunda pulang ke rumah ini soalnya kasihan kalau dia kelamaan di luar!"tawar Bagas yang merasa bahwa posisi Begini lebih menguntungkannya kalau dirinya yang menelpon Jangan harap Aulia bakalan merespon panggilan darinya itu.
Indira Tentu saja tidak bakalan menolak perkataan dari Bagas tadi jika menyangkut soal Aulia, karena menurut gadis kecil itu dirinya ingin sekali bertemu dengan wanita yang sangat lembut dan juga penyayang ketika bersamanya..
"Ya sudah mana nomornya Pah biar aku yang menelpon, tetapi jangan lupa ya menjemput Bunda kalau sampai Papa bohong aku bakalan ngaduin bapak polisi!"tegas Indira sampai memasang tatapan tajam.
Akhirnya negosiasi antara Bagas dan juga Indira selesai dan terlihat Indira sedang mengutak-atik ponsel yang biasa ia pakai untuk bisa menghubungi Aulia, terlihat guratan begitu penuh harapan tersirat jelas di dalam wajahnya Indira pertanda bahwa sangat menginginkan Kalau panggilan yang ia lakukan itu direspon baik oleh Aulia dari seberang.
__ADS_1
Tut Tut Tut
Indira mengangkat jempolnya tinggi-tinggi menunjukkan kepada Bagas kalau sebenarnya panggilan itu masuk, dan berharap tidak sampai dalam 1 menit wanita yang sedang ia hubungi itu merespon panggilan yang ia lakukan.
Namun sepertinya Harapan itu tidak sesuai dengan kenyataan karena sudah hampir 3 menit lebih tidak ada respon sedikitpun dari manusia di seberang, namun terlihat Indira masih belum patah semangat karena terlihat dari gadis kecil itu Yang kembali menghubungi Aulia
Aulia yang kebetulan baru saja kembali dari kamar mandi menatap heran ke arah ponsel yang bergetar Tetapi nomor yang menghubungi itu merupakan nomor asing dan sudah dua kali, karena jiwanya yang selalu kepo ya otomatis langsung di respon siapa tahu itu merupakan nomor penting yang ada keperluan mendesak begitu Jadi tidak bisa dirinya abaikan begitu saja
"ya Halo ini dengan siapa ya?" tanya Aulia mengerutkan karena memang dirinya tidak kenal dengan nomor asing tersebut.
Indira yang mendengar sahutan dari seberang dan sangat mengenal suara itu langsung terlonjak kegirangan sampai-sampai ponsel di tangannya pun hampir lepas, lalu gadis kecil itu memilih untuk menetralkan jantungnya dan segera menjawab pertanyaan dari Aulia itu dengan begitu kencangnya sampai-sampai mungkin terdengar kira-kira naik Berapa oktaf.
"Ahhhh,Bunda ini aku Indira!"teriak Indira dengan satu kali tarikan nafas membuat Aulia kembali menatap ke arah ponselnya karena menurut pikirannya tidak mungkin Indira mendapatkan nomornya jika bukan dari Bagas.
"kamu pakai ponselnya siapa untuk menghubungi Bunda? "Aulia waspada jangan sampai anak kecil itu menghubunginya karena disuruh oleh Bagas.
Bagas yang kebetulan berada di samping Indira yang otomatis memberikan kode agar Indira tidak boleh jujur kalau sebenarnya dirinya juga ada di situ,Jika sampai Aulia tahu maka bisa dipastikan wanita itu langsung mematikan panggilan tersebut.
"Jadi ceritanya tadi kan Papah pulang terus tidak bareng sama bunda ya sudah Indira ambil nomor ponsel di handphonenya Papa, karena kebetulan Papa kalau ke kamar mandinya lama makanya Indira bisa melakukan hal ini dan kemudian setelah mendapatkan nomor langsung balik ke kamar lagi!"Bagas mengangkat jempolnya tinggi-tinggi ketika mendengar akting penipuan putrinya itu yang begitu natural.
Penjelasan Indira itu sebenarnya sedikit tidak masuk akal tetapi tidak masalah karena mana mungkin anak sekecil itu bisa berbohong, itu menurut pemikiran Aulia maka dari itu dirinya mulai merespon Indira karena tidak enak juga kan kalau gadis kecil itu menghubunginya terus dirinya mengabaikan saja.
"Bunda kok nggak pulang malah biarkan Papa sendirian pulang, nanti kalau Papa diambil sama Mami Safira jadinya kan Indira bakalan tidak mau tidak ikhlas tahu tidak? Soalnya mami Indira itu kejam sekali terus suka marah-marah ke Indira pernah juga Indira dijewer kupingnya sampai mau lepas, kalau ada bunda di sini pasti Indira tidak bakalan dimarahin sama itu Nenek Lampir!"perkataan Indira itu membuat Aulia tak bisa menahan tawanya karena anak sekecil itu sudah tahu menggosipkan orang lain di belakang.
Bagas tak kalahala terkejut ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Indira jika selama ini Safira selalu melakukan hal yang tidak baik kepada anaknya itu, meskipun dirinya memimpikan anak laki-laki tetapi tidak mungkin juga kan harus mengabaikan anaknya yang lain.
"Wah Mami kamu melakukan hal itu? Nanti Lain kali kalau dia ulangi lagi Indira siapkan bubuk merica aja, supaya kalau dia pas mau dekat langsung disemprotkan barang itu pasti dia bakalan langsung kapok!"ajaran Aulia itu didengar jelas oleh Bagas membuat pria itu hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar perkataan istrinya yang begitu barbar.
"Tapi kan Indira masih kecil jadi lebih baik Bunda pulang saja, nanti kita berdua bakalan kerjasama untuk membuat Mami Safira kapok! Soalnya Mama Davina itu tidak bisa diharapkan, masa iya aku dimarah-marah oleh Mami Shafira Mama Davina diam-diam saja!"tolak Indira yang menyiratkan agar Aulia pulang karena perlindungan gadis kecil itu berada pada tangan Aulia.
__ADS_1