Menjadi Yang Ke-3

Menjadi Yang Ke-3
Kontrakan


__ADS_3

Dimas memilih untuk menghubungi Bagas tindakan apa yang ingin dilakukan oleh pria itu kepada istrinya atau lebih tepatnya wanita yang akan menjadi mantannya itu, karena kalau urusan tempat tinggalnya Safira itu bukan masuk di dalam urusannya maka dari itu ia harus mengkonfirmasi kepada Bagas agar pria itu yang bisa menentukannya.


Safira hanya berdiri menunggu saja dengan harap-harap cemas karena Takutnya nanti jangan sampai Bagas benar-benar membuangnya kembali ke jalanan, Karena jika sampai hal itu terjadi maka bisa dipastikan sirnalah sudah harapannya selama ini untuk hidup bergelimpangan harta Sampai tua nanti.


Bagas yang dari tadi hanya duduk bengong menatap ke arah ponselnya itu, apalagi panggilan itu berasal dari asistennya yang ia tugaskan untuk memberitahukan sesuatu kepada Safira.


"Hemm ada apa lagi?" tanya Bagas memastikan.


"Wanita ini katanya nanti tinggal dimana?" Tanya Dimas balik yang tidak ada sedikitpun niat untuk menghormati Safira lagi.


"Ya tentu terserah dia mau kemana,bukan kah selama ini aku selalu memberikan uang bulanan yang banyak yaitu 50 juta sebulan? Jadi selama dua tahun ini pasti sudah banyak kan uang yang dia punya,sekarang suruh dia pakai uang itu saja kan buat cari tempat tinggal!" sahut Bagas selalu segera mematikan ponselnya.


Dimas menoleh ke arah Safira yang ia yakini pasti mendengar percakapan antara dirinya dan juga Bagas, dan juga mendengar perkataan Bagas tersebut membuat pria itu yakin kalau sebenarnya apa yang Safira miliki sekarang itu lebih dari cukup.


"Karena tadi perkataan Tuan Bagas cukup jelas maka dari itu Sepertinya saya tidak perlu harus mengulanginya lagi, silakan pergi cari kontrakan yang sesuai dengan uang yang anda miliki saat ini dan untuk urusan Tuan Bagas saya rasa sudah selesai!"jelas Dimas selalu memilih untuk segera pergi dari situ karena menurutnya jika berlama-lama dekat dengan Safira otomatis wanita itu bakalan lebih besar kepala lagi dan juga akan penuh percaya diri merasa bahwa Bagas masih peduli. Pada


Safira tidak tahu lagi harus bagaimana Karena memang selama ini Bagas memberikan dirinya uang bulanan itu dengan jumlah yang fantastis, namun percayalah kalau uang-uang tersebut itu hanya bertahan beberapa saat lamanya saja di dalam rekeningnya setelah itu ia bakalan memakainya sampai ludes tak tersisa.


Oleh karena ia selalu berpikir uang yang Bagas kasih itu untuk dirinya pakai bersenang-senang, karena biaya hidup untuk makan minum dan juga tempat tinggal semuanya ditanggung oleh Bagas maka dari itu ia tidak perlu harus memikir banyak lagi tinggal hanya menyenangkan diri sendiri.


"Aduh uang dalam rekeningku sisa berapa ya? Kalau pun ada pasti jumlahnya sudah sedikit saja tidak seperti yang dipikirkan oleh Bagas, Lagian pria itu kaya kok pelit sekali masa iya aku diceraikan tanpa diberikan sepeserpun?"omel Safira lalu menuju ke dalam mobil yang syukur juga benda mati tersebut tidak diambil oleh Bagas kalau tidak maka bisa dipastikan dirinya menjadi miskin hanya dalam hitungan menit.


Dimas yang sudah selesai mengurus Safira memilih untuk bertemu dengan Bagas, karena agenda pria itu saat ini adalah bertemu dengan kliennya yang berasal dari Bandung.


Kebetulan klien tersebut sedang ada urusan di Jakarta makanya dirinya bisa bertemu dengan Bagas secara langsung, Karena setelah itu dirinya harus terbang kembali ke Bandung karena di sana ada anak gadisnya yang tengah menunggu.


"Permisi tuan, Bisakah kita bertemu dengan tuan Perdana di ruangan meeting? Karena beliau sudah datang dari tadi dan tidak enak jika dibiarkan menunggu terus-menerus, Takutnya nanti mereka bakalan menilai kalau Perusahaan kita itu tidak layak untuk menyambut tamu yang datang! "jelas Dimas meskipun Bagas lagi galau tapi bagaimanapun pria itu adalah pemimpin di situ yang otomatis harus memisahkan urusan pribadi dan juga pekerjaan.

__ADS_1


"Ya sudah ayo kita ke sana, tetapi nanti setelah itu kamu harus menemani saya untuk mencari istriku kembali? Kamu tahu kan kalau sekarang istri saya itu sisanya dua dan kalau yang satunya itu lagi bikin ulah, maka bisa dipastikan yang tersisa hanyalah Aulia tetapi pertanyaannya wanita itu sekarang ada di mana? "Bagas mengatakan semua itu seolah menyiratkan kalau dirinya rela melepaskan Davina dan juga Safira tetapi tidak ada niatan sedikitpun untuk berpisah dengan Aulia.


"Baiklah Tuan, saya akan mengikuti kemanapun anda pergi! "jelas Dimas yang memang seperti kerbau yang dicucuk hidungnya mau kemanapun Bagas membawanya Ia tetap harus mengikutinya tanpa membantah sedikitpun .


Kini mereka sudah berada di ruangan meeting terlihat seorang pria paruh baya yang tengah tersenyum ke arah mereka berdua, sepertinya pria itu tidak keberatan jika Bagas datang terlambat mungkin karena pria itu masih ada urusan sebentar yang tidak bisa ia tinggalkan.


"Maaf Tuan Perdana, Kalau kami datangnya dari belakangan padahal seharusnya kami yang menyambut tamu! "ujar Bagas tidak enak hati.


"Santai saja! Jangan terlalu dibawa resmi bukankah kita di sini itu hanya ingin membahas kerjasama, dan kalau membahas kerjasama otak kita itu harus dingin dan juga lebih santai biar pembahasannya lebih kena dan juga langsung mendapatkan poin yang dituju? "ujar Perdana yang memang tidak masalah jika Bagas datang dari belakangan toh dirinya juga baru sampai beberapa menit yang lalu.


...****************...


Paris Van Java


Aulia Tengah menikmati suasana yang tenang di kebun belakang rumah milik orang tuanya Nina, di situ ditanami berbagai macam pohon mulai dari buah-buahan kemudian tanaman hias dan juga sebagainya.


Nina dan juga Mamanya hanya bisa menatap penuh kasihan ke arah Aulia, mereka bukan tidak tahu masalah yang dihadapi oleh wanita itu namun untuk membantu sepertinya belum tepat waktunya karena terlihat Aulia sepertinya enggan membahas masalahnya.


"Mama itu kasihan sama Aulia, dari dulu sampai sekarang itu hidupnya hanya diatur oleh Abah dan juga Uminya! Padahal mereka harus bersyukur tidak punya anak eh tiba-tiba ada yang tega membuang anak balita yang begitu cantik, dan akhirnya mereka rawat seperti anak sendiri tetapi keegoisan mereka itu membuat tidak pernah memikirkan kebahagiaan Aulia! "perkataan dari Rahayu Mamanya Nina membuat anaknya itu menatap heran karena tidak paham dengan perkataan mamanya yang begitu ambigu dan juga tiba-tiba seperti itu.


"Mama tolong Jawab dengan jujur dan juga Jangan berbohong sedikitpun, karena ini Mama yang ngomong bukan dari aku ataupun bukan aku yang menciptakannya sendiri ! "tegas Nina membuat Rahayu tercegah karena akhirnya membongkar sesuatu yang selama ini sudah disembunyikan rapat oleh Santi dan juga Deni.


"Ya ampun Nak, Tolong jangan diambil hati perkataan Mama yang tadi itu! Mama tadi itu hanya keceplosan saja akhirnya ngomongnya ngalor ngidul kemana-mana tidak jelas, Tolong ya jangan kamu katakan kepada Aulia semua yang tadi mama katakan karena takut nanti dia bakalan lebih stress dan beban pikirannya tambah banyak! "pinta Rahayu penuh permohonan.


Nina bukan anak kecil lagi yang bisa memikirkan hal lain secara bersamaan ketika Mamanya itu mengalihkan topik pembicaraan, pendengarannya juga masih berfungsi dengan baik otomatis apa yang dikatakan oleh Rahayu tadi sudah ia dengar dengan sebaik mungkin dan juga sudah punya pertanyaan yang begitu banyak di dalam benaknya.


"kalau Mama tidak bicara otomatis aku tidak akan pernah bertanya seperti ini, jadi tolong jangan menyembunyikan sesuatu yang benar-benar Mama tahu kebenarannya itu seperti apa! "tegas Nina sambil menatap ke arah Mamanya itu karena yang ia inginkan saat ini yaitu kejujuran dan juga tidak ada yang namanya rahasia segala Apalagi itu menyangkut dengan sahabat satu-satunya yaitu Aulia.

__ADS_1


Rahayu terdiam sambil menoleh ke arah Aulia takutnya jangan sampai Wanita itu sudah bergerak dan menuju ke arah mereka, bukan karena dirinya ingin merahasiakan hal tersebut tetapi melainkan tidak tega ketika seorang anak yang sudah menganggap jika orang tua tersebut merupakan orang tua kandungnya dan tiba-tiba dipatahkan oleh kenyataan yang ada pasti mereka bakalan memikirkan berbagai banyak hal.


"Nanti Mama bakalan cerita tetapi tidak di sini dan juga tidak sekarang, karena kamu tahu sendiri karena nanti kalau Aulia datang tiba-tiba nanti kita bakalan menjelaskan apa?"tolak Rahayu yang masih tetap ada pendiriannya kalau apa yang ia katakan tadi itu hanya karena keceplosan dan juga salah bicara.


Nina mengambil kedua tangan Mamanya itu menatap penuh permohonan ke arah wanita yang sudah melahirkannya ke dunia itu, kalau memang rahasia itu harus dibongkar dirinya siap menjadi pendengar tetapi tidak akan siap menceritakan semuanya kepada Aulia Jika hati dan pikiran wanita itu tidak pada tempatnya.


"Mama tahu kan Bagaimana sikap anak Mama ini? Aku pasti akan menjadi pendengar yang setia, dan juga tidak akan pernah membocorkan kepada siapapun apalagi Aulia. Hanya saja aku mohon tolong kasih tahu apa yang sudah Mama ketahui, agar aku bisa membaca pola pergerakannya Abah dan juga Umi yang Bahkan tidak segan-segan mengorbankan Aulia!"pinta Nina penuh permohonan agar Mamanya itu mengerti Kalau sebenarnya dirinya sangat tidak tega melihat Aulia hidup tanpa kepastian dan selalu saja Setia pergerakannya dibayang-bayangi oleh kedua orang tuanya itu.


"Dahulu kala Mama Memang waktu itu bertetanggaan dekat dengan Deni dan juga Santi, berkala dulu memang sudah menikah selama 12 tahun tapi tidak punya anak sama sekali. Lalu setelah itu tiba-tiba di tengah malam Waktu itu Hujannya besar sekali, terdengar suara Tangis Bayi di depan pintu rumah mereka waktu itu dan ketika mereka berdua keluar ada seorang bayi diletakkan di dalam kardus kemudian ditulisi nama Aulia permata.


Oleh karena waktu itu kita memang bertetanggaan pas memang di samping jadi mama bisa tahu apapun yang terjadi di rumah mereka, Namun karena mereka takut nanti rahasia itu bakalan dibocorkan oleh tetangga makanya mereka memilih pindah ke kota dan juga melarang Aulia untuk tidak boleh ke Bandung sedikitpun.


penjelasan Rahayu yang menurut Nina meskipun singkat dan secara garis besar tetapi Wanita itu sudah paham Kemana arahnya dan untuk siapa cerita itu, namun satu yang tidak dirinya pahami kenapa sampai Aulia waktu itu bisa bersekolah dan bertemu dengannya.


"Aku itu lagi memikirkan waktu itu kan aku sama Aulia ketemunya di Jakarta Kami sekolah sama-sama terus setelah itu aku pindah, tetapi pertanyaannya Kok bisa ya aku ketemu dengan orang-orang yang dulu sebenarnya tinggalnya dekat dengan rumah kita tetapi karena ingin bersembunyi makanya mereka pindah? Aku jadi berpikir jangan sampai ini rencana Tuhan untuk membuka selama ini kebohongan yang sudah disembunyikan oleh Abah dan juga Umi, karena jika tidak Mana mungkin aku bertemu dengan Aulia yang jelas-jelas jarak kami itu sangat berjauhan?"ujar Nina.


"Makanya waktu kamu bawa teman terus namanya Aulia, Jadi Mama langsung bertanya namanya secara keseluruhan dan juga nama orang tuanya Siapa tahu sama! Setelah dia menjelaskan ternyata memang benar orang itu adalah dia, hanya saja ketika mendengar dari kamu kalau dia ada masalah dengan suaminya itu yang membuat Mama sedikit kasihan kepadanya karena ternyata hidupnya dari dulu sampai sekarang tidak semulus dengan kulitnya itu. "jelas Rahayu dan langsung mengalihkan topik pembicaraan ketika melihat Aulia sudah berjalan mendekati mereka berdua.


"kalian itu anak mama Tapi kompak banget loh Dari tadi ngobrolin Apa sih serius sekali, sampai-sampai karena kepo akhirnya aku datang ke sini untuk Mendengar siapa tahu ada topik yang bisa membuat aku nyambung? "tanya Aulia Sambil tertawa kecil tetapi berbeda dengan Nina yang suasana hatinya sedikit kacau ketika mendengar kebenaran itu karena Ia memang sangat menyayangi Aulia dan tidak menyangka jika selama bertahun-tahun wanita itu dibohongi oleh keluarganya.


"Aku ke kamar dulu ya mau mandi soalnya, Gerah banget nih!"pamit Nina dengan segera menuju ke dalam kamarnya membuat Aulia mengerutkan keningnya karena bingung.


"Itu anak kesambet setan apa ya, Kok bisa mandinya Sampai double 2 kali? Perasaan tadi pagi kan dia baru mandi Kok sekarang ulang lagi, ada saja kelakuannya itu tiba-tiba berubah kayak bunglon ! "ujar Aulia yang benar-benar merasa heran dengan perubahan sikap sahabatnya itu.


"kamu sabar saja ya soalnya Nina kan seperti begitu dari dulu, Oh ya Kamu sudah mandi belum Kalau sudah lebih baik kamu ikut Tante pergi ke pasar kita belanja bahan-bahan untuk makan siang nanti? Soalnya nanti siang itu suami tante pulang dari Jakarta, dan dia kalau pulang selalu pengennya mau makan masakan yang enak-enak!"tanya Rahayu yang tidak ingin membuat Aulia penasaran dengan perubahan sikap Nina itu.


"Ya sudah Tante aku juga kebetulan sudah rapi dan juga boring tidak ada kerjaan Hanya duduk saja, Lebih baik aku temani Tante saja kan hitung-hitung belajar jadi seorang istri yang berbakti kepada suami! "ujar Aulia yang tanpa sadar jika sebenarnya sikapnya sekarang itu tidak mencerminkan sosok istri yang berbakti.

__ADS_1


__ADS_2