
Andara Tentu saja tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh neneknya itu barusan, sebab menurutnya Nela itu pasti selalu membela anak kesayangannya itu karena buktinya Bagas menikah sampai tiga kali pun wanita itu terlihat tidak keberatan.
maka dari itu dirinya menatap tajam ke arah Nela yang sebenarnya selama ini tidak pernah ikut ambil bagian dalam merawat dirinya dan juga Indira, karena selama ini yang merawatnya yaitu orang tua dari Davina yaitu Opa dan Omanya yang tidak pernah mengeluh ketika dirinya membantah ataupun melawan.
"Nenek sadar diri ngomong seperti tadi, bukankah selama ini nenek itu selalu membenciku? Kenapa sekarang malah marah-marah seperti itu, seolah-olah kalian itu tidak pernah melakukan kesalahan hanya aku dan Mama saja yang bersalah di rumah ini? "tanya Andara yang sudah mengerti semuanya soalnya umur Gadis itu sudah belasan tahun dan sekarang sudah kelas 2 SMA yang otomatis segala macam masalah dalam rumahnya otomatis ia sangat paham.
Nella menatap heran ke arah cucunya ini yang menurutnya sudah sangat keterlaluan karena bisa-bisanya menjawab perkataannya, dan lebih parahnya lagi Davina dari tadi seolah tidak peduli dengan kata-kata kurang ajar yang dilontarkan oleh anaknya itu karena sekarang wanita itu malah fokus dengan ponselnya.
"Kamu berani ngebantah Nenek? Ajaran apa yang kamu dapatkan sampai-sampai kamu bisa kurang ajar seperti ini, dan juga tidak menghargai orang yang lebih tua daripada kamu? "tanya Nella emosi.
"Mama kenapa bawa ajaran segala Memangnya Selama ini Mama pernah mengajarkan hal baik kepada anakku ini, jangan gitu dong seolah-olah orang tuaku yang selama ini merawat dia sudah membuat otak anakku ini menjadi tidak benar dan juga kurang ajar? "tanya Davina emosi membuat anda tersenyum bahagia karena menurutnya jika sampai neneknya itu bertengkar dengan mamanya otomatis Bagas pasti membela Mamanya dan akan menceraikan Davina.
"Yang menyangkut pautkan soal ajaran orang tua kamu dengan apa yang dilakukan oleh Andara itu siapa tadi, Mama kan nggak ada bawa-bawa kedua orang tua kamu dalam mendidik dia karena tadi ya ucapan Mama itu hanya menanyakan saja ajaran itu dia dapatkan dari mana? Kalau memang ajaran orang tua kamu baik-baik saja ya itu artinya salah dalam pergaulannya dia, dan kamu sebagai seorang ibu tidak pernah memperhatikan soal pergaulan anak kamu di luar sana yang entah menjurus ke hal yang negatif atau positif!"tegas Nella yang tidak suka kalau sampai menantunya itu begitu kurang ajar dan juga tidak punya sopan santun kepadanya.
Davina mematikan ponsel yang tadi ketika dirinya menonton tutorial make up sebab menurutnya tontonan itu sudah tidak menghibur lagi selain berdebat dengan mertuanya itu, karena dari tadi dirinya hanya diam saja otomatis mertuanya itu bakalan terus saja menyalahkannya dan juga menjatuhkan harga dirinya di rumah ini.
"Mama menyalakanku lagi seolah-olah yang ikut ambil bagian di dalam pergaulannya Andara itu hanya aku sendiri, terus mama membenarkan sikap anak Mama itu selalu benar di dunia ini dan tidak perlu harus memantau perkembangan anak sendiri seolah-olah dia itu bukan Papanya! "jelas Davina kesal dan Percayalah antara tersenyum Devil karena dirinya yakin sedikit lagi pasti Bagas bakalan keluar ketika mendengar keributan di lantai bawah.
"Lah kamu kenapa malah nyolot dengan mama sih? Sebagai seorang nenek yang pantas Mama menasehati cucu sendiri, kecuali cucu itu memang tidak mau dinasehati oleh keluarganya dan memilih untuk menjadi gadis pembangkang yang tidak berguna! "ujar Nella yang tidak suka ketika Ia menginginkan kedamaian dalam rumah ini di masa tuanya dan juga cucunya itu ketika dinasehati saat berbuat salah mendengarkan itulah yang ia harapkan dalam kehidupan ini.
"Aku tidak suka dinasehati oleh nenek! karena selama ini nenek itu sibuk dengan urusan sosialitanya yang tidak jelas itu dan tidak menguntungkan, terus tidak pernah memikirkan perasaan Mama serta selalu mendukung apapun keputusan Papa meskipun Mama Terluka sekalipun! "tolak Andara dengan tatapannya yang seperti Tengah menantang Nella agar terus berdebat dengan gadis itu.
Indira yang baru saja pulang sekolah merasa heran ketika ada keributan di dalam rumah Soalnya suara orang di dalam rumah itu keluar sampai ke pintu depan, padahal Rumah itu sangat luas dan juga besar ya jarak dari ruang keluarga ke arah pintu depan rumah itu kira-kira 10 meter lebih jauhnya.
"Pak Sopir itu di dalam rumah Kok lagi seperti ada demo sih, apa Papa sudah pulang jadinya tidak bisa menghentikan semuanya? "tanya Indira penasaran.
"Aduh Bapaknya tidak tahu Neng di dalam itu ada apa, lebih baik masuk saja dan memastikan kalau baik-baik saja ya tidak apa-apa Tetapi kalau memang ada orang jahat lebih baik Enengnya langsung masuk ke dalam kamar saja ya!"perintah sopir tersebut karena memang tidak tega jika anak sekecil Indira harus menyaksikan keributan orang di dalam rumah yang jelas-jelas belum saatnya dirinya melihat semua itu.
Indira setengah berlari menuju ke arah ruang keluarga yang terlihat kakaknya itu telah menunjuk ke arah Nela dengan suaranya yang begitu keras, padahal Nella itu adalah nenek mereka berdua ya Otomatis Andara harus menghormatinya dan juga tidak boleh kurang ajar seperti itu.
__ADS_1
"Kakak ini apaan sih kok nunjuk nunjukin nenek seperti itu, nanti kalau Papa lihat Papa bakalan marah loh?"tanya Indira heran karena melihat kakaknya itu terlalu kasar dan juga sangat tidak hormat terhadap orang yang lebih tua Apalagi itu adalah nenek kandung mereka sendiri.
Andara mendengus kesal ketika melihat Indira muncul sebab menurutnya anak sekecil itu tidak pantas ikut campur urusan orang dewasa, karena nantinya hanya membuat capek dan juga tambah pusing penjelasannya dan juga pasti tidak akan paham apa yang tengah dilakukan oleh orang dewasa dan apa yang tengah dibahas.
"kamu itu masih kecil udah baik diam dan masuk ke dalam kamar kami, Jangan pernah ikutan berdebat di sini daripada nanti Kakak bakalan hajar kamu loh! "usir Andara dengan suara yang begitu melengking bahkan tidak sadar kalau saat ini Bagas dengan menonton setiap kata-katanya itu dari lantai atas.
"Memangnya Kakak pikir aku bakalan takut kalau dihajar, Wah untung juga bunda Aulia tidak ada coba kalau dia ada di sini Kakak yang bakalan dihajar sama dia?" Ujar Indira sambil memasang itu wajah cemberutnya dan juga tangannya bersedekap di dada.
Andara tertawa mengejek ketika mendengar kata-kata penuh percaya diri milik adiknya itu, sebab menurutnya mau diapakan pun ia tidak akan pernah takut apalagi harus menghadapi istri ketiga dari Papanya Itu.
"kamu pikir Kakak takut sama dia? Sana pergi masuk ke dalam kamarnya dan panggil dia ke sini supaya lawan Kakak saat ini juga, supaya dia sadar kalau posisinya di sini itu tidak ada yang bakalan membela dan juga tidak ada yang bisa lebih dari aku!"ujar Andara begitu nyolot membuat Bagas mengepalkan tangannya menahan emosi karena menurutnya setiap kata-kata yang dikeluarkan oleh Andara Itu otomatis bakal membuat hubungannya dengan Aulia bakalan bertambah runyam Karena Wanita itu mungkin merasa tersinggung dengan apa yang ia dengar tadi.
Indira menatap ke arah neneknya itu ingin mendengar kepastian ketika mendengar secara langsung apa yang dikatakan oleh Andara itu, dirinya berharap agar Nella memberikan jawaban kalau sebenarnya saat ini Aulia sudah pulang dan tengah berada di dalam kamarnya.
"Bunda sudah pulang ya Nek?"tanya Indira penasaran.
"Maaf Papa, tapi Dira boleh kan ketemu sama Bunda?"tanya Indira sambil menundukkan wajahnya karena benar-benar merasa ketakutan dengan ekspresi Bagas saat ini.
Bagas menghela nafasnya kasar karena tidak mungkin Indira juga kena amukannya akibat Apa yang dilakukan oleh kakaknya, maka dari itu ia memberikan jalan kepada anaknya itu agar bisa masuk menemui Aulia mungkin dengan begitu istrinya itu bakalan luluh dan tidak akan menyiapkan koper segede gaban itu untuk pergi dari rumah.
"Terima kasih Papa, Indira janji dia bakalan jadi anak yang manis supaya Bunda tidak akan pergi lagi. "ujar Indira sambil tersenyum membuat Bagas pun ikutan tersenyum karena menurutnya anaknya itu masih kecil dan tidak tahu apapun permasalahan yang tengah terjadi di rumah ini.
Saat masuk ke dalam kamar Aulia terlihat Indira langsung membuka matanya lebar-lebar karena tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu, sebab terlihat Aulia Tengah menata pakaiannya di dalam koper dan juga sepertinya Tengah menahan emosi.
"Bunda marah ya? "cicit Indira pelan tetapi masih bisa didengar oleh Aulia.
Wanita itu menghentikan kegiatannya kemudian menoleh ke arah sumber suara dan tersenyum ketika melihat Indira yang sudah seperti Tengah menahan tangisnya, dirinya jadi tidak tega dan langsung membuka kedua tangannya lebar-lebar pertanda menyuruh Indira masuk ke dalam pelukannya.
"Halo anak cantik gimana kabarnya sih hari ini? kenapa wajahnya seperti mau menangis seperti itu, padahal katanya bakalan jadi strong woman seperti Bunda Tetapi kalau sedikit-sedikit mewek mah sama saja bohong? "ejek Aulia Sambil tertawa kecil membuat Indira ikutan tersenyum.
__ADS_1
"Bunda mau pergi ya dari rumah ini? Nanti kalau Bunda pergi akunya sama siapa Soalnya semua orang di rumah ini pada jahat semua tidak ada yang manis, kalau Bunda pergi biarlah aku ikut saja deh nanti aku ngomong sama mama Davina kalau mulai sekarang aku ini anaknya Bunda bukan anaknya Mama!"Indira tidak paham apa yang ia katakan tetapi intinya hanya satu yaitu anak kecil itu merasa nyaman dengan siapa maka ia bakalan mereka untuk ikut.
"Indira dengerin Bunda ya! Bunda itu sebenarnya tidak ingin pergi hanya saja rumah ini tuh rasanya sudah seperti neraka loh, orang di dalamnya hobi marah-marah semua Kemudian sekali berkumpul pasti tidak ada yang jelas apalagi nanti kalau ada Mami Safira bisa ribet urusannya! "jelas Aulia yang melupakan kalau saat ini sebenarnya Safira itu sedang digugat cerai oleh Bagas.
"Lho katanya Mami Safira itu sudah bercerai sama papa, ya kalau begitu kan artinya aku hanya punya Mama Davina dan juga Bunda Aulia!"jelas Indira membuat Aulia mengerutkan keningnya karena di pikirannya tadi itu hanya akal-akalannya bagas aja untuk membuat dirinya pulang ke rumah tetapi sepertinya pria itu memang benar-benar ingin menceraikan istrinya.
"Memangnya Mami Safira tidak pernah pulang ke rumah lagi sekarang, soalnya tadi saat Bunda datang ke sini hanya kelihatan Mama Davina saja sedangkan Mami Safira tidak kelihatan sama sekali? "tanya Aulia penasaran karena menurutnya anak kecil itu tidak pernah bohong maka dari itu tidak ada salahnya dong kalau ia mencari tahu semuanya melalui Indira.
"Sudah berapa hari ya Mami Safira tidak pulang Kalau nggak salah sih sudah mau 3 hari atau 4 hari gitu, biarpun Indira ini kecil tapi ingat dengan jelas loh Kapan si Mami galak itu ada di rumah!"sahut Indira yang setiap kali membahas Safira praset anak kecil itu bakalan merasa gemas.
"Oh gitu ya tapi sepertinya tidak bagus loh menggosipkan orang saat orang tersebut tidak ada, jadi Indira stop ya besok lusa jangan seperti itu lagi soalnya tidak sopan entah mau Mami Safira itu baik atau galak tetapi kamu tidak boleh berkata-kata kasar seperti itu! "jelas Aulia membuat Indira mengacungkan kedua jempolnya.
"Sudah nggak jadi pergi kan kalau sudah tidak ada Mami Safira di rumah ini, soalnya kan eh maaf nanti aku bakalan gosipin dia lagi Bundanya marah-marah?"jelas Indira yang memukul pelan mulutnya karena sudah keceplosan ngomong yang tadi sudah dilarang oleh Aulia.
Aulia menghela nafasnya kasar ketika mendengar apa yang dikatakan oleh anak dari suaminya itu,sebenarnya dirinya ingin sekali menolak permintaan dari Indira hanya saja dirinya merasa tak tega jadi mau tidak mau mengikuti saja apa yang ia inginkan.
"Mmm...gimana ya itu Bunda mau saja sih tapi....
"Bunda cepetan dong jawabnya!" pinta Indira cemberut .
"Ya sudah Iya Deh Bunda bakal tinggal!" Sahut Aulia sambil tersenyum membuat Indira bersorak kegirangan.
Bagas tersenyum bahagia ketika akhirnya Aulia menuruti apa yang diinginkan oleh Indira barusan, membuat dirinya tidak perlu harus bekerja keras untuk membujuk wanita itu dan sekarang giliran dirinya mengurus Andara yang menurutnya Terlalu kurang ajar dan juga sangat tidak sopan.
Bagas sekarang sudah tidak terlalu memikirkan lagi permasalahan rumah tangganya dengan Aulia karena nanti masih ada waktu untuk mengurusnya, yang penting intinya wanita itu memilih tidak pergi dari kediamannya sebab dengan begitu Bagas bakalan dengan mudah untuk mendekatinya dan mencari perhatiannya.
"Sudah Bicara kurang ajar pada Nenek sendiri?" Tanya Bagas Dengan tatapan mengintimidasi membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu menoleh kearah sumber suara.
"Papa!" lirih Andara pelan.
__ADS_1