Menjadi Yang Ke-3

Menjadi Yang Ke-3
Panik


__ADS_3

kini mereka sudah sampai di rumah yang begitu asing bagi penglihatannya Nina dan juga Aulia Sebab mereka tidak pernah pergi ke situ karena jangankan lewat di daerah itu berniat untuk pergi ke sana saja Tidak pernah, maka dari itu suasana di sini tersebut begitu mencekam Belum lagi Tidak ada rumah sama sekali sedangkan ada sebuah bangunan yang seperti Villa berdiri tegak di tempat itu.


jika di film-film action ya Otomatis tempat itu seperti persembunyian atau di mana seorang bos besar yang duduk sambil memantau anak buahnya yang bekerja, maka dari itu Nina sedikit bergidik ngeri soalnya kebiasaan wanita cantik itu adalah hobinya menonton sesuatu yang berbau kekerasan.


dirinya bahkan menetap ke Aulia yang ternyata juga sedang memiliki pikiran yang sedikit aneh, Biar bagaimanapun suasana yang begitu asing membuat dirinya begitu mengingat keberadaan suaminya yang entah sudah sadar atau tidak kalau dirinya dan juga Nina menghilang.


Arsen menarik tangan Aulia perlahan agar bisa mengikutinya masuk ke dalam villa itu, sedangkan Savero hanya membuka pintu lalu memberikan kode agar Nina segera keluar karena dirinya tidak punya banyak waktu untuk bertingkah manis terhadapnya.


"bisa jalan sendiri kan? jadi orang tidak perlu harus manja sampai segitunya karena itu kedua kaki kamu itu gunanya untuk apa, jadi lebih baik sekarang cepat bergerak karena aku tidak punya banyak waktu untuk meneladani manusia seperti kamu itu! "omel Savero membuat Dina mendengus kesal karena dirinya saja tidak pernah memaksa pria itu agar terlalu sibuk dengan urusannya.


"eh jangan nyolot seperti begitu napa sih? untung juga Mulutku sedang ditutup Kalau tidak aku bakalan teriak di dalam wajah kamu supaya sadar kalau sebenarnya aku ini bukan tipe orang yang suka menyusahkan orang lain, kita tidur enak di rumah kalian malah datang mengganggu dan sekarang malah mengatakan kalau tidak ingin disusahkan seperti itu. "omel Nina dalam hati karena kebetulan lakban yang menempel di mulutnya itu belum dicabut jadi mau tidak mau ya harus berpuasa untuk mengeluarkan suara cempreng yaitu.


Aulia menepis tangan Arsen begitu kuat seolah ingin menyeretkan kepada pria itu kalau dirinya bukanlah seorang wanita murahan yang bisa saja diganggu seperti tadi, yang ia inginkan adalah hidup dengan tenang tidak ada gangguan sama sekali dan juga pria itu harusnya sadar diri kalau sebenarnya dia punya suami yang sedang bingung mencarinya kalau memang saat ini Bagas sudah pulang ke rumah.


"kita itu bukan muhrim! jadi usahakan jangan menyentuhku seperti itu dan juga kalau bisa tolong Biarkan kami pulang dari sini, tidak masalah kalau memang kalian tidak ada yang niatan untuk mengantar nanti aku bakalan menghubungi suamiku untuk datang menjemput. "ujar Aulia dengan Tatapan yang begitu datar bahkan bisa dibilang Ya sepertinya merasa Jengah ketika berhadapan dengan Arsen.


"Memangnya kamu mau pulang ke mana lagi, kan kamu tahu sendiri kalau rumah kita itu ada di sini? oke baiklah kalau memang kamu lebih memilih menyebut dia sebagai suamimu Tidak masalah, karena aku sendiri yang bakalan membuat kalian bercerai yaitu dengan memaksa kamu menandatangani berkas perceraian kalian. "jelas Arsen yang sudah menyiapkan berbagai macam persiapan di dalam hidupnya hanya untuk mendapatkan Aulia seutuhnya tanpa ada gangguan dari Bagas.


"Kamu pikir aku adalah manusia sebodoh itu yang tidak bisa membedakan mana jebakan dan juga mana yang bukan, Oke tidak masalah sekarang aku ada di sini dan kamu menang tetapi jangan berharap kalau Mas Bagas bakalan diam saja dan tidak datang menolong kami. "ujar Aulia lalu berjalan mendahului Arsen tidak ada niatan ataupun tidak ada keinginan jika dirinya disentuh oleh pria itu tanpa izin.


Arsen hanya tersenyum ketika mendapat penolakan dari Aulia tadi sebab dirinya tidak ada niatan untuk mempermasalahkannya, toh memang masuk akal Kalau Aulia sampai marah seperti itu soalnya istri mana yang bakalan terima ketika diculik seperti begini oleh orang asing yang jelas-jelas tidak pernah IA temui sebelumnya.


"semakin kamu jual mahal semakin membuat aku tertantang untuk bisa mendapatkan hati kamu sekarang juga, aku seorang Arsen tidak akan pernah yang mengenal kata menyerah di dalam hidupnya dan itu semua Akan aku buktikan nantinya."ujar pria itu dalam hati sedangkan Nina berjalan Masa bodoh seolah-olah tidak terjadi apapun soalnya menurutnya kalau bersikap seperti orang yang tertekan ya Otomatis para penculik sialan itu bakalan merasa menang dengan sudah mencoba untuk menakutinya maka dari itu lebih baik bersikap solat tidak terjadi apapun toh kalau misalnya mereka capek bakalan berhenti sendiri.

__ADS_1


"Bisa tidak tangan dan juga mulut teman saya itu dilepas ikatannya dan juga lakbannya, soalnya mau kabur juga ke mana karena kalau misalnya ada lari harusnya kami berdua Tetapi kalau pengawasannya seperti begini sama saja bohong kan? "tawar Aulia karena memang dirinya sudah merindukan celotehannya Nina yang begitu tidak berhenti ketika sedang berbicara.


Arsen memberikan kode kepada Savero agar melakukan seperti yang diperintahkan oleh Aulia tadi, karena memang masuk akal jika saat ini Nina ingin kabur sedangkan Aulia masih dalam pengawasan pun rasanya sangat tidak mudah.


"buka saja dan pisahkan dia dari ruangan calon istriku karena aku tidak ingin dia mengganggu, Lalu setelah itu suruh asisten rumah tangga semuanya untuk menyiapkan hidangan mulai dari yang Indonesia sampai yang western, karena aku ingin calon istriku ini tubuhnya lebih sehat daripada kemarin-kemarin kemudian asupan gizinya selalu terjamin Lalu setelah itu kalian boleh memanggil kami berdua. "ujar Arsen lalu menarik tangan Aulia agar ikut dengannya tetapi Aulia Lagi Dan Lagi menolak.


"Bisa tidak jangan terlalu kurang ajar denganku? Aku ini punya suami dan kalau kamu mau melakukan hal ini harusnya kepada wanita bebas yang tidak terikat sama sekali dengan siapapun, kenapa sih Kalian itu tidak punya hati nurani untuk bisa membedakan mana yang salah dan juga mana yang benar? "teriak Aulia yang dari tadi sudah mencoba untuk bersikap sabar tetapi sepertinya orang-orang di sekitarnya itu tidak ada yang peduli sama sekali dengan kesabaran yang sedang ia coba terapkan di dalam hidupnya.


Arsen tertawa ketika mendengar teriakan yang dilontarkan oleh Aulia itu serasa-rasa seperti orang yang sedang frustasi, pada hal Ia hanya ingin menjauhkan Aulia dari suaminya lalu mungkin secara perlahan mencuci otaknya karena dengan begitu ya tidak menutup pun kemungkinan wanita itu bakalan lupa dengan Bagas dan akan mengingat kalau Arsen itu adalah suami masa depannya.


"Sudahlah jangan banyak bicara lebih baik kamu Nikmati saja selama berada di sini dan juga Nikmati saja posisi kamu sebagai seorang nyonya besar, karena apapun yang kamu katakan semua anak buahku akan mengikutinya tanpa membantah apalagi mencoba untuk mengulur-ngulur waktu! "bujuk Arsen yang seolah-olah memberikan kenikmatan duniawi kepada Aulia bisa membuat wanita itu menjadi luluh dan akhirnya menerima kehadirannya.


"kamu itu stres atau apa sih, aku dari awal sudah ngomong kalau tidak mau ya sudah Kamu hargai dulu apa yang aku katakan itu? bisa tidak yang dari tadi aku tanyakan itu kamu responnya sedikit saja, kalau aku tidak ingin diganggu oleh kamu apalagi asisten kamu apalagi anak buah kamu yang menurutku wajah mereka itu sudah seperti hantu yang gentayangan? "tanya Aulia lagi bahkan dengan air matanya yang sudah jatuh karena capek dari tadi disuruh ini dan itu tetapi intinya harus mengikut kepada arisan tidak boleh membantah sedikitpun.


plak


"Nina,... Apa yang kamu lakukan? Kenapa harus menyakiti dia seperti itu, kalau memang ingin menyakiti dia sudah sakiti aku saja tidak harus membawa-bawa orang lain kan? "sarkas Aulia kasar tetapi Arsen tidak peduli sama sekali.


"Ya habisnya mau bagaimana lagi kamu yang terlalu banyak berbicara tetapi aku yang tidak tega menyakiti kamu alhasil teman kamu yang bakalan menanggungnya, jadi setiap kali kamu menolak apa yang aku inginkan ya dia yang bakalan menanggung semua itu jadi teruslah saja mengatakan penolakan yang begitu membuat aku sakit hati supaya aku punya alasan untuk menghajar teman kamu itu! "ujar Arsen santai seolah-olah apa yang ia lakukan itu tidak ada yang salah sama sekali.


Nina hanya terdiam karena menurutnya tidak masalah jika dirinya yang menanggung akibat penolakan yang dilakukan oleh Aulia tadi, sebab Ia tidak sanggup ketika melihat nantinya Aulia bakalan disakiti maka dari itu ketika dirinya yang menghadapinya tidak masalah yang penting intinya semua aman dan terkendali serta nyawa mereka masih pada tempatnya.


"Aku baik-baik saja kok Aulia, karena memang kita di sini kan dekat dengan semua pria yang memiliki sifat seperti banci jadi bisa memukul wanita dan juga bisa melakukan kekerasan!"Nina sengaja menyindir mereka karena ingin melihat kira-kira kekuatan mereka untuk memukul seorang wanita itu sampai di mana ketika dikatai seperti itu.

__ADS_1


Aulia memilih untuk mendekati sahabatnya itu sambil menggelengkan kepala karena dirinya sudah kapok berbicara panjang lebar jika nantinya Nina yang bakalan disakiti, biarlah dirinya diam menanggung semua beban pikiran sendirian yang penting intinya tidak ada orang yang bakalan kenapa-napa hanya karena sikapnya.


Arsen yang melihat Aulia sudah tenang memilih untuk menarik tangan wanita itu agar segera ikut dengannya, sebenarnya dalam hati Aulia ingin sekali berontak tetapi yang menjadi pemikirannya adalah keadaan ini nantinya kalau sampai dirinya melawan sekali lagi.


Tamparan yang tadi dilakukan oleh Arsen saja sudah terlihat begitu membekas di pipinya Nina apalagi kalau misalnya ditambah sekali lagi, dirinya benar-benar kapok sudah melakukan kesalahan Makanya lebih baik memilih untuk diam jika itu merupakan jalan teraman untuk saat ini.


"Aku harap kamu baik-baik saja dan juga Aku harap kamu tidak kenapa-napa, karena melihat kamu seperti itu saja sudah membuat aku tidak sanggup apalagi kalau mereka menyakiti kamu berulang kali. " lirih Aulia dalam hati karena tidak menyangka jika Nina harus menanggung segala-galanya.


Hati Ibu mana yang tidak akan pernah merasa tersambung dengan anaknya jika anak tersebut memang merupakan darah dagingnya dan itulah yang sedang dirasakan oleh Rahayu, wanita yang tidak mudah lagi itu terlihat begitu gelisah ketika nomor ponselnya Nina bisa dihubungi tetapi anaknya itu tidak merespon.


Padahal selama ini jika sekali dua kali panggilan Terlewatkan pasti kali ketiga Nina akan langsung menelpon ya tetapi kenapa sampai sekarang sudah berkali-kali yang melakukan panggilan tetapi hasil akhirnya tetap sama, membuat wanita itu menjadi tidak tenang padahal sekarang dirinya sedang berada di hotel tempat ia dan suaminya menginap karena Katanya sebentar setelah selesai acara mereka bakalan masuk pergi menuju ke kediaman Sanjaya di mana ada Nina dan juga Aulia berada.


Rahayu bahkan sudah seperti orang yang kehilangan akal Sehatnya karena anaknya itu memang benar-benar tidak merespon panggilan darinya, ingin sekali ia menuju ke ballroom hotel tempat suaminya berada tetapi ya sama saja jika di sana akhirnya akan mengganggu kegiatannya.


"kamu itu ada di mana sih Nak? Biasanya tidak sampai seperti ini kalau Mama menelpon, Ayolah diangkat jangan bikin orang cemas loh Memangnya kamu mau lihat mama jantungan? "gumam Rahayu monolog lalu kembali berusaha menelpon putrinya itu.


sama saja seperti yang sudah-sudah tidak ada yang merespon sedikitpun panggilan tersebut, apalagi perasaan Rahayu semakin tidak menentu dan seperti Tengah terjadi sesuatu hanya entah Apakah itu ia saja tidak tahu sama sekali karena masih sibuk untuk menerka-nerka.


Santi pun merasakan yang sama Ya seperti yang tengah dirasakan oleh Rahayu ya Meskipun Aulia merupakan anak angkatnya, namun ia sudah menggendong anak itu selagi tali pusarnya belum terlepas sedikitpun karena mama kandung dari Aulia itu meninggal saat melahirkannya kemudian menitipkan kepada mereka.


"Abah, Kenapa perasaan Umi jadi tidak enak ya? Terus tidak enaknya itu malah memikirkan Aulia, anak itu baik-baik saja kan sekarang? Suaminya tidak pernah menyakitinya lagi kan, karena kemarin-kemarin memang merasa cemas tetapi tidak seperti sekarang rasanya itu cemasnya terlalu berlebihan? "ujar Santi yang sudah benar-benar merasa frustasi.


Deni hanya bisa menghela nafasnya secara perlahan karena kebiasaan istrinya yang seperti itu kalau sudah panik dan memikirkan sesuatu secara berlebihan, Padahal mereka saja belum memastikan keadaan Aulia secara langsung Tetapi entah mungkin feeling seorang ibu atau apalah itu.

__ADS_1


"lebih baik kita langsung ke rumahnya saja Umi, supaya bisa lebih memastikan keadaan Aulia di sana itu sebenarnya bagaimana. "ajak Deni karena dari semalam istrinya itu sudah uring-uringan mencemaskan keadaan Putri mereka dan sekarang adalah puncaknya maka dari itu dirinya tidak ingin mengambil resiko dengan membuat Santi bakalan memarahinya sepanjang hari soalnya kebiasaan wanita ya seperti itu jika kemauannya tidak dituruti.


Santi tentu saja dengan antusias menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya itu, karena memang dirinya sudah sangat merindukan Aulia setelah tidak bertemu selama beberapa bulan.


__ADS_2