Menjadi Yang Ke-3

Menjadi Yang Ke-3
Merindukan Dia


__ADS_3

"Kebetulan tadi istri saya juga memesan Bakso mercon di jalan Angkasa,jadi jika anda tidak keberatan maka lebih baik kita pergi sama sama?" Tanya Bagas menawarkan bantuan.


Perdana tentu saja tidak menolak tawaran yang diberikan oleh Bagas tadi,karena kebetulan mereka juga tadi datang ketempat itu tidak menggunakan mobil.


"Wah sepertinya istri anda punya selera yang sama dengan temannya anak saya, karena mereka sama-sama menyukai bakso mercon yang ada di Jalan Angkasa itu! Padahal di tempat lain ada juga yang rasanya lebih enak tetapi mungkin karena sudah menjadi kebiasaan, Ya hanya tempat itulah saja yang membuat mereka selalu saja ingin ada niatan untuk membeli! "jelas Perdana.


Dimas menatap tak percaya ke arah majikannya Itu sebab menurutnya Sejak kapan Aulia memesankan bakso agar dibeli oleh Bagas, sekarang pertanyaannya kalau Bagas membeli barang tersebut kemudian dibawa pulang nanti siapa yang mau memakannya soalnya kan Aulia tidak ada di rumah?


"Aduh Tuan Bagas ini ada-ada saja! kalau misalnya dibawa pulang terus Nyonya aulianya belum balik juga, kira-kira nanti Bagaimana ya responnya ? "gumam Dimas dalam hati tetapi tidak mungkin juga kan dia langsung mengutarakan hal tersebut kepada Bagas karena yang ada itu nanti bagaimana nasibnya kedepannya.


Bagas merasa heran ketika tempat yang mereka tuju itu merupakan sebuah warung pinggir jalan yang terlihat biasa saja, tetapi sepertinya Perdana hafal betul mungkin karena detail tempat yang disebutkan oleh putrinya itu tidak terlalu susah atau mungkin di tempat itu hanya satu-satunya penjual bakso di situ.


"Yakin ini tempatnya? "bisik Bagas kepada Dimas.


"Yah kayaknya Iya soalnya di tempat ini hanya satu-satunya warung pinggir jalan ya di sini, Tetapi kalau memang Tuan meragukannya ya Kenapa tidak menelpon Nyonya saja? "Dimas memastikan hal tersebut terhadap Bagas sampai-sampai melupakan kalau sebenarnya Bagas lagi galau karena Aulia yang tidak kunjung pulang.


"Kamu mau saya penggal kepala kamu? Sudah tahu kalau istri aku belum pulang Sampai sekarang, masih saja sempat membahas hal itu atau kamu sedang menghinaku? Oleh karena tidak bisa menjaga istriku sendiri? "tanya Bagas kesal.


Dimas hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena memang pria itu sepertinya gagal paham dengan keadaan Bagas saat ini, bagaimana dirinya tidak bisa berpikiran ke arah sana soalnya Bagas itu bersikap seolah-olah Aulia saat ini sedang ada di rumah sambil menunggunya.


Perdana terlihat memesan beberapa porsi yang dibungkus secara rapi agar bisa dibawa untuk perjalanan jauh, pria itu tidak merasa risih ketika melakukan semua demi sahabat anaknya karena menurutnya sahabatnya putri nya otomatis merupakan anaknya juga.


"Wah itu untuk berapa orang? "tanya Dimas penasaran.


"Oh di rumah itu ada 3 orang istriku dan juga anakku serta sahabatnya, Tetapi kan ada asisten rumah tangga sama satpam jadi sekalian saja hitung-hitung kan berbagai rezeki!" jelas Perdana.


"Oh ya silakan dan Bagas mau memesan berapa porsi untuk istrinya, soalnya saya sudah selesai dan Sepertinya saya tidak bisa menunggu karena harus segera pergi ke bandara!"pamit Perdana karena bukannya ingin tidak sopan tetapi segala macam pekerjaan di dunia ini selalu saja dibatasi oleh waktu bahkan pertemuan seseorang dengan orang yang sangat ia rindukan itu pun harus dibatasi oleh waktu.


"Silakan Tuan saya masih di sini mungkin saya bakalan makan dulu untuk merasakan, tidak masalah kok karena biar bagaimanapun perjalanan anda juga jauh tidak mungkin kan saya menahannya untuk sekedar mengobrol saja? "Bagas tersenyum canggung ketika melihat perdana begitu antusias pulang ke rumah karena nanti bertemu dengan orang yang ia cintai tetapi berbeda dengan dirinya rasa-rasanya semua orang di rumah itu hanya menunggu dirimu membawa pulang uang yang banyak.


Sepeninggal perdana pergi kembali ke kota Bandung kini tersisa hanya Bagas dan juga Dimas, kedua pria itu memilih untuk duduk sambil menatap sekitar dan dalam benak Bagas berharap agar istrinya mungkin nyasar dan masuk ke dalam tempat itu.

__ADS_1


Dimas memilih untuk tidak ikut campur dengan urusan dari Bagas itu, karena menurutnya pria itu sepertinya terlalu banyak beban pikiran tidak enak kalau ia harus mengganggunya lagi.


Bagas berkali-kali membuang nafasnya kasar karena benar-benar sangat merindukan sosok istrinya yaitu Aulia, sampai-sampai tidak mempertanyakan bagaimana proses perceraiannya dengan Safira Dan juga bagaimana keadaan Davina.


"Kamu antar saya ke rumah Abah dan juga Umi, siapa tahu Aulia pulang ke sana karena sampai sekarang mereka tidak menelpon saya sama sekali!"perintah Bagas selalu pergi dari situ dan juga tidak ada niatan memesan bakso yang tadi rencananya bakal ia pesan karena menurutnya sama saja memesannya tetapi Aulia tidak ada di rumah.


Dimas tentu saja mengikuti apapun yang diinginkan oleh majikannya itu, karena jika itu bisa membuat Bagas melupakan sejenak beban pikirannya ia tidak masalah ia mengikutinya.


Deni dan Santi dari semalam tidurnya sudah tidak bisa tenang karena memikirkan Aulia yang kunjung bisa dihubungi, Padahal kalau memang Aulia mencharger hp-nya pasti tidak lama bakalan langsung aktif tetapi sampai sekarang rasanya seperti hilang ditelan bumi.


"Pokoknya kalau sampai malam Aulia tidak ada kabar sama sekali, Umi bakalan pergi menyusul ke rumahnya Bagas! Kalau kita hanya menunggu tanpa kepastian seperti begini itu sama saja kita membiarkan Aulia kenapa-napa, percuma kita sudah membawanya pergi sejauh ini Kalau akhirnya Anak itu tidak bisa kita jaga dengan baik! "ujar Santi yang sudah habis kesabarannya.


Deni mengusap wajahnya kasar karena bukan hanya Santi saja yang cemas tetapi dirinya juga, hanya saja ia masih berusaha untuk tenang dan juga tetap berpikir positif kalau Aulia dalam keadaan baik-baik saja.


"Ya kalau begitu kita tunggu saja kalau memang tidak bisa dihubungi barulah kita ke rumahnya mereka, hanya saja kalau kita responnya terlalu berlebihan nanti keluarga Bagas bakalan curiga jika kita itu sebenarnya belum mempercayakan anak kita kepada keluarga mereka!" jelas Deni.


"kalau kita hanya memikirkan respon dari keluarga Bagas itu artinya kita membiarkan anak kita kenapa-napa, Wajar dong kalau orang tua pergi mengecek keadaan anaknya meskipun sudah menikah! Jadi orang tua jangan 100% melepaskan tanggung jawab ketika anak kita sudah menikah, karena darah yang ada di dalam tubuhnya itu tidak akan pernah berganti karena masih menjadi miliknya kita sampai kapanpun!"tegas Santi yang selama ini sudah capek terlalu mendengar perkataan Deni sampai-sampai mengorbankan anak yang tidak tahu apapun dengan masalah yang mereka hadapi.


"Aku juga tidak pernah memikirkan bakalan terjadi hal seperti ini, jadi jangan menyalahkanku terus dong Kamu pikir aku juga mau kalau Aulia itu disakiti di sana? "tanya Deni yang sudah mulai Jengah dengan sikap istrinya yang terlihat seolah-olah menyalahkan atas Aulia yang hilang kabar seperti itu.


"Oh jadi sekarang Abah sudah tidak mau mendengarkan setiap apa yang Umi katakan lagi, dan inginnya itu agar Umi Lebih baik diam tidak boleh banyak ngomong dan melihat semua yang terjadi itu tanpa banyak komentar ? "tanya Santi sinis.


Deni mengusap perlahan wajahnya karena jika ia membantah apa yang dikatakan oleh Santi, otomatis mereka berdua bakalan ribut saat itu juga karena sama-sama keras kepala.


"Ya sudah kalau begitu Abah minta maaf, tetapi Tolong jangan membahas sesuatu yang berlebihan seperti ini! "pinta Deni dengan nada bicaranya yang sedikit direndahkan karena kalau ia menaikkan intonasi nada bicaranya otomatis Santi mengira bahwa dirinya mengajak ribut.


ketika keduanya sedang berdebat seperti itu muncul dari arah depan mobil Bagas, membuat Santi langsung berpikiran jika ada kenapa-napa Makanya pria itu datang ke tempat ini.


"Nah tuh kan Bagas sudah datang itu artinya Aulia, Memang benar-benar ada masalah saat ini! Apalagi yang mau Abah katakan silakan saja katakan kepada dia, soalnya Umi sudah capek melihat wajah pria itu yang datang dengan wajah bersalah padahal setelah pulang bakalan mengulangi lagi! "Santi sudah tidak ingin berbicara baik-baik lagi dengan Bagas karena menurutnya pria tersebut itu rasa-rasanya sudah tidak pantas diperlakukan secara baik-baik karena nanti akan mengulangi kesalahan yang sama.


Deni memilih untuk diam dan melihat reaksi apa yang bakalan dilakukan oleh Bagas nanti, kalau memang Ia datang hanya bersilaturahmi Ya tidak masalah tetapi kalau datang untuk membahas Aulia maka perkaranya bakalan panjang.

__ADS_1


Bagas berusaha tetap tenang dan bersikap seolah tidak terjadi apapun, karena jika ia beraksi lebih dahulu otomatis mertuanya itu langsung curiga dan berpikiran aneh-aneh tentangnya.


"Apakah perlu saya temani Tuan, soalnya sepertinya wajah mertuanya anda itu sedang tidak bersahabat di sana? "ujar Dimas karena memang ia melihat wajah Deni dan juga Santi terlihat begitu dingin seolah-olah mereka memang sedang menunggu kehadiran Bagas untuk mereka marahi habis-habisan.


"Cukup kamu tetap di sini dan melihat apa yang terjadi, tidak usah kamu turun dan membantuku karena aku terlihat seperti pria yang tidak berguna kalau sampai kamu melakukan hal itu! "perintah Bagas lalu segera turun dari mobil.


Dimas sebenarnya khawatir apalagi mengingat Kalau pria yang dihadapi oleh Bagas itu merupakan seorang jawara kampung, Jangan Anggap remeh tubuh kerempengnya dan juga usianya itu tetapi andalkan saja tenaga dalamnya yang tidak main-main.


"Saya harap anda bisa menangis pukulan dari pria itu Tuan, karena saya bakal memberikan dukungan dari sini Meskipun tidak secara langsung tetapi Percayalah aku padamu! "gumam Dimas perlahan.


Bagas Berusaha tetap tersenyum meskipun sambutan yang diberikan oleh kedua mertuanya itu sangat tidak diharapkan, Bagaimana tidak ketika ia berusaha bersikap ramah yang ada Santi malah membuang muka dan Deni malah melototkan matanya.


"Selamat sore Abah dan juga Umi, maaf jika mengganggu! "ujar Bagas perlahan tetapi Percayalah Tidak ada manusia di situ yang berniat untuk menjawab salam dari pria tersebut.


Bagas memilih untuk masa bodoh meskipun sebenarnya rasa malunya itu ada, sebab ketika salam kita mengambang begitu saja di udara tanpa ada yang berniat membalasnya itu merupakan sebuah rasa kecewa dan juga sakit hati yang amat dalam.


"Apa saya mengganggu kegiatan Abah sama Umi saat ini, kalau memang iya saya minta maaf soalnya saya tidak punya maksud untuk melakukan semua itu jika bukan karena terpaksa! "jelas Bagas meskipun tuan rumah tidak menghiraukan kehadirannya tetapi sebagai seorang tamu yang memiliki tujuan tidak masalah kan kalau langsung to the point seperti itu?


"Katakan saja apa tujuan kamu datang ke sini, kalau memang kamu tidak ingin mengatakan Ya sudah lebih baik kembali saja karena kami tidak suka berbasa-basi! "perintah Deni tanpa ada niatan untuk menoleh ke arah menantunya itu sekedar untuk menghormati lawan bicaranya.


Bagas menghembuskan nafasnya kasar ketika melihat Respon yang diberikan oleh Deni terlalu datar sedatar jalan tol, padahal setidaknya sebagai seorang mertua apapun kesalahan yang dilakukan oleh menantunya seharusnya respon mereka harus lebih terbuka.


"Oke kalau begitu saya juga langsung to the point saja! Saya ingin mencari istri saya Aulia, kira-kira dia pulang ke sini atau tidak ya soalnya dia pergi tanpa memberi kabar sedikitpun! "jelas Bagas karena memang maksud tujuannya datang ke tempat itu mencari Aulia bukan untuk berbasa-basi dengan mertuanya yang terlihat sangat enggan menerima kehadirannya di tempat itu.


Santi terlihat mengepalkan tangannya berusaha menahan emosi ketika mendengar kalau Aulia pergi dari rumah tanpa pamit, karena menurutnya anak itu Jika ada masalah yang sudah tidak ingin diselesaikan maka biasanya ia bakalan melakukan hal seperti itu yaitu kabur dari rumah.


"Maksud kamu anak saya kabur dari rumah? Sekarang kesalahan apalagi yang sudah kamu lakukan sampai dia mengambil keputusan seperti itu, jangan bilang kalau kamu melakukan kekerasan lagi kepadanya dan tidak mengerti sedikitpun perasaannya? "tanya Santi yang lebih dahulu mencari tahu tidak peduli kalau Deni merupakan kepala keluarga di situ.


Bagas terdiam karena tidak mungkin ia mengatakan kalau Aulia pergi dari rumah karena dirinya yang memaksa berhubungan suami istri, karena kalau sampai ia mengatakan hal itu bisa dipastikan wajah Bagas tidak bakalan berbentuk lagi akibat dihajar sampai babak belur oleh mertuanya itu.


"Ya biasalah masalah internal dalam rumah tangga, sebenarnya bisa diselesaikan Tetapi entah kenapa dia malah memilih untuk kabur! " jelas Bagas yang terlihat biasa saja padahal sebenarnya pria itu sedang berbohong dan berusaha bermain peran sebagai seorang suami yang tidak dianggap oleh istrinya.

__ADS_1


Santi tahu kalau Bagas sedang berbohong kepadanya karena ia sangat hafal dengan sikap Aulia, maka dari itu jika dirinya sampai mempercayai perkataan Bagas artinya ia tidak mengenal putrinya dengan baik.


"Menurut kamu yang lebih lama hidup itu Aulia sama kamu atau sama kami, jadi kamu datang kemudian memfitnah dia seperti itu? "tanya Santi gemas.


__ADS_2