
pria itu merasa kesal ketika melihat dan juga mendengar kalau Nina terlalu banyak memonopoli istrinya, Padahal jelas-jelas kalau ingin bertemu dengan Aulia saat ini sepertinya tidak mungkin karena itu harus mendapatkan izin darinya.
"kamu itu enak sekali ya mau memanopoli istriku dan juga menguras waktunya hanya untuk mengurus kamu saja, jika merasa diri bukan anak bayi lebih baik jangan mengganggu dan juga sibuk dengan urusan orang lain bisa tidak? "tanya Bagas dengan nada bicara yang begitu kesal membuat Aulia membulatkan matanya sempurna karena menurutnya Bagas itu sudah sangat keterlaluan karena bisa-bisanya berkata kasar dengan Nina di seberang yang jelas-jelas punya maksud dan tujuan baik.
"eh tuan yang terhormat saya itu mengganggu istri anda bukan mengganggu anda Jika Anda memang punya pekerjaan dia sudah silakan pergi saja jangan sibuk dengan urusan wanita dong, masa iya punya istri lebih dari satu kok kalau Aulia terlalu sibuknya minta ampun nanti kalau dia minggat situ kapoknya minta ampun terus mau minta tolong sama siapa coba?" Nina benar-benar tersulut emosinya ketika Bagas berkata kasar padanya padahal maksud dan tujuannya tadi baik tidak ingin melakukan sesuatu hal yang merugikan pria itu.
Bagas Tentu saja tidak terima karena sebagai seorang suami dirinya berhak terhadap tubuh istrinya kapanpun dan juga di manapun, maka dari itu jika ada orang yang berani membawa istrinya pergi tanpa sepengetahuannya maka ia akan berhadapan langsung dengan dirinya.
"saya peringatkan Kamu Satu kali lagi dan juga jangan pernah kamu menganggap apa yang saya katakan itu hanya merupakan hal yang sepele, jika sampai kamu mengganggu waktu istri saya Apalagi membawa dia melakukan hal yang tidak tidak itu otomatis kamu langsung berhadapan dengan saya! "setelah mengatakan hal itu Bagas langsung mematikan ponselnya Aulia dan menyerahkan kepada pemiliknya itu sambil memasang tatapan datarnya sebab menurutnya Aulia itu tidak pernah menghargai keberadaannya sama sekali.
Aulia Memilih Untuk santai saja tidak terlalu ambil pusing dengan perubahan sikap dari Bagas sebab menurutnya pria itu memang seperti itu layaknya bunglon selalu saja berubah-rubah, padahal Nina itu merupakan seorang cewek masa iya harus cemburu kepadanya yang masuk akal sedikit dong jadi orang kalau Abizar yang menelpon Ya tidak masalah kalau Bagas marah tetapi Ini Nina yang jelas-jelas sendirian di kota itu.
Indira yang tadi selalu mengoceh mendadak jadi diam ketika melihat perubahan mood papanya yang begitu menakutkan sebab dirinya sudah melihat bagaimana kalau Bagas itu marah, anak sekecil itu benar-benar merasakan trauma yang amat sangat karena selama ini Papanya Itu orang yang paling tidak suka diajak kompromi apalagi ada orang lain yang membantah apapun yang ia katakan.
Aulia mengusap pelan kepalanya Indira karena dirinya tahu bahwa bocah kecil itu pasti merasa takut dengan sikap papanya yang benar-benar sangat kasar, namun dirinya juga bisa apa ketika semua sudah terjadi makanya ia memilih untuk Diam tidak ingin memperkeruh suasana Biarkan saja ikuti apapun kemauan Bagas yang penting intinya nyawanya masih tetap di badan.
"aku kalau lama lama berdekatan dengan pria itu sumpah langsung gila sepertinya Soalnya tiap detik menit pasti Bawaannya marah terus, jangan sampai diantara kedua istrinya yang lain pasti ada yang lagi hamil mungkin ya kalau begitu Syukurlah jika sampai mereka melahirkan anak laki-laki?"gumam Aulia dalam hati yang begitu bahagia kalau memang apa yang ia inginkan benar-benar menjadi kenyataan.
"Nah tuh sekolah kamu sudah sampai jadi kamu turun terus belajar yang giat ya kemudian kalau ada anak cowok yang mengganggu kamu ya sudah Hajar saja, Ingat pesan Bunda kalau kita itu tidak boleh menjadi orang yang penakut karena Biar bagaimanapun semua manusia itu sama saja mau cewek atau cowok kita kita libas kasih habis Biar mereka tahu kalau kita itu adalah cewek yang kuat!"Aulia sengaja mengatakan hal itu agar menyindir Bagas supaya pria itu paham kalau dirinya sedang benar-benar kesal kepadanya.
"Nanti bilang juga sama anak cowok yang kamu lawan kalau ada kekuatan penuh ya sudah lakukan saja sebisa mereka tetapi jangan sampai kamu yang babak belur akibat mengikuti apa yang dikatakan oleh Bunda kamu itu, lebih baik jadi wanita itu penurut tidak boleh melawan Soalnya biar bagaimanapun yang kasih makan seorang wanita itu adalah kaum pria jadi Indira Tidak boleh mendengarkan apapun yang dikatakan oleh Bunda yang jelas-jelas sama tidak jelas itu setiap bicara! "Bagas juga tidak mau kalah dan alhasil Indira pun menjadi bahan percobaan pasangan suami istri itu.
__ADS_1
"Dimas jalan kamu usahakan jangan berhenti apapun keadaannya meskipun ada badai helium sekalipun Anggap saja itu kita lagi di padang pasir, Terus kalau ada yang memerintahkan kamu aneh-aneh usahakan jangan didengar Anggap saja kamu hari ini merupakan orang tuli yang tidak tahu dengan keadaan sekitar kamu sedikitpun!"ketika Indira sudah keluar dari mobil tersebut otomatis di Mas yang menjadi sasaran empuk kedua pasangan suami istri itu untuk saling menyindir dan Dimas mungkin bisa dibilang sebagai perantara di antara mereka berdua kalau tidak suasana Pasti sangat mencekam akibat keduanya yang sangat keras kepala itu.
"Dimas Kalau sebentar saya terima telepon usahakan berhentikan mobil soalnya pembicaraan saya lebih penting daripada apapun yang ada, terus kalau ada yang marah Anggap saja orang lagi demo di luar mobil dan juga Tidak usah didengarkan Palingan kalau marah-marah nanti capek sendiri pasti bakal diam! "Dimas hanya menghembuskan nafasnya kasar sebab dirinya juga bingung harus merespon Yang mana.
kini mobil tersebut dalam keadaan sunyi mencekam tidak ada yang mau berbicara bukan karena tidak ada topik pembicaraan tetapi memang Lagi malas saja untuk mengobrol, karena di dalam mobil tersebut itu semua orang kepalanya pada batu semua jadi susah diatur alhasil ya begitu terjadi kesunyian yang sebenarnya sangat membosankan.
Nina di seberang mendengus kesal sambil menggemas hp-nya karena dirinya tidak menyukai dengan kata-kata Bagas tadi yang mengatakan kalau dirinya monopoli waktunya Aulia, padahal maksud dan tujuannya itu baik supaya ya punya teman dan juga Aulia punya teman ngobrol juga karena dirinya sangat paham dengan sikap sahabatnya itu yang paling tidak merasa nyaman ketika berada di tengah-tengah orang yang baru ia kenal.
"ini suami Aulia sepertinya aku cancel pujianku kemarin kalau mengatakan dia merupakan manusia paling sempurna di jagat raya ini, masa iya istrinya hanya ngobrol dengan sahabatnya saja tidak bisa terus kalau dia ngobrol sama orang lain bisa gitu? "Sungut Nina kesal.
"ah aku kalau pergi ke cafenya Abizar juga pasti tidak bakalan dianggap Soalnya di dalam pikiran orang tersebut kan hanya ada Aulia dan juga Aulia kalau Nina mah dihempaskan jauh-jauh, tapi mau bagaimana lagi daripada sumuk sendirian atau aku lebih baik mencari tahu di mana kira-kira kantornya Sanjaya group itu supaya aku bisa menuju ke sana dan langsung bertemu dengan sahabatku!" ujar Nina monolog.
Alhasil wanita itu mengambil kesimpulan kalau dirinya bakalan pergi ke kantornya Sanjaya Group tidak peduli kalau sampai Bagas memarahinya, yang penting intinya dirinya bisa bertemu dengan Aulia memastikan keadaannya yang sebenarnya sebab dirinya takut jangan sampai sahabatnya itu benar-benar tertekan berada di samping suaminya yang sangat otoriter.
"Aku kangen banget loh sama kamu Aulia, Kenapa sih kamu harus punya suami yang sikapnya kasar seperti itu? kalau kamu marah-marah kepadaku Ya aku bakalan terima karena itu merupakan sebuah kesenangan bagiku, Tetapi kalau suami kamu yang marah kepadaku aku merasa Harga Diriku sebagai seorang pria tidak ada lagi di mata kamu! "gumam Abizar yang benar-benar merasa frustasi sebab ternyata mencintai seseorang dalam diam itu rasanya sangat menyakitkan seperti ketika kita merelakan sesuatu barang yang kita jaga selama ini diambil tepat di hadapan kita.
Deni dan juga Santi Hari ini sedang berdebat hebat karena Entah mengapa Santi semalam memimpikan hal yang sangat tidak masuk akal, dirinya bermimpi kalau istri keduanya Bagas sedang memegang pisau dan menikam ke arah Aulia membuat putrinya itu dalam keadaan sekarat akibat terlalu banyak mengeluarkan darah.
"Ya Tuhan, Abah itu mimpi Umi semalam Maksudnya apa ya? soalnya Umi takut jangan sampai memang benar-benar menjadi kenyataan kalau anak kita itu akan disakiti oleh istri kedua menantu kita, sebab dari awal Umi lihat dia memang sangat tidak menyukai kehadiran Aulia di sana dan Hal itu membuat Umi jadi kepikiran selama ini! "ujar Santi sambil beberapa kali menghela nafasnya secara perlahan karena dadanya Entah mengapa terasa begitu sesak ketika mengingat keadaan Aulia.
Deni Berusaha tetap tenang meskipun sebenarnya firasatnya juga sama mengatakan kalau anaknya itu dalam keadaan tidak baik-baik saja, namun mau bagaimana lagi keputusan Sudah mereka ambil kalau mau melangkah kembali sepertinya rasa-rasanya tidak mungkin karena Aulia sudah masuk terlalu dalam.
__ADS_1
"kita bersabar saja dan juga banyak berikhtiar kalau anak kita itu bakalan baik-baik saja tidak akan ada yang namanya musibah terjadi kepadanya, kita melangkah karena berharap bahwa itu merupakan sebuah kebenaran jadi berlandaskan kebenaran kita harus percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja dan indah pada waktunya! "sahut Deni yang terlihat begitu santai Percayalah seorang kaum pria itu lebih bisa menyembunyikan kekhawatirannya daripada seorang ibu.
"Abah mah kalau ngomong selalu begitu jawabannya seolah-olah anak kita itu merupakan robot jadi kalau mau disakiti berbagai macam kali pun dia bakalan tetap hidup, Umi menyesal mendukung keputusan Abah waktu itu hanya karena dendam akhirnya anak kita yang bakalan menjadi sasarannya!"omel Santi lalu memilih untuk masuk ke dalam kamar guna menghubungi putrinya jangan sampai Aulia bisa dihubungi dengan begitu ia bisa memastikan keadaannya supaya mimpinya yang barusan itu tidak membuat dirinya kepikiran dan akhirnya berpikir yang macam-macam.
Aulia yang sedang memainkan games dalam ponselnya merasa heran ketika melihat Uminya itu menelponnya begitu pagi-pagi, padahal setahunya wanita itu kalau di pagi hari seperti begini kesibukannya minta ampun mulai dari mengurus anak-anak yang ikut perguruan taekwondo dan juga hewan peliharaan mereka.
"Iya Umi, Selamat pagi! "sahut Aulia sambil tersenyum dan dirinya sengaja mau naikkan volume suaranya agar Bagas tahu kalau sebenarnya dirinya sedang berteleponan dengan Uminya di seberang.
Bagas menajamkan pendengarannya berusaha ingin menguping kira-kira apa yang sedang dibahas oleh istrinya dan juga mertuanya itu, dirinya berharap agar Santi tidak membocorkan tentang keadaannya yang kemarin dipukul oleh Deni akibat datang dan mencari Aulia di kediaman mereka itu.
"Bagaimana keadaan kamu? Umi pengen sekali dengar suara kamu ya akhirnya telepon pagi-pagi begini sampai-sampai sarapan Abah kamu pun tidak Umi urus sama sekali, Lagian siapa suruh dia bawel pagi-pagi sudah cerewetnya minta ampun Ya alhasil Umi Biarkan saja Dia kelaparan toh!"jelas Santi yang suaranya sudah sedikit sumringah karena mendengar nada bicara Aulia Yang sepertinya tidak terjadi apapun saat ini.
"Keadaan aku baik-baik saja, Umi jangan kuatir dong aku kan! Lagian kalau Abah tidak dikasih makan nanti ngamuk lho,nanti Umi juga bakal kena sasaran kalau sampai itu terjadi!" ejek Aulia dari seberang membaut Deni ingin sekali tertawa.
"Wah ternyata kalian tega sekali menggosipkan Abah langsung di depan orang nya,Abah jadi marah tahu tidak?" ujar Deni pura pura merajuk membuat Bagas yang mendengar nya karena Aulia sengaja meloudspeaker panggilan tersebut karena ingin agar pria yang berstatus suaminya itu dengan siapa dirinya berbicara.
"Kemarin dia begitu kejam padaku,malah pukulan nya begitu sadis eh sekarang malah terdengar begitu manis sama anaknya sendiri?" gumam Bagas sebab tidak percaya dengan perubahan dari Deni yang begitu terdengar jelas.
"Abah,apa kabar? Kalau baik semoga saja kalau tidak baik ya sudah,soalnya Abah kan keras kepala!" Aulia sengaja menggoda Abahnya itu yang merupakan teman akrab dan terkadang menjadi teman untuk berdebat.
"Kabar baik Nak,sekarang lagi dimana?" Tanya Deni penasaran karena ingin menanyakan hal penting pada anaknya itu.
__ADS_1
"Lagi sama Mas Bagas mau kekantor nya,karena katanya mau temani dia kerja biar tambah semangat!" jelas Aulia agar Deni tahu kalau sekarang dirinya sedang berada di dekat Bagas jadi tidak boleh ada pembahasan yang lain lain nya takutnya nanti Bagas akan curiga jika mereka ada sedang merencanakan hal yang tidak tidak.
"Jadi istri yang penurut ya,ingat jangan minggat lagi kalau ada masalah! Nanti wajah suami kamu itu bakal bonyok kena pukulan dari Abah,karena sudah membuat anak Abah minggat!" perintah Deni sengaja.