
Bagas yang mendengar Safira mengancamnya seperti itu otomatis tidak akan pernah tinggal diam ataupun membiarkan harga dirinya diinjak oleh orang lain, karena Biar bagaimanapun Ia merupakan kepala keluarga otomatis Safira harus tunduk di bawah perintahnya apalagi sekarang mereka dalam proses perceraian.
memang sangat tidak masuk akal Kalau Bagas masih ingin agar Safira tetap menghargainya, tetapi logikanya sampai saat ini wanita itu masih bergantung hidup kepadanya otomatis apapun yang ingin Bagas lakukan terhadapnya itu merupakan hak dan kewajiban.
"Ceritanya mau mengancam saya dengan kata-kata kamu barusan, jadi Menurut kamu saya bakalan takut atau pun merasa iba dan membatalkan perceraian yang sudah saya daftarkan? "tanya Bagas dengan nada bicaranya yang begitu datar dan juga ekspresinya yang kosong.
Safira sedikit merasa kelegaan ketika mendengar pertanyaan dari Bagas tersebut, karena dipikirannya jangan sampai karena ia mengancam kata-kata yang seperti tadi pria tersebut akhirnya mengurungkan niatnya untuk melayangkan gugatan cerai kepadanya.
"Ya jelaslah aku mengancam kamu karena bukannya kita itu suami istri Jadi kalau kamu melakukan hal yang tidak aku sukai aku berhak dong komentar, Lagian Mas Bagas ku tega sekali mau menceraikan istri sendiri memangnya masih kurang selama 2 tahun ini aku berbakti kepada kamu saja dan tidak pernah menduakan kamu? "tanya Safira yang mulai mendekati suaminya karena ia pikir Bagas dalam mode tenang.
Bagas tertawa sinis ketika melihat sikap Safira yang menurutnya sangat percaya diri itu, padahal wanita itu harusnya sadar kalau seorang Bagas saja ya jika sudah melakukan sesuatu tidak akan pernah berubah pikiran.
"Jadi menurut kamu saya bakalan membatalkan semua gugatan yang sudah saya layangkan, dan juga mengikhlaskan saja semua uang yang sudah saya keluarkan? Sekarang pertanyaannya kerugian saya itu siapa yang kira-kira bisa menutupinya, Kalau kamu tidak mungkin soalnya kamu itu kan gembel tidak punya apa-apa pun saat saya menikah dengan kamu?"perkataan Bagas itu membuat Safira tertegun langkah kakinya yang tadi begitu antusias untuk berjalan mendekati pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu langsung tidak mampu lagi membuat dia bisa melangkah terus untuk maju.
Pandangan wanita itu begitu nanar karena tidak percaya jika pria yang ia percaya bakalan menjaganya sampai nanti, ternyata membuangnya begitu saja hanya karena sifatnya yang selama ini kekanak-kanakan dan juga susah diatur serta setiap kali berbicara tidak pernah di filter dulu.
"Bukannya uang kamu itu banyak Mas? Jadi kalau kamu mengeluarkan hanya sedikit saja kan tidak masalah lain hitung-hitung kamu bersedekah, tetapi Sumpah aku tidak ingin pernah bercerai dengan kamu sampai kapanpun meskipun kamu memaksaku dengan cara apapun! "ujar Safira yang masih tetap dalam pendiriannya yaitu bahwa ia tidak akan pernah berubah pikiran dan juga bakalan merengek sampai merendah pun tidak masalah yang penting intinya Bagas tidak boleh menceraikannya sampai kapanpun.
"Menurut kamu saya bekerja siang malam, Memangnya pernah kamu mengeluarkan tenaga sedikit untuk membantu saya? Bukannya yang ada dalam pikiran kamu itu bagaimana caranya agar rekening kamu itu tetap terisi uangnya, dan dengan begitu kamu bisa bersenang-senang dengan Budi Sanjaya yang merupakan pria tua dan tidak punya pekerjaan itu?"tanya Bagas.
Deg
__ADS_1
Jantung Safira rasa-rasanya ingin berhenti saat itu juga karena mendengar kata-kata yang tidak pernah Ia bayangkan seumur hidupnya, bahwa suatu saat apa yang dia sembunyikan selama ini bakalan diketahui oleh Bagas.
"Maksud kamu ngomong seperti tadi itu apa ya? Memangnya ada urusan apa aku sama paman kamu itu, ketemuan saja kami tidak pernah masa iya kamu malah menyangkut pautkan aku dengan dia?" Tanya Safira berbohong.
"Wah Sepertinya kamu meragukan kemampuanku dalam mencari tahu sesuatu ya, sampai-sampai saat ini kamu malah bertanya seperti itu seolah-olah kalau aku itu hanya asal menuduh tanpa bukti sedikitpun? "tanya Bagas Sambil tertawa mengejek membuat Safira begitu ketakutan bahkan tubuh wanita itu Berkeringat dingin.
"Aku tidak pernah bertemu dengan paman kamu itu, kalau kamu tidak percaya Silakan telepon dia dan tanya kira-kira kami pernah bertemu sebelumnya atau tidak? "ujar Safira lagi yang tetap saja dalam mode berbohong tidak ingin berkata jujur kepada Bagas.
"Kenapa tidak kamu saja yang menelponnya, Bukankah kamu selama ini selalu meneleponnya diam-diam? Masa iya sekarang kamu malah menyuruhku untuk menelponnya, Nanti dia bakalan tanya aku ada keperluan apa coba? Kalau kamu yang berbicara dengan dia pasti kalian punya topik yang paling hot atau bisa dibilang hanya kalian berdua saja yang tahu, Jadi silakan saja telepon saja pria lain dihadapan mantan suami kamu keren Sebentar lagi kita bakalan menjadi orang lain!"ujar Bagas membuat Safira begitu ketakutan karena dirinya jadi apa kalau tanpa pria itu.
"pokoknya aku tidak ingin kita bercerai sampai kapanpun, kalau kamu mau marah terserah saja tetapi aku tidak akan pernah menandatangani berkas sialan itu!"ancam Safira yang hendak pergi dari situ tetapi bukannya membuat Bagas sedikit khawatir tetapi yang ada malah membuat pria itu sedikit tertawa.
"Oke Baik kalau memang kamu tidak ingin bercerai tidak masalah yang penting intinya hanya satu siap-siap saja menjadi gembel,karena aku akan menghentikan segala macam tunjangan hidup yang kamu dapatkan!" Sahut Bagas santai tanpa peduli dengan respon yang di berikan oleh Safira.
"Mas,kamu itu...
"Keluar,atau aku yang bakalan menyeret kamu dari sini ?" Tanya Bagas dengan tatapan tajamnya.
Safira mati kutu dan juga tidak tahu harus bersikap bagaimana ,namun satu yang pasti kalau dirinya tidak akan pernah menandatangani berkas yang diinginkan oleh Bagas.
Safira memilih pergi tapi Bagas otomatis tidak diam saja karena ia tahu wanita keras kepala itu tidak akan pernah menandatangani surat cerai itu,tetapi itu semua tak masalah karena baginya apapun bisa di lakukan dengan uang.
__ADS_1
"Dimas,kamu pantau wanita itu agar jangan pernah kembali kerumah lagi!" perintah Bagas tegas yang tak ingin di bantah.
"Baik Tuan!" Sahut Dimas santai.
Safira yang tidak tahu apapun tidak menyadari jika saat ini Dimas sudah berada di belakang nya,sebab wanita itu fokusnya hanya tertuju kepada semua perhiasan miliknya di rumah yang seharusnya ia amankan.
"Maaf,Saya hanya ingin menyampaikan pesan dari Tuan Bagas!" Panggil Dimas yang sudah tidak ada niatan untuk menghormati Safira lagi sekedar memanggil dirinya Nyonya.
Safira menoleh kearah sumber suara karena ia merasa tidak asing dengan suara tersebut,ia sungguh tidak percaya dengan asisten dari suamianya.
"Ada apa?" Tanya Safira penasaran.
"Tuan Bagas melarang anda untuk pulang kerumahnya,karena kehadiran anda dilarang disana!" Ujar Dimas santai seolah wajah Safira itu bukan sebuah perkara besar untuknya.
"Maksud kamu apa ya?" Tanya Safira penasaran.
"Apa pendengaran Anda sedikit bermasalah,jadi ingin mendengar ulang lagi apa yang saya katakan?" Tanya Dimas heran.
Safira terdiam sebab kalau ia tak pulang kerumah maka dirinya harus tinggal dimana,karena ia tak punya tempat yang bakalan dituju saat ini.
"Terus aku tinggal dimana?" Tanya Safira pelan.
__ADS_1
Dimas menghela nafasnya kasar karena tadi dirinya tidak tahu menahu soal tempat tinggal untuk Safira,sebab Bagas tidak mengatakan semua itu padanya tadi.