
Wanita itu sudah tidak mampu lagi harus bersikap diam seperti Davina, sebab menurutnya kalau ia diam saja Bagas sepertinya melupakan tanggung jawab dan juga keberadaan dirinya dan juga Davina.
"kamu Kenapa diam saja Padahal aku dari tadi tuh ngomong loh ke kamu, apa Kamu pikir aku ini hanya pajangan di dalam sini setelah kamu tidak ingin ya biarkan begitu saja? "tanya Safira yang masih benar-benar tersebut emosinya sampai-sampai tidak sadar kalau sebenarnya suaranya itu melambung sampai keluar dari ruangan itu.
Fokus Bagas masih tetap pada Aulia yang baru saja datang pria itu bahkan rela mengintip lewat cela pintu hanya untuk memastikan keberadaan istri ketiganya itu, senyum terpatri jelas di wajahnya ketika melihat Aulia datang sambil menggendong Indira yang dari tadi tersenyum dan juga tertawa entah apa yang mereka bicarakan.
Bagas bahagia karena ternyata sebegitu perhatiannya Aulia kepada Indira sampai-sampai rela pulang padahal sedang emosi kepadanya, kalau seperti begini Jangan salahkan jika Indira besok lusa bakalan menjadi tameng ketika dirinya bertengkar dengan Aulia Mungkin dengan cara begitu wanita itu tidak akan pergi lagi ataupun rencana ingin bercerai dari nya.
Safira benar-benar merasa diabaikan bahkan omelannya dari tadi rasa-rasanya mungkin hanya buaian tidur bagi Bagas, sampai-sampai pria itu menoleh ataupun merespon perkataannya sudah tidak Hal itu membuat harga diri Safira benar-benar jatuh.
"Mas Bagas aku tuh ngomong sama kamu! Kenapa sih kamu sudah seperti kayak anak kecil yang lari dari masalah, padahal kamu sudah tahu kan risiko dari awal kalau mempunyai istri lebih dari satu? "tanya Safira yang benar-benar sedang diuji kesabarannya oleh suaminya sendiri.
Bagas terlihat hanya menghela nafasnya kasar, Soalnya dari tadi apa yang dikatakan oleh Safira menurutnya terlalu berlebihan. kalau saja selama ini mungkin dirinya lepas tanggung jawab Nah itu dia permasalahannya dan artinya juga dia tidak mengerti yang namanya prinsip dari poligami, namun segala macam tanggung jawab mulai dari sandang pangan dan papan segala macam kebutuhan istrinya dirinya memberikan bahkan masing-masing mendapatkan ATM No Limit.
Aulia yang belum mendapatkan Apapun saja tidak pernah berkomentar ataupun meminta haknya, akan tetapi Safira selalu saja merasa kekurangan selalu saja Ingin Lebih selalu saja di ingin di spesialkan dari istrinya yang lain.
kalaupun dirinya marah ya saatnya sekarang ini marah terhadap Safira yang menurutnya selama ini terlalu banyak kebohongan, bukan berarti ia selama ini tidak mengikuti gerak-gerik Safira Sebab karena mempunyai lebih dari satu istri otomatis Bagas harus bisa memantau semuanya.
__ADS_1
Belum lagi ketika tadi dirinya masuk ke dalam kamar itu terlihat Safira langsung buru-buru menyembunyikan ponselnya, padahal bagus tidak ada niatan untuk bertanya ataupun mencari tahu tetapi kenapa respon wanita itu terasa begitu berlebihan.
"Aku dari tadi mencoba sabar tetapi sepertinya kamu tambah ngelunjak, Aku sudah memberikan kamu waktu untuk berpikir tetapi kamu sepertinya lupa! jadi Menurut kamu aku harus berbuat apa, harus membagi diriku menjadi tiga bagian Agar kalian mempunyai masing-masing yang sama besar? "Bagas sengaja menanyakan hal itu karena jika tidak Safira bakalan terus marah yang tidak jelas padahal sebenarnya ia sedang ingin berbuat sesuatu terhadap istri ketiganya yang tadi sudah secara sengaja disakitinya.
"Aku bukan menuntut apapun Mas tetapi aku tuh tidak suka kalau kamu sedang bersamaku Tetapi malah memikirkan istri kamu yang lain, Memangnya saat kamu bersama istri kamu yang lain pernah memikirkanku ataupun pernah menanyakan keadaanku?"tanya Safira membuat Bagas ingin sekali tertawa karena selama ini wanita itu tidak pernah mempermasalahkan statusnya tetapi Kenapa semenjak kehadiran Aulia Safira menunjukkan emosinya yang sangat tidak stabil layaknya ABG yang aneh menurutnya.
"Jadi Menurut kamu aku harus tidur dengan 3 istriku sekaligus dan juga menurut kamu kita bertiga harus berbagi ranjang sama-sama, aku peringatkan kamu Sekali lagi jika sampai kamu membalas soal ini lagi bisa kupastikan status kamu sebagai Nyonya Bagas Sanjaya akan berhenti saat itu juga!"setelah mengatakan hal itu Bagas pun memilih langsung keluar dari kamar padahal sebenarnya persyaratannya Aulia pulang kalau Bagas tidak ada tetapi mau bagaimana lagi ketika berada di kamar Safira dirinya bagaikan berada di neraka.
Safira mengepalkan tangan yang menahan emosi sebab menurutnya apa yang dikatakan Bagas tadi sudah sangat menyakiti perasaannya, lalu wanita itu mengambil ponselnya menghubungi orang yang dari tadi sedang berchat dengannya sebab dirinya ingin melakukan sesuatu yang pastinya bakal membuat statusnya tetap kokoh di rumah itu.
"Aku mau kamu besok harus bisa membuntuti wanita itu ke manapun dia pergi, Lalu setelah itu Ketika menemukan waktu yang pas dan juga kondisi yang mendukung Segera lakukan rencana kita! "ujar Safira dengan tatapan matanya yang nyalang membuat orang yang di seberang mendengarnya hanya terkekeh saja.
Safira tertawa sinis sebab menurutnya yang penting intinya rencananya terjadi dulu baru setelah itu ia memikirkan Resiko yang lain, kalaupun nanti Bagas membencinya pasti tidak sampai menceraikannya karena Bukankah pria itu ingin sekali mendapatkan anak laki-laki.
"Aku selama ini sudah membayar kamu bukan hanya dengan uang tetapi dengan tubuhku dan itu bukan hanya sekali, jadi jangan pernah kamu meragukan semua yang aku janjikan karena itu pasti bakal aku tepati yang penting Intinya kamu juga bakalan melakukan sesuai dengan yang aku inginkan! "setelah mengatakan hal itu Safira pun mematikan ponselnya karena tidak baik berlama-lama berhubungan dengan orang luar takutnya bakalan ketahuan Bagas bisa berabe urusan nantinya.
Bagas hanya bisa mengintip dari celah-celah dinding ketika melihat Aulia sedang bercengkrama dengan Indira, fokusnya kini masih tertuju kepada pipi wanita itu yang terlihat sudah sedikit menghitam.
__ADS_1
Bagas mengangkat tangannya tinggi-tinggi merututi kelima jarinya yang sudah secara sengaja menyakiti istrinya itu, kalau boleh Ia minta biarkan bekas yang ada di pipinya Aulia berpindah ke arahnya.
Indira pun merasakan hal yang sama karena gadis kecil itu merasa aneh dengan wajah Bundanya yang terlihat menghitam di bagian pipinya yang sebelah, Indira kemudian menyentuhnya tetapi Aulia langsung meringis kesakitan membuat Indira pun langsung ikutan meringis.
"Pipi Bunda kok warnanya gitu tidak sama seperti pipinya yang sebelah, Terus kenapa saat ini rasanya itu Bunda kayak kesakitan begitu? "tanya Indira memastikan membuat Aulia hanya bisa menghela nafasnya kasar.
"Oh ini tadi bunda jatuh soalnya kan baru habis hujan terus Bunda jalan tidak lihat eh tiba-tiba kepleset deh, untung juga bukan gigi Bunda yang kejedot kalau tidak mah habis semua terus nanti kayak pocong!"Aulia sengaja berbohong karena menurutnya Indira itu merupakan anak kecil yang otomatis tidak bakalan terlalu mempermasalahkan alasan yang ia berikan barusan.
"Ya kasihan dong nanti aku bakalan suruh papa buat benerin jalan-jalan yang licin supaya Bunda tidak jatuh lagi, Lagian Bunda mata itu dipakai kalau lihat jalannya itu licin Kenapa harus lewat situ juga?"Aulia begitu bahagia ketika mendapatkan perhatian dari gadis kecil itu sebab menurutnya di rumah itu yang peduli terhadap keadaannya ya hanyalah Indira kalau ditanya soal suaminya pria itu bahkan Sudah berani tega-teganya menyakitinya.
"Nggak usah ngomong sama papah Kamu deh nanti bunda yang bakalan lihat lebih jelas lagi jalannya supaya jangan jatuh lagi, soalnya kalau sampai kita minta uang papa kamu nanti mami Safira itu bakalan ngamuk-ngamuk kalau sudah tahu kan dia seperti apa?"Aulia benar-benar menolak kalau Bagas sampai memberikan bantuan terhadapnya.
Bagas yang mendengarkan penolakan dari Aulia hanya bisa memukul dadanya yang terasa begitu nyeri, padahal Aulia belum menolak tepat di hadapannya Bagaimana kalau wanita itu menolaknya secara langsung entah bagaimana perasaannya begitu amburadul.
"Tapi kan Indira selalu lihat papa itu memberikan uang kepada Mami Safira ketika Mami Safira itu minta-minta tidak pernah berhenti, jadi Bunda juga harus minta dong masa iya Hanya mereka saja yang dapat sedangkan Bunda tidak itu kan sama saja tidak adil!"Indira merupakan gadis kecil yang masih polos tetapi Percayalah gaya berpikir anak modern sekarang lebih luas dan terkadang apa yang tidak dipikirkan oleh manusia dewasa mereka sudah memikirkan lebih dulu.
"Bunda nanti bakalan bekerja Tadi teman Bunda sudah nawarkan pekerjaan, jadi kayaknya Nggak perlu deh harus minta uang sama papa kamu soalnya dia kan tanggungannya banyak masa iya Bunda menyusahkannya lagi? "Lagi Dan Lagi Aulia menolak secara tegas apapun yang menyangkut Bagas membuat pria itu benar-benar menyesal karena secara sengaja menyakiti istrinya sampai-sampai Aulia terlihat enggan berhubungan dengannya.
__ADS_1
"Oh iya Bunda sudah makan atau belum, Soalnya dari tadi Indira itu lagi nahan lapar nih loh karena nungguin Bunda pulang baru kita makan sama-sama? "Aulia tercekat sebegitu perhatiannya Indira kepadanya sampai-sampai anak itu rela menahan lapar Padahal selama ini anak kecil paling susah untuk menahannya.