Menjadi Yang Ke-3

Menjadi Yang Ke-3
Episode 47


__ADS_3

Bagas sudah tersulit emosinya ketika melihat Aulia bukannya menghargai keberadaan ya malah wanita itu lebih peduli kepada Abizar, karena posisi Aulia dan Abizar terlihat begitu mepet sampai-sampai Bagas merasa yakin jika istrinya itu tidak pernah menghargai keberadaannya.


Diberikannya tatapan mematikan kepada Abizar seolah ingin menegaskan kepada pria itu bahwa Aulia yang merupakan miliknya, karena jika dirinya diam saja takutnya istrinya itu bakalan diambil padahal usaha mereka untuk mendatangkan buah hati belum ada hasilnya sama sekali.


kecewa tentu saja sebab menurutnya sikap Aulia tidak mencerminkan sebagai seorang istri yang memang benar-benar mendapatkan ilmu agama yang memadai, karena kalau Aulia yang memang paham ilmu agama wanita itu pasti tidak akan melakukan semua ini kepadanya dengan memilih menginap di hotel bersama teman-temannya.


kalau temannya itu seorang wanita Dia tidak masalah tetapi yang ini malah membawa juga teman prianya yang jelas-jelas sebenarnya tidak boleh sama sekali meskipun Bukan Hanya mereka berdua di situ, sebab hal itu sudah secara tidak langsung menegaskan bahwa Aulia membolehkan dan juga tidak mempermasalahkan jika dirinya melakukan perzinahan yang sebenarnya sangat dilarang oleh agama dan juga masyarakat yang fanatik.


Apalagi ketika melihat tatapan Abizar yang begitu mendambakan Aulia sampai-sampai terlihat sangat tidak menyukai kehadirannya disitu, padahal seharusnya yang melakukan hal tersebut adalah dirinya yang notabene merupakan suami dari wanita itu.


"Kamu kalau mau pergi ya pergi saja tidak perlu harus memainkan peran di sini seolah-olah kita berdua itu merupakan pasangan yang serasi, karena sampai kapanpun pasti tidak akan pernah menghargai kamu sebagai suamiku agar kamu tahu kalau aku sangat tidak pernah mau pernikahan ini terjadi!"Aulia yang tidak ada nada bercanda dalamnya.


Bagas menghela nafasnya kasar karena benar-benar merasa kecewa dengan semua kata-kata yang dilontarkan oleh Aulia tadi, sebab menurutnya wanita itu tidak menghargai keberadaannya di situ sebagai seorang suami malah mempermalukannya di depan teman-teman Aulia sendiri.


Padahal sebenarnya pembahasan yang dilakukan oleh Aulia itu sedikit sensitif dan jika wanita itu paham tidak mungkin bakalan mengatakan semua itu dengan berapi-api, namun dirinya bisa apa ketika apapun upaya yang ia lakukan Aulia seperti tidak peka mungkin karena Terlanjur kecewa ataupun tidak akan pernah ada niat untuk membuka hati.


Bagas tidak ingin dipermainkan lagi apalagi ketika melihat tatapan Abizar yang begitu bahagia ketika mendengar Aulia memarahinya, Aulia merupakan istrinya otomatis dirinya mempunyai hak penuh terhadap wanita itu di mata hukum dan juga agama. Apalagi kedua orang tuanya sudah mempercayakan Aulia kepadanya sebagai istrinya, maka dari itu apapun rintangan yang terjadi Bagas tetap akan melakukan sesuatu sampai bisa membuat Aulia hamil.


Nina yang dari tadi di cafenya Abidzar begitu antusias ingin memarahi Bagas, Entah mengapa tiba-tiba antusias itu pergi begitu saja sehingga wanita itu kini memilih untuk menepi sambil melihat perdebatan yang terjadi


Nina terlihat sepertinya tidak menyukai sikap Aulia yang terlalu keras kepala dan juga tidak menghargai suami sendiri, meskipun dirinya bermulut pedas tetapi tidak ada niatan Ketika suatu saat menjadi istri bakal membuat suami malu seperti yang dilakukan oleh Aulia.


"Kamu kenapa kasar sekali kepada suami kamu? Aku tadi memang mengagumi dia karena memang tampangnya itu kalau dijual pun bakalan laku meskipun harganya triliunan, tetapi aku bingung dengan sikap kamu sepertinya menganggap dia itu seperti benalu atau parasit begitu yang tidak pantas didekati!" Ujar Nina heran.


Aulia mengerutkan keningnya ketika mendengar Nina memarahinya barusan padahal seharusnya temannya itu berada di pihaknya, mungkin ketika tambah personel lagi dengan begitu Bagas bakalan melepasnya saat ini juga ya paling tidak memberikan talak 1.

__ADS_1


"kamu datang ke sini Katanya ingin membuat agar aku bahagia kan tadi, Kalau tidak ada niatan loh Kembali ke tempat ini? Apalagi ketika bertemu dengan orang asing ini padahal hotel yang lain banyak sekali, tetapi kenapa pilihannya harus jatuh di tempat ini juga sehingga akhirnya kami bertemu!"kesal Aulia yang masih tidak tahu jika sebenarnya Bagas harus berbicara seperti itu karena Hotel yang ada mereka di dalamnya merupakan miliknya Bagas.


"aku memang tadi itu semangatnya ingin memarahi suami kamu tetapi sepertinya aku berubah pikiran deh, lebih baik kalian masuk ke dalam kamar hotel tersebut terus ngomong baik-baik apa sebenarnya yang ingin kalian jalani untuk pernikahan ini! Aku dan Abizar bakalan menunggu di cafenya kalau memang kalian sampai malam belum keluar aku percaya kalau kalian lagi sedang menambah satu lagi penduduk di bumi, dan tenang saja aku tidak akan pernah mempermasalahkannya karena memang itulah tujuan dari suami istri yaitu menciptakan lebih banyak populasi manusia!" ledek Nina yang masih sempat-sempatnya bercanda di saat kondisi yang tidak kondusif.


Aulia benar-benar merasa gemas dengan perubahan sikap sahabatnya yang masih terlalu cepat, padahal seharusnya wanita itu bisa membawanya pergi dengan begitu pikirannya lebih tenang tetapi sepertinya Nina tidak ahli dalam hal itu.


"Aku bakalan ikut kemanapun Kalian pergi dan tidak ingin tinggal dengan pria ini! Bukankah dia itu punya istri yang lainnya, Jadi kenapa tidak ke sana saja karena aku yakin mereka juga pasti menunggunya?"tanya Aulia yang tidak terima kalau dirinya berduaan saja dengan Bagas sedangkan Bagas dari tadi memilih untuk diam sambil memasang tatapan datarnya akibat kecewa yang begitu sangat.


Dimas yang baru saja datang langsung membulatkan matanya sempurna ketika terjadi keributan di depan kamarnya Bagas dan terlihat Bosnya itu berdiri dengan memasukkan kedua tangannya dalam saku celana, Lalu setelah itu tidak terlibat sama sekali dengan perdebatan yang terjadi antara Aulia dengan kedua sahabatnya membuat Dimas yakin kalau Bagas punya hukuman untuk Aulia pastinya.


"Ini mah Gawat kalau sampai Tuan murka dan melakukan hal yang tidak tidak kepada Nyonya Aulia, habisnya Nyonya juga susah sekali diatur sih begini kan jadinya bukan dia saja yang pusing tetapi orang lain juga!"gumam Dimas frustasi.


"Kamu pergi ke depan kemudian tutup semua akses masuk ke dalam hotel setelah mereka berdua ini pergi, kemudian katakan kepada Anggi dan Silvia untuk menemui saya karena ada hal penting yang harus saya bahas dengan mereka! kamu silakan masuk ke dalam kamar kalau tidak ingin saya menyeret kamu secara paksa, Saya tidak sedang bercanda dengan kamu ataupun sedang ingin mendengar kata-kata pedas dari kamu Karena sekarang di sini saya sebagai seorang suami ingin dihargai!"Aulia hanya berdiri mematung karena benar-benar tidak menyangka jika Bagas biasanya hanya santai mendengar omelan darinya kini malah terlihat begitu meradang.


"Kenapa kamu jadi ingin memanggil Anggi dan Silvia, ingat ya kamu di sini itu hanya kamu bisa tidak jangan kurang ajar sama para pegawai yang bekerja di sini? Nanti kalau mereka melaporkan kepada pemimpin mereka kamu juga melakukan kewalahan, Jadi orang kok ngeyel sekali sukanya melakukan sesuatu sekehendak hati pikir seperti orang kaya melintir!"sungut Aulia membuat balasan yang menghela nafas berasal karena kekayaannya yang begitu banyak diketahui sama sekali oleh istri nya itu.


"Maaf nyonya kalau anda tidak tahu Baiklah bakalan saya katakan, kalau sebenarnya tempat ini merupakan miliknya Tuan Bagas! Jadi jika dia memarahi Silvia dan Anggi ataupun saya sendiri itu merupakan hal yang masuk akal, seperti yang dikatakan Tuan tadi lebih baik anda masuk ke dalam kamar Karena ada urusan yang harus kami selesaikan!"perintah Dimas Meskipun tidak sopan tetapi ini semua demi kebaikan bersama dan juga agar tidak ada negara api yang menyerang kembali.


Aulia sebenarnya ingin sekali menolak perintah yang diberikan Bagas kepadanya sebab menurutnya pria itu tidak punya hak sama sekali untuk mengatur hidupnya, karena selama ini Bagas tidak pernah memberikan nafkah untuknya bahkan bisa dibilang pria itu seolah tidak peduli dengan segala kebutuhan Aulia yang harusnya Bagas yang penuhi.


"Aku mau pulang dan kalau kamu mau ke mana-mana itu urusannya kamu bukan urusan denganku, yang penting intinya aku tidak ingin diatur oleh siapapun termaksud itu kamu! "tegas Aulia membuat Bagas benar-benar sudah habis kesabarannya.


Tanpa banyak bicara pria itu menarik Aulia agar ikut dengannya mengurus Anggi dan Silvia yang dirinya rasa Sudah membohonginya tadi, sebab kalau Aulia hendak masuk ke dalam kamarnya otomatis wanita itu memang sudah berada di tempat itu dari tadi namun satu pun tidak ada yang membocorkan hal itu kepadanya.


"Eh kamu mau membawaku ke mana? jangan ngadi-ngadi deh kamu, lepaskan tanganku aku mau pulang tidak Sudi harus berdekatan dengan orang seperti kamu! "tolak Aulia tetapi Bagas tetap mengeratkan pegangan tangannya bahkan bisa dibilang mungkin kulit wanita itu bisa mengelupas karena genggaman Bagas yang saking kuatnya.

__ADS_1


Nina meringis ngeri ketika melihat Sikap yang ditunjukkan oleh Bagas itu dirinya pun mau tidak mau harus membela Aulia untuk saat ini, karena Siapa sih yang tega ketika melihat sahabat dekatnya disakiti seperti itu secara langsung tepat di hadapannya.


"Eh Tuan kalau memang kamu tidak suka dengan sahabatku ya sudah Ceraikan Saja Dia kali ini aku bakalan mendukung semua keputusan nya, soalnya setelah dilihat baik-baik ternyata kamu itu memang tidak cocok menjadi seorang suami cocoknya menjadi preman pasar karena hobinya pakai kekerasan! "teriak Nina yang berusaha melepaskan pegangan Bagas pada tangannya Aulia.


"Kamu diam atau saya bakalan melaporkan kamu kepada polisi karena sudah membawa kabur istri saya, Ingat saya tidak pernah bercanda dengan manusia-manusia remahan seperti kalian dan juga jangan pernah membantah ataupun mengatur hidup saya!"tegas Bagas dengan tatapan matanya yang tajam membuat Nina langsung bungkam karena tidak percaya ternyata suaminya Aulia itu tampan tapi sikap arogannya begitu menggebu-gebu.


"Jangan membentak sahabatku! Awas kalau sampai kamu melakukan hal itu sekali lagi karena aku tidak bakalan tinggal diam, kamu jangan pernah macam-macam ya Atau aku juga bakalan lebih macam-macam dengan kamu! "Aulia benar-benar sudah tidak bisa tahan lagi sebab emosinya dari tadi itu sudah coba ya redam tetapi Bagas selalu saja memancingnya.


Abizar memilih diam saja sebab dirinya bisa apa jika ada Dimas selalu saja berada di samping Bagas, kalau ada pintu ke mana saja ingin Ia bawa kedua sahabatnya itu pergi Meskipun yang menjadi prioritas utama adalah Aulia.


"Kamu lepas tanganku atau tidak? Ya sudah Oke lanjutkan saja pegangannya bila perlu hancurkan saja tulang belulangku agar kamu puas!"Aulia memilih untuk pasrah agar Bagas puas sebab semakin dirinya melawan sepertinya pria itu semakin Masa bodoh dan memilih tidak mendengar apapun padahal jelas-jelas Aulia mengatakan dengan cara berteriak.


Bagas tersentak kaget ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Aulia kepadanya lalu segera melepaskan genggaman tangannya dan begitu terkejut, Bagaimana tidak terkejut ketika melihat tangan Aulia yang memerah dan juga tercetak jelas bekas genggaman tangannya tadi.


"Maafkan aku soalnya tadi itu tidak sengaja, Soalnya kamu itu melawan terus susah sekali diatur makanya aku refleks melakukan semuanya! "Bagas benar-benar merasa bersalah Lalu ingin menarik kembali tangan istrinya dan memastikan keadaannya baik-baik saja atau tidak tetapi Aulia menepis dengan kuat.


"Jangan pernah menyentuhku lagi dan juga jangan pernah usik kehidupanku, mulai sekarang atur diri masing-masing kamu mau ke mana terserah aku mau kemanapun terserah."Aulia sudah capek setiap saat harus berdebat Aulia sudah bosan karena Bagas tidak pernah mau mengalah dan sekali-sekali mengakui pemikirannya walaupun terdengar sedikitnya nyeleneh.


Grep


Tanpa banyak bicara Bagas pun langsung menggendong Aulia layaknya bridal style dan segera membawa kembali wanita itu ke dalam kamar tempat dirinya biasa menginap, tidak peduli dengan tatapan tiga pasang mata yang sedang menatap heran ke arahnya dan juga belum lagi respon kagetnya Aulia yang terlihat begitu shock sampai-sampai tidak tahu lagi harus berkata apa.


"Wow It is so sweet! "lirih Nina sambil tersenyum tetapi berbeda dengan Abizar yang malah mendengus kesal .


"Sweetnya dari bagian mana coba? Kalau yang dia lakukan itu namanya pemaksaan itu bukan rasanya manis melainkan terasa begitu pahit, Kita seharusnya tidak boleh berada di sini soalnya semakin kita berada di sini pria itu akan semakin dekat! "Abizar mengepalkan tangannya menahan emosi lalu segera pergi dari situ meskipun hati kecilnya menolak karena takutnya Aulia bakalan berduaan dengan suaminya itu.

__ADS_1


Dimas tersenyum senang ketika tanpa harus bekerja keras Abizar sudah pergi sendiri, jika hal ini diketahui oleh Bagas pasti pria itu bakalan senang sebab orangnya dari tadi menempel pada istrinya sudah pergi menjauh.


"Teman kamu sudah pergi terus Aulia sudah harusnya bersama dengan orang yang tepat saat ini, Terus kenapa kamu masih saja di sini Bukannya kamu harus pergi ke teman pria kamu tadi? "tanya Dimas sambil mengerutkan keningnya.


__ADS_2