
Bagas pagi ini terlihat tidak ada niatan untuk pergi ke kantor, sebab ketika otak dan pikirannya sedang tidak bekerja sama untuk mengerjakan apapun rasanya tidak pas.
Maka dari itu Bagas memilih untuk beristirahat di dalam kamarnya dan juga Aulia, tidak ingin diganggu oleh siapapun padahal dari tadi Dimas sudah datang ke tempat itu.
"Permisi Nyonya, apakah Tuan Bagas masih ada di dalam kamarnya? Soalnya saya takut nanti kami terlambat pergi ke kantor karena nanti bakalan ada meeting dengan klien di luar, dan Meeting itu tidak bisa diwakilkan oleh siapapun maka dari itu kehadiran Tuan Bagas sangat diharapkan!"jelas Dimas ketika melihat Davina yang ada di lantai bawah sepertinya hendak mengantar Indira ke sekolah.
"Bukannya semalam papa itu nggak pulang uncle? "tanya Indira yang langsung menyela sebelum Mamanya itu menimpali perkataan Dimas barusan.
Pria itu terlihat menghela nafasnya secara perlahan, karena memang dirinya tahu Bagas itu semalam ada di mana. Hanya saja karena di hotel Bagas tidak ada, Makanya ia yakin kalau pria itu sebenarnya sudah pulang ke rumahnya lagi.
"Papa lagi di kamar, kamu kalau nggak tahu apa-apa lebih baik jangan ikut campur urusan orang tua ya! "perintah Davina kepada anaknya karena dirinya tidak ingin Indira menjadi anak yang tidak tahu sopan santun.
Indira masih tetap dalam mode yang tidak percaya kalau Papanya Itu sudah pulang, maka dari itu ia melepaskan tangan Davina dan pergi mengecek keberadaan Bagas karena jika sampai Papanya Itu ada artinya Bunda Aulia pun ada.
Tujuan Indira yaitu ke kamarnya Aulia karena dirinya yakin Bundanya itu pasti pulang juga ikut dengan papanya, ketika dirinya membuka pintu kamar tersebut langsung memasang tatapan sedihnya karena ternyata hanya Bagas sendirian di dalam situ.
__ADS_1
"Papa, kok Bundanya nggak ikutan pulang? Apa karena Indira nakal dan juga suka banyak maunya makanya Bunda tidak mau pulang, kalau begitu Papa bilang Bunda dong kalau Indira bakalan menjadi anak yang manis tidak akan nakal lagi ! "lirih Indira yang terlihat menahan tangis yang membuat Bagas yang tengah duduk menatap ke arah luar jendela hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar.
"Indira lebih baik kamu pergi sekolah karena nanti takutnya telat, kalau Uncle Dimas datang bilang saja Papa lagi tidak enak badan jadi pengen istirahat!"sahut Bagas yang tidak ingin menimpali apapun yang dikatakan oleh Indira barusan karena pikirannya saja sedang mumet apalagi harus memikirkan kata-kata orang lain lagi.
Indira memilih untuk melangkah kembali di mana ada Devina dan juga Dimas, gadis kecil ini terlihat menundukkan kepalanya karena merasa kecewa ternyata Aulia tidak ada di dalam kamar.
Devina dan Dimas hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika melihat respon yang diberikan oleh Indira itu, mereka tahu kalau anak itu begitu dekat dengan Aulia maka dari itu ketika wanita itu tidak pulang pasti dirinya yang merasa sangat Kehilangan.
"Non Indira jangan sedih begitu, Percayalah kalau Bunda Aulia pasti bakalan pulang! Untuk itu mulai dari sekarang harus menjadi anak yang manis dan juga tidak akan nakal, nanti Uncle bakalan bantu mencari keberadaan Bunda sampai ketemu!"jelas Dimas yang ingin membesarkan hatinya Indira sebab anak kecil itu tidak pantas untuk mengetahui masalah orang dewasa.
"Aulia memang benar pergi dari rumah lagi? Astaga sebenarnya ada masalah apa sih antara dia dengan Mas Bagas? Aku jadi bingung sebenarnya sekarang mau berpikir bagaimana dengan keadaan rumah ini yang sesungguhnya, takutnya nanti kondisi psikis anak-anakku bakalan ikut terguncang kalau orang di dalam rumah juga sudah tidak berbaikan satu dan yang lain!"ujar Devina yang sudah tidak tahu lagi harus membela yang mana karena menurut penglihatannya Aulia juga merupakan wanita yang susah diatur dan juga sangat keras kepala.
"Ya sudah kalau begitu kami berdua pergi dulu soalnya takut nanti Indira bakalan telat, kalau ada apa-apa silakan naik saja ke lantai atas soalnya mas Bagas dari tadi belum keluar kamarnya!"setelah mengatakan hal itu Devina pun memilih untuk pergi karena ia tahu Dimas bakalan tahu apa yang bakalan dia lakukan.
Nella yang baru saja kembali dari luar merasa heran ketika melihat mobilnya Bagas sebelum keluar dari Garasi, padahal sekarang bisa dibilang sudah seharusnya pria itu berangkat ke kantor tetapi kenapa sampai sekarang belum pergi juga.
__ADS_1
"Ini anak kapan pulangnya semalam, terus kenapa sampai sekarang belum pergi juga?"gumam Nella sambil memilih untuk masuk ke dalam rumah untuk memastikannya sendiri.
Nella merasa heran ketika melihat Dimas masih betah duduk di ruang keluarga, padahal biasanya di jam segini pria itu tidak biasanya keluar dari kantornya.
"Loh Dimas kamu kok masih di sini, bukannya ini sudah mau telat ke kantor?" Nella merasa heran.
"Saya masih di sini itu karena tuan Bagas dari tadi belum keluar dari kamarnya, nanti kalau 5 menit lagi dia belum keluar saya bakalan pergi ke kamarnya untuk memanggilnya!"sahut Dimas.
Nella tahu jika Bagas sampai melupakan pekerjaannya itu artinya ada masalah besar yang telah dihadapi oleh pria itu, maka dari itu Nella memilih untuk duduk di samping Dimas guna bertanya Sebenarnya apa yang tengah terjadi.
"Kamu bisa jelaskan kenapa dari semalam Bagas tidak pulang dan juga lebih parahnya Aulia juga ikutan tidak pulang, kira-kira ada masalah apa di antara mereka berdua sampai harus melakukan hal-hal seperti itu?"tanya Nella penasaran dengan masalah yang tengah dihadapi oleh anak dan juga menantunya itu.
Dimas terlihat menghela nafasnya secara perlahan, karena sebenarnya ini bukan merupakan tanggung jawabnya untuk menceritakan semuanya. Sebab takutnya nanti Bagas bakalan tersinggung kalau dirinya tidak bisa menjaga rahasia pria itu, namun jika dirinya hanya diam saja otomatis tidak bakalan ada perubahan sama sekali. Karena biar bagaimanapun Nella merupakan orang dalam bagi Bagas dan juga Aulia, yang bisa membantu masalah mereka berdua ya adalah wanita itu.
"Sebenarnya saya juga bingung masalahnya Seperti apa.Akan tetapi setahu saya, Nyonya Aulia sedang marah besar dengan Tuan Bagas dan akhirnya dia pergi meninggalkan Tuan Bagas tanpa pamit dan sampai sekarang kami tidak tahu beliau ada di mana!"jelas Dimas membuat Nella menghembuskan nafasnya kasar karena dirinya tahu anaknya itu dari dulu sangat sulit mengendalikan emosi.
__ADS_1
"Bagas itu istrinya sudah lebih dari satu tetapi kenapa sih emosinya tidak pernah bisa dia tahan? Anak orang itu dia nikahi buat dijaga bukan buat dikasarin seperti istrinya yang lain, apalagi istrinya seperti Aulia yang jelas-jelas sangat tidak ingin diatur oleh siapapun!"omelnela karena memang dirinya tidak suka setiap kali Bagas mengatur istrinya pasti harus menggunakan kata-kata yang kasar.
Dimas tentu saja tidak akan menimpali perkataan Nella ketika sudah menjerumus hendak memarahi Bagas, karena menurutnya yang patut melakukan itu ya adalah Nella wanita yang melahirkan Bagas ke dunia.