
Bagas yang sudah berada di dalam ruangan kerja miliknya itu tidak bisa fokus untuk melihat semuanya,karena entah kenapa semua berkas dan juga pigura yang ada berubah menjadi wajahnya Aulia.
"ini kenapa semua yang ada di dalam ruangan jadi gambarnya berubah jadi Aulia, padahal perasaan dia itu kan manusia kemudian orangnya hanya satu pun apa bisa berubah jadi banyak ya? "gumam Bagas yang sudah seperti orang frustasi akhirnya ngomong sendiri kemudian yang menyahutnya juga sendiri Lalu setelah itu yang menyuruhnya diam juga sendirian.
"ah sepertinya aku sedang berhalusinasi lebih baik aku pergi ke kamarnya dia supaya memastikan kira-kira dia ada di sini atau lagi di kamarnya, Karena mataku ini rasa-rasanya sudah tidak berfungsi dengan benar lagi jadi lebih baik aku mau memastikan sendiri biar tidak penasaran seperti ini. "akhirnya Bagas memilih melupakan semua kata-kata Aulia dan dipikirannya pasti wanita itu tidak mungkin dong menutupi ke kamarnya karena Biar bagaimanapun tugas seorang istri itu menerima kedatangan suaminya baik masih terang ataupun sudah gelap.
"Kamu kenapa malah masih membuka mata sampai sekarang padahal besok kan masih sekolah, ayo lebih baik kamu tidur Soalnya Bunda juga capek banget pengen banget untuk tidur ?" tanya Aulia yang merasa heran ketika dari tadi Indira tidak ada nampak bakalan memejamkan matanya padahal Sekarang sudah jam 09.00 lewat loh dan anak kecil tidak boleh begadang sampai begituan.
Indira menggelengkan kepalanya karena Entah mengapa dirinya jadi teringat dengan papanya yang tadi wajahnya begitu jutek, dirinya takut sudah melakukan kesalahan terhadap pria itu yang biasanya bakalan memarahi dirinya dan ketika ia Panggil Bagas tidak akan pernah mempedulikan kehadirannya sama sekali. gadis kecil itu terlihat begitu trauma dengan segala macam Sikap yang ditunjukkan oleh Bagas kepadanya selama ini, maka dari itu ia tidak ingin kalau nanti bakalan dimarahi lagi hanya karena mau monopoli Aulia yang jelas-jelas merupakan istri dari Papanya Itu.
"Bunda, Indira boleh minta tolong sesuatu tidak? "tanya Indira pelan sambil menundukkan wajahnya ke bawah karena takut nanti bakal membuat Aulia marah kepadanya lagi.
Aulia mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan gadis kecil itu padahal kalau memang ingin meminta tolong ya Tinggal bicara saja kalau memang ia bisa melakukan ya pasti dilakukan, namun Kenapa harus pakai acara kegiatan formal seperti begini yaitu kalau mau meminta tolong harus meminta izin dulu baru bisa membicarakan tujuan awal yang ingin Ia sampaikan kepada dirinya.
"Ya Kamu mau minta tolong apa? kalau memang ada yang penting ya tinggal ngomong saja tidak perlu harus kayak begini kan, Bunda jika bisa bantu pasti bakalan bantu kamu tetapi kalau memang tidak bisa ya minta maaf saja! "ujar Aulia sambil tersenyum sebab menurutnya tidak perlu harus memaksakan diri untuk memarahi anak sekecil itu karena nantinya kasihan bakalan membuat Indira menjadi frustasi.
Mendengar jawaban Aulia yang menggantung seperti itu membuat Indira hanya bisa terus saja menundukkan kepalanya, karena takutnya jangan sampai Aulia itu sebenarnya sikapnya seperti Safira hanya sedang menahannya saja untuk tidak memarahi dirinya.
Aulia yang melihat Indira hanya tertunduk akhirnya sadar kalau kata-katanya tadi sudah membuat gadis kecil itu ketakutan, maka dari itu ia pegang tangannya Indira lalu membawa tatapannya itu ke arahnya dan sambil tersenyum Aulia memastikan kalau dirinya tidak bakalan marah apapun yang bakal dikatakan oleh Indira nantinya.
__ADS_1
"Ya sudah kamu kalau mau ngomong saja nanti bunda tidak akan marah kok, jangan takut ya Bunda tidak sama seperti orang lain yang bakal memarahi Indira kalau ngomong. "jelas Aulia sambil membelai surai Indira yang begitu hitam legam Dan juga panjang.
"Indira kasihan sama Papa. Soalnya tadi wajahnya itu kayak ditekuk mungkin sedang marah sama Indira karena sudah gangguin Bunda? kalau memang Bunda mau ngomong sama papa Ya sudah Indira nggak masalah kok, nanti bisa bakalan kembali dan tidur bareng sama mama Davina!" Indira mengatakan hal itu sebenarnya tidak berasal dari dalam hatinya karena yang ia inginkan sekarang yaitu bisa bersama dengan Aulia.
Aulia yang tadi berusaha tersenyum langsung mengubah mimik wajahnya ke arah datar dan juga tidak menyangka, jika permintaan tolong yang diberikan oleh Indira itu sangat-sangat susah untuk ia kabulkan.
"Kamu nggak salah ngomong seperti tadi, Kamu kan tahu kalau Bunda memang lagi tidak ingin ngobrol sama Papa kamu kan? Nanti kalau suatu saat Bunda pengen ngomong ya bunda tinggal panggil saja enggak perlu harus ajari seperti ini, lebih baik kamu tidur saja terus jangan pernah memikirkan masalah orang dewasa karena itu biarkan menjadi masalah mereka! "perintah Aulia yang tidak ingin dibantah sedikitpun oleh Indira.
Indira pun memilih untuk menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh Aulia barusan, namun sebelum itu dirinya memberikan permintaan yang membuat Aulia mau tidak mau mengikutinya karena jika tidak bisa dipastikan Indira bakalan bergadang semalaman.
"Tapi nanti kalau aku tidur biar Bunda tolong bukakan pintu ya supaya Papa juga masuk tidur di sini, soalnya kasihan bapak itu tidak suka tidur sama mama Davina dan juga manis Safira karena dia lebih suka tidur di kamar ini yang dulunya masih kosong! "Indira mengatakan semua itu karena dirinya bukan anak kecil yang tidak tahu apa-apa selama ini yang ia tahu kalau Bagas kebanyakan lebih menempati kamar yang sekarang diisi oleh Aulia.
"Ya sudah nanti kalau kamu tidur Bunda bakalan panggil papa kamu untuk ikutan tidur di sini, yang penting intinya sekarang lebih baik kamu istirahat dulu tidak usah banyak memberikan perintah nanti Bunda bakalan ngambek loh. "ujar Aulia sambil tersenyum dan Indira pun menganggukan kepala dengan begitu antusias karena ternyata Aulia itu terkenal garang dengan orang di luar tetapi bakalan baik dengan orang yang ia kenal.
kira-kira 15 menit kemudian Bagas sudah berada di depan kamar Aulia masih terlihat tarik ulur antara mengetuknya atau ia malah duduk di sofa yang ada di depan situ, takut dirinya membuat wanita itu marah-marah lagi kepadanya namun jika diam saja seperti begini kan permasalahan mereka berdua bakalan kelar?
tok tok tok
Aulia menatap kesal ke arah pintu yang ia yakini tadi yang mengetuk itu merupakan Bagas, sebab dirinya tidak yakin untuk orang lain yang mengetuknya sebab Semua orang pasti sudah asik molor dan juga sibuk pada dunia mereka masing-masing.
__ADS_1
"ini manusia sudah tahu bahwa dirinya sudah tidak mudah lagi alias sudah tua bangka Kenapa masih keluyuran ke sana kemarin Mengganggu orang lain tidur ya, awas saja kalau sampai dia mau mengajakku bertengkar tengah malam begini Aku bakal meladeninya dengan mengajak dirinya duel mengeluarkan jurus taring serigala andalanku!"omel Aulia tetapi mau tidak mau membukakan pintu karena takutnya Indira bakalan bangun karena tidurnya terganggu dengan suara berisik yang ditimbulkan oleh manusia dari balik pintu kamarnya itu.
Ceklek
Terlihat Bagas Tengah menyengir ketika Aulia sudah membukakan pintu dan menatap datar ke arahnya, bahkan bisa dibilang wanita itu tidak ada manis-manisnya sekali sebagai seorang istri terlihat begitu enggan untuk menyambut Bagas.
Bagas tetap saja tidak bisa masuk ke dalam kamar tersebut karena Aulia yang sengaja berdiri di depan pintu agar menutup akses masuk, membuat pria itu hanya bisa melongok memastikan Apakah Indira masih ada di situ atau tidak Dan ternyata memang anaknya itu masih ada di dalam kamarnya Aulia.
"kamu mau cari apa di sini? kalau tidak ada yang kamu cari ya sudah pergi saja soalnya aku mau istirahat, dan juga kalau memang mau ingin mencari sesuatu lebih baik besok pagi karena tidak baik malam-malam begini mengganggu kenyamanan orang lain! "usir Aulia secara halus ya Otomatis Bagas tidak terima karena dirinya datang ke situ ya untuk masuk ke dalam kamar tersebut dan istirahat bukan malah diusir.
"Loh kamu suruh aku pergi ke mana? Bukannya ini merupakan kamarku jadi otomatis kalau mau istirahat Aku harus beristirahat di sini, kamu kalau ngomong jangan ngadi-ngadi dong ini sudah tengah malam orangnya juga perlu istirahat bukan hanya kamu sendiri? " Bagas terlihat memaksakan nada bicaranya dengan begitu Arogan agar mungkin ingin membuat Aulia merasa terkejut dan juga takut.
"Kalau kamu tidak memaksa untuk menikah yang otomatis kamar ini masih tetap bakalan menjadi milik kamu, tetapi karena sekarang kita sudah menikah dan ini menjadi hak milikku ya Otomatis kamu tidak boleh berhak dengan tempat ini lagi! "jelas Aulia sinis.
"ya Iya memang tempat ini bakalan menjadi milik kamu selamanya Tetapi kalau untuk membiarkan aku numpang istirahat sepertinya tidak ada masalah, kecuali kalau kamunya memang yang tidak ingin membiarkan aku masuk ke dalam dan menikmati semuanya!"sahut Bagas yang tidak mau kalah masa iya Aulia bisa dirinya tidak bisa untuk membantah semua Perkataan wanita itu.
Aulia menatap jengah ke arah Bagas padahal sebenarnya di mana-mana itu kalau orang berpoligami jika istrinya yang satu menolak kehadirannya kan bisa ada istri yang lain, tetapi pria yang ada di hadapannya ini sangat berbeda karena ngotot pada pendiriannya yaitu ingin tidur bersama dengan Aulia padahal jelas-jelas ada Davina dan Safira yang lagi menganggur.
"itu Di sebelah ada kamarnya Safira Kamu kan bisa menyusul dia ke sana untuk tidur bersama dengan dia kan, dan juga kamu tenang saja karena aku tidak bakalan marah kok kalau sampai kalian berduaan karena memang itu merupakan kewajiban yang harus kamu lakukan!" jelas Aulia tetapi Bagas menolak mentah-mentah karena Percuma saja bersama Safira Jika hati tubuh dan pikirannya berada pada wanita ini.
__ADS_1