
Aulia tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh suaminya itu sebab menurutnya Bagas sama sekali tidak memperhatikan dirinya bahkan terkesan begitu tega kepadanya, sebab kalau suami yang baik ya Otomatis pasti pengertian dengan keadaan istrinya dan tidak akan menganiaya Aulia secara halus seperti begitu sebab Biar bagaimanapun efeknya terasa begitu menyakitkan bagi wanita itu.
"Kamu ini sebenarnya bisa menuruti tidak sama suami sendiri ? Apa susahnya sih untuk membuka pintu agar orang lain juga bisa masuk ke dalam bukan hanya kamu sendiri yang ingin berbersih, jadi orang kok susah sekali diatur mau jadi istri apa kalau kamu Tiap hari hanya membantah kata suami? "tanya Bagas yang pura-pura merajuk karena jika tidak melakukan hal itu otomatis Aulia tetap pada pendiriannya.
"Hahaha tidak bisa begitu ferguso, Aku ingin kamu merasakan seperti apa yang aku rasakan Jika kamu menganiaya aku maka aku akan membalas kamu dengan caraku sendiri! jadi jangan menyesal ataupun banyak bersungut karena nantinya malu sama umur Bukankah orang yang seperti kamu itu sudah tua jadi tidak pantas harus Banyak mengeluh, lebih baik pergi sana karena aku tidak bakalan keluar dalam waktu 1 atau 2 jam karena hari ini aku ingin menjadikan kamar mandi sebagai rumahku yang kedua!"Aulia tertawa begitu bahagia karena tidak ada salahnya kan kalau menghukum suaminya itu.
Tok tok tok
Bagas mengerutkan keningnya ketika mendengar ada yang mengetuk pintu dari luar padahal dirinya saat ini sedang berdebat dengan sang istri yang tidak mau mengalah sama sekali, padahal jelas-jelas melayani suami sendiri itu merupakan sebuah keharusan dalam rumah tangga Tetapi Aulia sepertinya menolak melakukan semua itu.
Bagas memilih untuk menggunakan piyama yang berada di atas tempat tidur untuk memastikan sebenarnya siapa yang mengetuk pintu, keningnya mengkerut ketika melihat ternyata itu merupakan Safira yang sudah berdandan rapi terlihat seperti hendak pergi ke suatu tempat padahal tidak biasanya wanita itu melakukan semua ini sebab biasanya jangan begini Safira Pasti duduk manis di meja makan.
Ceklek
"Pagi Mas maaf mengganggu, tetapi aku kan masih istri kamu ya Jadi otomatis kalau mengganggu kamu kan tidak masalah kan? "sapa Safira ketika melihat suaminya itu sudah membuka pintu.
Bagas mengerutkan keningnya ketika mendengar perkataan dari Safira barusan seolah-olah itu merupakan sebuah sikap yang ingin sekali mengundang sebuah masalah, padahal dirinya studi saja baru berhadapan dengan Alia masalahnya pun belum kelar Kenapa harus datang lagi masalah yang baru seperti begini.
"Ada apa? Tidak ada masalah yang serius ya sudah lebih baik kamu kembali saja ke bawah soalnya aku mau mandi setelah menunggu Aulia selesai, dan juga tolong pagi-pagi jangan memancing keributan karena aku benar-benar sedang tidak mood untuk meresponnya!"perintah Bagas yang entah mengapa setiap kali melihat Safira dirinya seperti sedikit tidak nyaman berada di dekat wanita itu yang selama beberapa hari ini selalu saja mau mancing emosinya.
"loh Mas kok ngomong gitu? Kalau semalam sudah tidur sama dia Ya tidak masalah dong kalau siang merespon istri yang lain, pokoknya aku tidak mau tahu Mas Hari ini harus menemani aku untuk datang ke acara grand openingnya salah satu teman aku yang lagi mau launching produk baru!"Tegas Safira dengan wajah yang memberenggut kesal.
Bagas terdengar menghela nafasnya kasar istrinya itu seperti tidak mengerti dengan keadaan dirinya biarpun dirinya mempunyai istri lebih dari satu tetapi ia merupakan manusia biasa yang punya rasa capek, yang ia inginkan adalah pengertian mereka semua dan tidak memaksa dirinya untuk melakukan sesuatu yang membuat akhirnya jadi ada timbul cekcokan di antara mereka.
__ADS_1
"kamu biasanya saja kan pergi sendiri kenapa harus mengajak aku untuk bergabung dengan teman-teman sosialita yang tidak jelas itu, jangan menimbulkan sebuah permasalahan yang sebenarnya tidak ada sama sekali dan akhirnya membuat kamu yang bakalan stres sendiri? "tanya Bagas yang tidak paham dengan sikap istri keduanya itu yang selalu saja terlihat berlebihan.
"Aku hanya minta pengertian dari kamu yaitu tidak melupakan status kami yang ada di sini yaitu sama tingginya dan juga sama rendahnya dengan istri kamu yang baru itu, kalau kamu lupa maka
tidak ada salahnya kan kalau aku harus mengingatkan supaya kamu tidak berat sebelah dan membuat Kami merasa disisihkan? "tanya Safira dengan nada yang tegas dan juga merasa seperti ada kekecewaan..
"Aku minta dengan sangat Tolong jangan memancing emosiku untuk saat ini, kita bakalan membahas hal ini nanti tapi untuk sekarang Tunggu dulu karena aku benar-benar lelah!"Tanpa Bagas sadari perkataannya itu membuat Safira benar-benar kecewa karena tidak menyangka suami yang dulu begitu ia Puja berubah dalam waktu beberapa jam saja hanya karena kehadiran wanita lain di rumah itu.
"kamu berubah mas tidak seperti dulu lagi dan aku benci dengan perubahan yang kamu lakukan itu, kalau memang kamu tidak bisa bersikap adil kenapa harus menikah lagi Bukankah pemeriksaan kita berdua menyatakan bahwa kita sama-sama subur? hanya kamunya saja yang tidak bisa menahan diri berharap bahwa apa yang kamu inginkan itu harus menjadi kenyataan, padahal kan kita semua hanya manusia biasa tidak bisa harus apa yang kita inginkan langsung terjadi jika pencipta belum berkehendak?"setelah mengatakan hal itu Safira memilih untuk pergi tetapi bukan untuk mengalah dirinya hanya ingin menunggu momen yang pas agar bisa mengusir Aulia secara halus dari rumah itu sebab dengan begitu dirinya bakalan kembali disayang oleh Bagas dan juga mertuanya.
melihat Safira yang sudah pergi meninggalkannya itu membuat Bagas menghela nafasnya kasar karena Entah mengapa dirinya merasa setelah menikahi Aulia beban pikirannya tentang rumah tangga semakin bertambah, padahal dulu saat dirinya membawa Safira sebagai madunya Davina ke rumah tidak sampai segini permasalahan yang terjadi namun sekarang Entah mengapa berbeda sekali.
"aku sekarang mencoba untuk tidak berubah menjadi sadisme karena tidak mau menyakiti kalian semua Tetapi kalian malah memancing hal tersebut dari diriku, jadi jangan salahkan aku untuk melakukan hal yang lebih gila dari ini karena kalian sudah berani menguji Batas kesabaran seorang Bagas Sanjaya!" ujar Bagas yang tanpa ia sadari Aulia mendengar jelas apa yang dikatakan oleh pria itu karena wanita tadi itu sudah keluar dari kamar mandi.
Degh
"Jadi semalam itu aku bukan tidur tetapi pingsan akibat tidak mampu menghadapi apa yang ia lakukan kepadaku, terus semua bekas yang ada di tubuhku ini dia melakukan dengan cara apa sampai menyisakan seperti begini?"gumam Aulia penasaran karena menurutnya orang yang memiliki kelainan jika tidak diobati nanti bakalan tambah parah dan dirinya tidak ingin menjadi korban pria itu.
Aulia memilih untuk menggunakan pakaiannya di dalam ruang ganti dan keluar secepatnya sebelum Bagas menyadarinya tidak nyaman jika harus berduaan dengan pria itu yang jelas-jelas keburukannya sudah ia ketahui, lebih baik dirinya pergi keluar kamar mirip menghirup udara segar tidak perlu juga kan harus merespon semua penghuni rumah yang lain karena pastinya kehadiran Dirinya belum diterima oleh mereka semua.
Bagas yang ingin melanjutkan mandinya menata peran ke arah Aulia yang ternyata sudah rapi karena sudah berganti pakaian, yang menjadi pertanyaannya adalah Kapan wanita itu keluar dari kamar mandi dan kapan berganti pakaian karena dirinya tidak mendengar pergerakan sama sekali di dalam ruangan itu.
"loh kamu sudah rapi Memangnya Sejak kapan kamu keluar dari kamar mandi kok aku tidak tahu sama sekali, Ayolah buka pakaianmu kembali dan kita mandi sama-sama lagi soalnya kan kita yang masih pengantin baru ini harus saling lebih dekat? "tanya Bagas dengan tatapan devilnya membuat Aulia bergidik ngeri karena satu lagi kekurangan pria itu yang diketahui.
__ADS_1
"Aku lapar dan pengen makan kamu lanjutkan saja kegiatan kamu itu karena Bukankah kamu itu sudah gede jadi otomatis bisa mengurus diri sendiri, jangan pedulikan soal pengantin baru karena aku tidak pernah berpikiran sampai ke arah situ sebab yang ada hanya membuat Aku muak dan ingin pergi menjauh dari pria yang tidak punya hati seperti kamu! "setelah mengatakan hal itu Aulia pun hendak keluar dari kamar namun Bagas mencekal tangannya.
"aku dari kemarin berusaha sabar menghadapi kamu tolong jangan pancing amarahku secara terus-menerus sehingga membuat aku melakukan hal-hal yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya, jadi Jika kamu ingin tetap sehat dan selamat dalam rumah ini lebih baik kamu patuhi saja semua yang aku katakan dan jangan menjadi istri pembangkang karena aku sangat tidak menyukai hal itu! "tegas Bagas sambil memasang tatapan tajamnya ke arah Aulia.
"kalau kamu mau aku selamat dan juga sehat lebih baik Ceraikan aku saja Tinggal kamu cari wanita yang satu server dengan kamu yang memiliki kegilaan yang sama, karena aku tidak akan pernah mau dan juga menerima pernikahan ini dengan pria pemaksa seperti kamu dan juga tidak punya hati yang melakukan apa saja Menurut kamu benar! "setelah mengatakan hal itu Aulia pun mengibaskan tangan Bagas agar tidak usah lagi memegang dirinya.
Bagas mengepalkan tangan menahan emosi karena seumur hidupnya dirinya tidak pernah ada yang membantah kata-katanya, tetapi Aulia adalah orang pertama yang melakukan hal itu dan dirinya sangat tertantang untuk menaklukkan wanita itu.
"Aku ingin melihat respon kamu bagaimana jika sampai sadismenya aku muncul saat kita sedang bermain, karena saat itu terjadi tangisan ataupun jeritan kamu aku tidak akan pernah peduli malah itu merupakan sumber kenikmatan! "ujar Bagas sambal tersenyum Devil karena dirinya sangat menyukai wanita yang keras kepala sebab dengan begitu dirinya bakalan berusaha menaklukkan wanita itu dengan caranya.
"Kok bisa ya Ada orang di dunia ini seperti dia dan parahnya Aku bisa-bisanya terjebak dengan dirinya entah sampai kapan, ini semua karena kesalahan Abah sama Umi yang dikiranya pria itu keren padahal menyebalkan minta ampun!"sungut Aulia sepanjang dirinya menapaki tangga dari kamarnya di lantai 2 menuju ke lantai bawah.
"Halo tante cantik, Tante Ini Mama barunya Indira ya?"tanya salah satu anak kecil yang kebetulan berpapasan dengan Aulia membuat wanita itu mengerutkan keningnya karena selama dirinya datang ke rumah itu tidak pernah bertemu dengan bocah kecil itu.
"kamu siapa ya? soalnya selama tante di sini belum pernah melihat kamu, kamu di sini dari kapan?"tanya Aulia balik karena memang dirinya sangat penasaran dengan anak kecil itu.
"ini kan rumahnya Indira juga jadi otomatis Indira selamanya ada di sini tante ini Mama barunya Indira kan?"Tanya gadis kecil itu lagi.
"memangnya papa kamu siapa?"karena Aulia tidak ingin salah jawab siapa tahu jika dirinya mengatakan Mama barunya gadis kecil itu ternyata dirinya merupakan anak dari sepupunya Bagas atau mungkin salah satu kerabat terdekat mereka kan bisa berabe urusannya.
"Loh Indira kok malah gangguin Bunda Aulia, Ayo lebih baik Bundanya diajak ke meja makan saja supaya sekalian sarapan bareng?"tanya Devina kepada putri kecilnya yang bukannya menuju ke meja makan malah mengganggu Aulia.
"Tunggu dulu! Dia ini anaknya mbak Devina sama pria itu, anak semanis ini kok aku nggak pernah lihat selama di sini?"tanya Aulia akhirnya menyambut antusias jika anak yang ada di hadapannya itu merupakan anak sambungnya atau tepatnya anak tirinya mungkin ya.
__ADS_1
"Namanya Indira dia merupakan anak aku sama Mas Bagas usianya sekarang sudah 6 tahun dan mungkin kamu selama ke sini dianya Tidak ada soalnya dia lagi liburan di rumah eyang yang ada di Bandung, dan Dia baru kembali tadi malam Makanya pagi-pagi ini dia sudah mulai mengacaukan seisi rumah dan termasuk kamu salah satu korban pertamanya! Maafkan anak ini ya soalnya dia seperti begitu selalu saja kepo dengan urusan orang dewasa, dan kalau memang kamu merasa tidak nyaman nanti tinggal ngomong saja supaya mungkin aku bisa menyuruh Indira sedikit penjaga jarak!"jelas Davina membuat Aulia menggelengkan kepalanya.
"Namanya cantik seperti orangnya yang cantik seperti Mamanya juga, aku dari dulu suka sama anak kecil jadi tidak bakalan keberatan Kalau dia selalu menggangguku! Halo anak cantik perkenalkan namaku Bunda Aulia panggil saja bunda ya Biar lebih akrab, ayo sini sama Bunda biar kita makan sama-sama!" Ujar Aulia yang entah mengapa ketika melihat kehadiran gadis kecil itu merasa bahwa mungkin dirinya bahkan sedikit betah di tempat itu.