Menjadi Yang Ke-3

Menjadi Yang Ke-3
Emosi


__ADS_3

Aulia Mendengus kesal ketika mendengar apa yang di katakan oleh Nina barusan,sebab menurutnya kata kata wanita itu sudah sangat keterlaluan karena menyamakan dirinya dengan Mami nya.


"Ini anak kurang ajar sekali sampai bisa menyamakan aku yang masih muda ini dengan Maminya, Memangnya suara kami berdua sama sampai-sampai dia tidak bisa membedakannya? "Sungut Aulia sambil berusaha terus menggoyang tubuh Nina agar segera bangun.


Nina yang masih merasakan kantuk memilih untuk menarik selimut dan kembali tertidur dengan pulas, wanita itu bahkan melupakan janji yang sudah ia buat dengan Aulia yaitu Bakal pergi dari tempat itu pagi-pagi agar tidak bertemu dengan Arsen.


Aulia sampai mendengus kesal ketika melihat sahabatnya itu bukannya tidur melainkan meninggal, Soalnya kalau orang tidur itu dibangunkan beberapa kali pasti langsung buka matanya tetapi yang ini malah tambah tertidur seolah panggilan yang dilakukan oleh Aulia itu merupakan bunga pengantar tidur bagi Nina.


"Astaga Nina bisa tidak kamu bangun sekarang juga, masa iya kamu mau molor terus tidak mau buka mata dari tadi? "tanya Aulia memastikan soalnya Nina itu dari tadi tidak ada tanda-tanda kehidupan bakalan bangun saat itu juga.


Nina yang dari tadi terlalu diganggu tidurnya memilih untuk langsung membuka mata dan memasang tatapan tajamnya, karena yang dikiranya itu adalah Maminya yang kebiasaan selalu menyuruhnya bangun pagi agar jodohnya tidak dipatok ayam.


"Loh kok Aulia kamu ada di sini, memangnya kapan kamu datang? Terus Mami tadi yang panggil aku bangun di mana sekarang orangnya, masa iya dia langsung menghilang begitu saja harusnya dia tanggung jawab dong karena jam segini aku juga pengangguran kok disuruh bangun pagi? "tanya Nina kesel membuat Aulia langsung menjewer kuat hidung minimalis milik wanita itu agar segera sadar dan kembali ke alam nyata kalau sekarang posisi di situ itu tidak ada yang namanya Mami.


"Sekali lagi Kamu menghayal tidak jelas begitu kamu tahu saja akibatnya nanti, emangnya menurut kamu aku ini sudah berubah jadi Mami kamu dalam waktu satu malam? Kalau begitu Kenapa tidak kamu jodohkan aku saja dengan Papi kamu biar aku bisa langsung jadi Mami tiri kamu saat ini juga, soalnya anak seperti kamu itu kebanyakan ngeyelnya masa iya kita semalam di hotel ini hanya berdua sekarang kamu malah berpikiran Kalau bertiga dan berempat memangnya ada makhluk halus di sini?"tanya Aulia Ketus membuat Nina hanya bisa cengengesan karena akhirnya sadar jika sebenarnya mereka itu masih ada di hotel yang disewa olehnya kemarin tetapi kenapa malam ini dirinya malah bermimpi yang tidak-tidak ya.


"Aku kok jadi kepikiran Mami ya, soalnya selama ini kalau aku tidur terus memimpikan Mami pasti dia kenapa-napa saat ini?"ujar Nina membuat Aulia langsung tersadar jika Sebenarnya kata-katanya tadi itu sudah sangat keterlaluan.


"Kamu beneran memikirkan Mami kamu sekarang, ya sudah kalau begitu kita pergi ke mereka saja saat ini tidak usah pergi ke pulau komodo ataupun ke tempat lain sekalipun?"tanya Aulia memberikan saran membuat Nina membuka matanya lebar-lebar karena tidak percaya jika sahabatnya itu rela menemui orang tuanya padahal selama ini Aulia tidak pernah menawarkan diri untuk bertemu dengan kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Kamu beneran mau pergi ke Lembang, Bandung? Untuk bertemu dengan Mami sama papi?"tanya Nina memastikan karena kalau memang benar itu kenyataannya oh demi Dewi Fortuna itu merupakan sebuah keberuntungan karena di sana dirinya sudah menyiapkan sebuah kejutan yang spesial untuk sahabatnya itu.


"Kalau kamu bertanya seperti itu lagi, aku bakalan berubah pikiran nih! Soalnya kalau biasanya kamu antusias seperti itu, Aku yakin ada sebuah keanehan yang sudah kamu siapkan?"tanya Aulia dengan tatapan menyelidik Soalnya bukan rahasia umum lagi ketika Nina melakukan sebuah kegilaan yang tidak disukai oleh Aulia sama sekali.


"Ya ampun Aulia dari dulu sampai sekarang itu kamu selalu saja suudzon padaku, Padahal aku ini sahabat kamu yang paling mengerti kamu di segala macam cuaca tetapi kenapa yang ada kamu hanya mencurigaiku saja? "tanya Nina lemas.


"Ya bukannya begitu tapi kan aku kan menawarkan untuk bertemu orang tua kamu ya kalau begitu responnya biasa saja dong, soalnya kamu kalau responnya luar biasa aku yakin ada hal yang luar biasa pula yang sedang kamu lakukan. "jelas Aulia.


Nina hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal karena ternyata sahabatnya itu sangat tahu dan juga bisa membaca pergerakannya, karena selama ini dirinya selalu ingin mengenalkan sepupunya kepada Aulia sahabatnya agar maksudnya kalau mereka berdua berhubungan otomatis Aulia dan Nina bakalan semakin dekat.


"Ayo kita pergi saja aku tidak perlu mandi kok, soalnya masih cantik! Sebab stok kecantikan aku dari semalam itu ternyata tidak pudar saat aku bangun pagi, jadi lebih baik kita jalan saja. Tenang, pasti semua orang bakalan terpesona jadi jangan kamu pernah merasa malu dengan kekurangan sahabatmu ini! "ajak Nina dengan penuh rasa percaya diri bahkan wanita itu tidak peduli untuk mencuci muka ataupun menggosok giginya karena yang ada dalam pikirannya agar segera bisa pergi ke bandara dan memesan tiket menuju ke Bandung.


Aulia otomatis tidak bisa berkomentar banyak karena kalau Nina sudah bertingkah nyeleneh dirinya bisa apa, yang ada mah cuma bisa mendukung wanita itu saja agar kembali ke jalan yang lurus dan tidak melakukan hal-hal gila lainnya.


Setelah semua proses beres dan juga biaya sewa hotelnya pun sudah diselesaikan oleh Nina, kedua wanita itu memilih untuk pergi karena takut nanti Arsen bakalan melakukan hal gila kepadanya.


Ketika keduanya sedang menunggu taksi, ternyata apa yang mereka pikirkan benar-benar terjadi saat ini. Soalnya Arsen tengah tersenyum manis kearah mereka berdua, menyiratkan bahwa mereka itu pernah saling kenal sebelumnya.


"Itu orang Kok bisa ada di situ dan juga kok bisa tahu kalau kita bakalan check out sekarang, apa dia semalam berubah jadi satpam ya Jadi bisa membaca gerak-gerik kita kalau mau keluar dari tempat ini? "bisik Nina tetapi Aulia memilih untuk tidak peduli dan menarik tangan sahabatnya itu agar segera pergi meninggalkan Arsen dan juga tidak memperdulikan keberadaan pria itu.

__ADS_1


"Hai nona nona kenapa buru-buru seperti itu, paling tidak ayolah kita ngeteh dulu pagi ini?"tawar Arsen sok akrab.


"Anda siapa ya, apa kita pernah saling kenal sebelumnya?"tanya Aulia yang benar-benar jengah dengan sikap arsen itu dan memilih untuk berbuat selayaknya orang asing agar pria itu sadar jika kehadirannya tidak penting sama sekali.


Arsen tersenyum ketika mendengar nada sinis milik Aulia barusan, wanita itu semakin berlipat-lipat kali pesona yang dipancarkan ketika ia memasang tampang jutek Dan juga datar seperti itu.


"Kemarin kita sudah pernah ketemu, bahkan bisa dibilang sudah dua kali malah! Kali pertama kamu bahkan tidur di atas tubuhku, dan kali kedua aku ajak kenalan tetapi kamu menolaknya! "jelas Arsenal santai.


Wajah Aulia memerah ketika pria itu dengan sengaja menyinggung soal kejadian pertama kali saat mereka bertemu, padahal saat itu memang benar-benar Aulia melakukannya karena tidak senang aja tetapi kenapa pria itu harus mengungkit di saat yang tidak tepat seperti ini.


"Hari itu kan saya sudah minta maaf? Lagian kamu juga salah di situ karena jalannya tidak pakai mata akibat sibuk handphone, kenapa sekarang kamu malah nyolot seolah-olah saya yang melakukan kesalahan dengan mengambil kesempatan dalam kesempitan? "Aulia benar-benar kesal.


"Ya kalau begitu kita kenalan dulu dong mungkin dengan kita menjadi akrab sudah tidak ada beban pikiran yang terjadi, dan Dengan begitu kita mungkin bisa membahas hal-hal pribadi lebih dekat lagi soalnya kan sudah saling kenal?"tawar Arsen sambil menjulurkan tangannya memberikan kode kepada kau lihat agar wanita itu mau berkenalan dengannya saat ini.


"Percuma saja kita kenalan karena setelah itu kita tidak akan pernah bertemu lagi, jadi tidak usah membuang-buang tenaga anda untuk melakukan sesuatu hal yang tidak penting! Kami juga sedang terburu-buru jadi tidak punya waktu untuk meladeni orang asing, kalau kamu mau berkenalan itu sama resepsionisnya soalnya aku yakin kamu pasti bakalan sering datang ke sini!"ujar Aulia lalu memilih untuk menarik tangan Nina agar seperti dengannya tidak perlu harus meladeni orang aneh seperti Arsen itu lagi karena nantinya hanya membuang-buang tenaga dan juga Waktu mereka percuma.


Arsen tentu saja tidak mau ketinggalan sesuatu barang yang sangat penting menurutnya, tidak peduli dengan segala macam penolakan yang diberikan oleh Aulia dirinya bakalan berusaha sekuat tenaga untuk bisa mendapatkan wanita itu.


"Kalian tangkap wanita yang sedang memakai hijab berwarna biru itu dan bawa masuk ke dalam kamarku, kalau temannya berontak tangkap sekalian dengan temannya Aku tidak ingin ada yang namanya kegagalan!"perintah arsen kepada Bodyguard-nya yang tidak jauh dari tempatnya berdiri sebab manusia sepenting dirinya otomatis di manapun berada pasti harus ada yang menjaga.

__ADS_1


Aulia dan Nina tidak sadar jika sebenarnya keadaan mereka sekarang itu benar-benar sedang tidak baik-baik saja, sebab ternyata Arsen yang ditolak mentah-mentah oleh Aulia memilih untuk tidak tinggal diam karena dirinya merasa tertantang menaklukkan wanita yang keras kepala seperti Aulia.


Arsen yang sudah memberikan perintah kepada anak buahnya, langsung menuju ke dalam kamarnya untuk menunggu kedatangan Aulia. Dirinya yakin kalau anak buahnya itu bisa diandalkan dalam keadaan seperti sekarang ini.


__ADS_2