Menjadi Yang Ke-3

Menjadi Yang Ke-3
Surat Cerai


__ADS_3

Dimas setelah mengantarkan Bagas, dengan segera pria itu pergi ke pengadilan agama. Untuk mendaftarkan perceraian antara Bagas dan juga Safira. Dirinya dengan antusias melakukan hal tersebut karena menurutnya Bagas memang sangat cocok jika tidak bersama dengan Safira, Karena Wanita itu yang ada bukan membuat suasana hati tuannya tambah bagus malah tambah parah.


Meskipun terkesan dirinya terlalu berlebihan dan juga sangat kurang ajar karena itu sama saja menyetujui larangan agama agar pasangan tidak boleh bercerai dan bisa menyelesaikan masalah mereka dengan kepala dingin, hanya saja kalau melihat kasus yang dialami oleh Bagas dan juga Safira maka lebih baik keduanya bercerai karena sepertinya membangun sebuah komitmen dalam pernikahan rasa-rasanya sudah sangat tidak mungkin.


Safira tidak tahu sama sekali kalau dirinya bakalan digugat cerai oleh Bagas, dirinya memilih untuk bersantai di kamarnya sambil berusaha untuk menelpon Budi. Dan ternyata syukurnya kali ini panggilan dari dirinya direspon oleh pria itu.


"Kamu itu ke mana saja sih dari kemarin aku telepon kok tidak diangkat, memangnya aku sudah tidak penting lagi sampai-sampai kamu pergi terus tidak memberi kabar kepadaku sama sekali?" tanya Safira dengan nada sungutnya karena Ia memang sangat tidak suka dengan sikap Bagas maka dirinya melampiaskan kepada Budi.


Budi menghela nafasnya kasar, Karena sekarang itu sebenarnya ia belum bisa berbicara terlalu banyak karena rahangnya rasa-rasanya sangat sakit. Akibat apa yang dilakukan oleh anak buah Arsen kepadanya, sungguh pemukulan yang dialaminya itu sangat brutal bahkan bisa dibilang tidak manusiawi.


"Ada apa? "tanya Budi pelan.


Safira mendengus kesal ketika dirinya sedang emosi dan juga benar-benar butuh teman curhat hanya segitu doang jawaban dari Budi terhadap pertanyaannya, otomatis dirinya merasa kecewa karena seperti tidak dianggap sama sekali kehadirannya oleh pria yang selama ini selalu diam-diam ditemuinya tanpa diketahui oleh Bagas sama sekali.


"kamu Kok tanyanya Hanya seperti gitu saja? Setidaknya kasih pertanyaan yang bikin hati aku senang atau kalau tidak mungkin tanya kabarku atau gimana gitu, jadi pria kok tidak peka sama sekali dengan jalan pikirannya wanita seolah-olah aku ini Benda mati yang tidak ada perasaan sama sekali? "sungut Safira karena memang kebiasaan wanita itu ya seperti begitu tidak pernah memikirkan perasaan orang lain maunya hanya perasaannya saja yang dipikirkan oleh orang.


Budi hanya bisa menghela nafasnya secara perlahan karena jika bukan untuk menjatuhkan Bagas, mana Mau ia berhubungan dengan wanita egois seperti Safira. Sudah setahun lebih mereka menjalani hubungan Backstreet, ingin sekali Budi mengakhirinya karena sudah sangat capek dengan sikap Safira yang sudah seperti kekanak-kanakan.


"Kamu Ada masalah apa, Kalau ada ya sudah ngomongnya pelan-pelan saja aku pasti dengar kok? Tetapi kalau belum apa-apa kamu hanya marah-marah saja, Memangnya kamu pikir aku ini cenayang? Yang bisa membaca pikiran kamu setiap saat, kemudian bisa mengamati gerak-gerik kamu walaupun jauh? "tanya Budi yang akhirnya memaksakan berbicara lebih banyak kali ini daripada nanti pembahasannya dengan Safira tidak akan pernah ada habisnya.


"Kamu sekarang ada di mana, Soalnya aku pengen ketemu karena kangen ? "tanya Safira memastikan keberadaan Budi saat ini.


Budi sedikit panik mendengar pertanyaan dari Safira tadi, karena waktu ia pergi ke Bali saat ini tidak pernah diberitahukannya kepada Safira Takutnya nanti wanita itu bakal melarangnya.


"Aku sekarang lagi ada urusan bisnis, jadi sepertinya tidak bisa ketemu sama kamu! Tetapi mungkin minggu depan kita sudah bisa ketemu ,Soalnya aku takut juga nantinya asisten Bagas itu bakalan menjadi curiga! "bohong Budi yang penting intinya agar Safira tidak curiga berlebihan kepadanya.


" Biasanya kamu kalau mau ketemu klien itu kan hanya beberapa hari saja tidak sampai bermingguan kan, Atau kamu sedang menyembunyikan sesuatu kepadaku dan takut ketahuan Makanya kamu berbohong seperti ini? "tanda Safira penasaran.

__ADS_1


Tut


Budi langsung mematikan panggilan tersebut secara sepihak tanpa mengatakan dahulu kepada Safira, karena pria itu sudah capek harus menanggapi kegilaan wanita itu yang selalu saja mau tahu segala macam Urusannya di luar.


Safira yang merasa diabaikan begitu saja oleh Budi membuat wanita itu mendengus kesal dan membuang ponselnya itu asal, dirinya tidak terima ketika diabaikan oleh semua pria seperti begini padahal kurang apa dirinya bukankah semua ia lakukan untuk bisa berpenampilan yang menawan dan membuat para pria jatuh hati?


"Kurang ajar tidak Bagas tidak Budi sama saja semuanya tidak pernah menganggap kehadiranku sama sekali, Memangnya mereka pikir mereka paling bagus? Baiklah aku bakalan berpetualang mencari brondong, agar mereka tahu kalau Safira itu bukanlah seorang wanita sembarangan dan patut diperhitungkan di luar sana! "ujar Safira yang sudah mengganti pakaiannya memakai mini dress Lalu setelah itu mengambil tas selempang yang biasa ia pakai dan segera pergi dari situ tetapi instruksi dari Davina membuat dirinya segera berhenti.


"Safira kamu hentikan semua yang kamu lakukan yang sangat tidak masuk akal ini! Kamu sadar kalau Mas Bagas itu merupakan suami kamu dan juga dia merupakan seorang pengusaha yang terkenal, kalau kamu melakukan hal ini untuk membuat dirinya malu aku rasa kamu sudah siap-siap untuk meninggalkan segala kemewahan yang ada ? "sudah habis kesabaran dari Davina karena dari tadi jika dirinya diam saja otomatis Safira tambah besar kepala dan akhirnya bakalan melakukan hal yang tidak tidak.


Safira tersenyum sinis mendengar perkataan dari Devina barusan, karena menurutnya wanita itu sebenarnya sama berada di posisinya yaitu diabaikan oleh suami sendiri.


"Ayolah daripada kamu menunggu untuk mendapat giliran bersama dengan mas Bagas yang tidak akan pernah kamu dapatkan lagi, lebih baik kamu ikut aku kita ngedugem bareng terus mencari brondong-brondong yang bisa kita kencani dengan begitu tidak bakalan bosan di rumah Karena melakukan hal yang monoton terus! "ajak Safira yang sudah bergaya seperti seorang DJ.


Davina mengerutkan keningnya karena merasa sangat tidak menyukai sikap Safira yang menurutnya hanya mengajarkan hal-hal yang tidak baik, padahal seharusnya wanita itu sadar di rumah ini banyak CCTV yang bisa saja digunakan Bagas untuk menggugat cerai mereka berdua.


"Aku tidak sebodoh seperti yang kamu lihat dan juga tidak seperti yang kamu pikirkan, karena aku masih punya dua orang anak yang membuat aku tetap harus terikat dengan Mas Bagas! Jadi kalau kamu mau bebas tidak masalah bukannya kalian berdua itu kan tidak ada apa-apanya, dan juga sepertinya dia juga sudah ilfil dengan kamu soalnya kelakuan kamu kan sudah seperti begini. "ujar Davina lalu memilih kembali ke kamarnya soalnya capek Menjelaskan ke orang yang otaknya tidak berfungsi seperti Safira itu.


Wanita itu memilih untuk tidak ambil pusing toh pasti Dimas kembali ke situ mungkin sebab Bagas melupakan sesuatu, karena buktinya tadi sebelum pria itu pergi ke kantor saja tidak menghiraukan dirinya sama sekali jadi untuk apa ya ambil pusing dengan urusan asistennya itu.


"Nyonya Tolong jangan pergi karena urusan saya kembali ke rumah ini bersangkutan dengan anda, tolong ambil berkas ini dan pelajari dengan baik setelah itu ditandatangani karena dengan begitu urusan Nyonya Dan juga tuan Bagas bakalan langsung selesai!"Dimas sambil menyerahkan kertas yang ia pegang kepada Safira membuat wanita itu berdiri mematung bahkan seolah-olah tidak ada aliran darah lagi di dalam tubuhnya.


Safira sangat tidak asing dengan logo dari kertas tersebut karena itu merupakan logo dari pengadilan agama, tetapi pertanyaannya Kapan Bagas mengajukan cerai bukankah tadi pagi itu hanya ancaman pria itu saja belum tentu menjadi kenyataan.


Namun satu yang dilupakan oleh Safira kalau Bagas bisa melakukan semuanya karena pria itu memiliki uang, bukankah kalau ada uang segala urusan di dunia ini bakalan langsung beres detik itu juga.


"ini kan surat pengajuan cerai? Kenapa kamu kasih kepada saya memangnya siapa yang mau bercerai, kamu itu ngadi ngadi deh Dimas?"ujar Safira yang memaksakan tetap tertawa padahal sebenarnya hatinya sedang ketar-ketir takutnya jangan sampai memang benar surat itu ditujukan Bagas untuk dirinya.

__ADS_1


Dimas terkekeh ketika mendengar rasa percaya diri milik Safira barusan, karena memang dirinya merasa lucu ketika tadi pagi wanita itu begitu percaya diri mengatakan bahwa Bagas akan mencarinya tetapi lihat lah sekarang semuanya langsung berbanding terbalik.


"Saya rasa lebih baik nyonya pastikan sendiri kalau memang sesuai ataupun tidak sesuai silakan ketemunya di pengadilan, Karena sekarang saya ada di sini itu untuk menunggu tanda tangannya Nyonya saja setelah itu saya harus kembali ke kantor karena ada pekerjaan yang tidak bisa saya tinggalkan! "jelas Dimas yang terlihat santai saja Bahkan sempat-sempatnya pria itu memanggil Safira dengan sebutan Nyonya Karena Wanita itu belum resmi bercerai dengan Bagas.


Safira benar-benar Tidak bisa memegang kertas itu dengan benar karena tiba-tiba tangannya gemetaran tidak jelas, wanita itu benar-benar tidak menyangka kalau ancaman Bagas tadi pagi itu langsung dilakukannya siang ini.


"Apa Aku melakukan kesalahan sampai Mas Bagas tega menggugat ceraiku seperti ini, aku tidak akan pernah menandatangani berkas ini karena aku bakalan pergi menemui Mas Bagas secara langsung di kantor?"ujar Safira lalu segera masuk ke dalam mobilnya sambil memegang berkas perceraiannya itu di tangannya tidak dilepaskannya sama sekali karena Ia ingin menanyakan alasan Bagas menceraikannya.


Cara mengemudi mobil wanita tersebut sungguh mengalahkan pembalap F1 di Sirkuit, bagaimana ia menyalip beberapa kendaraan itu tanpa memikirkan Resiko yang akan ditimbulkan kalau sampai dirinya atau pun pengendara tersebut kecelakaan.


"itu manusia kurang ajar sekali sampai bawa mobilnya ugal-ugalan seperti itu, Emangnya dia pikir jalan ini milik nenek moyangnya sampai-sampai tidak menghargai pengendara yang lain? "sungut dari pengguna jalan yang lain akibat Apa yang dilakukan oleh Safira.


Dimas hanya menggelengkan kepala sambil mengikuti dari belakang secara perlahan mobil Safira yang sudah sedikit menjauh, namun dirinya bisa melihat dengan jelas cara mengendarai mobil gaya wanita itu kalau lagi panik dan sepertinya takut nanti aset berharganya bakalan melayang begitu saja.


"Wah ternyata dia sepertinya setelah bercerai dari tuan Bagas akan menjadi seorang pembalap, buktinya sekarang jiwa balapnya muncul tiba-tiba di permukaan membuat saya saja merasa takjub! "ujar Dimas.


Bagas tahu kalau saya kira bakalan datang ke kantornya maka dari Iya menyuruh semua orang yang berada di dekat ruangannya segera menyingkir, Karena dirinya ingin menyelesaikan masalah dengan Safira berdua tanpa ada orang lain yang mendengar ataupun menaruh curiga bahwa pernikahan mereka tidak dalam keadaan baik-baik saja.


"Saya ingin kalian menjaga jarak radius 100 meter dari ruangan saya ini, kalau memang di depan ada ruangan-ruangan yang lain suruh mereka menyingkir semuanya terserah mau bekerja di bagian mana yang penting Intinya jangan di sini! "perintah Bagas tegas trek ini dibantah oleh siapapun dan juga tidak ada yang berani membantahnya karena Ia merupakan pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.


Bagas masih berusaha menelpon Aulia ketika pintu ruangannya itu sudah terbuka dan menampilkan wajah Safira yang merah padam seperti menahan tangis dan juga emosi secara bersamaan, dirinya tidak menghiraukan kedatangan Safira karena bukannya wanita itu mau datang sendiri ke tempat itu Jadi untuk apa Bagas menyambutnya secara resmi karena hanya membuang-buang tenaga.


Safira yang merasa kedatangannya tidak diinginkan sama sekali oleh Bagas merasa tidak peduli dengan hal itu, persetan dengan rasa malunya karena Bukankah urusan keuangannya itu lebih penting dan juga gaya hidupnya yang sudah berubah selama 2 tahun ini itu yang harus ia pikirkan.


"Maksud kamu itu apa Mas, mengajukan perceraian kita seperti ini? Apa jangan-jangan istri ketiga kamu itu sudah meracuni pikiran kamu sampai-sampai tega menceraikanku, ingat Mas bukan hanya kamu dengan dia saja yang program hamil sedangkan aku juga dan selama ini kita berusaha kan tapi belum dikasih sama Tuhan ? "tanya Safira emosi tetapi Bagas masih membiarkan saja wanita itu mengeluarkan seluruh pendapatnya sampai dirinya puas dan berhenti sendiri.


"kamu berubah Mas, setelah menikah dengan dia! Di mana perasaan kamu ketika melakukan semua ini kepada kami, aku sebagai seorang istri yang jelas marah ketika suamiku membawa seorang wanita lain sebagai maduku ? "tanya Safira lagi yang ingin sekali menangis karena Bagas dari tadi itu seolah tidak peduli dengan apa yang ia katakan karena pria itu masih saja sibuk menelpon nomor yang entah siapa itu.

__ADS_1


"pokoknya kalau kamu sampai menceraikanku maka aku bakalan bunuh diri saat ini juga, aku tidak ingin kita bercerai sampai kapanpun dan juga mau kamu mengancamku dengan cara apapun itu! "tegas Safira membuat Bagas menghentikan kegiatannya dan memasang tatapan horor ke arah wanita itu.


Bagas tidak terima ketika ada orang yang mengancamnya seperti itu, dan orang itu adalah wanita yang sebentar lagi Bakalan ia Ceraikan.


__ADS_2