Menjadi Yang Ke-3

Menjadi Yang Ke-3
Pulang


__ADS_3

Aulia mau tidak mau mengiyakan saja tawaran dari Silvia barusan karena memang tidak ada salahnya juga kan kalau ia pulang ada yang mengantar, hitung-hitung buat menghemat ongkos dan juga menghemat tenaga karena menjaga taksi yang entah kapan bakalan datang.


"Ya sudah kalau memang kamu mau maksa dan juga tidak ada kesibukan lain yang harusnya kamu tinggalkan aku tidak masalah kalau pulangnya diantar, Tetapi setelah dari rumah kamu langsung kembali saja untuk beristirahat Soalnya di jam segini tidak baik loh anak gadis keluyuran! "perintah Aulia yang tanpa sadar tingkahnya sudah seperti seorang majikan yang tengah memberikan wejangan untuk para pegawainya.


"Oke Baik Bu Bos saya bakal mengikuti semua yang anda katakan tanpa Terlewatkan sedikitpun, jadi Bisakah kita pergi sekarang soalnya nanti kalau telat antar ke rumah saya juga yang kena marah! "tawar Silvia sambil tersenyum membuat Aulia pun ikutan ketularan dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu.


kini keduanya pun dalam perjalanan menuju ke kediamannya keluarga Sanjaya dengan tanpa mengobrol sedikitpun, sebab Aulia benar-benar sedang berharap kalau Indira tidak sedang membohonginya dan juga di sana tidak ada Bagas.


Sebab wanita itu tidak bisa membayangkan jika sampai nanti dirinya bertemu dengan Bagas entah bagaimana Respon yang harus ia Tunjukkan, karena ia belum siap untuk harus berdebat ataupun bertemu dengan pria itu yang tadi dengan Teganya menampar dirinya seperti seorang perempuan yang tidak punya harga diri.


"Kasihan Nyonya Aulia pasti dia bakalan tertekan kalau sampai bertemu dengan Tuan Bagas nantinya. Kenapa juga Tuan Bagas harus menggunakan kekerasan, dengan cara menampar Nyonya seperti itu? Apa dia tidak sadar kalau tangan sebesar itu, pasti bakalan membuat Nyonya Aulia benar-benar merasa kesakitan? "lirih Silvia dalam hati tetapi tidak berani menunjukkan rasa ibanya terhadap Aulia karena yang ia lihat Aulia itu merupakan orang yang paling anti untuk dikasihani.


Aulia sebenarnya sedikit merasa kebas di pipinya akibat bekas tangan yang masih tercetak jelas di bagian tersebut, Namun dirinya berusaha untuk tenang dan juga tidak tersulut emosinya karena yang ia tahu bahwa dirinya bakal menggugat cerai Bagas suatu saat nanti.


pria seperti Bagas itu memang tidak pantas ia pertahankan meskipun Sebenarnya rumah tangga mereka memang dimulai dari sebuah kesalahan, dirinya berjanji bakal mendapatkan berkas-berkas penting tentang rahasia dari keluarga Sanjaya dan setelah itu ia pasti bakalan pergi tanpa menatap ke arah pria itu lagi.


Kedua wanita yang sebenarnya sama-sama satu generasi itu memilih untuk sibuk dengan pikiran masing-masing tetapi intinya tidak jauh dari keluarga Sanjaya, apalagi orang yang bakalan mereka bertemu siang dan malam adalah orang yang paling penting di tempat itu dan orang yang paling disegani seantero negeri.


Dimas Jangan ditanya lagi dengan keadaannya kini yang benar-benar merasa frustasi, karena dari tadi dirinya sudah berkeliling ke sana kemari tidak juga menemukan Bagas padahal sebenarnya pria itu harus berpikir di jam segini pria setua Bagas itu kira-kira ke mana tujuannya.


Namun akhirnya Ia memutuskan untuk menuju ke kediaman Bagas supaya memastikan Apakah pria itu sudah sampai di situ atau belum, kalau memang sudah sampai maka dirinya akan pulang dan beristirahat tidak peduli lagi dengan urusan suami istri tersebut.

__ADS_1


Dimas yang sudah sampai di sana langsung tersenyum bahagia ketika melihat mobil Bagas dan terparkir sempurna, namun ketika ia hendak pergi pintu sudah dibuka dari dalam dan dirinya benar-benar terkejut ternyata yang membuka itu adalah Indira.


Memang sih tidak perlu khawatir karena di depan ada satpam, Jadi kalau gadis kecil itu keluyuran di dalam rumah tidak masalah juga karena ada yang menjaga..


Hanya saja pertanyaannya Kenapa di jam segini Indira belum tidur, padahal terlihat di dalam rumah sudah tidak ada orang besar yang berjalan mondar-mandir ke sana kemari.


"loh Non Indira kok belum tidur? Padahal ini kan sudah malam loh sudah begitu pasti Mama Davina bakalan nyariin Non Indira di kamarnya, Ayo kembali tidur nanti biar saya yang menyuruh asisten rumah tangga yang menutup pintunya!"perintah Dimas membuat Indira mendengus kesal karena tadi ketika mendengar bunyi mobil dirinya langsung membuka pintu dan berharap itu merupakan mobilnya Aulia tetapi ternyata yang datang malah Dimas.


"Ih Om Dimas ngapain sih pakai datang segala, aku itu kan lagi nungguin Bunda Aulia bukan nungguin Om Dimas? Om sana yang pergi dari sini jangan nongol lagi, hanya mengganggu saja orang Indira nya lagi nungguin Bunda kok! Enak saja Suruh aku tidur, Aku mah nggak mau kalau suruh aku tidur aku bakalan teriak nih biar Papa dengar terus marahin Om Dimas!"ancam Indira sambil memasang tatapan tajamnya bukannya membuat Dimas takut malah membuat pria itu sedikit merasa terhibur dari tingkat stres yang ia rasakan hari ini.


"Oh jadi ceritanya Bunda kamu mau pulang, Jadi kamu sedang menunggu? Memangnya sekarang papa kamu ada dimana, Kok dari tadi Om Dimas tidak melihat keberadaannya di sini ? " tanya Dimas penasaran soalnya yang ia tahu Tuan nya itu pasti bakal menunggu Aulia dan bakalan melanjutkan perdebatan mereka Atau mungkin sekedar hanya minta maaf atas kesalahan yang ia lakukan.


"Papa itu aku suruh pergi masuk ke dalam kamarnya Mami Safira, soalnya tadi bunda Aulia tidak bakalan pulang kalau ada apa-apa di sini. Makanya aku bohong kalau Papa itu lagi ada urusan di luar kota dan akhirnya Bunda Aulia mau pulang deh!"jelas Indira membuat Dimas mengangkat dua jempolnya karena memang merasa bahwa gadis kecil itu sangat jenius dalam membuat sebuah kebohongan.


Karena jika pria itu tidak mengajak Indira berbicara otomatis gadis kecil itu pasti bakalan mengusir dirinya pulang karena katanya mengganggu aktivitasnya, padahal Dimas sebenarnya ingin melihat kira-kira kalau Aulia pulang bagaimana Respon yang bakal ditunjukkan oleh Bagas dan Sebaliknya bagaimana Aulia menyikapi ketika bertemu dengan suaminya itu.


Indira bukan merupakan gadis kecil yang bodoh Percayalah gen kepintaran dari Papanya itu langsung menurun kepadanya, jadi jangan salah Jika anak kecil yang berumur 6 tahun masuk 7 tahun itu selalu saja bisa membuat orang lain di sekitarnya merasa terpesona dengan gaya bicara serta cepat tanggapnya itu.


"Om kalau masih ingin ada di sini, Jujur saja deh jangan jadikan aku sebagai teman untuk berbicara! Karena aku itu lagi nungguin Bunda, bukan nungguin Om yang ada itu om hanya mengganggu! "sinis Indira sambil memasang wajah cemberutnya.


Dimas tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena ternyata akting kebohongannya diketahui juga oleh Indira, namun ia bisa apa ketika semuanya sudah terbongkar ya sekalian Jujur saja Bukankah kata orang kepalang tanggung namanya.

__ADS_1


"Ya karena Non Indira sudah tahu maksudnya Om Dimas, ya sekalian Om Jujur saja kalau memang Om juga pengen nungguin Bundanya Aulia. Soalnya tadi itu ada mau urusan sebentar dengan dia, tetapi karena Bundanya keburu pergi ya akhirnya Om ikut ke sini buat ngomong! "Dimas akhirnya berbohong lagi bisa mempunyai alasan agar bertahan tetap di situ.


Indira hanya mencebikkan bibirnya pertanda tidak peduli dengan apapun yang dikatakan oleh Dimas barusan, karena setahun gadis kecil itu urusan orang dewasa itu memang sangat membingungkan bahkan bisa dibilang tidak akan pernah ada selesainya.


keduanya pun duduk dalam diam karena Indira yang benar-benar sedang tidak ingin berbicara dengan orang lain, Percayalah dirinya sedang menggunakan kekuatan telinganya selayaknya seekor kelinci agar ketika Aulia datang Ia merupakan orang pertama yang bakalan membuka pintu.


Setelah Penantian mereka selama kurang lebih 30 menit akhirnya terdengar Deru mobil masuk ke dalam halaman rumah, membuat Indira langsung tersenyum bahagia karena ia merasa yakin dan datang itu pasti Aulia.


Dimas hendak membukakan pintu tetapi Indira langsung menarik ujung baju pria itu, sembari menggoyangkan jari telunjuknya pertanda bahwa dirinya tidak ingin orang lain yang membukakan pintu.


"Om tolong ya itu Bundanya Indira ya Otomatis Indira yang harus membuka pintu, kecuali itu Bundanya Om Dimas baru boleh Om Dimas yang membukakan pintu! "perintah Indira dengan wajahnya yang ditekuk karena merasa kesal dengan Dimas yang mengganggu.


Dimas hanya menggelengkan kepalanya karena merasa bahwa sebenarnya gadis kecil itu sangat menyayangi Aulia layaknya ibu kandungnya sendiri, mungkin karena Aulia lebih perhatian kepada Indira dibandingkan Davina yang merupakan orang yang melahirkan Indira ke dunia ini.


Tok tok tok


Aulia mengetuk pintu dan dengan segera Indira langsung membukakan pintu sambil berteriak namanya, membuat seseorang yang dari tadi pura-pura tidur di atas sofa langsung menegakkan tubuhnya saat itu juga karena merasa terkejut.


"BUNDA AULIA!"teriak Indira dengan nada bicaranya yang sangat tinggi sampai-sampai seisi rumah pun dibuat terkejut dengan suara teriakan nya itu.


Safira yang kebetulan dari tadi tidak bisa tidur karena merasa kesal dengan Bagas yang ketika datang ke tempat itu malah tidur di atas sofa, maka dari itu ia memilih untuk duduk sambil memasang wajah cemberut tetapi Percayalah Bagas tidak peduli sama sekali dengan aksi wanita itu.

__ADS_1


"Akhirnya dia pulang juga, Ah ingin rasanya aku mendekati dia dan meminta maaf tetapi karena kebohongan Indira aku yang kena batunya! "sungut Bagas monolog tetapi Percayalah Safira mendengar jelas apa yang dikatakan oleh pria itu.


"Oh jadi kamu ke sini karena takut Bertemu dengan wanita itu? Kamu sekarang kok tambah lain ya Mas semenjak kedatangan dia, seolah-olah kamu lupa tanggung jawab kamu sebagai seorang suami?"tanya Safira tidak terima tetapi Bagas memilih tidak peduli sama pria itu diam-diam mengintip kedatangan Aulia.


__ADS_2