
Aulia dan Nina kini sudah berada di bandara untuk menunggu pesawat yang bakalan membawa mereka ke Kota Kembang tiba, keduanya sebenarnya sedikit gelisah takutnya orang-orang yang mengikuti mereka tadi Berhasil menyusul sampai di tempat itu.
Sebab jika orang-orang tersebut memang mempunyai niat jahat otomatis mereka bakalan mencari cara agar bisa bertemu dengan keduanya, terlepas dari motif apapun yang membuat mereka melakukan hal itu yang penting intinya hanya satu Nina dan Aulia akan berusaha agar tidak ditemukan.
"Menurut kamu mereka bakalan bisa menyusul sampai sini tidak ya, soalnya seperti film action yang bisa aku nonton orang-orang penjahat itu kan selalu nekat dan punya 1001 Cara? "tanya Nina kepada Aulia.
"Ya mana aku tahu kalau mereka berhasil menyusul ke sini Itu tandanya memang kita lagi apes, tetapi intinya hanya satu yaitu usahakan bagaimanapun caranya agar tidak bisa ditemukan. "sahut Aulia malas sebab masalahnya saja lagi runyam malah memikirkan hal-hal yang datang tanpa terduga seperti ini.
"kamu jangan seperti ini dong kalau memang kamu tidak tahu, terus akunya tahu gitu? Kita sama-sama itu kan lagi kabur, ya usahakan saja bagaimanapun caranya mau ngumpet kek mau masuk di dalam tong sampah kah yang penting intinya tidak ada yang boleh sampai menemukan kita!"sahut Nina.
Tak berselang lama terdengar pengumuman bahwa pesawat yang bakalan membawa mereka ke Kota Kembang sudah mendarat sempurna di bandara tersebut, keduanya begitu bahagia karena sepertinya segala sesuatu yang mereka inginkan berjalan dengan mulus tanpa ada yang namanya kendala.
"Sebelum kita pergi aku tanya sekali lagi sama kamu, Apa kamu yakin bakalan meninggalkan tempat ini dan juga meninggalkan suami kamu?"tanya Nina memastikan Soalnya takutnya jangan sampai sahabatnya itu berubah pikiran tidak masalah kan di saat seperti begini yang penting Intinya jangan sampai sudah sampai di Bandung baru wanita itu berubah pikiran urusannya bisa rumit nantinya.
Aulia menghela nafasnya kasar sebab dirinya tahu pertanyaan Nina itu seolah meragukan keinginannya, Memang sih benar kalau seorang istri itu apapun kesalahan suaminya bakalan diberikan satu kesempatan untuk menjelaskan Kenapa melakukan kesalahan tersebut. Akan tetapi jika kesalahan tersebut sudah menjurus ke arah kekerasan fisik Percayalah wanita itu bukan robot, setelah dikasih rusak bisa diperbaiki ulang lagi wanita itu hanya terdiri dari darah dan juga daging serta tulang jadi dia mempunyai rasa sakit seperti yang kaum pria rasakan juga.
"Aku siap dan juga bakalan tetap pada keputusan awalku yaitu pergi untuk menenangkan diri, jika suatu saat dia berhasil menemukanku maka kami yang bakalan melakukan pembahasan secara ke dalam ! Tetapi kalau untuk kembali padanya saat ini Sepertinya aku tidak pada niatan untuk melakukan hal itu, karena selama sifat egoisnya itu belum berubah rumah tangga kami bakalan seperti begini terus. "tegas Aulia dengan wajahnya yang begitu sangat yakin kalau dirinya tidak akan pernah berubah pikiran untuk kembali kepada Bagas sebelum pria itu berubah.
"Ya sudah kalau begitu Keluarkan saja nomor di ponsel kamu itu kemudian buang itu di tong sampah bandara, supaya kalau kita pergi nanti anggap saja kehidupan baru bakalan menanti kamu di depan tidak boleh menoleh ke belakang lagi! "perintah Nina Jengah.
"Idih ngapain juga coba pakai buang simcardnya aku, ya tinggal aku simpan saja aku masa iya repot soalnya nomor Abah sama Umi juga ada di dalam situ? Nanti suatu saat aku harus menelpon mereka takutnya mereka bakalan cemas dan menghajar habis Bagas seperti yang selalu Abah lakukan, jadi sudah ayo kita berangkat tuh sudah dipanggil katanya mau pergi naik burung besi atau enggak?"di saat seperti begini Aulia sempat-sempatnya untuk bercanda sebab menurutnya terlalu serius juga rasa-rasanya tidak bagus maka dari itu hidup itu harus dinikmati meskipun terkadang orang banyak merutuki hidup akibat masalah yang tidak pernah ada habisnya.
Burung besi tersebut sudah membawa Aulia pergi jauh dari pantauan Bagas jauh dari rumah tangga yang dibangun tanpa ada komunikasi yang baik, meski lari itu merupakan sesuatu yang tidak bisa menyelesaikan masalah tetapi jika dalam keadaan seperti Aulia lari merupakan hal yang terbaik maka tidak ada salahnya Ia melakukan hal itu.
"Ingat ya sampai di sana bilang saja kamu belum nikah mungkin dengan begitu sepupu aku bisa mendekat gitu sama kamu , daripada kamu bengong terus tidak ada yang bakalan mengajak kamu jalan-jalan kan bakalan rugi jadinya!"goda Nina membuat Aulia memicingkan matanya karena menurutnya Wanita itu sudah menyindir dirinya secara halus.
__ADS_1
"otak kamu itu selalu saja terkontaminasi hal-hal yang aneh, Memangnya menurut kamu ada keuntungan kalau aku berbohong masih single? Woi asal kamu tahu onderdil dalam ku itu sudah di obrak-abrik sama suamiku, jadi mau mengaku bagaimanapun bakalan kelihatan sama sekali Kalau orang-orang yang punya Matanya jeli menatap sesuatu!"sahut Aulia Ketus.
Nina membulatkan matanya sempurna karena tidak percaya lagi dan lagi sahabatnya itu mengaku kepadanya, tapi tidak masalah juga sih meskipun Aulia sudah tidak Virgin lagi tapi pesona wanita itu pasti bakalan laku keras di pasaran.
"Menurutku tidak masalah mau kamu sudah diobrak-abrik atau belum, tetapi percayalah kalau kamu itu bodinya mengalahkan anak gadis! Nanti kita lihat saja deh siapa yang bakalan laku lebih dulu antara aku dan kamu, maka dari itu jangan pernah berkecil hati ataupun merasa kamu memiliki kekurangan!"keduanya bahkan tidak peduli dengan keadaan sekitar karena semua orang hanya diam sedangkan mereka berdua dari tadi nyerocos terus tidak sadar bahwa sekarang mereka lagi berada di fasilitas umum.
Bagas pagi-pagi sekali memilih untuk pulang ke rumahnya karena siapa tahu Aulia sudah kembali, pria itu dengan langkah yang begitu cepat memilih untuk segera berada di dalam kamar siapa tahu istrinya itu ada di situ.
Saat membuka pintu netra Kuya itu membulat ketika tidak percaya ada seseorang di dalam kamar itu, dirinya mendekati wanita itu lalu menarik tangannya agar segera menghadap ke padanya.
"Kamu kenapa bisa berada di sini, ini kamar aku dan juga Aulia jadi kamu tidak boleh berada di sini tanpa kami suruh! Sekarang pertanyaannya kamu senang atau tidak kalau dia masuk di dalam kamar kamu dan mengobrak-abrik semua barang kamu, pasti manusia seperti kamu tidak bakalan mau kan jadi lebih baik Jangan melakukan sesuatu jika tidak ingin orang lain membalasnya!"tegas Bagas dengan tatapan nyalanya karena memang dirinya sangat tidak menyukai dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Ini kan rumahku juga karena aku juga merupakan istri kamu di sini, jadi kalau aku masuk ke mana saja kamu tidak boleh marah dong?"ujar Safira yang saat itu kedapatan oleh Bagas sedang memasuki kamar Aulia dan membuka lemari pakaian wanita.
"kamu itu di sini hanya berstatus sebagai istriku saja jika suatu saat aku menceraikan kamu otomatis kamu sudah tidak punya hak, maka dari itu dari sekarang Harusnya kamu lebih sadar diri mana yang harus kamu lakukan dan mana yang tidak boleh kamu lakukan! " Tegas yang benar-benar merasa emosi dengan sikap Safira yang maunya ingin menang sendiri.
Deg
Bagas langsung tersadar dengan pikirannya barusan tadi karena saat bersama dengan Aulia dirinya begitu cepat tersulut emosi, bahkan dengan teganya menyakiti wanita itu tanpa berpikir bagaimana perasaannya.
Maka dengan itu segera ditariknya tangan Safira agar keluar dari kamar tersebut dengan begitu kasar, bahkan tidak peduli sedikitpun ringisan kesakitan wanita itu.
"Aku sudah berbicara secara baik tetapi sepertinya kamu tidak ada niatan untuk mendengarkannya, jadi jangan salahkan aku jika bersikap kasar kepada kamu dan alhasil kamu yang bakalan susah sendiri! "Bagas yang sudah bertahan mati-matian untuk tidak melakukan kekerasan kepada wanita itu sepertinya tidak bisa karena Safira tidak mendengarkan dirinya sedikitpun.
"Cepat kamu lepaskan kamu milik Aulia itu sebelum lehermu yang aku lepaskan dari tempatnya, kenapa kamu malah mencuri barang-barang miliknya sedangkan miliknya kamu pun tidak pernah Istriku itu menyentuhnya!"ujar Bagas membuat Safira mendengus kesal sebab perkataan tersirat milik pria itu secara tidak langsung hanya menyatakan Aulia sebagai istrinya sedangkan dirinya dan juga Davina Hanya dianggap sebagai pajangan saja.
__ADS_1
"Aku benci sama kamu Mas terlebih kepada istri ketigamu itu, aku berharap dia tidak pernah kembali lagi ke rumah ini untuk selama-lamanya! Semoga saja dia bakalan langsung melayangkan gugatan cerai kepada kamu, agar kamu sadar tidak ada wanita yang bisa mengerti kamu selain aku dan juga Davina!"Safira mengatakan hal itu Dengan semangatnya yang menyala-nyala seolah sedang memprovokasi Bagas agar melakukan sesuatu yang kasar kepadanya.
Plak
Bagas melainkan satu buah tamparan keras tepat mengenai pipi kirinya Safira membuat wanita itu tersungkur di bawah lantai tepat di depan pintu kamarnya Aulia, pria itu merasa sudah habis kesabarannya yang setiap hari harus menghadapi kata-kata Safira yang menurutnya terlalu sangat menyulitkan hubungannya dengan Aulia.
Safira memegang pipinya yang terasa begitu kebas dan mungkin bisa dibilang sudah membengkak, karena tangan kekar milik Bagas itu jika menghajarnya dengan sekuat tenaga otomatis memar itu bakalan langsung ada.
"ini peringatan untuk pertama dan terakhir kalinya kalau kamu sampai mengatakan hal yang tidak tidak seperti tadi, karena jika terjadi berikutnya lagi lebih baik kamu bereskan semua barang-barang kamu dan tinggalkan rumah ini saat itu juga! "setelah mengatakan hal tersebut pria itu langsung menutup pintu dari dalam dan memilih untuk naik ke atas ranjang yang ia yakini masih ada aroma tubuh Aulia yang menempel di sana.
Davina yang melihat semua keributan di lantai atas itu memilih untuk menyusul Safira yang tengah terduduk sambil memegang pipinya, Wanita itu sangat menyayangkan sikap adik madunya itu yang terlalu mencari masalah dan tidak pernah ada niatan untuk bersyukur karena tidak diceraikan oleh Bagas.
"Kamu itu kenapa sih setiap kali dibilangin tidak pernah mau mendengarkan, lihatkan sekarang hasilnya bukan hati kamu yang sakit tetapi fisik kamu juga ikutan sakit? Seharusnya kamu bersyukur Mas Bagas tidak pernah mengucapkan kata talak untuk kita berdua meskipun dirinya yakin sudah mendapatkan yang lebih baik, dan juga kamu harus bersyukur karena istri ketiganya Mas Bagas itu bukan seorang wanita yang ingin mendapatkan perhatian suaminya sendirian. "Davina memilih untuk membantu Safira bangun dari tempat tersebut bukan karena merasa kasihan hanya saja Takutnya nanti Bagas bakalan lebih murka lagi dan mereka semua di dalam rumah itu bakalan kena getahnya akibat pria itu kalau marah yang sangat terlihat menakutkan.
"jangan menyentuhku sedikitpun karena kalian itu sama saja, aku janji jika suatu saat aku sudah sukses kalian adalah orang pertama yang bakalan aku depak dari rumah ini! "ujar Safira memilih berlalu meninggalkan Davina yang tengah menatap nanar ke arahnya.
"kamu itu memang wanita egois Safira, Aku adalah orang pertama yang mendapatkan madu dari Mas Bagas tetapi tidak pernah mempermasalahkan hal itu sampai sekarang! Kenapa kamu yang sudah diberikan kehidupan enak masih saja mempermasalahkan hal-hal yang tidak penting itu, di sini kamu harus menyadari posisi kamu sama sepertiku otomatis Jangan pernah meminta lebih seperti aku yang lebih memilih mengikuti alurnya saja? "gumam Davina yang tidak mengerti dengan jalan pikirannya Safira yang selalu saja inginkan mendapat perhatian tetapi sangat berbanding terbalik dengan sikapnya yang sangat menjengkelkan itu.
...****************...
Kediaman Sanjaya tengah terjadi keributan berbeda dengan Aulia dan juga Nina yang sudah berada di dalam taksi di kota kembang, Untuk mengantarkan mereka ke kediaman orang tuanya Nina yang jaraknya tidak begitu jauh dari bandara.
"Astaga di sini ramai juga ya aku pikir di ibukota saja yang lebih ramai, semoga saja dengan datang di kota ini segala beban pikiranku bakalan hilang ya meski tidak semuanya. "ujar Aulia tersenyum membuat Nina juga ikutan ketularan senyuman wanita itu.
"ya memang harus seperti begitu karena kita datang ke sini itu buat jalan-jalan dan menikmati hidup, tidak boleh ada yang namanya kesedihan apalagi air mata Karena sekarang bukan zamannya wanita itu hanya mengandalkan air matanya sebagai senjata! "sahut Nina.
__ADS_1
Taksi yang mereka tumpangi itu berhenti tepat di sebuah rumah yang megah, sebab memang kedua orang tua Nina merupakan pengusaha yang sukses di tempat itu karena terbukti dengan perubahan gaya hidup yang mereka alami.
Aulia sangat bersyukur karena meskipun hina merupakan anak orang kaya tetapi tidak pernah minder ataupun merasa tidak nyaman bersahabatan dengannya yang jelas-jelas merupakan anak dari keluarga yang biasa saja, persahabatan mereka berdua juga bisa dibilang bukan hanya sehari atau dua hari saja karena keduanya itu bersahabat Berawal dari sebuah ketulusan makanya bertahan lama sampai sekarang.