Menjadi Yang Ke-3

Menjadi Yang Ke-3
Musuh


__ADS_3

Budi begitu bahagia ketika melihat Arsen Yang sepertinya sudah terjebak dengan perintahnya barusan, padahal sebenarnya tanpa pria itu sadari jika Arsen sedang menertawakan kebodohan Budi yang seenak hati mengatakan hal-hal yang sudah ia ketahui.


"jadi maksud Anda saya mengajak atau bisa dibilang mengambil kesempatan di saat Bagas sedang galau, Memangnya pernah selama ini saya melakukan hal itu di dalam kehidupan saya Yaitu mengambil keuntungan saat lawan sedang tidak berdaya? "tanya Arsen membuat Budi mengerutkan keningnya karena menurutnya tadi itu sebenarnya merupakan saran yang paling terbaik yang ia berikan.


"ya maksud saya memang seperti itu ya itu anda kalau bisa mengirimkan penyusup untuk bisa memastikan keadaan perusahaan Sanjaya saat ini, mungkin dengan begitu kita bisa mengambil semua saham-saham yang ada serta keuntungannya yang milyaran rupiah per bulan itu. "jelas Budi membuat Arsen ingin sekali tertawa karena menurut pria itu semua kata-kata yang dilontarkan oleh Budi barusan merupakan sesuatu hal yang tidak berguna dan hanya membuang-buang waktunya percuma.


"Asal anda tahu ya ! Sebelum Anda mengatakan semua ini kepada saya, Saya sudah mengetahuinya dari awal tentang pernikahan mereka dan juga kenapa pernikahan itu bisa terjadi. Jadi kalau anda merasa percaya diri bahwa bakalan bisa memberikan saya informasi yang berharga, saya rasa itu hanya membuang-buang tenaga karena saya punya orang yang bisa dipercaya untuk menyampaikan berita yang lebih akurat!"tegas Arsen lalu memilih pergi dari situ karena jika lama-lama berhadapan dengan Budi yang ada membuat dirinya tersulut emosi.


Budi masih berusaha mencegahnya karena menurut pria itu, Dirinya belum selesai urusan dengan Arsen yang merupakan bos besar dan orang paling berpengaruh.


Jika ia ingin mengambil semua harta Sanjaya otomatis dirinya harus punya orang belakang yang kuat, dan orang tersebut adalah Arsen yang ia yakini sangat membenci Bagas karena selalu saja mengalahkan dirinya ketika ada lomba kompetisi pengusaha muda berbakat.


"Tunggu dulu anda jangan langsung pergi begitu saja karena saya masih ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting, Ya bisa dibilang ini mungkin sebuah jalan keluar yang paling akurat dan juga terpercaya jika tidak ingin Bagas yang selalu lebih unggul dari anda. "ujar Budi antusias ketika melihat langkah kaki Arsen yang tiba-tiba berhenti.


"katakan dan juga jangan pernah membuang waktu saya dengan hal-hal yang tidak berguna, jika ada informasi yang penting silakan katakan saja tapi kalau hanya untuk mengulur waktu lebih baik tidak usah. "tegas Arsen yang benar-benar merasa Jengah.


"Bagaimana kalau kita mencari tahu tentang istri ketiganya itu karena aku yakin ada berita yang berasal dari dalam keluarganya, kalau istri ketiganya itu merupakan istri yang sangat mendapatkan perhatian dari Bagas jangan sampai pria itu memang benar-benar mencintainya. "jelas Budi membuat Arsen begitu antusias karena setahunya kedua istri Bagas yang lain itu tidak pernah spesialkan oleh pria itu.


"Dari mana kamu tahu itu semua, apa kamu merupakan salah satu simpanan dari salah satu istrinya Bagas? "tanya Arsen telak membuat Budi tidak bisa berkata-kata lagi.


Melihat pria yang tidak muda lagi itu bungkam dengan semua kata-kata yang ia lontarkan barusan, membuat arseni yakin jika sebenarnya Budi ada hubungan dengan salah satu istrinya Bagas karena tidak mungkin dirinya tahu semua tentang informasi pria itu.


"Sudahlah jangan lagi berkilah ataupun memberikan alasan karena sebelum kamu datang ke hadapanku, semua keluarga Sanjaya sudah aku selidiki satu persatu jadi kamu tenang saja masalahmu dengan istri keduanya Bagas tidak akan pernah bocor Jika kamu tetap menutup mulut. soal istri ketiganya Bagas kamu tenang saja karena aku yang bakalan mencari tahu soalnya sampai sekarang pria itu belum mampu publikasikan hubungan mereka, nanti jika sudah beredar di media maka aku yang bakalan turun tangan sendiri tidak perlu meminta bantuan pada orang seperti kamu! "setelah mengatakan hal tersebut Arsen pun memilih untuk pergi.


Budi menatap tidak percaya ke arah pria yang pergi begitu saja meninggalkannya padahal dirinya saja belum selesai berbicara, setidaknya saat Ia menyampaikan pendapatnya harusnya didengar dulu Lalu setelah itu bisa memberikan solusi tetapi ini sepertinya langsung ditolak mentah-mentah begitu saja seolah apa yang ia katakan itu tidak ada artinya sama sekali.


Arsen tersenyum Semar ketika mendengar kelemahan Bagas yang dikatakan oleh Budi kepadanya barusan, soal pernikahan pertama dan keduanya Bagas memang dirinya tahu tetapi kalau soal pernikahan yang ketiga ini dia memang belum mendengarnya sama sekali mungkin baru terjadi dalam hitungan hari dan juga Bagas terlihat lebih hati-hati.

__ADS_1


Hanya saja ketika mendengar tadi bahwa istri keduanya Bagas sepertinya tidak menyukai istri ketiganya pria itu, membuat Arsen yakin jika sebenarnya istri ketiga Bagas lah yang sangat berarti saat ini. Jadi jika dirinya tahu kelemahan pria itu, maka otomatis ia bisa mencari celah yang tepat.


"Terima kasih Tua bangka karena sudah memberikan informasi kepadaku yang sangat berharga seperti ini, nanti aku bakalan mengurusnya tetapi sebelum itu sepertinya aku harus kenalan dengan wanita cantik gitu soalnya sepertinya auranya itu sangat membuat aku terpikat!"gumam Arsen antusias karena memang dirinya masih memikirkan soal Aulia yang terlihat begitu cuek kepadanya.


pria itu tadi yang sudah mengetahui lantai berapa tempat Aulia dan juga sahabatnya menginap membuat dirinya memilih untuk menyusul, untuk mendapatkan kamar berseberangan dengan miliknya Aulia itu bukan merupakan sebuah perkara yang sulit baginya karena Biar bagaimanapun hotel tempatnya menginap saat ini masih milik salah satu kolega bisnisnya yang sedang dalam proses untuk menjadi miliknya.


Aulia dari tadi sedang nenceramah Nina habis-habisan karena menurutnya mulut sahabatnya itu terlalu kelebihan jujur, setidaknya sebagai seorang wanita harus bisa menjaga tutur katanya agar semua pria tidak mengira bahwa dirinya merupakan wanita gampangan.


"Nanti Lain kali kalau kita sudah keluar terus ketemu sama orang asing siapapun itu, tidak mengapa kalau dia mengajak perkenalan tetapi setidaknya kamu lihat dulu cara atitude-nya saat ngomong dengan kamu!"jelas Aulia membuat Nina hanya bisa mengganggukan kepalanya pertanda paham dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu karena jika dirinya membantah urusannya bakalan bisa lebih ribet lagi.


"Iya aku bakalan ikut apa yang kamu katakan semuanya tanpa terkecuali, tapi kamu tolong dong jangan marah-marah seperti itu soalnya aku bingung mau jawab apa nantinya. "lirih Nina penuh permohonan membuat Aulia ingin sekali tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.


"Ya sudah aku juga minta maaf karena dari tadi hanya marah-marah ke kamu saja padahal maksud tujuan kamu itu baik, Nanti besok baru kita jalan-jalan lagi ya tapi hari ini aku benar-benar capek dan juga butuh istirahat. "setelah mengatakan hal itu Aulia pun memilih untuk tidur.


Ting tong


"Loh Itu Aulia ada yang memencet bel dari depan, kira-kira dibukain apa tidak ya? "tanya Nina penasaran.


"sepertinya hanya orang iseng saja jangan direspon soalnya tidak ada orang yang mau datang bertamu di kamar hotel, Biarkan saja kalau dia capek pasti bakalan berhenti sendiri! "Aulia memilih tidak ambil pusing dengan siapapun yang ada di depan pintu saat ini karena yang ia waspadai jangan sampai itu merupakan suruhan dari Bagas.


Bagas hari ini memilih untuk tidak pulang karena yang pertama Dirinya belum siap Jika Nanti ditanya orang rumah soal keberadaan Aulia, dan juga ia belum siap untuk tidur sendirian ataupun tidur dengan para istrinya yang lain jika pikirannya masih tertuju kepada Aulia saja.


"Apa Anda benar-benar yakin tidak ingin pulang tuan, Soalnya dari tadi Nyonya Davina dan juga Nyonya Nella sudah menanyakan soal keberadaan anda tetapi saya bilang kalau Anda lagi sering bertemu dengan klien di luar? "tanya Dimas memastikan karena pria itu juga sebenarnya ikutan stres seperti Bagas soalnya yang menghilang Aulia namun dirinya yang harus mencari keliling kota untuk memastikan keberadaan wanita itu.


Bagas hanya bisa menghela nafasnya kasar ketika mendengar pertanyaan dari pegawainya tersebut, bingung mau menjawab Seperti apa soalnya kalau untuk pulang bertemu dengan orang-orang rumah dan dengan segala macam kecerewetan mereka itu sepertinya rasanya ia belum siap.


"Biarkan saja mereka mau bertanya seperti apa yang penting intinya rumah dalam keadaan penuh makanan dan mereka tidak kelaparan, jadi aku mau pulang atau tidak Itu semua tidak akan pernah berpengaruh pada kehidupan mereka yang masih tetap berjalan. "jelas Bagas karena memang jika terlalu merespon keinginan orang rumah yang ada itu dirinya yang bakalan pusing.

__ADS_1


"Apa Anda yakin ingin menginap di hotel ini, kenapa tidak pulang saja? Siapa tahu jangan sampai tengah malam Nyonya Aulia pulang dan anda tidak ada di sana, bisa ribet nanti urusannya jika sampai seperti itu?" Tanya Dimas memastikan.


Bagas terlihat mengusap keningnya perlahan sebab menurutnya wanita yang memiliki karakter keras kepala seperti Aulia, tidak akan pernah kembali jika bukan dirinya yang menjemput ataupun mencari tahu keberadaan wanita itu di mana saat ini.


Aulia itu merupakan tipe wanita yang sangat susah diatur dan juga merupakan orang yang paling tidak suka jika diremehkan seperti yang Bagas lakukan, maka dari itu harapan untuk wanita itu kembali ke rumah dengan sendirinya dan juga secara sukarela itu mungkin hanya sekian persen saja.


"Sepertinya dia tidak akan pernah kembali jika bukan aku yang meminta dia kembali dan juga meminta maaf, kesalahanku itu sangat fatal bahkan bisa dibilang tidak akan bisa ditoleransi secara baik olehnya. "ujar Bagas dengan wajahnya yang menghadap ke arah luar balkon kamar tersebut.


Dimas yang merasa yakin jika tuannya itu benar-benar stress memilih untuk meninggalkannya guna membiarkan Bagas berpikir lebih jernih, karena selama dirinya ikut bekerja dengan pria itu tampang Bagas saat inilah yang paling menyedihkan dibandingkan dengan ketika kekecewaannya datang saat istrinya kembali melahirkan anak perempuan padahal yang diharapkan adalah anak laki-laki.


Safira yang berada di rumah utama tidak bisa tidur malam ini karena pikirannya benar-benar tidak tenang, bukan karena mencemaskan Bagas yang tidak pulang melainkan merasa kesal karena seseorang yang biasa mendengarkan curhatannya tiba-tiba tidak bisa dihubungi.


"ini orang ke mana lagi sih, kemarin minta transferan terus Sudah aku transfer kok malah menghilang? Awas aja kalau dia datang-datang terus minta uang lagi kepadaku, Memangnya dia pikir aku ini ATM berjalan hidupku saja penuh kesusahan akibat harus bermain cantik biar tidak ada yang curiga! "gumam Safira frustasi sampai-sampai tidak sadar jika saat ini Davina sedang berjalan ke arahnya.


"Kamu kenapa dari tadi ke sana kemari layaknya setrikaan rusak, lebih baik pergi ke kamar kamu terus kerjakan sesuatu yang membuat tidak stres bukan melakukan hal-hal yang tidak jelas seperti ini! "perintah Davina Jengah karena menurutnya Safira itu sudah seperti anak kecil sifatnya padahal tidak sadar kalau sudah menikah selama beberapa tahun lebih.


Safira yang mendapatkan perintah seperti itu dari Davina ya Otomatis tidak terima, karena menurutnya wanita itu tidak berhak memberi perintah kepadanya karena posisi mereka berdua di rumah ini sama.


"kamu jangan sok memberikan perintah kepadaku ya, Meskipun kamu itu istri tuanya Mas Bagas tetapi kita itu sama merupakan Nyonya di rumah ini. "sinis Safira membuat Davina hanya bisa menggelengkan kepalanya sebab tadi itu maksud dan tujuan dirinya mengatakan semua itu baik tetapi sepertinya Safira dalam kondisi mood yang hancur makanya selalu menyalah artikan maksudnya.


"Kamu itu kenapa sih aku tadi kan ngomongnya baik-baik saja, tidak perlu kamu ngegas seperti itu kan kalau memang tidak mau ke kamar ya sudah ? "sahut Davina lalu pergi dari situ karena tujuannya tadi itu ke arah dapur untuk mengambil minuman tetapi malah tujuannya jadi tergantikan ketika melihat Safira yang berada di ruang tamu.


"Loh ini ada apa ya, Kumpul rame-rame di sini bukannya sudah malam harusnya kalian tidur?"Nella merasa terkejut ketika melihat kedua menantunya itu masih berada di ruang tamu padahal sekarang seharusnya sudah berada di kamar masing-masing.


"Aku lagi nungguin Mas Bagas mah soalnya dia sampai sekarang belum pulang, kebetulan ada Mbak Davinanya Ya sudah aku minta tolong sekalian menemaniku. "bohong Safira Padahal dari tadi dirinya tidak ada niatan untuk menunggu suaminya itu pulang sebab menurutnya Bagas itu sudah besar kalau mau pulang ya tinggal pulang saja.


"Bagasnya belum pulang sampai sekarang, sudah kalian hubungi lewat ponselnya?"tanya Nila penasaran sebab memang sebelum menikah dengan Aulia Bagas selalu sering menginap di luar tetapi saat menikah dengan istri ketiganya itu pria itu lebih sering berada di rumah.

__ADS_1


"Sudah aku hubungi dari tadi tetapi ponselnya di luar jangkauan, Begitu juga dengan Dimas kedua orang itu seperti menghilang Ditelan Bumi. "omel Safira Ketus.


__ADS_2