Menjadi Yang Ke-3

Menjadi Yang Ke-3
Marah


__ADS_3

Aulia menatap ke arah Indira berusaha untuk mendapatkan jawaban dari gadis kecil itu, karena dirinya yakin Indira pasti sudah membohonginya Dengan mengatakan kalau Bagas itu sedang dinas ke luar kota.


"kamu tidak lagi sedang ingin berbohong kepada Bunda kan? Soalnya kamu ngomong kalau Papa kamu lagi di luar kota kok sekarang dia bisa nongol di sini, ayo Lana masih kecil Jangan mempermainkan Bunda seperti ini karena kamu belum paham apa-apa soal masalah orang dewasa! "Aulia benar-benar tersulut emosinya karena tidak menyangka jika Indira yang sekecil itu bisa membohonginya dan membuat dirinya kok bisa-bisanya mempercayai anak itu tanpa berpikir lebih dulu.


Indira hanya terlihat menundukkan kepalanya karena sepertinya dirinya tahu bahwa Ia melakukan kesalahan, terlihat tubuh anak itu bergetar karena dirinya takut jangan sampai Aulia memiliki sikap yang kasar seperti Safira yaitu bakal menyakitinya Jika ia melakukan kesalahan.


Aulia berusaha untuk menghembuskan nafasnya berkali-kali agar mungkin dirinya bisa lebih rileks lagi dan tidak memarahi orang yang sebenarnya tidak tahu apa-apa, karena Indira berbohong seperti itu juga pasti ada sangkut pautnya dengan Bagas yang selalu saja menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan apapun yang ia inginkan.


"kamu lanjutkan makannya ya sayang ya Bunda tidak akan marah kepada kamu, hanya saja Lain kali tolong jangan diulangi karena berbohong kepada orang yang lebih tua itu sebenarnya bukan anak yang pintar! "ujar Aulia sambil mengusap pelan kepala Indira membuat gadis kecil itu kembali tersenyum karena tidak menyangka jika Aulia tidak memarahinya sama sekali seperti yang selama ini selalu dilakukan Safira kepadanya.



"Bunda tidak marah kan sama aku, karena tadi sudah berbohong dan juga tidak sopan kepada Bunda? "tanya Indira pelan sambil memasang tatapan memelasnya berusaha agar Aulia tetap seperti dulu yaitu tidak memarahinya dan tetap menyayanginya.


Aulia tersenyum lalu gantian mengambil alih sendok milik Indira kemudian menyuapi bocah itu berusaha untuk tetap tenang dan juga tidak terprovokasi, sebab selama ini dirinya itu paling susah untuk memaafkan kalau orang sampai membohonginya dan kebohongan itu mengakibatkan dirinya menjadi tidak nyaman.


"Bunda tidak marah kok hanya saja yang tadi Bunda ngomong kalau kamu tidak boleh Mengulangi kesalahan yang sama, dan kalau sampai kamu Mengulangi kesalahan yang sama nanti Bunda bakalan marah beserta kamu dan bakal pindah dari rumah ini! "Aulia sebenarnya mengatakan semua itu bukan menunjukkannya kepada Indira karena memang anak itu tidak paham sama sekali tetapi yang ia tuju adalah kepada Bagas secara tersirat agar pria itu paham dengan apa yang ia rasakan.

__ADS_1


"Indira janji tidak bakalan membuat bunda marah lagi ataupun melakukan hal nakal sampai Bunda pergi dari rumah ini, kalau Bunda pergi dari rumah ini Indira bakalan ngikut cariin Bunda dan tidak akan pernah mau tinggal di sini karena maunya ikut sama Bunda! "ujar Indira membuat Aulia tersenyum lalu keduanya pun melanjutkan makan tanpa pedulikan keberadaan Bagas yang berada di dekat mereka sebab menurutnya Anggap saja pria itu hanya angin lalu saja tidak pantas untuk diajak ngobrol apalagi direspon kehadirannya.


"setelah selesai makan Indira pergi ke kamarnya Mama Davina ya soalnya apa-apa mau ngomong berdua sama Bunda kamu, jadi anak itu harus penurut Jangan pernah melawan apa kata orang tua karena kamu tahu sendiri kan Papa tidak suka punya anak yang membangkang! "perintah Bagas tegas bahkan tidak peduli jika anak yang sedang ia atur itu masih berusia 6 tahun.


Aulia mengepalkan tangannya menahan emosi karena dirinya paling tidak suka mendengar ataupun melihat orang yang suka memerintah tanpa alasan yang jelas, sekarang pertanyaannya Bagas mau tidak diperintah balik oleh Indira tidak mungkin kan karena dia menganggap Indira itu masih kecil.


"Indira kamu jangan kemana-mana ya Soalnya malam ini Bunda itu tidur sendirian jadi pengen ditemani sama kamu, nanti Bunda bakalan ngomong ke mama Davina kalau malam ini kamu nginepnya sama Bunda nanti besok pagi Bunda bakalan bangunkan kamu pagi-pagi agar tidak terlambat ke sekolah! "bujuk Aulia dan tentu saja disambut dengan begitu antusias oleh Indira karena memang itu yang ia inginkan selama ini yaitu berada di dekapan orang yang membuat dirinya merasa nyaman.


Bagas mulai tersulit emosinya kembali ketika melihat Aulia yang tidak peduli sama sekali dengan keberadaannya dan juga semua perkataannya tadi, padahal jelas-jelas wanita itu sebenarnya tidak boleh mengatur soal Indira karena Indira itu merupakan anaknya dan yang ia besarkan menggunakan keringatnya sendiri.


"kamu ngomong apa barusan? Eh Tuan Bagas Sanjaya yang terhormat tanpa kamu ngomong pun aku tahu kalau Indira itu merupakan anak kamu, yang dihasilkan dari pembuahan kamu dan juga embrionya juga miliknya kamu serta santan kentalnya pun kamu yang keluarkan! "perkataan Aulia itu memang benar-benar sangat keterlaluan sebenarnya Tetapi kalau Bagas tidak membuat dirinya emosi dia tidak mungkin juga kan ia mengatakan semua itu.


"Ayo Indira kita masuk tidur kamu kan sudah kenyang Toh Tidak usah makan lagi nanti besok kita bakalan pergi makan di luar bareng sama Bunda, soalnya kalau Bunda makan di sini Itu rasa-rasanya makanannya hanya berhenti di tenggorokan tidak bisa ketelan masuk sampai ke lambung Soalnya orang-orang di rumah sini itu pada jahat dan juga menyebalkan! "ajak Aulia lalu menarik tanah Indira agar ikut dengannya tidak peduli lagi dengan keberadaan Bagas setiap kali berbicara dengan Bagas hasil akhirnya mereka pasti bakalan bertengkar hebat.


Indira tentu saja menyambut apa yang dikatakan oleh Bunda Aulia nya itu sebab menurutnya Papanya Itu Memang terkesan sangat kasar selama ini, bahkan bisa dibilang seperti benci dengan kehadiran dirinya Karena Bagas selama ini tidak pernah mengajak putrinya itu main apalagi membicarakan hal-hal yang sopan dan juga halus tutur katanya.


Safira yang kebetulan baru turun dari tangga menatap heran ke arah Aulia ketika mereka berpapasan, dirinya tidak menyangka kalau wanita itu malah masuk ke kamar dengan menggandeng tangannya Indira sedangkan Bagas masih duduk di meja makan sendirian tanpa ada yang menemani.

__ADS_1


"Kamu kenapa Mas, duduk di sini sendirian? Apa kamu ingin makan tetapi wanita itu tidak melayani kamu sebagai seorang istri, ya itulah dia pilihan kamu yang sebenarnya wanita tidak tahu diri dan juga ****** tidak punya pendidikan sikapnya sudah seperti seorang preman....


"kamu berdua itu apa bedanya sampai-sampai begitu percaya diri saling menjatuhkan harga diri masing-masing, aku itu lagi nggak ada mood buat mendengarkan celotehan wanita-wanita yang semuanya pada tidak sadar diri kalau aku angkat derajatnya lebih tinggi? Kamu kalau mengoceh sekali lagi aku bakalan pulangkan kamu ke kampung biar kamu rasakan Bagaimana menderita tidak bisa makan dan juga tidak punya uang, jadi jangan pernah merasa besar hati karena semua yang kau miliki mulai dari luar dalam semua Tubuh kamu itu merupakan harta kekayaan dari keluarga Sanjaya! "perkataan Bagas itu mau begitu menusuk Perasaan dari Safira Tapi entah mengapa urat malu wanita itu sepertinya sudah putus sampai-sampai hanya meresponnya dengan tersenyum.


"Kamu jangan marah gitu dong Mas Apalagi mengulangkan aku ke kampung halamanku yang sangat menjijikan itu, aku janji bakal menjadi istri penurut tetapi kamu juga tolong dong berbagi waktu Jangan hanya kepada wanita sialan itu saja kan aku juga ingin dimanja oleh kamu! "lirih Safira sambil mulai menggoda suaminya itu tetapi Percayalah Bagas bukannya terangsang pria itu malah merasa mual.


"lepaskan tanganmu itu dari tubuhku dan juga jangan pernah menyentuh tanpa seizin ku, Kalau kamu tidak punya kepentingan di sini Lebih baik kembali ke kamar kamu dan renungkan semua sikap kamu selama ini yang sudah membuat Aku muak! "perintah Babas yang tidak ingin dibantah sedikit pun membuat Safira nafasnya tercepat di tenggorokan karena tidak menyangka pria itu malah membuat dirinya seperti orang asing di rumah itu.


Bagas memilih untuk pergi ke ruangan kerjanya karena sama saja mau masuk ke dalam kamarnya Aulia di sana sudah ada Indira, tidak mungkin juga akan dirinya pergi ke Davina ataupun Safira sebab yang ada dalam pikirannya itu hanya Aulia dan Aulia jadi kalau dirinya menggauli wanita lain itu rasa-rasanya sudah seperti mengkhianati hatinya sendiri.


resiko berpoligami seperti itu Terkadang ingin bermain dengan istri pertama karena memang itu jadwalnya tetapi pikiran kita malah menerawang kepada istri yang lain, maka dari itu lebih baik satu saja karena kalau satu itu merupakan miliknya kita saja tidak akan berbagi kepada orang lain dengan begitu rasanya bakal indah karena merasa seperti kita menjaga sebongkah berlian yang sangat berharga takut nanti diambil oleh orang lain.


"aku Kenapa ya setiap kali dia membantah aku yang jadi emosi seperti tidak terima kalau dia itu tidak mau mendengarkanku sebagai seorang kepala keluarga, Memang sih aku salah karena terlalu keras dan juga kasar kepadanya tetapi itu semua balik lagi kalau dia mengikuti apa yang aku inginkan boleh tetapi selama ini kan hobinya hanya membangkang saja!" gumam Bagas monolog karena memang selama dirinya menikah dengan Aulia wanita itu tidak sedikitpun mendengar perkataannya pasti harus menjawab pasti harus membalas dan alhasil mereka berdua pasti selalu bertengkar sepanjang waktu tidak ada henti.


Aulia yang suruh masuk ke dalam kamar mengunci pintunya dari dalam lalu menarik meja riasnya untuk memalang pintu tersebut agar nanti malam tidak ada pencuri berkaki dua yang bakalan masuk, karena jika tidak iya yakin pasti Bagas bakalan mengambil kesempatan di dalam kesempitan yaitu dengan menggunakan cara ketika Indira sudah tertidur.


****kecewa itu ketika kita sudah bekerja keras selama lebih dari 30 hari kadang lupa makan kadang lupa anak dan juga suami terus ketika saatnya hasil kerja keras kita itu sudah diperhitungkan, lalu hasilnya tidak sesuai dengan kenyataan dan alhasil seperti merasa tidak dihargai Itulah perasaan aku saat ini.

__ADS_1


__ADS_2