
"Kamu tunggu di sini saja ya,nanti saya yang bakal usaha untuk membangunkan Bagas!" ujar Nella .
Dimas memilih untuk menunggu saja di bawah dan membiarkan Nella yang bertindak ,karena kalau dirinya mengikuti wanita itu mau melakukan apa?
Safira yang merasa tidak terima karena Bagas menampar dirinya berencana untuk minggat seperti Aulia,karena dirinya ingin melihat kira kira nanti bagaimana tanggapan Bagas jika ia pergi dari rumah.
"Kamu kok masih disini?"Tanya Safira heran.
Dimas menoleh kearah Safira dan merasa heran ketika melihat wanita itu tengah menyeret koper miliknya,seolah hendak pergi healing ke suatu tempat yang sangat tidak jelas.
"Anda mau kemana,Nyonya?" Tanya Dimas penasaran.
"Aku mau pergi dari sini,memang nya Aulia saja bisa untuk kabur sedangkan aku tidak?" Sungut Safira.
Dimas mengerutkan keningnya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Safira tadi,sebab menurutnya wanita itu terlalu banyak drama dalam hidup nya tidak ada rasa bersyukur sama sekali.
"Apa Anda yakin?" Tanya Dimas heran.
"Maksudnya kamu tidak percaya kalau Mas Bagas tidak akan pernah mencariku,dan kamu pikir hanya si wanita sialan itu saja yang berarti bagi Mas Bagas?" Tanya Safira sinis.
Dimas hanya bisa menghela nafasnya sebab menurutnya pemikiran Safira itu sudah terlalu kekanak-kanakan, wanita itu bukannya mengerti dengan keadaan suaminya saat ini malah menambah beban pikirannya Bagas.
"Maaf bukannya saya lancang, tetapi hanya mengingatkan saja. Kalau sebenarnya apa yang Nyonya lakukan itu hanyalah sia-sia, karena saya yakin yang ada bukan Tuan Bagas yang mencari anda tetapi surat perceraian kalian yang bakalan menyusul! "jelas Dimas dengan nada bicaranya yang tidak ada terdengar bercandanya sedikitpun sebab pria itu sudah capek tiap hari harus dipusingkan dengan masalah yang dihadapi oleh majikannya.
Hal tersebut membuat dirinya juga sedikit waspada untuk menikah , tetapi mungkin perkara yang dihadapi oleh Bagas itu berbeda dengannya karena pria itu menikah dengan tiga wanita.
Safira terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Dimas barusan, dirinya tidak membantah ataupun mengiyakan apa yang dikatakannya. Dirinya berpikir keras jangan sampai yang dikatakan Dimas itu benar-benar bakalan menjadi kenyataan, pertanyaannya apakah dirinya siap menjadi Gelandangan kembali seperti dulu sebelum menikah dengan Bagas.
"Kamu sedang mengancam saya, atau sedang menakut-nakuti saya supaya tidak pergi dari rumah ini? Memangnya kamu pikir yang bisa keras kepala itu hanya Aulia saja, Ingat ya saya ini merupakan Nyonya kedua di sini jadi saya juga bisa mengambil keputusan! "ujar Safira kepalanya kesal karena Dimas tidak pernah mendukung dirinya.
Dimas sudah tidak ingin menimpali perkataan Safira, karena menurutnya Wanita itu sudah besar. Jadi bisa menentukan mana yang terbaik untuk dirinya, tidak perlu harus orang lain yang selalu ngomong dan juga mengarahkan karena itu sama saja Safira tidak bisa mandiri dan berdiri di kaki sendiri.
Safira yang tadi hendak pergi berubah pikiran memilih untuk duduk bersama dengan Dimas di ruang keluarga tersebut, wanita itu menatap ke arah pintu kamarnya Aulia tempat di mana Bagas berada yang dari tadi betah tertutup terus tidak ada tanda-tanda sang empunya di dalamnya bakalan keluar.
__ADS_1
"Kamu bisa tidak jangan mengurung diri seperti ini, kecuali kamu itu ABG labil jadinya maunya hanya ingin dibujuk saja? "tanya Nella Jengah.
"Mama juga bisa tidak jangan mengganggu aku yang lagi ingin sendirian, aku ini juga punya perasaan kemudian punya rasa lelah juga karena tubuhku ini bukan robot yang dipaksa bekerja terus? "tanya Bagas yang tidak kalah emosi.
Baiklah yang waras mengalah
Nella terlihat secara perlahan duduk tepat di hadapan putranya itu, dirinya ingin membuka pemikiran Bagas tentang arti dari sebuah pernikahan.
"Kamu menikah sampai tiga kali atau berpoligami itu tidak masalah karena memang secara finansial kamu mampu, tetapi sekarang pertanyaannya kamu mampu adil tidak diantara ketiga istri kamu itu? Kamu mampu tidak menjadi suami yang baik agar membuat mereka tidak saling iri ataupun cemburu satu sama lain, kamunya sebagai seorang pria biasa saja karena tidak merasakannya tetapi cobalah tanya perasaan istrimu satu persatu pasti jawaban mereka bakalan sama!"ujar Nella yang tidak ingin lagi melihat rumah tangga anaknya itu acak kadul tidak jelas.
Bagas mengangkat alisnya sebelah karena masih kurang paham dengan arah pemikiran Dari Mamanya itu, karena seharusnya Nella tahu sebelum dirinya melakukan poligami ia sudah lebih dahulu tahu peraturan dalam melakukan hal tersebut.
"Mama pikir aku tidak paham prinsip dasar poligami sebelum melakukan hal itu? Yang sekarang itu membuat aku kebingungan adalah bagaimana membuka pikiran istri ketigaku, agar bisa diatur dan juga tidak selalu membangkang apapun yang aku katakan?"ujar Bagas.
"ya memang benar Kamu paham prinsip dasar poligami tersebut, tetapi pada dasarnya kamu hanya pahami saja tetapi tidak melakukannya di kehidupan sehari-hari! Kalau memang kamu melakukannya tidak mungkin ada masalah seperti begini, Apa sih yang membuat kamu melakukan poligami itu? Keturunan, atau kepuasan batin kamu Semata? "tanya Nella.
"Maksud Mama ngomong dari tadi itu apa ya?"Bagas sudah tidak ingin lagi mencoba memahami isi maksud dari perkataan Nella barusan karena tidak ada salahnya kan kalau wanita itu langsung menjelaskan arah yang ingin ia tuju.
"Mama ingin kamu menceraikan salah satu dari mereka Atau mungkin Dua dari tiga itu atau mungkin ketiga-tiganya, kasihan sekarang kamu lebih fokus kepada Aulia jadi kamu lupa tanggung jawab kamu kepada istri kamu yang lain! Davina Tidak masalah karena dia sudah merasa biasa saja semenjak kamu membawa datang Safira, tetapi sekarang pertanyaannya Istri Kedua kamu itu apa ikhlas melihat suaminya berpoligami lagi? "saran dari Nella.
Jadi kalau sekarang Aulia membangkang Nella rasa itu merupakan sebuah perkara yang biasa, Karena memang Bagas harus sadar dari awal menikah dengan wanita yang tidak punya perasaan sama sekali dengannya itu sama saja bakal kerja dari awal.
Bagas terdiam tidak ada niatan untuk menjawab ataupun membantah apa yang dikatakan oleh Mamanya barusan, dirinya bakalan berpikir secara jernih lagi kalau memang saran yang diberikan Nella tadi harus ia pilih maka bakalan ia lakukan tetapi untuk melepaskan Aulia Sepertinya itu harus ia pikir dengan begitu matang.
"Ya sudah karena mama sudah selesai ngomong, Jadi sekarang mama minta kamu tolong berbenah dan pergi ke kantor. Soalnya dari tadi Dimas sudah menunggu di bawah tuh! Galau sih boleh lagi stres itu manusiawi karena memang sifatnya manusia ya tidak jauh-jauh dari hal itu, tetapi tanggung jawab jangan pernah dilupakan. Karena bukan hanya satu atau dua orang yang bergantung pada kamu, melainkan ribuan orang yang harus kamu urus!"Nella pun pergi setelah mengatakan semua yang ada di dalam benaknya selama ini yang begitu tersimpan rapi entah kapan dikeluarkan dan hari ini merupakan saat yang tepat.
Bagas mau tidak mau bersiap untuk pergi ke kantor meskipun secara ogah-ogahan, tetapi memang benar kalau dirinya itu bertanggung jawab terhadap ribuan karyawan apa jadinya mereka jika dirinya bermalas-malasan di rumahnya karena masalah pribadi.
Setelah semua siap Bagas pun memilih untuk turun ke lantai bawah menyusul Dimas yang sudah menunggunya dari tadi, Sesampainya di sana ia merasa heran ketika melihat Safira sedang duduk dengan asistennya itu tanpa mengobrol sedikitpun.
Safira yang melihat kedatangan Bagas begitu antusias mendekati suaminya itu , namun Lagi Dan Lagi Bagas memberikan kode agar wanita itu jangan coba-coba mendekat ke arahnya sedikitpun.
Safira benar-benar kecewa dengan penolakan yang dilakukan oleh Bagas apalagi di hadapan Dimas yang sedang menatap ke arah mereka, wanita itu memaksakan senyuman di wajahnya namun percayalah hatinya begitu merasakan kepedihan ketika ditolak oleh suaminya.
__ADS_1
"Kamu baru berangkat ke kantor, Mas?"tanya Safira sambil tersenyum.
"Pikirkan kesalahan yang sudah kamu lakukan tadi dan jika kamu sudah siap berpikir dengan jernih barulah kita ngomong, dan kalau memang kamu tidak bisa berpikir dengan jernih Kamu tahu kan pengadilan agama itu letaknya di mana?"jelas Bagas lalu segera pergi meninggalkan Safira yang sedang berdiri menatap tak percaya ke arahnya yang sedikitpun tak menoleh dan juga memasang tatapan bersalahnya kepada istri keduanya itu.
Safira tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bagas tadi, bahkan pria itu terlihat tidak ada rasa bersalahnya ketika mengatakan semua itu lalu pergi meninggalkannya.
Dimas pun tidak bisa berbuat apapun meskipun itu hanya sebatas menghibur Safira saja, karena dirinya berada di tempat itu bekerja pada Bagas bukan pada orang lain jadi urusannya dengan Safira jelas tidak ada sangkut perutnya sama sekali.
Nella sebenarnya mendengar apa yang dikatakan oleh Bagas terhadap Safira tadi, dirinya bahkan tidak percaya jika Bagas menyiratkan perceraian kepada istri keduanya itu.
Wanita itu memilih untuk mendekati Safira karena biar bagaimanapun Safira adalah menantunya, otomatis ia harus berbicara secara perlahan kepada menantunya itu agar paham dengan situasi yang terjadi saat ini.
"Mama tahu kamu memang ingin mendapatkan perhatian dari suami kamu saat ini, hanya saja jika perhatian itu tidak bisa kamu dapatkan tolong mengerti dengan situasinya! karena yang ada itu bukannya perhatian yang kamu dapatkan melainkan kata-kata yang seperti Bagas ucapan tadi , karena mungkin dia capek dengan sikap kamu yang keras kepala dan juga selalu saja mencari ribut tanpa sebab yang jelas."jelas Nella meskipun saat dirinya berbicara itu Safira menatap tidak suka ke arahnya.
"Pasti Mama yang menyuruh Mas Bagas untuk menceraikan bukan? Soalnya semenjak kedatangan istrinya itu kalian itu sepertinya menunjukkan sikap yang tidak suka kepadaku, padahal aku juga menantu di rumah ini otomatis berhak mengatur segala sesuatunya sesuai kehendakku?"ujar Safira sinis bahkan wanita itu tidak ada bersikap sopan terhadap mertuanya.
Nella mengerutkan karena merasa bingung dengan jalan pikiran dari wanita yang sedang bekerja dengannya saat ini, padahal tadi niatnya baik untuk menasihati Safira agar merubah tabiatnya tetapi yang ada wanita itu malah salah paham dengan maksudnya.
"Kamu ini pantasan membuat Bagas tidak suka dengan kamu, karena apa yang dikatakan orang lain selalu kamu menyalah artikan? Bisa tidak menghargai pendapat orang lain, dan juga tidak ingin membuat diri kamu itu menjadi wanita yang egois? Karena maunya didengar, tapi tidak mau mendengarkan orang lain?"ujar Nella karena dari tadi dirinya sudah bersikap sabar kemudian mengatakan segala sesuatunya menggunakan nada yang lembut tetapi Safira sepertinya tidak menghargai niat baiknya itu.
"Ya sudah kalau begitu tidak usah ngomong, Memangnya kalian pikir aku ini anak kecil harusnya Selalu diatur hidupnya? Aku capek mau tidur bosan ngomong sama keluarga yang tidak tahu diri seperti kalian, untung juga anak kalian itu kaya kalau tidak jangan harap aku bakal mau dinikahi olehnya! "sinis Safira yang bahkan tidak sadar kalau saat ini Bagas tengah mendengarkan semua yang ia katakan itu.
Bagas tadi berniat kembali karena dirinya melupakan berkas penting di dalam tas kerjanya yang ada dalam kamar Aulia, kalau berkas tersebut tertinggal di ruang kerjanya maka otomatis dirinya bisa menyuruh Dimas yang mengambilnya tetapi berhubung itu berada di kamar Aulia otomatis ia sendiri yang bakalan pergi mengambil.
Pria itu menghentikan langkah kakinya sejenak ketika mendengar perdebatan antara Nela dan juga Safira, dan dirinya juga mendengarkan dengan jelas kata-kata yang dilontarkan Safira yang sepertinya sangat tidak sopan terhadap wanita yang melahirkannya ke dunia itu.
Bagas memberikan kode kepada Mamanya ketika menoleh ke arahnya agar membiarkan saja Safira mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya, karena dengan begitu Bagas bakalan mengambil keputusan yang tepat terhadap wanita itu yang tidak akan pernah ia sesali sampai kapanpun.
Sepeninggal Safira, pria itu memilih untuk mendekati Mamanya berusaha agar membuat wanita itu tetap tegar karena kesalahannya yang sudah membawa menantu tidak tahu berbakti itu.
"Mama tenang saja pokoknya Bagas bisa pastikan Kalau hari ini merupakan hari terakhir wanita itu tinggal di dalam rumah ini, dia sudah berani membentak Mama dan juga mengatakan kata-kata kasar kepada Mama itu otomatis dia juga sudah membentakku seperti yang dilakukan terhadap Mama!"jelas Bagas selalu memilih untuk mengambil berkas tadi yang dimaksud Lalu setelah itu kembali ke dalam mobil dan menyuruh Dimas mengantarkannya ke kantor.
"Kamu nanti usahakan hubungi Pak Satya untuk mendaftarkan perceraianku dan juga Safira, tetapi Ingat jangan sampai seluruh orang-orang di kantor tahu dan juga Davina serta Aulia!"jelas Bagas karena dirinya sudah tidak ingin menghadapi pertanyaan dari semua orang alasannya dirinya mengajukan perceraian kepada Safira.
__ADS_1
"Baiklah Tuan akan saya lakukan, setelah mengantarkan Anda bertemu dengan klien di luar!"sahut Dimas yang sudah tidak ingin bertanya panjang lebar lagi karena dilihatnya mood Bagas dan dalam posisi yang tidak baik-baik saja.