Menjadi Yang Ke-3

Menjadi Yang Ke-3
Davina


__ADS_3

Safira yang dulu selalu saja mengatur jadwalnya sesuai dengan apa yang ia inginkan tidak peduli jika tempat yang bakalan ia kunjungi nantinya itu merupakan tempat yang mewah dan juga mahal, kini berbanding terbalik Karena sekarang nyatanya jangankan memasuki restoran yang mahal untuk masuk ke rumah makan padang saja ia tidak punya apapun dan alhasil dirinya hanya bisa makan di warteg pinggir jalan dengan lauk seadanya wanita itu meringis meratapi nasibnya yang berubah 100 derajat.


"Maaf Mbak, mau pesan apa ya?"tanya Bude pemilik warung tersebut ramah karena memang kebiasaan dari dulu sampai sekarang orang yang mempunyai usaha kecil-kecilan itu adalah orang yang terbilang ramah dan juga tutur katanya begitu sopan serta menghargai setiap pembeli yang datang meskipun penampilannya begitu kucel dan membawa uang pun yang sudah lusuh tetapi tidak masalah yang penting intinya halal dan tidak menjadi seorang yang minta-minta.


Safira mengeluarkan uang pecahan rp20.000-an dan menunjukkan kepada wanita itu kira-kira dengan uang itu ia bisa makan apa, soalnya kalau di restoran mahal tidak ada menu yang harganya Rp20.000 dan kalau memang ada ya hanya sepotong kecil doang.


pemilik warung tersebut tersenyum karena menyadari jika sebenarnya Safira itu adalah orang yang baru pertama kali makan di tempat seperti ini, tetapi ia memakluminya bukan ingin menyindirnya ataupun menghina karena menurutnya roda itu selalu berputar tidak selamanya harus dibawa dan juga tidak selamanya harus di atas dia akan mengikuti alurnya dan juga menjalani ritmenya yang penting Intinya jangan Banyak mengeluh.


"kalau Rp20.000 itu mbaknya sudah bisa dapat nasi campur + es teh manis, kalau air putih itu gratis Terserah mau minum Berapa banyak tetapi kalau makanan Maaf itu baru ada harganya! "jelas pemilik warteg tersebut membuat Safira benar-benar lega karena ternyata Tuhan masih mau berbaik hati kepadanya dengan tidak membuat dirinya mati kelaparan.


"Ya sudah Bude, saya pesan saja sesuai dengan uang ini!"pinta Safira pelan takutnya didengar oleh orang lain masa iya dan dandanannya begitu kece badai membahana tetapi Buat modal untuk makan saja tidak punya sama sekali.


"Iya kalau begitu Mbaknya sabar dulu ya, soalnya tadi di sana Ada yang minta nambah makanya saya harus layani dulu! Tetapi Percayalah tidak lama kok hanya beberapa menit saja, kalau begitu saya tinggal dulu ya nanti baru saya bakalan datang membawa makanan sesuai dengan pesanan yang Mbak mau tadi! "jelas pemilik warteg tersebut dan Safira hanya bisa menunggu soalnya buat apa marah-marah Seperti Dulu ketika ada pelayan yang mengabaikan dirinya.


Semua orang di sana merasa heran dengan Safira bahkan ada pula yang berbisik manjalita karena merasa heran dengan kehadiran Safira di situ, menurut mereka dandanan Safira itu sangat berbeda dengan kaum menengah ke bawah jadi otomatis tidak pantas berada di tempat itu karena yang ada mereka bakalan merasa terhina.


"eh Mbak kalau ke sini hanya untuk menghina kami yang makan di sini lebih baik nggak usah deh, pergi Sono tuh makan di restoran langganan orang kaya yang katanya enak tetapi secuil doang! kita itu bergaya sesuai kantong Jadi kalau memang merasa bahwa tidak punya apa-apa lebih baik biasa saja deh dandanannya, tetapi Kalau merasa bahwa uangnya banyak yang lebih baik tidak usah datang di sini dia hanya malu-maluin aja! "ujar wanita yang kebetulan sedang ikutan makan di situ membuat Safira hanya bisa melirik sekilas ke arahnya lalu fokus dengan ponselnya kembali sebab menurutnya untuk apa peduli dengan perkataan orang lain kalau dirinya yang dulu mah bakalan ia ladenin tetapi yang sekarang mah sama saja bohong karena hanya membuat perutnya kelaparan sedangkan tidak mendapatkan faedah sedikitpun.


"Maaf mbak ini pesanannya, tadi lagi sibuk terlalu banyak yang minta dibungkusin jadinya pesanannya Mbak belakangan deh! "ujar pemilik warteg tersebut karena merasa tidak enak hati tetapi Safira hanya menganggukan kepalanya pertanda tidak mau permasalahkan semuanya sebab intinya sekarang dirinya ingin makan dan tidak mau terkecoh ataupun terpengaruh dengan keadaan di sekelilingnya.

__ADS_1


Safira makan dengan tenang tidak peduli dengan siapapun ataupun orang lain yang tengah menatap heran ke arahnya, karena menurutnya tatapan heran semua orang itu tidak bisa membuat dirinya kenyang yang ada yang bakalan kelaparan pulang saat itu juga karena merasa gengsi dan juga tidak terima dijadikan bahan tontonan.


"ya ini orang kita ngomong malah nyolot Biarkan saja deh Nanti juga bakalan capek sendiri, ini ketahuan kalau orang-orang pelakor Ya seperti ini sudah dicampakkan oleh pria yang menjadikan dia simpanan karena Biar bagaimanapun yang halal itu lebih enak dan juga menyenangkan! "nah tuh kan pelakor lebih baik sadar diri tidak usah ngapa-ngapain kalau tidak lo bakalan di kata-katain sampai sepuas mereka karena Biar bagaimanapun pelakor itu merupakan sebuah virus yang harus segera dibasmi.


"terserahlah Kalian mau ngomong apa yang penting intinya perutku tetap kenyang dan tidak bermasalah sedikitpun, Bila perlu kalian mau ataupun demo di depan warteg pun itu terserah soalnya meladeni orang-orang yang tidak punya kerjaan itu hanya membuat tenagaku terbuang percuma dan juga tidak ada gunanya sedikitpun! "batin Safira yang merasa bahwa di tempat itu hanya dirinya sendiri orang lain itu hanya Numpang lewat doang maka dari itu ia tidak akan pernah merasa tertekan ataupun malu sebab menurutnya malu tidak akan membuat perutnya kenyang.


Davina sebenarnya memikirkan sesuatu yang sangat ia takutkan saat ini, Sebab ia tahu kalau Bagas sudah menggugat cerai Safira Dan mereka juga sedang proses persidangan entah bagaimana hasilnya tetapi Satu yang Pasti tetap mereka akan bercerai.


Bagas itu punya kekuatan dengan uangnya dan juga berbagai macam kenalannya dari berbagai kalangan, Jadi apa yang tidak bisa bagi Bagas itu akan tetap bisa dilakukan dan juga tidak akan jadi masalah sedikitpun.


"apa aku kembali saja ke rumah Soalnya kalau aku tidak kembali lagi Aku yakin nanti Mas Bagas pasti bakalan menggugat cerai diriku seperti yang dilakukan kepada Safira, Tetapi kalau aku kembali itu sama saja aku mau merendahkan diriku dan dia tidak akan pernah menganggap kehadiranku lagi seperti biasanya bahkan menurutnya aku tidak penting! "batin Davina kalau tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana untuk menjalani hidup yang menurutnya sangat rumit apalagi ada anak yang harus ia urus dan lebih parahnya lagi sekarang Indira bahkan tidak mau ikut dengannya karena merasa bahwa Aulia lebih nyaman.


"Mama ngapain sih Bengong di sini lebih baik kita jalan-jalan saja deh kita shopping gitu, Soalnya Mama kan pasti punya banyak uang hasil dari transferan Papa tiap bulan kan?"tanya Andara yang kebetulan hari itu adalah weekend otomatis sekolah libur dirinya ingin berjalan-jalan ke mall bersama dengan Mamanya itu yang jarang sekali terjadi.


Davina yang mendengar ajakan dari putrinya itu hanya bisa menghela nafasnya secara perlahan, karena bukannya tidak menginginkan ataupun mengabulkan permintaan dari Andara hanya saja menurutnya mereka sekarang itu harus bisa berhemat.


"Kamu memangnya tidak ada kegiatan lain lagi selain jalan-jalan ke mall begitu, ya mungkin misalnya kumpul dengan teman-teman kamu atau mungkin mengerjakan pekerjaan rumah yang belum selesai? soalnya Mama hari ini mood-nya lagi tidak pengen jalan-jalan loh apalagi dengan perceraian yang sedang terjadi antara papa dan juga Mami Safira di sana, nanti takutnya saat Mama keluar bakalan menjadi bahan perbincangan dan juga bahan pemberitahuan di luar sana dan kamu tahu kan posisi Mama bakalan terancam punah seperti itu! "jelas Davina berharap agar Andara rasakan dengan masalah yang tengah ia hadapi untuk saat ini.


Andara mendengus kesal ketika mendengar alasan yang diberikan oleh mamanya yang menurutnya sangat tidak masuk akal itu, sebab menurutnya hari Minggu itu merupakan hari istirahat untuk apa memikirkan kegiatan sehari-hari yang tiap hari sudah membuat muak Dan harusnya hari ini pikiran mereka lebih rileks dan juga bisa menikmati udara segar di luar daripada terpengaruh dengan sebuah masalah yang tidak tahu ada habisnya.

__ADS_1


"Yang bermasalah itu kan Mami Shakira sama Papa, bukan sama Mama ataupun sama aku jadi Untuk apa kita takut keluar rumah? Biarkan saja mereka mau memberitakan seperti apapun, soalnya itu wanita pelakor saja biasa saja di berita bahkan terlihat mesra gitu sama Papa. Kalau Mama hanya diam seperti begini terus, percaya suatu saat posisi Mama bakalan diambil dan Mama benar-benar akan Papa tinggalkan!"ujar Andara yang tidak ingin Mamanya itu menjadi wanita yang lemah dan mau saja ditindas oleh orang lain dan menurutnya harusnya Bagas lebih memilih Devina karena biar bagaimanapun Mamanya itu sudah memberikan dua orang anak meskipun itu anak perempuan semuanya.


"kamu pasti biasa saja menanggapi semua ini tetapi berbeda dengan Mama yang punya pemikiran dari sudut pandang yang lain, Mama pasti bakalan kembali ke rumah tetapi itu kalau apa-apa yang menjemput namun jika tidak Mama pasti bakalan menggugat cerai Papa dalam waktu dekat ini! " tegas Davina karena memang itulah keputusannya yang harus ia ambil dalam hidupnya karena menurutnya untuk apa mempertahankan sesuatu yang tidak pantas untuk dipertahankan dan hanya membuat sakit hati tanpa ada orang lain yang menyadari perasaannya itu.


"Apa kamu bilang tadi? Wah kamu merasa sudah mampu jadi ada niatan untuk meninggalkan batas dalam kondisi kita yang masih begini, kamu Mikir dong Davina yang harusnya itu kamu menyingkirkan pelakor dari samping suami kamu Agar kamu tetap berada di posisi sebagai Nyonya dari Sanjaya! "teriak Aura yang benar-benar tidak percaya kalau sampai anaknya itu menggugat cerai Bagas yang jelas merupakan menantu konglomerat yang membuat ia ketika berkumpul dengan teman-teman sosialitanya punya sesuatu yang bisa dibanggakan dan membuat orang lain bungkam.


Davina tahu pasti orang tuanya tidak akan pernah menyetujui perceraiannya karena bukan untuk membuat anaknya tetap mempertahankan suaminya melainkan karena ingin mempertahankan harta benda yang sudah mereka miliki, selama ini kedua orang tuanya itu selalu numpang hidup kepada Bagas barulah ketika pria itu memberikan modal untuk membangun usaha di saat itulah kehidupan orang tuanya berubah menjadi kalangan elit tetapi untuk sekarang Devina tidak ingin mengorbankan kebahagiaannya dengan merasakan sakit hati yang tidak dirasakan oleh orang lain.


"Memangnya ada yang salah kalau aku bercerai dengan Mas Bagas saat ini? Karena Mama sama Papa kan sudah punya semua yang kalian inginkan, mulai dari bisnis showroom dan juga butiknya Mama yang sudah mulai maju. Jadi otomatis kita tidak perlu modal dong dari siapapun lagi ? "tanya Davina tidak paham dengan arah pemikiran dari kedua orang tuanya yang selalu saja membiarkan dirinya tersakiti Tetapi kondisi mereka tetap aman dan juga nyaman.


"Siapa bilang kita tidak perlu modal? Asal kamu tahu ya Papa itu ingin membangun perusahaan di bidang real estate dan itu memerlukan modal yang lumayan, memang kamu punya uang untuk membuat keinginan kami akan terwujud?" tanya Aura emosi.


Andara dari tadi hanya diam saja karena tidak menyangka jika ajakannya yang begitu sederhana malah membuat Mamanya dan juga Oma nya itu berdebat, dan lebih parahnya lagi Oma nya itu tidak pernah memikirkan perasaan anak sendiri.


"Kalian bisa diam tidak sih, Kenapa hobinya harus ribut-ribut terus? memangnya tidak malu tiap saat harus didengar sama orang lain di sekitar rumah ini, kalau memang tidak bisa jalan ya sudah tidak usah jangan ngomong banyak terus Oma lagi enak sekali loh selalu mempermasalahkan apa yang Mama lakukan!"omel Andara lalu memilih untuk kembali ke dalam kamarnya tidak peduli lagi dengan urusan orang dewasa karena menurutnya urusan orang dewasa itu ribet dan juga tidak pernah ada selesainya entah sampai kapan baru bisa merasa bahagia dan juga tenang dalam kehidupan mereka.


Davina mengikuti langkah Andara dengan memilih masuk ke dalam kamarnya Soalnya kalau tetap berada di tempat itu otomatis perdebatannya dengan sang Mama tidak akan pernah ada habisnya, meskipun Ia tetap bersikeras tetapi Percayalah kemauan Aura itu lebih keras daripadanya bahkan bisa dibilang wanita paruh baya itu ingin selalu didengar.


"Davina, Mama belum selesai ngomong loh! Ini anak Kok semuanya pada pergi ninggalin aku Padahal hal penting belum aku sampaikan semuanya, Dasar Anak sama Mama sama saja tidak pernah mau melihat orang lain senang dan hanya memikirkan diri sendiri!"Amel Aura selalu memilih untuk kembali ke dalam kamarnya tidak ada niatan untuk mengejar Davina dan sekedar meminta maaf kepada anaknya itu karena Biar bagaimanapun selama ini apa yang mereka miliki itu semua atas kerja keras Davina dan juga posisinya sebagai istri dari Bagas Sanjaya.

__ADS_1


__ADS_2