Menjadi Yang Ke-3

Menjadi Yang Ke-3
Episode 48


__ADS_3

Nina menatap heran ke arah pria tampan yang ada di sampingnya saat ini karena terlihat sangat tidak menyukai keberadaannya, padahal kesalahannya itu ada di mana coba jika saat ini dirinya hanya ingin memastikan kalau Aulia baik-baik saja.


Akan tetapi sepertinya Dimas tidak memikirkan hal itu karena Yang dipikirkan pria itu adalah menjauhkan semua orang yang sudah mengganggu ketenangan majikannya, maka dari itu dirinya memilih untuk mengusir Nina secara halus karena takutnya Jika ia memakai cara kasar dan wanita itu mengadu kepada Aulia urusannya bisa ribet nanti.


"Kenapa jadi kamu yang sewot ya di sini, kalau memang kamu mau pergi ya sudah pergi saja jangan sibuk urus aku dong? "tanya Nina yang entah mengapa rasa kekagumannya itu kini beralih kepada Dimas.


Dimas bergidik jari ketika mendengar ******* manja dari Nina barusan seolah-olah dirinya mendengar auman harimau buas, dan wanita seperti Nina itu tidak cocok jadi wanita yang lemah lembut karena hobinya kan bicaranya ngegas Jadi kalau dihaluskan suaranya sekali-sekali terdengarnya begitu menakutkan.


"kalau kamu ada di sini terus juga mau ngapain? Tidak mungkin juga kan kamu menguping apa yang dilakukan oleh pasangan suami istri, Kalau misalnya nanti kamu ingin seperti mereka di dalam korban Siapa yang mau kamu ajak bertempur ? "tanya Dimas sambil tersenyum mengejek.


Nina mendengus kesal ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Dimas kepadanya barusan, karena itu namanya menghina dirinya yang sedang merasakan peri kejombloan. Seharusnya pria itu lebih berempati kepadanya karena posisi mereka berdua itu sama, yaitu sama-sama diabaikan ketika lagi butuh perhatian.


"kalau begitu sekarang pertanyaannya kamu juga ngapain Di Sini? Tidak mungkin juga kan kamu ingin mendengar aktivitas mereka di dalam, Soalnya kalau kamu lagi pengen urusannya Kan bahaya pasti kamu asal main tabok saja ? " tanya Nina sambil tersenyum mengejek dan tidak mau kalah sinisnya dari apa yang dilakukan oleh Dimas kepadanya tadi.


"ini orang kalau lama-lama berbicara dengannya rasa-rasanya bisa meledak kepalaku karena menahan emosi jadi lebih baik pergi saja biarkan dia mau berbicara apapun aku tidak akan pernah mau peduli lagi! "gumam Dimas dalam hati soalnya stress kalau terlalu berlama-lama dengan wanita secacing kepanasan seperti Nina itu.


"Ya ampun itu orang kok malah pergi terus akunya sama siapa dong? Ih semuanya tidak mengerti kalau aku itu sendirian di sini tidak punya teman, masa iya aku sudah lari sama orang seperti orang yang kebingungan?"Nina berdiri di lorong tersebut hanya sendirian saja tidak punya teman bicara ataupun berdebat seperti tadi.


Wanita itu menatap nanar ke arah pintu kamar yang terdapat Aulia dan juga suaminya di dalam, bukan karena merasa cemburu karena Aulia mendapatkan suami yang perfect melainkan dirinya ingin sekali menghabiskan waktu dengan sahabatnya itu.


"Ini tadi aku yang kelebihan bodohnya atau apa ya? Sampai bisanya Aku membawa dia kembali kepada suaminya, sedangkan aku tidak punya teman buat ngobrol. Kalau tadi kami masih bertahan di cafenya Abizar, yang pasti kami berdua masih bisa ngakak sepuasnya di sana!"lirih Indah frustasi karena tidak mungkin dirinya masuk ke dalam kamar yang dipakai oleh Aulia lalu termenung sendirian di pojokan.


Nina memilih jalan-jalan saja nanti kalau urusan Aulia dengan suaminya selesai pasti bakalan mencarinya, Itu pun kalau memang benar-benar terjadi Tetapi kalau tidak mah bisa dipastikan wanita itu tidak bakalan tidur semalaman karena stress.


Sesampainya di lobby dirinya terkejut ketika melihat Dimas dan juga Anggi sedang berdebat, membuat jiwa kepo Nina yang selalu mengudara bakalan tetap mengudara dan memilih untuk mendekati mereka berdua.

__ADS_1


"Siapa bilang aku yang menyembunyikan Nyonya Aulia di sini, harusnya kamu juga ikutan dong karena kamu dari awal juga sudah mengetahui hal ini? "tanya Anggi tidak terima ketika Dimas datang dan mengancamnya kalau Bagas sudah tahu semua kebohongannya.


Dimas tertawa sambil mengejek sebab menurutnya ketakutan yang dirasakan oleh Anggi itu sungguh-sungguh sangat membuat dirinya terhibur, Siapa suruh wanita ini selama ini selalu saja melakukan hal yang membuat dirinya emosi maka sekarang jangan salahkan Jika ia ingin balas dendam.


"Tuan Bagas itu lebih percaya kepada saya bukan kepada kamu maka dari itu siap-siap saja setelah urusan dengan Nyonya Aulia selesai, pastinya Tuan Bagas bakalan mengadili kamu dan juga Silvia yang sudah berani berbohong padahal dirinya kan sudah bertanya semuanya tetapi kalian tidak mau mengaku! " ujar Dimas yang penuh percaya diri Percayalah membuat Anggi benar-benar gedek sama pria seperti itu.


"Ya sudah kalau memang Tuan Bagas mau datang marah tidak masalah nanti aku kan juga bisa ngomong kalau kamu yang menyuruh kami berbohong, kalau kamu mengelak Memangnya kamu punya bukti Tenang saja ini semua bisa terhandle dengan baik kalau melalui otak emasnya Anggi ini! "sahut Anggi yang tidak ingin Dimas mengintimidasi dirinya soalnya pria itu selalu keterlaluan jika melakukan semua sekehendak hatinya tanpa memikirkan perasaan orang lain.


Nina langsung mendekat ke arah mereka berdua sambil bertepuk tangan, karena ia paling suka jika ada wanita yang bisa mengalahkan kata-kata pria Kurang ajar ataupun sombong.


"Kamu itu keren banget loh Mbak! Memang ciri-ciri pria seperti mereka ini harus kita buat agar jangan bicara lagi, karena setiap kali bicara pasti bakalan mengundang masalah!"Puji Nina kepada Anggi sambil menunjukkan dua buah jempol andalannya itu.


"Aduh kamu lagi! bisa tidak di mana ada saya tidak bisa ada kamu di situ, atau mungkin saat kamu melihat saya kamu menyingkir ke arah mana begitu? "tanya Dimas lemas soalnya bertemu dengan Nina sekaligus dengan Anggi benar-benar membuat otaknya Harus berpikir keras agar kedua wanita itu bisa bungkam.


"Oh jadi ceritanya kamu tidak mampu menjawab semua yang kami katakan, kalau begitu untuk apakah kamu jadi asistennya Pak Bagas kalau alhasil nanti tidak bakalan bisa digunakan? "tanya Anggi sambil tertawa mengejek.


"Eh ralat ya bahasa-bahasa kamu itu! Aku ke sini itu mau liburan bukan mau bekerja, Lagian kalau tidak ada yang memberikan nafkah ya tinggal minta uang sama Papa dan Mama saja begitu saja kok susah?"ujar Nina begitu santai karena memang selama ini dirinya hidup masih sebagai benalu diantara ketiak kedua orang tuanya.


"Oh pantesan saja hidup kamu kelihatannya mau nonton soalnya kan tidak bisa membeli apapun yang diinginkan, tetapi kamu tenang saja selama di ibukota saya bakalan membantu kamu mendapatkan uang yaitu ngamen di jalanan dan saya yang bakalan menyiapkan gitar kecil untuk kamu. "setelah mengatakan hal itu Dimas pun memilih untuk pergi karena kalau berlama-lama di tempat itu otomatis dirinya bakalan kena sasaran ah mukanya Anggi dan juga Nina sebab dari tadi dirinya menggoda mereka terus.


"Pria itu kurang ajar sekali loh, Aku sumpahin suatu saat bakalan Cinta Mati kepadaku!"sungut Nina membuat Anggi ingin sekali tertawa.


"Kalau memang kamu mau supaya dia cinta mati ke kamu ya pepet terus jangan kasih kendor, karena dengan cara begitu dia yang capek sendiri pasti bakalan menerima kamu. "saran Anggi membuat Mina hanya bisa menggedikkan bahunya karena merasa lucu.


"Nanti saja Ah soalnya nafkah sih pasti didapatkan tetapi mulut lemesnya itu loh bikin aku stres, hobinya marah-marah terus Ngomongnya tidak jelas sekali ngomong langsung menyakiti hati!"tolak Nina lalu ikutan keluar sebab dirinya di sini itu hidupnya seperti tanpa tujuan yang jelas.

__ADS_1


Aulia yang berada di dalam kamar bersama dengan Bagas memaksakan diri untuk memasang tatapan sinisnya kepada suaminya itu, soalnya kalau misalnya ia menampakan wajah takut-takut ya Otomatis Bagas bakalan merasa di atas angin dan alhasil membuat pria itu akan berkuasa terhadap tubuhnya Aulia.


"Kamu kenapa lihat aku seperti begitu, sedang merasa terpesona dengan suamimu ini? kalau memang iya ya sudah katakan Jujur saja soalnya aku juga tidak ingin terlalu percaya diri ataupun Mengharap yang berlebihan, karena kamu memang kebiasaannya kan seperti begitu selalu peduli terhadap orang lain tetapi Terhadap Suami sendiri dianggap seperti orang asing! "Bagas Akhirnya bisa mengeluarkan unek-uneknya tanpa perlawanan sedikitpun dari Aulia.


Aulia memicingkan matanya sebelah Berusaha tetap tenang dan juga santai meskipun pria itu mau memarahi seperti apapun, soalnya yang ia tahu Bagas itu semakin dilawan semakin murka tetapi stylenya juga bukan merupakan wanita pendiam itu dia permasalahannya.


"Bukannya pergi menemui suami atau orang tuanya sendiri malah pergi menemui pria tidak jelas itu, seolah menjadikan diri sebagai wanita Merdeka yang belum terikat dengan pernikahan ataupun sebagainya! Apa aku harus binasakan pria itu dulu baru kamu bisa paham kalau aku tidak menyukai istriku bertemu dengan orang lain, apalagi orang lain itu yang jelas-jelas sedang menaruh hati kepada istriku sendiri dengan Tatapan yang begitu Mendamba? "lanjut Bagas lagi.


Aulia berdoa semoga saja saat itu kupingnya langsung tidak berfungsi agar mau Bagas berbicara bagaimanapun dirinya tidak bisa mendengarkan, tetapi sepertinya Harapan tidak sesuai dengan kenyataan karena buktinya sekarang dirinya bisa mendengar dengan jelas semua perkataan suaminya itu yang tengah marah-marah.


"Kamu bisa ikut tidak sama seperti Safira Dan juga Davina yang ada di rumah dan selama ini tidak bikin aku emosi, kita itu baru menikah beberapa saat tetapi kamu selalu saja memancing keributan juga selalu saja memancing agar emosiku itu siap meledak-meledak?"Bagas benar-benar sudah tidak bisa tahan lagi untuk tidak memarahi Aulia.


Nah pembahasan yang membandingkan dirinya dan juga wanita lain itulah yang membuat Aulia yang tenang berubah menjadi ganas, kalau Bagas memarahi dirinya dia tidak masalah tetapi jangan pernah membandingkan dirinya dengan siapapun apalagi istri dari pria itu.


"Kamu bisa stop bicara tidak? Apa kamu tidak pernah sadar tidak mungkin seorang wanita yang suaminya memiliki lebih dari satu istri bakal betah di rumah, dan Apa kamu yakin kalau kedua istri kamu itu selama ini tidak liar di luaran sana sedangkan kamu selama ini tidak peduli apa yang mereka lakukan? Kenapa sekarang giliran aku yang ke sana kemari kamu kok malah sibuk ya, padahal yang jelas-jelas istri kamu itu selalu loh nongkrong sama temannya terus hura-hura kesana kemari tetapi kamu biasa saja?"tanya Aulia sambil menunjuk ke arah wajahnya Bagas.


"Memangnya kamu tahu kalau para Istriku itu merupakan wanita liar yang susah diatur seperti kamu, kamu itu baru masuk ke dalam rumah tangga kami belum terlalu lama jadi jangan pernah berbuat salah kamu memang tahu dengan semua Sikap mereka?"tanya Bagas dengan tatapan yang begitu mencekam tetapi Aulia tidak gentar karena pembahasan yang begini dirinya sangat sensitif.


"Oke aku memang orang luar yang dipaksa masuk untuk berada di antara keluarga kalian yang tidak jelas itu, tetapi yang harus kamu tahu kalau aku tidak pernah ada niatan untuk masuk jika tidak ada yang memaksaku! kalau memang kamu tidak betah punya istri yang liar dan susah diatur ya sudah tidak masalah bro, tinggal tolak aku semua sudah selesai kan aku pun tidak akan menuntut yang lebih lebih dari kamu!"mau tidak mau Aulia harus membahas soal sensitif dan juga perceraian meskipun dirinya tahu perceraian itu sebenarnya dilarang oleh Tuhan namun kalau Bagas selalu membandingkan dirinya seperti begini lebih baik pria itu tetap memiliki dua istri.


Plak


"sekali lagi Kamu mengucapkan kata perceraian aku bakalan melakukan hal-hal yang tidak pernah kamu duga, Aku diam bukan berarti aku kalah atau Aku diam bukan berarti kamu bisa mengatur kehidupan sesuka hati itu tidak akan pernah aku biarkan!"Bagas melayangkan satu buah tamparan keras di pipi Aulia membuat wajah wanita itu langsung berpaling dan tanpa disadari ternyata ada Setetes Darah yang keluar dari sudut bibirnya.


Aulia tersenyum miris karena akhirnya sikap Arogan pria itu keluar bukan hanya bualan belaka dari orang-orang ternyata dirinya sudah membuktikan secara langsung, dan sungguh hal ini membuat dirinya merasa tidak terima sama sekali karena Ia punya suami bukan untuk disakiti melainkan untuk dijaga.

__ADS_1


"Terima kasih tamparannya ini menyadarkanku bahwa memang pria seperti kamu tidak pantas menjadi seorang suami Aulia permata! Kamu tunggu saja surat perceraian kita karena kalau kamu tidak mau menggugat cerai aku ataupun memberikan talak aku yang bakalan menggugat cerai kamu, Terima kasih juga Karena sudah mengambil apa yang menjadi kebanggaanku untuk suamiku kelak!"setelah mengatakan hal itu Aulia pun pergi Percayalah wanita itu tidak ada meneteskan air mata karena menurutnya pria seperti Bagas itu tidak pantas untuk ditangisi yang ada enaknya di umpati sepanjang hari dan setelah itu dikasih makan boncabe level pedas 50.


__ADS_2