
Pria itu memilih untuk tidak menjawab perkataan dari Aulia barusan sebab menurutnya wanita itu merupakan Majikannya, jika dirinya menjawab maka bisa dipastikan otomatis nanti kalau batas tahu urusannya bisa rumit nantinya.
Daripada mencari masalah yang nantinya bakalan menimbulkan masalah pula kepadanya maka lebih baik berdiam diri, meskipun sebenarnya Tujuan dari awalnya yaitu baik ingin menyelesaikan masalah antara kedua majikan nya itu.
Dimas melihat sekarang Aulia malah memilih memijat pelipisnya pelan pertanda bahwa wanita itu Tengah benar-benar pusing dan juga tidak tahu lagi harus bagaimana, dan juga dirinya tidak bisa membantu karena masalah antara Aulia itu melibatkan Bagas yang notabene merupakan majikannya juga.
"Apa Nyonya menginginkan minum saat ini, kalau memang iya maka Biarkan saya untuk pergi mengambilnya? "tanya Dimas yang benar-benar memang tidak akan ambil hati ketika Aulia memarahi dirinya seperti tadi.
Aulia mendengus kesal ketika perkataannya tadi tidak digubris sedikitpun oleh asisten suaminya itu, memang dirinya sabar Kalau Bagas merupakan orang yang bisa memerintah Dimas sedangkan dirinya tentu tidak bisa karena ia bukan siapa-siapa yang hadir di antara mereka berdua.
Ditatapnya pria itu dengan pandangan yang tampak ekspresi sedikitpun yang menyiratkan bahwa Aulia bisa mengurus dirinya sendiri, hanya mungkin Dimas nya merupakan seorang yang lebih peka dan juga tidak bisa melihat orang lain kesusahan makanya dirinya selalu berada di dekat Aulia.
"Nanti kalau saya ingin minum otomatis saya bakalan menyiapkannya tidak perlu kamu tanya dan juga tidak perlu kamu suruh, Lagian saya juga mau pulang ke rumah Abah sama Umi jadi Tidak usah mengganggu saya atau pun mengatakan semua kejujuran kepada Tuhan kamu yang tidak berguna itu!"Aulia merasa bahwa batas kesabarannya itu sudah habis tidak ingin ada yang menginjak-injak harga dirinya atau sampai membuat Ia seperti manusia yang tidak berguna sama sekali.
Dimas terpaksa hanya diam sebenarnya dirinya ingin menyarankan kepada Aulia kalau memang ada masalah lebih baik dibicarakan di rumah saja, karena hotel ini memang dirinya tahu kalau miliknya Bagas tetapi sangat tidak etis kalau pemilik tempat itu malah bertengkar di depan para pegawainya sendiri.
"Bagaimana kalau saya mengantarkan Nyonya pulang ke rumahnya Tuan Bagas karena mungkin dengan begitu kalian bisa berbicara dari hati ke hati, soalnya Kalau minggat seperti begini saya rasa masalah Tidak akan pernah kelar dan alhasil jadi berlarut-larut! "tawar Dimas karena dirinya memikirkan Bagaimana Bagas tadi yang katanya Anggi pergi seperti orang yang gila Tanpa Tujuan yang tidak jelas mencari istrinya.
Aulia sama bulatkan matanya sempurna ketika mendengar perintah ataupun istilahnya tawaran dari Dimas barusan, menurut wanita itu pria yang ada di hadapannya yang sedang berbicara kepadanya ini tidak pernah memikirkan bagaimana perasaannya sebagai seorang wanita kalau diperlakukan seperti yang Bagas lakukan terhadapnya.
"Menurut kamu apa respon dari Safira Dan juga Davina kalau melihat bekas di pipiku ini akibat si perbuatannya Mas Bagas itu yang mereka banggakan, Aku setiap hari bakalan menjadi bahan tertawaan di rumah itu dan kamu senang kalau sampai aku mendapatkan semuanya itu? " tanya Aulia yang benar-benar tidak percaya dengan kebodohan serta kegilaan dari para pegawainya Bagas yang tidak pernah memikirkan yang namanya kepedihan hati dari seorang wanita yang tersakiti.
"Saya tahu apa yang Anda pikirkan sekarang tetapi jika anda tambah tidak pulang lagi otomatis mereka bakalan lebih Tertawa lagi karena merasa bahwa Nyonya sudah mengalah, Tetapi kalau setiap hari mereka ngomong ini itu tetapi Nyonya tidak peduli dan memilih untuk biasa saja mereka bakalan capek sendiri dan tidak akan peduli sedikitpun dengan urusan Nyonya lagi!"Dimas sengaja mengatakan semua itu agar Aulia paham bahwa semua orang di dunia ini ketika mereka mendapatkan celah bakalan mencaci maki diri kita sampai tidak ada sisa sedikitpun seolah-olah kita ini merupakan barang yang tidak pantas untuk dihargai padahal sebenarnya kita bukan anak kecil lagi.
"Menurut kamu saat kami bertemu lagi nantinya, Kami tidak akan bertengkar seperti tadi dan dia juga tidak akan melakukan kekerasan seperti tadi? Majikan kamu itu merupakan seorang pria yang tidak memiliki hati nurani sedikitpun, sampai-sampai raganya itu terasa sudah mati dan aku sumpah tidak ingin mempunyai suami yang seperti itu! Karena lebih baik aku menjomblo seumur hidup tanpa mendapatkan jodoh, daripada sudah mendapatkan jodoh dan akhirnya bakalan bunuh diri secara perlahan tanpa ada yang bisa menolong!"Aulia masih tetap pada pendiriannya yaitu menolak semua saran yang diberikan oleh Dimas karena menurutnya itu sama saja tidak ada gunanya sama sekali.
__ADS_1
Silvia dari tadi memilih untuk menjadi pendengar saja tidak bisa membantah ataupun menyela perdebatan antara Dimas dan juga Aulia, karena sebenarnya kedua orang itu sangat penting bagi Bagas majikannya itu sebab Aulia merupakan istri pria itu Sedangkan Dimas merupakan kaki tangannya.
Anggi adalah satu-satunya orang yang berani membantah Dimas meskipun itu tepat dihadapan Bagas sekalipun, wanita itu bahkan tidak menampakkan wajah ketakutannya ketika bertemu dengan Dimas dan ketika pria itu mengatakan hal yang aneh maka Anggi akan langsung ngegas tidak terima.
"Saya tidak tahu nanti apa yang bakalan terjadi di rumahnya Tuan Bagas nantinya, hanya mungkin yang bisa Saya tawarkan Yaitu anda sekarang merupakan tanggung jawabnya dan tidak bisa harus kembali ke rumah orang tua nyonya yang nantinya bakalan menimbulkan pro dan kontra! "Dimas ingin menyadarkan Aulia bahwa semua masalah rumah tangga di dunia ini tidak harus pulang ke rumah orang tua hanya untuk agar menghindar dari masalah.
Masalah itu bakalan cepat selesai ketika harus dihadapi dan juga diurus sampai ke akar-akarnya sampai tidak berbekas ataupun Tertinggal, dan dengan begitu Ketika masalah itu Sudah kelar dapat menjalani hidup tanpa dibayang-bayangi dengan kejadian-kejadian tersebut.
"Kalau aku menginap di hotel rasanya tidak mungkin karena dia sudah tahu keberadaanku, dan kalau aku pulang ke rumah sumpah hatiku belum sanggup berdamai dengan semuanya! "Aulia terlihat lebih santai mengatakan semuanya itu sebab dirinya tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa kemudian mencerna semua masalah bagaimana.
"Bagaimana kalau Nyonya ikut saja ke rumah saya tinggal sendirian dan juga kebetulan memiliki dua kamar, mungkin dengan beristirahat sejenak Nyonya bisa merasa rileks kemudian tidak tertekan seperti begini? "Silvia yang dari tadi menyimak akhirnya memang mengetahui bahwa Aulia tetap pada pendiriannya yaitu tidak akan mau kembali ke rumahnya Bagas untuk saat ini.
"Kalau kamu merasa tidak keberatan, Baiklah aku bakalan ikut! Akan tetapi untuk kamu tolong jaga mulut jangan ngomong ke sana kemari tentang masalah ini dan juga pilihanku untuk kabur lagi, kalau sampai dia tahu kalian Tenang saja aku tidak akan membawa bahwa kalian sampai terlibat dalam masalah ini!"Aulia mengatakan hal itu karena memang dirinya tidak ingin semua orang yang berada di sekitarnya dan membantunya terlibat di dalam masalah.
pria itu berkali-kali memukul kemudi mobil dengan begitu emosinya sebab menutupi segala kebodohan yang ia lakukan sampai-sampai bisa ringan tangan seperti tadi, padahal selama ini dirinya selalu berusaha tetap sabar ketika Aulia marah-marah tidak jelas namun Entah mengapa tadi dirinya begitu tersulit emosi ketika mendengar kata cerai dari wanita itu.
"kamu di mana? apa benar-benar marah sampai memilih untuk benar-benar pergi, kalau memang mau pergi lebih baik perginya ke rumah kita saja jangan ke tempat lain karena aku tidak ingin! "gumam Bagas dalam hati tidak tahu lagi harus bagaimana tetapi memang sebagai seorang pria yang harus bertanggung jawab.
(Bagas kalau lagi serius unyu ya guys??😎)
"Lebih baik aku ke rumahnya orang tuanya Aulia jangan sampai dia memang benar-benar berada di sana, nanti kalau orang tuanya marah karena aku memperlakukan anaknya kasar maka aku bakalan meminta maaf dan tidak akan mengulanginya lagi! "akhirnya Bagas mengambil keputusan meskipun dirinya tahu kalau Deni Itu sebenarnya sangat kasar dan paling tidak suka jika anak sementara lainnya dipermainkan.
Sesampainya di sana terlihat kediamannya itu sudah sunyi karena biasanya di jam-jam sore menjelang malam terdapat anak-anak yang mengikuti pelatihan taekwondo yang dipimpin oleh Deni sendiri, ketika dirinya turun dari mobil terlihat suami istri itu Tengah ngobrol santai di daerah samping rumah dan ketika mendengar bunyi kendaraannya Mereka pun langsung menuju ke arah depan.
__ADS_1
Deni terlihat menampilkan ekspresi biasa saja tidak ada guratan antusias ketika melihat menantunya itu datang ke rumah, sebab memang pria itu sengaja menikahkan Aulia dengan Bagas hanya karena ingin mengambil dokumen yang waktu itu dicuri oleh keluarga Sanjaya untuk membuat dirinya bangkrut.
Meskipun ia akui kalau yang melakukan semua itu merupakan Papanya Bagas yang sudah meninggal dunia tetapi Biar bagaimanapun biar anaknya Meskipun tidak tahu apa-apa pun tetap ikut menikmati dari hasil yang mereka jarah itu.
Berbeda dengan Santi yang terlihat begitu antusias ketika menantunya itu datang ke situ karena dirinya yakin Aulia pasti ikut juga, tetapi sampai Bagas menyalami mereka Aulia tidak nampak juga batang hidungnya membuat Santi mengerutkan keningnya karena heran.
"Nak Bagas datang ke sininya sendirian toh? Tadi Umi pikir bareng-bareng sama Aulia soalnya katanya tadi pagi dia pengen ke sini tapi nggak jadi, Memangnya dia ada kesibukan apa sampai ndak sempat datang?"tanya Santi memastikan sebab tidak biasanya putrinya itu sudah beberapa lamanya pindah ke rumah Bagas tetapi sehari pun tidak pernah datang mengunjungi mereka.
Bagas kelimpungan ingin menjawab apa soalnya kalau dirinya boleh berkata Jujur dari tadi tatapan Deni itu mengintimidasi dirinya, membuat otaknya yang biasanya selalu berpikir jernih tidak mungkin bisa dipermainkan oleh lawan bicaranya mendadak berubah jadi Blank dan gagu.
Pria itu bahkan hanya bisa garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal pertanda bahwa tengah berpikir keras kira-kira jawaban apa yang harus Ia berikan, sebab dari tadi tatapan Deni itu memang benar-benar tidak bersahabat dengan keadaannya saat ini.
"Ya mana bisa dia ngaku Umi, dia nya kan lagi berantem sama anak kita! Pria yang egonya tinggi seperti menantu kita ini pasti bakalan membuat Aulia tidak betah, jadinya tidak masalah dalam hitungan bulan Abah bakalan mengambil pulang anak kita itu!"jelas Deni yang begitu santai tetapi berbeda dengan Bagas yang responnya sudah sangat menegang karena tidak percaya Jika ternyata mertuanya itu pun menolak keputusannya Aulia.
"Jangan seperti begitulah Abah! Kami kan baru menikah mempunyai keturunan saja belum masa iya sudah membahas perceraian, nanti apa kata orang kalau tiba-tiba anaknya Abah menyandang status janda seperti begitu?"tanya Bagas agar mungkin dengan begitu Deni bisa berubah pikiran dan tidak sembarangan membujuk putrinya itu akan bercerai dengannya sebab dirinya Mana mau kalau sampai ditinggalkan oleh wanita yang sudah hampir 50% mencuri relung hatinya.
"Abah itu ngomong apa sih? Dia nya saja belum ngomong kalau lagi ada masalah atau tidak dengan Aulia tetapi Abahnya sudah kayak detektif tahu segalanya, anak itu disuruh duduk terus ditanya baik-baik nanti baru setelah mendengar penjelasannya kita boleh mengambil langkah yang selanjutnya bukan asal main teplok saja seperti begini!"sungut Santi meskipun memang awalnya ia menyetujui agar Aulia yang dijadikan pion untuk membongkar semua kejahatan yang dilakukan oleh keluarga Sanjaya tetapi untuk bercerai dalam waktu dekat ini Dirinya belum berpikiran sampai ke arah sana.
"Ya sudah kalau begitu Umi tinggal masa begitu saja harus Abah yang ngomong, Padahal di sini kan Semua orang punya mulut bisa berbicara bukan hanya marah-marah saja dan melakukan hal-hal yang tidak perlu akhirnya merugikan orang banyak!"Deni sengaja menyindir menantunya itu karena menurutnya Bagas itu merupakan orang yang pendidikannya tinggi kemudian IQ juga tinggi Ya otomatis pasti bakalan paham dengan apa yang ia katakan.
"Ya sudahlah Ayo duduk Jangan dengarkan Abahmu itu yang hobinya marah-marah kayak wanita yang lagi PMS, nanti setelah itu baru kamu ngomong Sebenarnya ada masalah apa sampai-sampai kamu datang ke sini tiba-tiba seperti begini!"perintah Santi yang disambut dengan anggukan kepala oleh Bagas karena memang pria itu tidak mungkin dong langsung duduk begitu saja meskipun itu merupakan rumah mertuanya sendiri.
Bagas hanya bisa menundukkan kepalanya karena sikap kewibawaannya dan juga kepemimpinannya tiba-tiba menghilang dan menciut begitu saja ketika berhadapan dengan Deni yang tampangnya seperti itu, apalagi pria itu dari tadi menganggap kehadirannya tidak ada sama sekali sebab dengan santainya malah sibuk dengan ponsel jadulnya itu yang hanya memiliki tombol-tombol untuk ditekan tidak ada yang namanya harus disentuh layarnya dulu.
Santi adalah orang yang terlihat begitu menerima kehadirannya meskipun terkesan rada emosi dengan sikap cuek suaminya itu, tetapi Bagas bersyukur karena dirinya tidak diusir Terserah kalau mereka mau marah-marah yang penting intinya dirinya diterima di tempat itu.
__ADS_1