Menjadi Yang Ke-3

Menjadi Yang Ke-3
Bagas Kewalahan


__ADS_3

*Buat KK dong samua ya! za bisa minta tolong kah untuk dukungan lewat Like N Vote serta Komen biar sa bisa merasakan kalau Nih karya tuh di hargai 😍😍..


Maaf bicara pake bahasa non baku orang Merauke 😉😉😉...


Lanjut$$$


Bagas menatap ke arah tangannya yang tadi dengan tega-teganya menang bersama istri sampai membuat wanita itu terlihat begitu terluka, padahal itu sebenarnya hanya gerakan refleks saja karena tidak menyangka setiap kali mereka berdebat pasti Aulia menyebut yang namanya perceraian.


Padahal bisa banyak perkataan di dunia ini yang bisa dilontarkan bukan hanya hal itu saja, kata cerai itu sepertinya sudah terpatri jelas di dalam benaknya Aulia jadi tidak bisa membahas hal lain lagi ketika mereka bertengkar.


Bagas berdiri di tempatnya tidak bergeser barang 1 mili pun dan terlihat seperti orang linglung, antara memilih untuk mengejar Aulia atau terjun bebas dari atap Hotel, entahlah?


"Kenapa aku melakukan hal itu? Padahal Davina dan Safira tidak pernah aku menggunakan kekerasan pada mereka meskipun sifat mereka malah lebih parah darinya, Sebenarnya aku Kenapa setiap kali dia mengucapkan kata cerai tiba-tiba darahku langsung mendidih seperti begini?"lirih Bagas yang benar-benar tidak tahu lagi kenapa dirinya sampai berbuat hal yang sangat kejam terhadap Aulia bahkan Bisa dibilang sudah sangat tega.


"Aku harus mengejar istriku aku harus minta maaf sebelum orang lain yang memberikan bahu kepadanya untuk bersandar, kalau sampai hari itu terjadi Aku tidak akan pernah memaafkan diriku karena sudah melakukan hal yang tidak tidak kepadanya!"gumam Bagas lagi lalu segera berlari keluar bahkan pria itu terlihat sudah seperti kontestan ikut lomba lari maraton karena tidak menghiraukan keadaan kiri kanannya dan juga Siapa dirinya yang merupakan bos besar di tempat itu.


Anggi yang sedang menjaga di depan langsung berjalan secepat mungkin menuju ke arah Bagas karena dirinya tahu siapa yang dicari oleh tuannya itu, dirinya tidak ingin lagi melakukan hal yang sama yaitu kesalahan ketika menyembunyikan keberadaan Aulia padahal suaminya sedang begitu galau mencarinya.


"Permisi tuan Apakah anda....


"Kamu jangan mengganggu jalan saya Apalagi menghalanginya atau kamu saya pecat saat ini juga, lebih baik kamu kembali kepada tugas kamu dan juga jangan mencampuri urusan orang lain!"potong Bagas yang tidak ingin mendengar apapun perkataan dari Anggi karena menurutnya itu tidak penting.


"Tapi Tuan....


"Kamu dengarkan apa yang saya katakan tadi? Bisa tidak jadi orang itu berpikir rasional sedikit kalau orang tidak mau berbicara tandanya memang dia tidak mau, jadi Jangan terus-menerus memaksakan kehendak Sebelum saya melakukan hal yang tidak pernah kamu minta sebelumnya!"bagus benar-benar mematikan semua yang ingin disampaikan oleh Anggi maka dari itu wanita itu hanya bisa tertunduk lesu dan kembali ke tempatnya semula.


Padahal sebenarnya Tanpa Batas sadari wanita itu punya informasi yang pastinya bakalan berguna, Karena sekarang terlihat Bagas sudah berlari keluar dan segera masuk ke dalam mobilnya dan pergi entah ke mana.


Aulia sebenarnya sedang berada di ruangan Silvia karena tadi punya wanita itu bertemunya sambil menangis makanya ia mengajak untuk ruangannya saja agar bisa menenangkan diri, dan hal itu diketahui oleh Anggi maka dari itu ia ingin memberitahukan kepada Bagas tetapi sudah terlanjur mau bagaimana lagi pria itu saja sudah pergi.


"Emosi sih boleh Tetapi kan orang kalau ngomong ya didengar dulu lah? Karena tidak mau mendengar Ya sudah silakan menikmati cari manusia tanpa ada kejelasan, sudah dikasih Jalan Terbaik malah pilih Jalan ekstrem aku mah bisa apa paling cuma bisa ngomong doang!"Sungut Anggi karena sebenarnya sedikit merasa kesal dengan sikap arogannya Bagas karena maksudnya tadi baik tidak mungkin juga kan dirinya menghalangi perjalanan majikannya jika tidak punya sesuatu yang penting untuk dikatakan.

__ADS_1


Bagas terlihat sudah seperti orang stress bahkan bisa dibilang letak lehernya itu sudah seperti boneka yang selalu melambai-lambai di tengah sawah, yaitu tidak lama menoleh ke kiri tidak lama menoleh ke kanan begitulah Sepanjang 1 M atau istilah mungkin satu jengkal saja.


Dimas yang baru kembali dari Adem ayem di luar merasa kondisi Hotel itu terasa begitu mencekam, karena Aura yang dikeluarkan Bagas itu mungkin masih Tertinggal sebab dari bagaimanapun tempat itu merupakan milik pria itu Jadi segala sesuatu yang ia lakukan pasti akan berdampak juga di situ.


"Kenapa bulu Kuduk ku merinding ya?"gumam Dimas.


Anggi yang sudah melihat Dimas datang langsung Segera mendekati pria itu dan menoyor kepalanya tanpa mau membuka basa-basi kata-kata yang sopan, sebab dirinya sudah terlanjur kesal terhadap Bagas alhasil Dimas yang kena batunya.


Pletak


Dimas mengurutkan keningnya ketika melihat Anggi yang dengan wajah cemberutnya sambil menatap ke arahnya, padahal menurutnya dirinya sedang tidak membuat masalah dengan wanita itu tetapi kenapa tiba-tiba berubah jadi kayak Mak Lampir ya?


"Kamu masih sehat kan? Kalau memang sudah merasa diri tidak sehat lagi atau sedang OTW belajar gila Tolong jangan aku dijadikan orang pertama untuk melihatnya, karena aku sudah capek setiap hari harus melihat orang gila yang sedang marah-marah jadi tolong jangan melakukan hal itu lagi karena sungguh aku sudah tidak sanggup lagi!"jelas Dimas frustasi.


"Justru karena kamu termasuk dalam jajaran orang gila itu makanya Hari ini aku membuat kamu menjadi salah satu Samsa hidup, Siapa suruh asisten sama bos tidak ada bedanya setiap kali orang mau ngomong tidak pernah didengar?"Anggi kesal sehingga dirinya mencibir siapapun yang bersangkutan dengan Bagas padahal sebenarnya dirinya juga termasuk karena Ia merupakan salah satu karyawan pria itu.


"Emangnya kenapa?"tanya Dimas masih belum paham arah pembicaraan Anggi.


"Maksudnya kamu ngomong kayak gitu apa ya? Memangnya kapan Tuan sama Nyonya bertengkar, karena Setahuku Tadi aku jalan mereka baik-baik saja kau di dalam kamar hotel itu?"Dimas masih belum percaya dengan apa yang dikatakan oleh Anggi membuat wanita itu merasa gemas melihatnya.


"Makanya jadi asisten itu kalau tuannya sedang melakukan sesuatu biarpun urusan pribadi ya Harusnya kamu selalu stand by di dekat situ, jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan kamu adalah orang yang terakhir mengetahuinya nanti Masalahnya kan bisa runyam!"ujar Anggi yang membuat Dimas tetap tidak paham karena masalah antara Bagas dan Aulia itu tidak ada sangkut paut dengan dirinya.


"Emangnya kamu tahu Kenapa mereka bertengkar? Bukankah mereka sekarang masih ada di dalam kamar, karena tadi kan aku pergi ya mereka masih di dalam Belum kemana-mana kan?"tanya Dimas yang masih tetap ada pendiriannya kalau Bagas dan juga Aulia masih tetap berada di dalam kamar tersebut seperti ia tinggalkan...


"Di sana itu hanya ada bulu Kuduk kamu yang meremang! Sok tahu sekali kamu tuh jadi orang aku yang dari tadi di sini ya melihat semuanya Kecuali Kamu punya dua bayangan, jadi saat kamu pergi satu bayangan kamu tinggal di sini makanya kamu bisa tahu jadi banyak berkomentar seperti itu!"sarkas Anggi yang sedikit kasar karena menurutnya Dimas itu terlalu mempertahankan ide yang benar-benar sedang salah besar.


Kalau sudah seperti begini untuk apa juga dirinya menyampaikan apa yang ia lihat, karena pasti akhirnya bakalan tidak didengarkan sama sekali dan hanya membuat dirinya buang-buang tenaga.


Dimas yang melihat Anggi tidak ada nada bercanda di dalamnya akhirnya paham kalau memang benar apa yang dikatakan wanita itu bukan sebuah hal yang bercanda, maka dari itu dirinya memilih ke mode serius dan percaya setiap apa yang Anda katakan karena tidak mungkin dirinya harus membantah terus.


"Kalau begitu sekarang tuan Bagas dan Nyonya Aulia ke mana? Soalnya kalau mereka berantem seperti begitu Tidak mungkin jalan sama-sama kan, soalnya mereka berdua itu sangat keras kepala dan susah sekali untuk diatur!"Dimas benar-benar tidak tahu lagi ketika bertemu dengan para bosnya yang aneh bin ajaib Soalnya aneh setiap nikahnya pasti selalu bertengkar kemudian ajaibnya tetap menjadi suami istri.

__ADS_1


"Nyonya Aulia ada di ruangannya Silvia kemudian Tuan Bagas ada keluar mencari Nyonya menggunakan mobilnya, Aku malas lagi membahas soal mereka soalnya aku tuh rasa-rasanya seperti wasit karena ingin menjelaskan tetapi tidak ada yang mendengarkan!" Gerutu Anggi kesal.


"Memangnya tadi kamu tidak ngomong ke Tuan Bagas kalau sebenarnya Nyonya Aulia ada di dalam ruangannya Silvia, karena kalau kamu ngomongnya tidak mungkin dong dia pergi begitu saja tanpa ada kejelasan seperti begitu? Kamu tahu kan kalau orang panik itu nanti Seperti apa jadinya, karena dia bakalan melakukan sesuatu hal yang tidak tidak dan akhirnya membahayakan dirinya juga kan?"Dimas malah menyalakan Anggi membuat Anggi bener-bener tambah emosi karena dirinya ingin menyampaikan kabar baik malah selalu disalah artikan seolah Iya yang menyebabkan Bagas dan juga Aulia bertengkar tadi.


"Astaga! Aku kalau ngomong sama kamu terus lama-lama bisa gila loh, soalnya diberitahukan sebuah berita penting secara baik-baik tetapi masih saja disalahkan!"Anggi benar-benar ingin sekali menangis dan berteriak kalau dirinya sudah capek menghadapi orang-orang di sekitar Bagas yang terlihatnya sikapnya Barbar semuanya.


"Ya habisnya kamu kan tahu semuanya tetapi kenapa kamu tidak ngomong, terus kenapa sekarang menjadi seperti orang yang tersakiti Padahal jelas-jelas di sini kamu yang salah!"Dimas sudah habis kesabarannya karena Anggi bukannya menjawab sesuatu yang diharapkan Tetapi malah terlihat sudah sangat lemas seperti tidak makan selama berhari-hari.


"Kamu itu sebenarnya tahu tidak Bagaimana watak Tuan kamu itu lagi kalau lagi marah? Dia pasti tidak akan mendengarkan penjelasan dari siapapun kapanpun dan di manapun, jadi mau aku berteriak Bagaimana cara soal keberadaan Nyonya Aulia Memangnya kamu pikir dia bakalan mengizinkan aku buat ngomong?"jelas Anggi yang memilih untuk kembali ke mejanya soal urusan Bagas dan juga Aulia dirinya angkat tangan soalnya kan sudah ada Dimas orang yang tepat untuk menghandle semuanya karena pekerjaannya lebih penting yaitu menyambung tamu tersenyum tidak ada marah-marah di dalamnya bukan saat seperti bertemu dengan Dimas pasti bawaannya emosi semua.


Dimas yang melihat Anggi sudah tidak peduli dengan dirinya lalu memilih menuju ke ruangannya Silvia, soalnya yang harus ia perhatikan yaitu Nyonya yang ia yakini pasti sangat bertengkar hebat dengan Tuannya Dan pasti bangga sudah melakukan hal yang tidak tidak dan menyakiti wanita itu.


Aulia sedang berusaha untuk tetap tenang dirinya bahkan melarang Silvia untuk menghiburnya karena ia bukan anak kecil ataupun wanita lemah yang butuh penghiburan, yang dirinya inginkan yaitu sekarang ketenangan kemudian tidak ada yang membahas soal Bagas karena kalau sampai ada yang membahas soal itu maka ia pastikan besok bakalan langsung menggugat cerai pria itu.


Silvia hanya memilih duduk di sofa sambil melihat Nyonya itu sedang nonton drakor sambil senyum-senyum, padahal pipinya sedang memerah soalnya Bagas dari sempat menamparnya menggunakan tangan besarnya itu.


"Anda itu terbuat dari apa sih Nyonya? Sudah dipukuli seperti begitu tapi masih bisa loh buat tersenyum, Kalau aku mah sudah yakin pasti menangis di pojokan kemudian menghabiskan tisu berbungkus-bungkus!"batin Silvia yang benar-benar tidak menyangka Jika Allah yang merupakan wanita sekuat itu.


Ceklek


Dimas bahkan tidak menutup pintu karena pria itu langsung memilih untuk membukanya saja, sebab yang dirinya yakini kalau sekarang Pasti Aulia sedang menangis tersedu-sedu maka dari itu dirinya tidak ingin menambah pekerjaan mereka yaitu membuka pintu lagi Makanya ia langsung membukanya saja.


Aulia yang mendengar pintu terbuka langsung menatap ke arah sumber suara dengan tatapan datar dirinya menatap ke arah Dimas yang tengah menatap ke arahnya juga, pria itu sepertinya sedang penasaran sesuatu tetapi Aulia memilih tidak peduli soalnya Dimas itu bukan pekerjaan untuknya melainkan pekerjaan untuk bapak si jadi yang perlu ia urus yaitu Tuan nya itu.


"Nyonya apakah anda....


"Kamu keluar Tutup pintunya kemudian pergi Sebelum saya yang bakalan memaksa kamu pergi dari sini! Yang harus kamu urus itu Tuan kalian yang gila serta tidak punya hati nurani itu, kalau saya tidak perlu harus diurus karena saya bukan anak kecil lagi yang butuh perhatian dari manusia-manusia seperti kalian!"secara tidak langsung Aulia mengusir Bagas karena memang wanita itu sedang tidak ingin mendengar pertanyaan apapun dari pria itu karena yang hanya bisa membuat dirinya mumet.


"Tapi Nyonya....


"Woi lu Paham kagak apa yang gue bilang tadi? Awas aja ya kalau sampai kamu mengulangi pertanyaan yang sama, maka saya bisa pastikan Kalau hari ini merupakan hari terakhir kamu untuk ngomong dan juga muncul di hadapan saya!"Aulia sebenarnya tidak tega memarahi orang hanya untuk melampiaskan kekesalannya terhadap Bagas padahal Dimas tidak salah sama sekali terhadapnya Tetapi hanya saja kemunculan pria itu di waktu yang tidak tepat.

__ADS_1


__ADS_2