
Davina tahu jika Safira bukannya merasa cemas terhadap Bagas melainkan pasti dirinya sedang mencemaskan sesuatu, jangan pikir jika dirinya yang selalu terbiasa di rumah dan juga tidak terlalu sibuk dengan urusan orang lain tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh adik madu yaitu di luar sana.
"Kenapa kamu bicara seperti itu memangnya kamu sudah coba untuk telepon Mas BagasSoalnya dari tadi aku hanya lihat kamu ke sana kemari tidak jelas terus aku juga tidak melihat kamu menelepon? "tanya Devina penasaran membuat Safira mendengar Karena sekarang ada Nella di situ otomatis kalau mereka berdua berdebat rasanya sangat tidak etis sama sekali.
"Mbak Devina itu apa sih Kok kayak mencurigaiku seperti itu, Mas Bagas itu suamiku juga jadi otomatis aku harus cemas juga dong? "Safira dengan wajah cemberutnya seolah-olah apa yang dikatakan oleh Devina tadi merupakan sesuatu hal yang salah besar.
"Ya sudah kalau memang kamu sedang mencemaskan Mas Bagas itu malah lebih bagus, sekali kali sebagai seorang istri memang harus itu yang kamu lakukan biar terlihat tidak hanya numpang saja ." ujar Davina yang terlihat begitu santai seolah kata-katanya yang begitu pedas Tidak ada artinya sama sekali sebab menurutnya orang seperti Safira itu enaknya harus diperlakukan sampai sedemikian rupa biar sadar.
Nella dari tadi hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua menantunya yang menurutnya entah Kenapa jadi berdebat, padahal seharusnya mereka sadar kalau ini sudah larut malam dan tidak pantas harus membuat keributan seperti begitu apalagi suami mereka belum pulang sama sekali.
"kalian kenapa sih harus pakai acara berdebat segala, kalau memang merasa cemas dengan suami ya sudah pergi ke kamar masing-masing dan menunggu! Mama juga bakalan menelpon Aulia untuk memastikan gara-gara dia ada di mana sih, masa iya deh ikut dengan batas ke kantor sampai sekarang belum pulang juga?"Nella benar-benar mencemaskan Aulia karena Biar bagaimanapun wanita tersebut merupakan menantu kesayangan jadi otomatis apapun yang dilakukan oleh Aulia di luaran sana membuat dirinya merasa cemas Apalagi sudah larut malam seperti itu.
Safira membulatkan matanya sempurna ketika mendengar Nella malah mencemaskan orang lain dan orang tersebut adalah wanita yang membuat dirinya uring-uringan beberapa bulan terakhir, Padahal jelas-jelas di situ ada dirinya dan juga Devina setidaknya wanita itu mengerti dengan perasaannya Ketika Harus menyebut nama orang lain tetapi hadapan mereka.
"Sepertinya dia juga bukan anak kecil dia mah Jadi harus ditelepon segala lebih baik Mama masuk tidur soalnya tidak baik kalau sudah malam terus begadang, dan dia juga tahu rumah Ini kan jadi pasti dia bakalan pulang menujunya ke sini tidak ke arah lain tergantung kalau memang dianya niat mau pulang !" perkataan Safira itu membuat Nela menatap tajam ke arah menantunya itu karena menurutnya kata-katanya itu tidak pernah di filter dulu.
"Kamu itu kenapa sih Terlalu tidak menyukai Aulia seperti begitu, Memangnya dia melakukan kesalahan apa kepada kamu sampai-sampai harus membencinya seperti itu? ingat ya dia datang ke sini itu atas pilihan Bagas bukan karena kemauannya sendiri, jadi kalau kamu mau menyalahkan Ya sudah salahkan saja suami kamu kenapa harus tahu dia yang kamu salahkan untuk semua ini? "tanya Nella yang benar-benar tidak suka kalau Safira terlalu banyak mengatur di dalam rumah tersebut Sedangkan Ia yang merupakan Nyonya tertua di situ saja merasa biasa saja dan lebih menghormati mereka sebagai menantu.
Nella pergi meninggalkan Davina dan juga Safira yang tengah menatap heran ke arahnya, bagaimana ia tidak marah ketika setiap kali bertemu dengan Safira pasti pembahasannya akan menyalahkan Aulia secara terus-menerus.
Davina menatap ke arah Safira dan meminta agar wanita itu menghentikan segala macam tingkah kekonyolannya di dalam hidup, sebelum sendok emasnya itu berubah menjadi Makan pakai tangan saja karena tidak punya apalagi yang bisa dibanggakan.
"kamu terlalu berlebihan selama ini dan juga menurutku kamu ingin mengatur sesuatu di dalam rumah ini tetapi orang di dalam rumah tidak mau diatur oleh kamu, lebih baik kamu tenang saja tidak usah melakukan sesuatu yang membuat kamu rugi karena itu bakalan kamu tanggung sendiri dan tidak akan pernah ada yang bisa membantu! "ujar Davina karena memang dari tadi jika dirinya diam saja ia merasa bahwa Safira itu makin ngelunjak dan juga susah diatur.
"sebenarnya Mbak itu punya hak apa mengatur mengatur hidupku terus membatasi setiap pergerakanku, ingat ya di rumah ini kita itu sama-sama menjadi seorang istri dan juga Nyonya rumah jadi apapun yang aku katakan harus didengarkan dengan orang lain juga dong? "setelah mengatakan hal tersebut Saya kira pun pergi meninggalkan Davina yang sedang menatap ke arahnya sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1
"kalau misalnya Bagas tahu kamu ada main api dengan paman Budi entah nanti apa yang bakalan dia lakukan, Soalnya kamu juga pasti tahu dong Bagaimana hubungan antara paman dan keponakan yang begitu tidak baik itu? "ujar Davina yang ia yakini pasti Safira masih mendengarkannya karena cara mereka yang tidak terlalu jauh namun Safira memilih untuk memulihkan telinganya seolah apa yang dikatakan oleh Devina tadi bukan merupakan perbuatannya.
Sesampainya di kamar Safira langsung berusaha menetralkan degupan jantungnya karena tidak percaya jika Davina mengetahui kebohongannya selama ini, padahal Ia sudah berusaha mati-matian untuk menyembunyikannya sangat rapat mungkin agar orang lain di luaran sana tidak curiga tentang hubungannya dengan Budi.
"kok Devina bisa tahu soal hubunganku dengan Mas Budi, Padahal kami ketemunya kan diam-diam saja dan tidak pernah ketahuan dengan orang lain ? "gumam Safira lirih soalnya dirinya sedikit cemas kalau sampai Davina mau bocorkan rahasia tersebut kepada Bagas.
Semua anggota keluarga Sanjaya sangat tahu bagaimana hubungan antara Bagas dan juga Budi saat ini, karena paman dan keponakan itu seperti tengah menyulut para permusuhan yang begitu kentara dan entah siapa yang memulainya yang penting intinya sampai sekarang mereka berdua tidak saling tegur sapa.
"Aku Sepertinya harus menelpon Mas Budi saat ini juga soalnya takut jangan sampai rahasia kami terbongkar, soalnya mas Budi kan belum ada pekerjaan sama sekali nanti kalau ini semua terbongkar aku bakalan bertahan hidup sama siapa ? "Safira mengambil ponselnya lalu berusaha Mendeal nama dari Budi.
nomor yang anda hubungi berada di luar jangkauan,mohon menunggu beberapa saat lagi...
Safira mendengus kesal ketika Lagi Dan Lagi ponsel Budi tidak bisa ia hubungi sama sekali, padahal biasanya jam-jam begini adalah jam ketika mereka berdua berkomunikasi secara diam-diam tanpa ada yang mengetahuinya sama sekali.
"Mas Budi ini ke mana sih kok bisa-bisanya menghilang seperti begini, katanya ada urusan pekerjaan sebentar lalu nanti bakalan menelponku lagi tetapi sampai seharian penuh tidak ada kabar sama sekali? "Safira benar-benar merasa kesal akibat sikap Budi yang seolah mengabaikan dirinya.
"Wah ini orang pingsan atau tidur sih masa iya hanya dipukul sedikit saja langsung tidak sadarkan diri berjam-jam, untung juga dia merupakan bagiannya tuan besar kalau tidak sudah aku habisi karena hanya membuang-buang waktuku! "sungut salah satu kepala geng dari preman tersebut.
"Sabar saja yang penting Intinya kalau Tuan besar datang dan melakukan sesuatu kepadanya kita juga bakalan dapat bayaran kan Bos, Apalagi kita sudah setengah jalan seperti begini Jadi tidak masalah jika menunggunya molor sampai kapanpun!"ujar salah satu anak buahnya dan tidak lama terdengar suara mobil dari luar dan kebetulan mereka saat ini tengah berada di luar kota di daerah yang sangat terpencil tepatnya di sebuah gedung tua yang terbengkalai akibat ditinggalkan oleh pemiliknya.
Tap tap tap
Terdengar bunyi pantofel yang semakin mendekat ke arah mereka yang diyakini itu merupakan pria yang menyuruh mereka menyekap seorang pria yang tengah duduk di hadapan mereka saat ini, dan benar saja orang tersebut adalah orang yang mereka tumbuh dari beberapa jam yang lalu sekarang sudah berada di hadapan Mereka berdiri dengan tegas dan juga penuh wibawa.
"Bagaimana pria itu kira-kira sudah sadar atau belum? Kalau belum sadar ambil air 1 ember kemudian siram tubuhnya biar sadar, soalnya saya tidak punya waktu untuk berlama-lama meladeni dia! "perintah pria itu dengan nada bicara yang begitu tegas.
__ADS_1
Byurrrf
Air 1 ember sudah disiram ke arah tubuh pria itu membuat sang empunya langsung sadar karena dinginnya air di malam hari seperti begini benar-benar menyiksa netralnya membulat karena tidak percaya jika pria yang ia percaya tengah berada di sekitar preman yang menghajarnya habis-habisan itu.
"Tuan Arsen, anda kok bisa berada di tengah-tengah mereka?"tanya Budi memastikan.
Arsen tersenyum Devil membuat Budi bergidik ngeri begitupun orang-orang yang di sekitar mereka, pria itu lalu mendekati ke arah Budi kemudian mencengkram kuat rahang pria itu sehingga membuat sang empunya meringis kesakitan.
"Bagaimana, sudah merasa di atas angin karena berhasil memberikan perintah kepadaku? Makanya jadi orang jangan terlalu sombong dan juga sok-sok mengatur hidupku ya akhirnya kamu pasti bakalan berada di sini, jadi saya peringatkan besok lu saja jangan pernah mengganggu hidupku apalagi memberikan perintah seolah aku ini merupakan salah satu pesuruhmu! "ujar Arsen membuat Budi mengerutkan keningnya karena pria itu bingung letak kesalahannya di mana.
"Saya tidak ada niatan sedikitpun untuk memberikan perintah kepada anda Tuan, hanya tadi itu saya memberikan jalan dan juga informasi yang saya rasa penting tentang keponakan saya yaitu Bagas! "jelas Budi.
"Haha, tapi saya tersinggung karena kamu berbuat seolah saya ini tidak tahu apa-apa dan juga tidak bisa mencari tahu sesuatu! Gara-gara kelakuan kamu juga saya sampai kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan pujaan hati saya, tahu tidak saya sekarang butuh pelampiasan karena saya tadi diabaikan oleh dia bahkan ketika saya Ketuk pintu kamar hotelnya pun dia tidak peduli!" Arsen sudah terdengar seperti orang stres karena merasa diabaikan orang lain yang ia jadi kambing hitam kan.
"Apa hubungannya dengan saya dengan wanita pujaan hati anda itu, karena dari awal kita bertemu ya memang Anda sendiri tidak dengan siapa-siapa kan? "tanya Budi heran karena menurutnya kalaupun Arsen tidak bisa bertemu dengan wanitanya itu tidak ada campur tangan dengan dirinya.
"Tetap saja ini merupakan kesalahan kamu karena sudah membuat aku menjadi terlihat seperti orang bodoh dan akhirnya tidak punya alasan untuk bertemu dengan dia, Lain kali kalau suasana hatiku sedang baik jangan kamu hancurkan dengan kemunculan wajah jelek kamu itu jika tidak ingin aku menyuruh para anak buahku menghancurkan kamu saat ini juga!"tegas Arsen membuat Budi bergidik ngeri karena Aura yang dikeluarkan pria itu seperti Aura seorang psikopat yang bakalan terlihat baik dan juga manis di hadapan orang yang ia sukai Tetapi setelah itu bakalan berubah menjadi harimau ganas ketika ada yang melakukan kesalahan di belakangnya.
"Bagaimana kalau saya membantu anda Untuk menyakinkan wanita yang anda sukai itu jika anda merupakan pria baik-baik, mungkin dengan begitu kalian berdua bakalan bisa lebih dekat dan juga mungkin...
"pukuli kakinya pakai Balok itu supaya dia tahu kalau tidak ada yang boleh mendekati wanitaku, apalagi ingin berbicara dengannya karena jika itu terjadi Aku pastikan orang tersebut bakalan dalam bahaya! "perintah Arsen dengan tatapannya yang santai saja tidak ada guratan kemarahan ataupun emosi yang meluap-meluap.
"Aku mohon jangan lakukan itu aku jadi tidak akan pernah membuat anda marah lagi, tetapi Tolong jangan sakitiku lagi karena rasa sakit yang tadi diberikan saja belum hilang jadi tolong jangan ditambah lagi!" Budi tiap hari terdengar begitu pongah hari ini sudah seperti kerbau yang dicucuk hidungnya hilang sudah kepercayaan dirinya.
"Oh jadi kamu tahu bahwa tadi itu sudah habis dihajar oleh para preman ku tetapi kenapa masih cerewet sampai sekarang, seharusnya kalau sudah tahu di mana letak kesalahan kamu mulut itu bisa dijaga terus tidak ngomong sembarangan supaya aku juga tidak akan marah seperti ini! "ujar Arsen yang entah mengapa hari ini terlihat begitu menyebalkan.
__ADS_1
Pria itu memberikan kode kepada para premannya untuk melakukan hal yang seperti ia inginkan, sebab entah mengapa hari ini jiwa psikopatnya benar-benar sedang mengudara maka dari itu ia tidak peduli dengan ringisan ataupun rengekan serta teriakan minta tolong.
"Setelah kalian membungkam mulutnya lepaskan dia pergi begitu saja jangan pernah menghalangi jalannya atau Kalian juga bakalan berhadapan denganmu, usahakan Jangan pernah meninggalkan bekas di sini dan juga usahakan agar dia jangan sampai membuka mulut karena tidak sampai hal itu terjadi resiko kalian yang bakalan menanggungnya! "setelah mengatakan hal tersebut Arsen pun memilih pergi karena dirinya masih berusaha untuk mendekati Aulia yang menurutnya auranya itu sangat berbeda daripada wanita yang lain.