
Budi setelah dianiaya habis-habisan oleh seluruhnya arsen kini pria itu diletakkan begitu saja di pinggir jalan dengan keadaan yang begitu mengenaskan, seolah-olah semua orang yang ada di situ tidak punya belas kasihan sama sekali karena apa yang mereka lakukan tidak pernah mereka perbaiki bahkan bisa dibilang mereka tinggalkan begitu saja.
Budi mungkin setelah ini bakalan kapok dan tidak akan pernah mencari masalah lagi dengan yang namanya Arsen Valaand, oleh karena gara-gara dirinya berurusan dengan pria itu akhirnya sekarang kena batunya tidak dipedulikan sama sekali.
Arsen yang sudah selesai urusannya dengan Budi memilih untuk meninggalkan tempat itu, karena menurutnya untuk apa berlama-lama di sana Jika sesuatu itu tidak mendatangkan hal yang membuat dirinya merasa mendapatkan keberuntungan.
"Sepertinya b****** itu bakalan berhenti untuk menggangguku lagi, Jadi sekarang giliran aku untuk bertemu dengan wanita cantik itu lagi! Jika kali ini dia masih menolakku itu artinya aku harus lebih gencar lagi untuk mendapatkannya, soalnya selama aku hidup di muka bumi ini tidak ada seorangpun wanita yang berani menolakku seperti yang dilakukannya! "gumam Arsen monolog.
Aulia dari tadi itu merasa jantungnya berdebar-debar seolah ada hal yang tidak terduga akan terjadi pada hidupnya, namun sejauh dirinya berpikir itu tujuannya hanya arah kepada Bagas saja tetapi tidak mungkin pria itu bisa segera menemukannya apalagi sekarang keberadaan mereka itu berbeda provinsi.
Nina yang dari tadi melihat kegelisahan sahabatnya itu menjadi berpikir yang tidak tidak, karena takutnya jangan sampai Aulia yang terlalu panik alhasil tidak bisa tidur dengan tenang dan membuat asam lambungnya kembali kambuh.
"Kamu jangan stres seperti begitu dong dari tadi kayak orang yang gelisah seperti lagi dikejar sama hutang piutang, kalau memang ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiran kamu ya sudah ngomong biar aku dengar terus Mungkin kita bisa sama-sama Cari jalan keluarnya? "jelas Nina yang benar-benar tidak ingin kalau sahabatnya itu sendiri memendam beban pikiran dan tidak berbagi kepada orang-orang sekitarnya.
Aulia dari tadi itu sebenarnya mencoba bersikap biasa saja tetapi mungkin karena tingkat kepekaan Nina yang di atas rata-rata, membuat wanita itu langsung sadar jika sebenarnya sikap dirinya itu ada sedikit berbeda dan itu terlihat mungkin jelas di matanya.
"aku baik-baik saja kok jadi jangan khawatir ya kalau aku sedang memikirkan sesuatu, lebih baik kamu istirahat Supaya besok kita bisa pergi dari sini soalnya aku rasanya tidak betah! "Pinta Aulia dengan wajahnya yang memang benar-benar sangat menyedihkan kalau menurut versinya Nina.
"Memangnya ada apa di sini perasaan ini tempat sangat nyaman deh, terus kamu lihat tuh para bule selalu saja datang ke sini karena memang hotel paling terbaik di daerah ini ya di sini saja! Kalau memang alasan kamu itu bisa membuat aku percaya dan juga terdengar masuk akal ya aku bakalan mengerti, tetapi kalau kamu hanya ingin menjauh dari masalah kamu juga ya sudah aku juga bakalan tetap mendukung kok! " Nina tidak ingin menjadi seorang sahabat yang egois karena biar bagaimanapun mereka datang ke tempat itu hanya ingin membuat Aulia merasa tenang dari semua masalah yang ia hadapi meskipun sampai sekarang masalahnya seperti apapun dirinya tidak tahu.
"Aku tuh hanya merasa kurang nyaman seperti ada seseorang yang tengah memantau gerak-gerik kita berdua, itu entah dari Mas Bagas atau pria aneh yang kita temui tadi di lobby! "jelas Aulia.
"Anjir lu, kita sudah selari sejauh ini ternyata kamu punya panggilan sayang ya untuk suami kamu? Wah ternyata hubungan kalian sudah sampai sejauh itu, kalau begitu caranya Lebih baik aku antar kamu pulang saja! "goda Nina.
"Aku lagi serius be*o, kenapa kamu malah ajak bercanda seperti itu? "sungut Aulia memasang tampang cemberutnya karena menurutnya memang curhat terhadap Nina itu sepertinya dirinya melakukan sebuah kesalahan fatal.
__ADS_1
"Ya sudah nanti besok pagi-pagi kita pergi liburan di Pulau Komodo saja deh, soalnya di sana itu katanya destinasi wisatanya lebih keren dan aku yakin suami kesayangan kamu pasti tidak akan pernah menemukan kamu selama kita di sana! "tawar Nina ya Otomatis disambut dengan begitu antusias oleh Aulia.
Ketika kedua wanita itu sedang planning tentang jalan-jalan mereka ke depannya berbeda dengan Deni dan juga Shinta, kedua manusia paruh baya itu merasa benar-benar khawatir dengan putrinya sebab dari tadi mereka hubungi tidak bisa sama sekali karena nomor Aulia itu selalu di luar jangkauan.
"Aulia ke mana sih Abah, Kok dari tadi tidak bisa dihubungi sama sekali? Umi kan sudah bilang dari itu hari sebelum menjodohkan mereka berdua, kita harus cek dulu kira-kira sifat calon menantu kita itu seperti apa jangan sampai anak kita bakalan makan hati nantinya. "ujar Santi yang benar-benar tidak menyukai keteguhan hati suaminya waktu itu ketika Aulia menolak untuk dinikahkan dengan Bagas.
"Semua kan sudah terlanjur terjadi Umi jadi kalau mau marah sekarang juga rasanya percuma saja, jadi lebih baik Coba hubungi Aulia sekali lagi jangan sampai tadi Mungkin ponselnya dicharge jadinya dia menonaktifkannya! "perintah Deni sekali lagi sebab Entah mengapa ketika terakhir kali dirinya menghajar Bagas Saat itu pula dirinya sedikit was-was dengan Perangai menantunya itu.
"Sama saja nomor ponselnya tidak bisa dihubungi, terus kita harus tanya kepada siapa coba supaya bisa tahu keadaan Aulia sekarang?"Santi benar-benar dibuat kebingungan dan juga tidak tahu lagi harus berkata apa karena Aulia yang tidak bisa dihubungi seperti ini membuat wanita itu ingin pergi menghampiri Bagas di kediamannya dan juga memastikan keadaan anaknya sendiri dengan mata kepalanya.
"Ya sudah lebih baik kita tidur saja nanti besok baru dicoba hubungi lagi kalau memang tidak bisa baru Abah yang bakalan bertindak, yang penting intinya sekarang Umi jangan panik karena bukan anaknya umi sendiri Aulia itu melainkan anaknya Abah juga tetapi kita harus berpikiran jernih! "ujar Deni yang memang benar sudah tidak ingin dibantah karena meskipun dirinya cemas memikirkan Aulia tetapi tidak perlu juga mengganggu tidur orang lain di jam yang hampir tengah malam seperti ini.
Santi yang ingin berkomentar pun tidak jadi karena memang suaminya itu benar kalau sekarang itu jam istirahat tidak enak juga kalau mengganggu orang, lagian masih ada hari esok untuk mencari tahu keadaan Aulia karena anak mereka itu juga sudah besar otomatis pasti bisa menjaga dirinya dengan sebaik mungkin.
Bagas malam ini dikiranya mungkin menjauh dari rumah dan juga tidak melihat kamar tempat dirinya dan Aulia memadu kasih bakalan tidur dengan nyenyak, ternyata apa yang dia Harapan itu benar-benar tidak sesuai dengan kenyataan karena buktinya sekarang pria itu malah hanya berbaring di atas ranjang dan menatap ke arah langit-langit kamar yang kosong.
Entah setan dari bagian mananya sampai-sampai Bagas mau melakukan semua itu sampai berkali-kali, lalu setelah itu pergi ke kamar mandi tanpa mengucapkan permintaan maaf yang layak kepada istrinya itu. Karena dikiranya itu semua merupakan tugas tanggung jawabnya Aulia untuk melayani dirinya, maka dari itu ketika ia menginginkannya papan saja dan di mana saja wanita itu harus siap untuk melayaninya tanpa berkomentar ataupun menolaknya.
Saat bersenggama dengan Aulia memang itu perasaannya sangat berbeda ketika bersama dengan kedua istrinya, namun bukannya dirinya menghargai hal tersebut tetapi malah melakukannya secara membabi buta seolah Aulia merupakan wanita bayaran.
"Kenapa tadi aku sampai melakukan semua itu kepadanya, padahal dia jelas-jelas menolak semua yang kulakukan? Aku begitu bodoh sampai menyakitinya seperti itu, padahal saat bersamanya aku benar-benar merasa nyaman berbeda dengan Safira Dan juga Davina!"gumam Bagas.
Bagas mengambil ponselnya lalu kembali mencoba menghubungi Aulia jangan sampai sekarang nomor wanita itu sudah bisa dihubungi, tetapi sayang Harapan tidak sesuai dengan kenyataan karena buktinya sampai sekarang nomor Aulia masih di luar jangkauan.
Merasa bahwa usahanya itu bakalan sia-sia Bagas memilih membuang ponselnya itu asal tidak peduli jika benda tersebut bakalan hancur, karena uang bukan sebuah masalah yang besar baginya jika rusak ya tinggal dibeli lagi.
__ADS_1
Dimas hari ini Sedikit merasa lega karena ternyata Bagas tidak menyuruhnya begadang malam ini untuk mencari Aulia, entah mungkin pria itu sedang merututi semua kesalahannya sudah ia lakukan atau apapun itu yang penting intinya hanya satu ia bisa tidur dengan tenang.
"Aku sebenarnya kasihan kepada Tuan Bagas yang semenjak menikah dengan Nyonya Aulia terlihat begitu uring-uringan yang tidak jelas, tetapi kalau memang cinta ya tinggal jujur saja kenapa harus gengsi seperti begitu alhasil semua orang jadi pusing kan?"Dimas tahu perasaan majikannya itu terhadap istri ketiganya karena sangat berbeda terlihat lebih posesif dan juga perhatian namun Bagas sampai sekarang tidak mengakui perasaannya itu.
**Astaga guys aku tuh lagi tulis ini novel pakai Google Voice, dan asal kalian tahu entah bagaimana ceritanya tiba-tiba selalu saja muncul huruf yang banyak thyponya!! Alhasil pasti kalian mengira aku selalu memasukkan kata-kata yang tidak perlu, padahal itu masuknya otomatis saat aku sudah selesai edit dan siap tinggal mengirim naskah saja🙏🙏🙏...
Lanjut****
Aulia Nih Gaess
Arsen Valland
Bagas Sanjaya
...****************...
Keesokan paginya terlihat Aulia dan juga Nina sudah bersiap-siap untuk pergi meninggalkan hotel tersebut, sebab sebelum semua penghuni yang lain bangun mereka harus segera menghilang karena takut nanti bakalan bertemu dengan Arsen si pria gila yang sok kenal dengan mereka berdua.
"Ya ampun Astaga Nina bisa tidak bangunnya lebih cepat sedikit, siapa suruh semalam begadang orang aku yang punya masalah saja tidur dengan nyenyak! "Sungut Aulia karena memang Nina dari tadi itu dirinya sudah berberes semuanya wanita itu belum tampak bakalan beranjak dari peraduannya.
__ADS_1
"Mami please Aku Lagi Ingin tidur tenang sekarang, kalau Mami mau bangun dan pergi ya sudah silakan saja tetapi tolong saat ini aku masih pengen molor! "tolak Nina karena memang yang dikiranya itu dia sudah berada di rumah bersama dengan kedua orang tuanya.