Menjadi Yang Ke-3

Menjadi Yang Ke-3
Episode 53


__ADS_3

Aulia tentu saja tidak terima ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Indira tadi,sebab menurutnya jika dirinya diam saja maka bisa dipastikan Safira bakal bersikap seperti itu terus dan tetap tidak akan pernah berubah.


Bagas tersenyum bahagia ketika mendengar kalau sebenarnya Indira itu punya bakat untuk menyatukan dirinya dan juga Aulia, karena buktinya sekarang ia yakin istrinya itu pasti tidak bakalan tinggal diam ketika mendengar anak yang ia sayangi itu disakiti oleh orang terdekat.


"kamu memang paling terbaik Indira karena dengan cara kamu seperti begitu Papa yakin tidak lama lagi Bunda kamu pasti bakalan langsung pulang, kalau setiap hari kamu berguna seperti begini Papa yakin Bunda kamu tidak akan pernah lagi bisa macam-macam ataupun berniat untuk minggat dari sini!"Bagas sangat merasa bahagia dan kali ini dirinya hanya melihat Indira menggunakan rayuan mautnya agar bisa membuat Aulia kembali ke rumah itu.


"Memangnya kapan terakhir Mami Safira menyakiti kamu ? " tanya Aulia memastikan takutnya jangan sampai barusan tadi Safira menyakiti Indira maka dengan itu bisa dipastikan ia akan pulang dan langsung menghajar wanita itu habis-habisan.


"Sebenarnya baru saja terjadi kemarin, tetapi dia itu kan melakukannya tiap hari. Jadi aku yakin sebentar lagi pasti dia bakalan menyakitiku, tahu sendiri kan dia itu hobinya seperti apa sampai-sampai Indira saja takut pulang ke rumah!"Indira Sebenarnya bukan hendak berbohong tetapi memang itulah kenyataannya kalau Safira mungkin karena tidak punya anak makanya ketika melihat Indira keluyuran di dalam rumah itu pasti bakalan marah-marah tidak jelas kepada gadis kecil yang tidak punya salah sama sekali itu.


"Oh my God! Oke kamu dengarkan apa yang Bunda katakan ya Dan tolong jangan melupakan hal sepenting ini! Kamu pergi ke ruangan kerja Papa kamu terus suruh dia keluar dari rumah itu sekarang, baru Bunda mau pulang Tetapi kalau dia masih nongol di situ Bunda tidak akan pernah pulang!"Bagas membulatkan matanya sempurna karena tidak percaya dengan syarat yang diberikan oleh Aulia barusan.


Indira menatap ke arah Papanya sambil mengangkat kedua bahunya karena memang keputusan itu terletak di tangan Aulia dirinya mah bisa apa, dan balik lagi kepada Bagas kira-kira mau tidak mengabulkan permintaan dari Bunda tercintanya itu.


"Gimana mau atau tidak?"tanya Aulia lagi membuat Bagas selalu tidak mau menganggukkan kepala menyuruh Indira mengatakan bahwa dirinya Bakal pergi.


"Nanti aku bakal kasih tahu Papa deh, Tapi tadi aku dengar katanya Papa bakalan keluar kota. Jadi tidak masalah dong kalau Bunda pulang saat ini juga, Soalnya papa kan orangnya paling sibuk!"jelas Indira membuat Aulia hanya bisa menghembuskan nafasnya lega karena akhirnya tidak bakalan menatap wajah suaminya itu dalam beberapa hari kedepan.


"Ya sudah kalau begitu Bunda bakalan pulang saat ini juga, kamu baik-baik di situ ya Bila perlu jangan keluar dari kamar kamu terus Kunci pintunya dari dalam karena Bunda bakalan menjaga kamu setelah sampai di situ!"Indira begitu bahagia setelah panggilan antara dirinya dan juga Aulia sudah dimatikan sedangkan Bagas langsung merasa lemas seketika Ternyata apa yang ia harapkan tidak sesuai dengan kenyataan yang bakalan terjadi.


Indira memilih tidak ambil pusing ketika Papanya Itu sangat stres karena menurut dia itu merupakan urusan orang dewasa, urusan anak kecil itu hanya ingin bertemu dengan Aulia dan setelah itu menghabiskan waktu dengan wanita yang sangat ia sayangi meskipun baru hitungan jam masuk di dalam kehidupannya itu.

__ADS_1


"Aku kembali ke kamar dulu ya papa soalnya mau tunggu Bunda Aulia pulang, Papa lebih baik pergi ke kamarnya Mama Shafira saja biar Bunda Aulia tidak melihat Papa dengan begitu dia tidak bakalan kabur lagi!"bujuk Indira yang terlihat begitu saja bahkan tidak ada bersalah di dalam kata-katanya mungkin karena anak itu masih kecil jadi belum paham dengan apa yang ia katakan itu.


Bagas menatap tak percaya ke arah putrinya itu karena bisa-bisanya mengusir dirinya dan menyuruhnya masuk ke dalam kamarnya Safira, padahal yang ada dalam pikirannya sekarang itu Aulia bukan kedua istrinya yang lain.


Indira yang melihat Papanya tidak bergerak sama sekali langsung menarik tangan Bagas agar segera ikut dengannya, anak kecil itu membawa Bagas menuju ke kamarnya Safira sebab menurutnya kalau Bagas tidak sembunyi otomatis Bunda Aulia tidak akan pernah pulang.


"Apa itu kalau dibilangin kok melawan sekali sih? Nanti kalau Papa terus berada di kamarnya Bunda, kalau Bunda lihat pasti dia tidak akan mau pulang bahkan mungkin dia lari lagi!"sungut Indira sambil memasang wajah cemberutnya karena Papanya itu sangat sulit sekali untuk dibilang.


"Yah kamu kok malah ikutan usir papa sih? Padahal kamu itu harus ngebela Papa saat Bunda kamu itu marah-marah, jadi lebih baik Biarkan saja Papa di dalam kamarnya Bunda Aulia ya! Soalnya Papa itu capek banget pengen istirahat!"pinta Bagas penuh permohonan tetapi Indira menggoyangkan jari telunjuknya pertanda tidak memberikan izin sama sekali.


"Big no! Pokoknya aku tidak akan pernah mengijinkan Papa berada di dalam kamarnya Bunda, karena tadi itu Bunda sendiri yang ngomong tidak mau bertemu papa. Jadi sekarang lebih baik Papa pergi ketemu sama Mami Safira, supaya dia jangan marah-marah kepada Indira lagi dong!"Indira memang tidak paham apapun masalah orang dewasa karena yang ada di pikirannya semua permintaan Aulia harus ia turuti jika ingin wanita itu kembali lagi ke rumah itu.


Bagas melihat semua yang dilakukan oleh Safira tapi ia memilih untuk tidak ambil pusing karena pikirannya sekarang sedang berada di tempat lain, ketika Safira mendekatinya ia pun memberikan kode agar wanita itu jangan pernah macam-macam ataupun meminta hal yang lebih karena moodnya sedang buruk.


"Aku ke sini hanya numpang istirahat bukan untuk mau mengganggu kamu! Jadi silakan lanjutkan saja kegiatan kamu tadi, karena sepertinya tadi itu kamu asik sekali lho dengan ponsel. Jadi untuk apa kamu hentikan semua ya karena aku juga tidak akan melarangnya?"tanya Bagas santai lalu memilih untuk tidur di sofa yang ada di situ bahkan tidak ada niatan untuk tidur 1 ranjang dengan Safira membuat wanita itu mendengus kesal.


"Kalau kamu kesini Tetapi malah memilih untuk tidur di sofa lebih baik kamu pergi menemui istri kamu yang lain yaitu Davina ataupun istri ketika kamu yang tidak berguna itu, soalnya masa iya kita dekatan begini tapi tidak boleh saling bersentuhan kamu itu tidak sekali lho Mas!"sungut Safira memasang wajah cemberutnya tetapi Bagas memilih tidak peduli karena sebenarnya pria itu sedang menajamkan telinganya jangan sampai ada suara Aulia yang datang ke rumah itu.


Davina menatap heran ke arah Putri kecilnya Karena sekarang malah duduk sendirian di ruang tamu seolah sedang menunggu sesuatu, maka dari itu ia pun memilih untuk mendekatinya dan mencoba mencari tahu sebenarnya apa yang diinginkan oleh Indira.


"Kamu ngapain duduk sendirian di sini bukannya tidur di dalam karena besok kan harus sekolah, ayo cepat Jangan kayak orang gede saja tidak punya kerjaan jadi memilih untuk begadang tidak jelas seperti ini! "perintah Davina tetapi Indira menggelengkan kepalanya pertanda tidak mengikuti apa yang diperintahkan oleh Mamanya itu.

__ADS_1


"Pokoknya aku tetap bakalan ada di sini sampai Bunda Aulia pulang, kalau Mama mau tidur ya sudah tidur saja aku kan tidak minta buat Mama menemaniku? "tolak Indira membuat Davina hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar dan memilih untuk meninggalkan putrinya itu terserahlah mau berbuat apa Bukankah Indira masih tetap berada di dalam rumah Jadi otomatis masih aman.


"Ya sudah kalau misalnya sebentar Bunda datang, ingat ya jangan lupa langsung tidur! Soalnya besok harus sekolah, kalau mau tidur jangan gangguin Bunda sama papa Ya! Kasihan loh bunda pasti capek setelah seharian bekerja di luar, dan sebagai anak yang baik kamu harus mengerti dengan keadaan orang tua!"perintah Davina sambil tersenyum dan Indira mengangkat kedua jempolnya tinggi-tinggi pertanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh Mamanya barusan.


Sepeninggal Davina terlihat Indira berpikir keras karena dirinya tidak terima jika Aulia bekerja sedangkan Davina dan juga Safira Hanya duduk saja, dirinya kasihan pasti Aulia yang memberikan mainan kepadanya kemudian jajannya setiap hari.


"Jadi selama ini uang yang dikasih untuk aku jajan dan juga sekolah itu miliknya Bunda Aulia bukan dikasih sama mama Davina, Wah aku harus ngomong ke Papah nih tidak boleh menyuruh Bunda untuk bekerja lagi soalnya dia pasti capek!"gumam Indira dalam hati dan berpikir bahwa keputusannya itu memang tidak salah.


Silvia menatap heran ke arah Aulia yang terlihat sudah mulai berkemas padahal wanita itu katanya bakalan menginap di apartemennya, dirinya merasa was-was Jangan sampai ada kata-katanya yang salah sampai-sampai membuat Aulia tersinggung dan memilih untuk pergi dari situ.


"Ini sudah malam Nyonya, apa Nyonya Mau pulang atau gimana?"tanya Silvia penasaran.


Aulia yang mendengar pertanyaan dari para pegawai suaminya itu hanya tersenyum saja sebab dirinya tahu pasti Silvia sudah memikirkan yang tidak tidak, padahal sebenarnya niatnya untuk keluar dari rumah situ karena permintaan dari Indira yang tidak mungkin ia tolak.


"Jam segini masih banyak kendaraan yang lewat Jadi kamu jangan merasa khawatir ya! Oh iya terima kasih karena kamu sudah mau menampung saya selama beberapa jam tadi, dan Maafkan saya kalau dari tadi sudah merepotkan kamu dan tidak berguna dengan membuat kamu sendiri yang kewalahan!"jelas Aulia yang merasa tidak enak hati.


"justru saya yang merasa tidak enak hati kalau Nyonya tiba-tiba pulang dari sini Padahal tadi katanya bakalan menginap, apa kalau memang mau pulang Setidaknya saya yang mengantarkan saja biar lebih aman dan juga pastinya tidak perlu menunggu kendaraan lebih lama lagi? "tanya Silvia menawarkan bantuan sebab tidak mungkin dirinya meninggalkan Aulia sendirian di tengah jalan untuk menunggu kendaraan yang lewat Takutnya kalau sampai Bagas tahu bisa berabe urusannya nanti.


"kamu itu Seharian sudah bekerja sedangkan saya hanya bisanya menyusahkan orang jadi lebih baik kamu istirahat pulihkan tenaga kamu untuk besok kembali bekerja dengan fit, saya harus kembali ke rumah karena tadi Indira menelpon meminta saya untuk pulang makanya saya tidak tega terhadap anak itu!" jelas Aulia membuat Silvia merasa lega karena ternyata kepergian wanita itu memang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.


"entah mau bagaimanapun tetap saya yang bakalan mengantar Nyonya pulang dan tolong jangan menolak tawaran yang saya berikan ini, selain bisa memastikan Nyonya sampai di tempat tujuan dengan nyaman dan juga aman Saya juga harus memastikan kalau tidak bakalan kena marah dari Tuan Bagas besoknya!"Aulia hanya bisa menganggukan kepalanya karena memang dilihat dari wajah khawatirnya Silvia itu membuat dirinya juga merasa tidak tega kalau sampai membuat orang lain kesulitan hanya karena dirinya.

__ADS_1


__ADS_2