My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 10: Kind Woman In Orphanage


__ADS_3

"Kalau begitu, sekali lagi terima kasih ya, Alana. Aku akan pulang dan membiarkan Caca istirahat."


Wanita itu mengucapkan terima kasih. Alana menyunggingkan senyuman dan mengangguk, membiakan wanita dan putrinya berlalu dari tempat itu.


"Ala?"


Arana berbalik, menemukan Alva berjalan mendekatinya dengan dua cup cappuchino ditangannya. "Apa aku membuatmu menunggu lama?"


Arana menggeleng. "Ah, tidak."


"Gadis itu baik sekali. Berjiwa keibuan sejak usia dini."


"Baik sekali bisa menenangkan anak yang menangis tadi. Dia pasti bisa menjadi ibu yang sangat baik."


"Lagipula bukankah dia terlihat sangat cantik?"


Orang-orang berbisik sembari memandang Arana. Alva yang menyadari itu segera mengangkat alisnya bingung. "Bayi? Apa yang kulewatkan? Mengapa mereka berbisik dan melihat kearahmu?"


Arana ingat bahwa Alana pernah mengatakan bahwa dia tidak suka anak kecil. Mereka berliur dan berisik. Fakta ini bukan lagi rahasia, dan hampir semua orang tahu bahwa Alana tidak suka anak kecil. Jadi, Alva tidak boleh sampai tahu bahwa dia baru saja menenangkan seorang bayi.


Arana menggeleng. "Membicarakanku? Mungkin mereka kagum dengan aku yang cantik. Oh, apa ini cappuchino ?"


Ia mengalihkan perhatian lagi.


Alva mengangguk dan menyerahkannya pada Arana yang dengan segera menenggaknya. Ia menampilkan senyuman manis. "Sangat enak, terima kasih ya~"


"Sama-sama. Kamu selalu suka cappuchino. Apalagi dengan tambahan granolla atau lapis caramel." Ujar Alva.


Gadis itu mengulas senyuman.


Arana, sama sekali tidak menyukai kopi.


"Kita sudah berkeliling cukup lama di mall. Apa tidak ada yang ingin kamu beli?" Tanya Alva ditengah jalan-jalan mereka di mall.


Arana menggelengkan kepalanya dan memasang wajah sedikit datar seakan tidak memiliki minat pada apapun yang ada disana, meskipun yang sebenarnya adalah bahwa dia tidak tahu apa yang harus dia beli. "Tidak ada yang menarik. Aku tiba-tiba malas untuk berbelanja."


"Kalau begitu, ingin pulang atau ketempat lain?" Tawar Alva.


Arana menjawab, "Aku ingin pulang."


Alva mengangguk. "Kalau begitu aku akan mengantarmu kembali."


"Mn, baik—"


Drt~ Drt~


Ada suara getar disaku Alva. Pria muda itu mengambil ponselnya dan membukanya. Air mukanya berubah, dan Alva nampak menatap ponselnya selama beberapa waktu dalam keheningan. Arana terlebih dulu bertanya, "Ada apa?"

__ADS_1


Alva menahan perkataannya dan menjawab dengan ragu. "Ada beberapa berkas yang harus segera kutandatangani. Ini sangat tiba-tiba."


Arana mengerti betapa sibuknya Alva. Sebagai pengusaha sukses tentu saja pria muda itu tidak memiliki banyak waktu luang untuk sekedar mengantar kekasihnya berkeliling mall.


Ia berkata, "Tidak masalah untukku memesan taksi."


Alva memandang Arana. "Benarkah? Tapi—"


"Pergilah sebelum aku berubah pikiran." Ujar Arana meniru Alana semirip mungkin.


Alva nampak ragu selama beberapa detik sebelum menganggukkan kepalanya. "Aku akan memesankan taksi untukmu dan memastikan dia mengantarmu sampai kerumah."


"Mn," gumam Arana mengangguk.


Sepuluh menit kemudian, sebuah taksi kuning mendekat dan berhenti didepan keduanya. Alva membukakan pintu belakang dan membiarkan Arana masuk kedalam taksi. Sebelum membiarkan Arana masuk, ia menahannya dan mendaratkan kecupan ringan didahinya.


"Kemudian, aku akan menunggumu dihari pernikahan kita." Ucap Alva membantu Arana masuk.


Arana sedikit terbengong sebelum semburat kemerahan timbul dikedua pipinya. Ia menunduk dan menahan jeritannya saat kini ia kehilangan kesucian dahinya.


"Pak, tolong antar istri saya sampai ditujuan tanpa terluka sedikitpun."


Supir taksi mengangguk. "Baik, tuan!"


"Sampai jumpa~"


"Pak." Diperjalanan, Arana memanggil supir taksi itu.


Pria setengah baya itu merespon. "Ya nona?"


"Apa didekat sini ada panti asuhan?" Tanya Arana.


Supir taksi itu nampak diam selama beberapa saat sembari berpikir sebelum menjawab. "Ada nona! Itu beberapa blok darisini."


"Tolong antar saya kesana, pak."


Pak supir nampak ragu. "Tapi tuan tadi menyuruh saya mengantar nona sampai ketempat tujuan. Takutnya jika suami nona tahu, tuan tadi bisa marah."


Arana tersenyum, "Maka jangan sampai kekasih saya tahu pak. Kita bisa merahasiakan ini. Tolong antar saja saya kepanti asuhan itu."


"Um, baiklah kalau begitu."


Arana mengangguk. "Kita mampir ke restoran didepan sana dulu ya, pak."


Setelah membeli banyak sekali bungkusan makanan, Arana kembali ketaksi dan kembali meneruskan perjalanan menuju panti asuhan terdekat. Setelah sepuluh menit perjalanan, barulah Arana sampai.


Gerbang masuk panti asuhan itu memiliki papan nama yang bertuliskan—Panti Asuhan Matahari.

__ADS_1


Arana menoleh, "Pak. Sekali lagi jika kekasihku tadi menelpon bapak bertanya apakah saya sudah diantar sampai kerumah, tolong jawab saja sudah."


Pria itu mengangguk, "Baik nona."


Setelah taksi itu pergi, Arana dengan dua kantung plasik besar ditangannya melangkah memasuki panti asuhan. Ada banyak sekali anak-anak berbeda usia yang tengah bermain-main disana. Entah itu bermain bola sepak, bermain bulu tangkis atau sekedar duduk-duduk dan menonton mereka yang bermain.


Ketika melihat kedatangan Arana, seseorang diantara mereka segera berlari untuk memberitahu Ibu panti setelah beberapa saat membuat keributan samar.


Beberapa anak kecil datang menghampiri Arana dengan wajah penasaran. "Halo, selamat datang!"


"Halo~" Sapa Arana.


"Kakak siapa? Ada urusan apa ya kemari?"


Arana menjawab pertanyaan salah satu dari mereka––gadis berambut keriting berkulit sawo matang. Nampaknya dia yang terbesar diantara mereka, gadis yang kira-kira menginjak usia enambelas tahun. "Halo manis~ Nama kakak Alana, mulai sekarang kakak bakal sering main kesini. Ngomong-ngomong kakak bawa makanan. Dimakan sama-sama, ya~"


Ia menyerahkannya dan disambut sukacita oleh mereka. "Makasih banyak, kakak cantik!"


Arana mengulas senyuman, "Sama-sama."


Katrina––gadis tadi, mengajak Arana masuk. "Masuk kak. Tadi Mico udah manggil bunda. Ngobrolnya sama bunda didalam aja, kak."


Arana mengangguk dan menjawab sama ramahnya dengan Katrina. "Maaf ngrepotin, ya .. em? Siapa namamu?"


"Katrina kak." Jawab Katrina.


"Nah, terima kasih Katrina." Ulang Arana selepas mengetahui nama Katrina.


Gadis itu mengangguk, dan mengarahkan Arana untuk masuk keruang tamu panti asuhan yang cukup besar itu. Nuansa panti asuhan menyenangkan, dan Arana yakin pasti Ibu panti disini benar-benar orang yang baik.


"Oh, ini tamunya. Selamat datang! Silakan duduk, silakan duduk!"


Ibu panti disini adalah seorang wanita berusia limapuluh dua tahun. Ia mengenakan kerudung berwarna biru gelap dan memiliki wajah teduh dengan senyuman lembut.


"Perkenalkan, nama saya Lina. Anak-anak panti biasanya memanggil saya bunda Lina." Katanya memperkenalkan diri terlebih dahulu.


"Nama saya Alana, bunda Lina. Dan maksud kedatangan saya kesini untuk menjadi donatur bagi panti asuhan ini. Tetapi mohon maaf jika yang saya berikan tidak seberapa, bunda. Tetapi tolong lihat dari keikhlasan saya." Kata Arana.


"Baik hati sekali kamu. Terima kasih sudah bersedia membantu anak-anak dipanti ini, nak." Ucap ibu panti.


Arana tersenyum. "Saya hanya perantara bunda. Tetapi bundalah yang berjasa besar bagi anak-anak disini."


"Tidak, bunda sudah merasa itu adalah kewajiban bunda untuk membantu mereka yang kesusahan. Melihat anak-anak yang ditelantarkan membuat hati bunda sangat sakit. Jadi bunda membangun panti asuhan ini sebagai rumah mereka. Sekarang kami adalah keluarga." Ucap Lina.


Arana yang mendengarnya tersenyum.


"Wanita yang sangat baik."

__ADS_1



__ADS_2