My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 82: Anxiety And Kidnapping


__ADS_3

Alva sampai lebih awal dari perkiraannya. Pada pukul 4 dini hari, Alva sudah sampai di apartemennya. Ia dengan terburu meninggalkan Erlan yang mengangkat alisnya dan mengikutinya dengan santai, tidak sama dengan langkah Alva yang besar.


Dalam dua menit, Alva sudah sampai di depan pintu apartemennya. Ia memasukkan sandi apartemen dan melangkah masuk. Lampu menyala secara otomatis ketika ada seseorang yang masuk. Ruangan bersih, tertata rapi sama seperti ketika dia pergi, namun tidak ada tanda-tanda seseorang berada disana. Alva dengan positif mencoba berpikir Arana ada didalam kamarnya, akibatnya ketika dia membuka pintu kamar, dia panik.


"Sayang?"


"Sayang?!"


Mendengar Alva memanggil Arana begitu dia melangkah memasuki apartemen Alva, Erlan mengerutkan keningnya dengan bingung. Baru saja dia hendak membuka bibirnya untuk bertanya, Alva terlebih dahulu membuka suara. "Arana tidak ada disini. Dia belum kembali!"


Erlan mengerutkan keningnya. "Dia seharusnya sudah sampai sejak beberapa jam yang lalu. Bagaimana mungkin dia belum sampai?"


Menyadari keanehan ini, Erlan segera berkata, "Aku akan mengeceknya." Dan berlari keluar sesegera mungkin ketika Alva meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Arana dengan kekhawatiran yang tercetak jelas diwajahnya.


Nada khas yang menyatakan bahwa nomor tersebut tidak aktif membuat wajah Alva semakin menggelap. Ia dengan tegang terus menerus mengulangi tindakannya, berharap bahwa Arana akan mengangkat panggilan teleponnya. Namun usahanya selama hampir sepuluh menit itu gagal. Ia hampir membanting ponselnya dengan marah ketika Erlan dengan cepat masuk dengan membawa sebuah ipad yang menampilkan sebuah gambar.


"Bos! Anda perlu melihat ini!!" Teriaknya sambil terengah, berlari kesana kemari memakan banyak tenaganya.


Ia menyerahkan ipad itu kepada Alva yang segera menyimak video yang ditampilkan. Itu adalah video yang ditangkap dari kamera mobil. Disana setelah Arana turun dari taksi online, seorang pria berjaket hitam dan bermasker hitam yang bersembunyi dibalik pilar menampilkan dirinya dibelakang Arana. Ketika Arana berbalik, pria itu melancarkan aksinya yang membuat urat nadi didahi dan dileher Alva menyembul.


Matanya yang gelap mengawasi setiap kejadian didalam video. Ketika pria itu menjambak dan menyeret Arana yang pingsan, kemarahan membuatnya meremat ipad itu begitu kuat hingga retakan muncul dilayar ipad itu. Pada akhirnya, Alva membantingnya dan segera memandang Erlan yang meneguk ludah dengan kasar.


"Temukan dengan segera!" Tegasnya.


"Aku tidak peduli siapapun yang akan kau gunakan untuk menangkapnya dan mencari Arana, namun aku ingin orang itu ditangkap hidup-hidup."


Erlan memejamkan mata dan menganggukkan kepalanya. Tuhan, mengapa cobaan datang terus berganti? Bisa tidak sih, sahabatnya itu tenang, bahagia dan damai saja?

__ADS_1


Kemarahan dan sikap kejamnya benar-benar membuatnya kewalahan, oh astaga!


Meninju dinding kamarnya, manik Alva penuh dengan dorongan pembunuhan. Siapapun yang melakukan hal itu kepada Arana, dia tidak akan melepaskannya!


"Sayang, tunggulah sebentar. Aku akan segera menyelamatkanmu." Bisiknya penuh pada udara kosong, berharap malam menyampaikan bisikannya pada Arana yang entah saat ini berada dimana.


...***...


Disisi lain, jauh dipedalaman hutan, sinar matahari mengganggu Arana, dan membuatnya membuka mata. Maniknya berkedip selama beberapa waktu sebelum dia bisa menyesuaikan apa yang bisa ditangkap retina matanya.


"Hah?" Kagetnya.


Jantungnya berdentum dengan keras ketika maniknya melihat kedalaman jurang dibawahnya. Maniknya melihat kakinya yang hanya berjarak dua jengkal dari jurang, dan dengan segera keringat terbentuk didahinya, apalagi ketika merasakan bahwa kedua tangannya tidak bisa bergerak bebas, sama seperti tubuhnya. Ketika dia menengok kebawah, dia menyadari bahwa dia diikat dan diikat kesebuah pohon yang hampir mati.


Arana menarik napas panjang, mengeluarkannya perlahan dan melakukannya hampir beberapa kali banyaknya. Ia menenangkan ketakutannya dan pada akhirnya dengan hati-hati memperkirakan apa yang terjadi.


Kemungkinan besar penculik itu yang mengikatnya disini, namun apa tujuannya? Apa ini bukan penculikan untuk penjualan organ atau meminta uang tebusan? Apa untungnya menculiknya dan mengikatnya disini? Kecuali, jika itu seseorang yang ingin dia mati disini karena dendam atau semacamnya.


"Baiklah, semuanya akan baik-baik saja." Sugestinya.


Ia menghentakkan sepatunya, dan sebuah pisau muncul dibelakang sepatunya. Ia telah jauh-jauh hari menyiapkan sepatu semacam itu diantara sepatu-sepatunya, untuk berjaga-jaga setelah mendengar ancaman yang disampaikan oleh kelompok geng motor waktu itu. Jika dugaannya benar, ini mungkin juga ulah orang itu.


Arana menaikkan kakinya, mencoba meraih pisau dengan tangannya. Cukup sulit meraihnya, dan Arana harus menahan sakit ketika tangannya tidak sengaja tersayat oleh pisau yang tajam itu. Setelah mendapatkannya dan mulai mengiris tali, Arana berhasil bebas setelah beberapa saat. Posisi pohon itu cukup menjorok, dan Arana harus berhati-hati dalam melangkah agar tidak tergelincir yang bisa fatal baginya.


"Tidak apa, hanya perlu berjalan. Ini mudah." Gumamnya.


Sret!

__ADS_1


"Kyaa!!" Arana menjerit ketika dia tidak sengaja terpeleset. Ia jatuh, namun beruntungnya tangannya masih bisa meraih pinggiran tebing itu dan dia bernapas dengan terengah. "Ti ... tidak apa! Tidak apa! Hah! Hah! Tidak apa!"


Arana tahu bahwa jika dia tidak sigap, kepalanya mungkin sudah terbelah bebatuan dibawah sana. Ia bernapas dan mulai mengangkat kakinya untuk meraih tepi tebing, dan merangkak naik dengan susah payah. Setelah perjuangan panjang yang mempertaruhkan nyawa, Arana menjauh dari tebing dan membaringkan dirinya selama beberapa waktu untuk mengatur napas dan mentalnya. Rasa sakit dirasakannya di kakinya


"Bapa, terima kasih. Terima kasih sudah menyelamatkan saya dari maut." Gumamnya.


Setelah jauh lebih tenang, Arana meraih sakunya dan mencoba menemukan ponselnya. Seperti yang dia duga, mati kehabisan daya. Ia memandang sekelilingnya dan menemukan seonggok tas yang tergeletak di bawah pohon. Arana melangkah dengan cepat menghampiri tas itu dan memeriksa isinya. Barang-barangnya masih ada, bahkan tidak ada tanda-tanda barang yang hilang. Arana memeriksa langit, memastikan arah matahari.


Dia harus menemukan jalan keluar.


Ia memungut ranting kayu dan menjadikannya sebagai tongkat, penyingkap tanaman liar dan sebagai alat pertahanan diri jika ada sesuatu yang berbahaya.


Arana melangkah dengan cepat, namun dia terkoordinasi dan berhati-hati. Telinganya dengan waspada mendengarkan sekelilingnya dan maniknya fokus pada apa yang ada dihadapannya. Ia benar-benar harus menyelamatkan dirinya.


Ada gemericik suara air yang membuat Arana membelokkan langkahnya sedikit setelah memberikan tanda dijalan tadi. Ada sebuah mata air kecil dibawah bebatuan, dan air mengalir dari tebing atas. Arana menyibakkan tanaman liar yang tumbuh disekitarnya dan mencari daun lebar untuk ia gulung menyerupai tabung silinder yang rapi, dan menangkup air. Ia menenggaknya, menghilangkan dahaga yang dia rasakan.


"Tidak enak."


Memang tidak enak, namun dia tetap harus meminumnya dan mengambilnya agar dia tidak mengalami dehidrasi. Lagipula, air itu terlihar bersih, jernih dan cukup aman diminum. Paling banyak, mungkin dia hanya akan diare karena meminum air mentah. Tidak masalah daripada dia dehidrasi dan mati karena kehasusan. Arana menggeledah tasnya, menemukan kantong plastik dan menangkup air, menyimpannya didalamnya dan memasukkannya kembali kedalam tasnya.


Jika beruntung, dia bisa menemukan jalan atau menemukan permukiman warga yang bisa setidaknya membantunya keluar dari sana.


Setelah menyimpan air, Arana meraih bagian dasar cekungan air itu, mengambil lumpur didalamnya dan mengoleskannya keseluruh tubuhnya. Di pelajaran bertahan hidup dan keterampilan di sekolah menengah pertama tidak begitu sia-sia. Dengan mengoleskan lumpur ketubuhnya dapat membantunya mengurangi hawa aromanya dan bisa membantu melindunginya dari serangga.


"Nenek, Rana berjanji akan baik-baik saja. Sama seperti janji Rana pada nenek." Lirihnya sebelum melanjutkan jalannya.


__ADS_1


__ADS_2