
Diruang tengah, Alva, Arselyne dan Jake mengobrol dengan suguhan kopi diantara mereka. Percakapan mereka tentu seputar percakapan tentang hal-hal yang menyangkut bisnis dan beberapa hal lainnya. Sementara disisi lain, Arana, Amber dan Cella tengah berkumpul di balkon, duduk di bangku dimeja bundar dan tengah asyik menikmati es krim ditengah cuaca yang mulai menghangat.
"Es krimnya enak, kan? Cece buat sendiri lho~"
Arana tersenyum dan dengan tenang menjawab, "Apapun yang tante buat selalu enak."
Cella menyunggingkan senyuman, namun sedetik kemudian mengubah wajahnya menjadi cemberut. "Kapan Nana bakal stop panggil Cece dengan panggilan tante? Cece kan selalu minta sama Nana untuk panggil Cece saja."
"Nana cuma takut Nana tidak sopan." Ucap Arana sedikit merasa ragu. Bukannya Arana tidak mau memanggilnya begitu, hanya saja dia takut merasa dia tidak sopan.
"Tidak. Pokoknya mulai sekarang Nana harus panggil Cece pakai nama saja." Cella berujar dengan tegas sambil menyendok kembali es krim didalam mangkuk.
Amber memutar bola matanya malas. "Tante berasa pingin jadi muda lagi ya? Makannya minta dipanggil nama aja?"
"Anak nakal!"
Amber menjulurkan lidah dan menyeringai jahil sebelum menyesap es krim disendok. Amber mengalihkan tatapannya dan tidak sengaja melihat sesuatu dileher Arana. Hari itu, Arana mengenakan baju berkerah yang memang sedikit tinggi. Namun manik tajam Amber dengan jelas melihat sesuatu, sebuah kissmark.
Amber melebarkan matanya selama dua detik sebelum memanggil Arana, "Na."
"Hm?" Arana bersenandung dan mendongak menatap Amber yang masih menatapnya. Amber berucap dengan suara pelan. "Kamu sudah melakukannya dengan Alva?"
Otak Arana tersendat selama beberapa detik. "Melakukan apa?"
Amber mengangkat jari telunjuknya dan menunjuk keleher Arana yang sedikit terbuka. Leher putih itu memiliki cukup banyak kissmark yang dihasilkan oleh Alva saat keduanya berhubungan semalam. Manik Arana melebar dan ia dengan segera membenarkan kerah bajunya dan berusaha sebaik mungkin menutupi lehernya. Namun Amber dan Cella juga sudah memperhatikkannya.
Arana dengan ragu dan malu menganggukkan kepalanya. "Iya, kami melakukannya semalam."
"Apa ini? Nana kesayangan Cece sudah sepenuhnya dewasa!"
Amber memandang Arana dan tidak berbicara sampai beberapa waktu kemudian dia berkata, "Bagaimana jika kamu hamil, Na?"
Ada keheningan selama beberapa waktu. Arana dapat dengan mudah mengerti maksud Amber. Bagaimana jika dia memiliki seorang bayi dan Alana kembali?
Pada saat dia melakukannya dengan Alva, Arana sudah bertekad. Bahkan kelak ketika ada bayi dari hasil hubungan mereka, ketika Alana kembali, Arana akan pergi dan membawa bayinya pergi. Dia akan hidup dengan bayinya, dan dia tidak akan mau tahu dengan urusan Alana. Entah dia akan mengatakan bahwa dia keguguran atau bayinya diculik atau bahkan membongkar kebohongan mereka selama ini, Arana sudah puas merasakan cinta yang diberikan oleh seseorang kepadanya, meski yang ia tahu, cinta itu bukan untuk Arana.
"Apa maksudmu? Jika aku punya anak, anak kita akan menjadi teman bermain dan akan menjadi sahabat. Jika mereka laki-laki dan perempuan dan mereka saling menyukai, kita mungkin bisa menjadi besan."
Arana berucap dengan senyuman. Namun jauh dilubuk hatinya, tetap ada rasa sakit yang menancap bak duri dihatinya. Cella memandang Arana yang melanjutkan kembali makan es krim sebelum melirik Alva yang duduk diruang tamu dengan tatapan dingin.
__ADS_1
Tidak sadar akan tatapan Cella, Alva masih sibuk mengobrol dengan Arselyne dan Jake yang nampak asyik menceritakan apapun yang bisa mereka bahas, ketika sebuah suara deru mobil mewah menarik atensi mereka semua.
Ada sebuah mobil yang memasuki halaman. Mobil merah itu berhenti disamping mobil Alva dan seseorang melangkah keluar.
"Camio!"
Alva melihat Arana berseru senang dengan wajah gembira dan berlari menuju pintu. Amber dan Cella mengikuti dibelakangnya, yang membuatnya juga mengikuti bersama dengan Arselyne dan Jake. Maniknya menyipit memandang pria muda yang melangkah turun dari mobil dan dengan gaya cool menyugar rambutnya kebelakang. Jadi dia Camio?
Alva melihat Arana berlari dengan riang dan melihat pria itu merentangkan tangannya sembari berjalan. Nampak seolah akan memeluk Arana. Maniknya melebar dan dia melangkah dengan terburu untuk menyusul sebelum langkahnya terhenti mendadak ketika melihat Arana dengan tenang melewati pria itu yang juga melewati Arana. Pria muda itu justru dengan tenang memeluk Cella.
"Mama masih cantik hari ini." Kata pria itu.
Cella menjewer telinganya. "Masih ingat pada mamanya, huh?"
Sementara Arana membuka pintu mobil dan nampak menarik sesuatu keluar. Seekor kucing berwarna cokelat muda yang nampak sangat terawat dan nampak cantik.
"Camio~ Kenapa kamu tambah gendut saja?" Arana tertawa riang dan nampak menduselkan wajahnya keperut kucing yang digendongnya.
Tunggu. Jadi Camio adalah ... kucing?!
Demi Tuhan, dia cemburu pada kucing selama ini?!
"Tidak." Alva menjawab dengan nada datar dan sama sekali tidak menoleh pada Amber yang masih mentertawakannya. Alva jelas tidak akan mau mengakui bahwa dia memang cemburu kepada kucing hanya karena dia kira kucing itu adalah seseorang.
"Sayang! Ini Camio, lucu kan?"
Arana dengan cepat berlari menuju Alva dan menunjukkan kucing dipelukannya. Alva tidak begitu menyukai hewan, bukan dalam artian dia benci atau alergi. Alva hanya tidak terbiasa memelihara atau dekat dengan hewan peliharaan. Namun Arana menyukai kucing dan di data Arana, Arana memiliki satu kucing bernama Snowy yang saat ini dititipkan kepada Amber.
"Sangat lucu. Jadi ini, Camio?"
Arana mengangguk. "Iya, Camio. Dia betina, lho~"
"Hei, Asyon. Kenapa Camio tambah gendut? Kamu tidak menjaga pola makannya, ya?" Kata Arana pada Asyon——pria muda tadi.
"Aku sudah berusaha mengatur pola makannya. Anak nakal itu saja yang diam-diam mengambil makanannya sendiri diatas lemari."
"Sudah diberi obat rutin, kan?"
Asyon mengangguk. "Tentu saja, tidak terlewat seharipun."
__ADS_1
"Aku jadi kangen, Snowy~"
"Dia sedang jalan-jalan bersama kakak ke Swiss. Sudah, bermainlah saja dengan Camio."
Arana sedikit mengerutkan bibirnya. "Iyaa.
" Dan kembali bermain dengan kucing digendongannya.
Alva menyunggingkan senyuman dan membiarkan Arana bermain dengan kucing ketika sebuah pemikiran melintas dikepalanya. Data Arana mengenai Amber bisa jelas dan bahkan Calvian dapat menemukan tentang kucing Arana yang dititipkan pada Amber. Manik Alva melirik kepada sisa orang disana selain Amber dan Arana sebelum membatin, "Lantas mengapa mereka tidak ada didata?"
...***...
Alana meraung marah. DIa membanting barang-barang yang ada disekitarnya dengan penuh emosi ketika dia kembali melirik sesuatu yang tergeletak disamping tempat tidurnya. Sebuah tespack yang menunjukkan dua garis biru. Maniknya bergetar karena kemarahan ketika dia tidak pernah bisa menghubungi Josh.
"Sialan! Kemana si breng*ek itu?!"
Alana dengan wajah dingin mengambil sebatang rokok dari atas nakas meja dan menyalakannya. Ia menghisap rokok untuk menghibur emosinya yang kian menggebu-gebu karena kemarahan dan karena emosi. Maniknya memandang lurus kedepan sebelum dia menghela napas dengan dingin.
"Pasti dia bersama dengan wanita ular itu." Gumamnya.
Alana sudah yakin bahwa Josh benar-benar berselingkuh. Kekasihnya itu tidak bisa dihubungi dan Alana berkali-kali menemukan silutenya tengah bersama dengan wanita lain, dan wanita itu adalah wanita yang sama dengan yang dia lihat pertama kali ketika Alana mencari Josh hari itu. "Apakah aku harus menggugurkan anak ini seperti sebelumnya?"
"Sial. Tapi dokter sudah memperingatkanku, jika aku melakukan aborsi sekali lagi, aku tidak akan bisa mengandung lagi dimasa depan karena kandunganku sudah lemah."
Alana memang sudah berkali-kali menggugurkan kandungannya dan sudah sering mengkonsumsi pil kontrasepsi. Karena keseringan melakukan aborsi, dokter yang membantu Alana mengatakan bahwa kandungannya sudah menjadi lemah dan jika dia sekali lagi melakukan aborsi, ada kemungkinan yang lebih dari 50 persen bahwa Alana tidak akan bisa hamil lagi. Meski demikian, Alana tentu saja tidak ingin menjadi wanita mandul.
Dimasa depan dia juga akan memiliki suami, dan jika dia mandul, apa yang bisa dia dapatkan dari sebuah pernikahan?
"Semua karena aku lupa minum pil kontrasepsi! Sekarang aku hamil dan bahkan ayahnya yang tidak bertanggung jawab itu selingkuh. Dasar tidak tahu diri. Dia pikir selama ini dia hidup dengan menggunakan uang siapa? Bisnis yang dia bangun selama ini bisa berdiri karena uang dari siapa?! SIalan!"
Alana menghela napas, membuang puntung rokok ditangannya dan menginjaknyan kasar. Alana kemudian membaringkan dirinya ketempat tidur ketika sebuah postingan tidak sengaja lewat diberanda aplikasi sosial medianya. Disana, sosok Arana tengah digendong oleh Alva dengan gaya putri. Seseorang pasti membantu memotret karena foto itu diambil dari jarak yang cukup jauh, memperlihatkan bagaimana Alva dengan senyuman lembut membawa Arana digendongannya sementara gadis kesayangannya itu tengah tersenyum dengan lebar meski nampak sedikit malu karena suasana tempat itu cukup ramai.
Manik Alana menyipit.
"Mengapa kau terlihat bahagia?"
Ia bergumam dengan nada dingin. "Kau tidak boleh bahagia karena aku tidak bahagia. Hanya aku yang bisa bahagia, Arana. Bukan kau."
__ADS_1