My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 61: SSA And Civanya


__ADS_3

"Bisa aku tau alasannya?" Alva bertanya dengan tenang, tidak ada paksaan sedikitpun di kalimatnya.


Arana memandang Alva dan sedikit merasa tidak nyaman dihatinya. Seakan dia tidak berdaya. Setiap kali dia memanggilnya dengan panggilan sayang, ia selalu ingat statusnya sebagai pengganti Alana. Ketika kata sayang itu keluar, ia selalu merasa bersalah karena telah menjadi pembohong.


Arana menyunggingkan senyuman. Dia sudah berbohong, berbohong dan terus berbohong. "Al, itu singkatan dari And Love. Apa kamu tidak suka?"


Alva menggeleng. "Bukannya aku tidak suka, tapi Al itu terdengar biasa. Aku tidak puas. Lagipula, orang lain memanggilku seperti itu, mereka tidak akan bisa mengerti artinya."


Melihat tingkah kekanakan Alva membuat Arana mau tak mau merasa begitu manis dihatinya. Ia menyunggingkan senyuman lebar dan mengulurkan tangannya untuk memberi Alva pelukan besar. "Tidak perlu orang lain tahu, Al. Cukup aku dan kamu, tidak perlu pengertian orang lain."


"Baiklah, aku paham."


Pelukan erat balas dirasakan oleh Arana. "Mendengar penjelasanmu, aku sangat senang. Kupikir kamu merasa malu memanggilku dengan panggilan sayang seperti itu."


"Sayang~" Arana memanjangkan nadanya dan membuat suara yang manis. "Jangan berpikir macam-macam. Bagaimana aku bisa malu, coba? Kamu adalah suamiku, dan seluruh orang tahu itu. Lihat cincin ini." Ucap Arana.


Tangan Alva merangkak naik dan menaut tangan Arana yang lebih kecil dari miliknya. Dua cincin emas yang berkilau itu jelas menandakan bahwa keduanya adalah pasangan.


"Benar. Aku adalah suamimu, dan kamu adalah istriku."


...***...


Satu minggu kemudian, Arana sudah masuk kuliah menggantikan Alana untuk pertama kalinya.


Tatapan Arana melayang menatap bangunan megah diseberang sana. Universitas San Asrea (SSA), salah satu universitas terbaik di seluruh Indonesia.. Meski merujuk pada Universitas Swasta, sebenarnya SSA adalah universitas elite yang memiliki murid dari kalangan atas seperti anak pejabat, kritikus, penulis terkenal, musisi top, babkan sampai pada aktor maupun aktris.


Butuh banyak usaha dari Michael dan Lidia memasukkan Alana yang bernilai rendah ke SSA, sebab nilai juga dipandang di SSA.


Perjalanan dari apartemen menuju universitas hampir mencapai 30 menit berkendara dengan mobil, karena memang cukup jauh dari apartemen.


Arana dan Alva sudah membicarakan masalah ini kemarin. Pada awalnya, Alva mengusulkan untuk membeli sebuah apartemen didekat kampusnya dan pindah kesana. Namun Arana menolak karena yang akan dirugikan adalah Alva. Apartemen baru pasti jauh dari perusahaan, dan Alva adalah CEO Erlangga Corp yang sibuk. Jika sewaktu-waktu ia terpanggil karena rapat darurat atau pulang, Alva tidak akan kerepotan dan kelelahan karena perjalanan yang jauh.


Karena alasan demi alasan yang diberikan Arana, Alva pada akhirnya menyerah dengan keputusan pertama dan menerima bahwa Arana akan diantar-jemput. Meskipun ia khawatir Arana akan kelelahan.


Arana sendiri tidak masalah, toh ia hanya duduk manis dan sudah sampai di universitas dan apartemennya. Ia harusnya merasa bersalah kepada Agus—supir pribadinya yang disewa Alva, karena dialah yang akan mengantar jemputnya dan repot bolak balik.


Lagipula, Arana tidak melulu dipusingkan oleh kampus.


Alana hanya mengambil beberapa kali pertemuan tatap muka selama satu minggu dan sisanya adalah pertemuan online yang dapat diaksesnnya menggunakan aplikasi meeting online dan web universitas tersebut.

__ADS_1


Jadi selama Arana absen, itu tidak masalah.


Getar ponsel membuat Arana membuka ponselnya dan mendmikr pesan dari Alva.


[Apakah kamu sudah sampai?]


Menyunggingkan senyuman, Arana mengangkat ponselnya dan memotret bangunan besar itu. [Aku sudah sampai. Apakah kamu tidak sibuk?]


Jawaban muncul secepat kedipan matanya. [Tidak, aku sedang istirahat. Syukurlah kalau kamu sudah sampai. Belajarlah dengan baik, jika ada apapun, hubungi aku, ya?]


[Tentu sayang]


[Aku mencintaimu. Sampai bertemu dirumah.]


Arana melebarkan senyumnya. [Aku juga mencintaimu. Aku akan menunggumu di rumah.]


Ketika tak ada balasan lagi, Arana memasukkan ponselnya ke saku mantelnya. Mobil melewati gerbang yang nampak besar, dan Arana menemukan taman luas yang berisikan pemuda-pemudi yang nampak saling mengobrol dikelompok mereka masing-masing.


Pandangan orang-orang teralihkan kepadanya ketika ia turun dari mobil dibantu oleh Agus.


Mungkkn karena Arana menggunakan kursi roda, tatapan mereka berubah aneh. Mereka berbisik satu sama lain dan nampak sesekali melirik ke arah Arana yang mengobrol beberapa patah kata pada Agus.


Arana menyunggingkan senyuman tipis. "Terimakasih, pak."


Mobil berlalu pergi. Arana memandang pemandangan didepannya dan mendorong kursi rodanya kedepan. Sebenarnya kaki Arana sudah bisa digunakan berjalan. Tapi masih terasa sedikit sakit menurut penuturannya. Alva sebagai suami yang perhatian dan mencemaskan istrinya, tentu memaksa Arana untuk tetap menggunakan kursi roda, menghindari cidera yang lebih parah.


Dan Arana yang sejak dulu memang penurut, akhirnya menerima saran Alva. Toh, itu juga demi keamanannya.


Tetapi pandangan orang-orang itu membuat Arana cukup tidak nyaman. Mereka melihatnya seperti melihat orang yang aneh, dengan senyuman meremehkan yang dimanapun itu, selalu Arana ingat. Sebab apa yang pernah dia lihat, adalah yang pernah menghantuinya selama beberapa waktu ketika dia masih kecil dan tinggal di Melbourne dulu.


Arana menarik napas pelan, meraih ponselnya ketika sebuah suara memanggilnya. "Alana? Apa yang terjadi dengan kakimu?!"


Civanya.


Berdiri beberapa meter darinya dan memandangnya dengan kejutan diwajahnya. Arana mengerutkan keningnya dan membuka suaranya. "Kecelakaan kecil. Apa yang kau lakukan disini?"


"Em? Aku berkuliah disini juga. Aku cukup beruntung karena aku mendapatkan beasiswa, dan aku bisa masuk ke Universitas ini." Jelasnya dengan senyuman yang menggantung diwajah cantiknya.


"Itu... apakah, kakimu baik-baik saja?"

__ADS_1


Arana mengangguk singkat, tidak merespon pertanyaannya.


Ternyata Civanya cerdas. Setahunya ketika dia melihat informasi SSA, pendaftaran untuk beasiswa tergolong sangat sulit, dan kuota penerima beasiswa terbatas. Namun, penerima beasiswa benar-benar mendapatkan pendidikan gratis secara penuh hingga S1. Dan bila penerima beasiswa mampu mempertahankan nilainya dan mendapatkan gelar cumlaude, beasiswa bisa dilanjutkan hingga ke S2.


Arana tentu saja merasa kagum pada sosok Civanya.


Berbeda dengan tiga sahabat Alana, mereka tidak bisa masuk ke Universitas ini karena nilai mereka dan tidak cukup bisa menyuap. Itu karena mereka sistem penerimaan siswa telah diganti bersamaan dengan bergantinya rektor SSA. Orang berkata bahwa rektor kali ini begitu tegas dan tidak mentolerir segala bentuk pelanggaran diantara para pengajar maupun pada bagian administrasi.


"Sayang sekali mereka tidak masuk kesini. Jadinya hanya kamu dan aku." Gumam Arana.


Ia mendongak memandang Civanya. "Jurusan apa yang kau ambil?"


"Sastra." Jawab Civanya dengan senyuman.


"Sastra?" Beo Arana.


Gadis pirang itu menganggukkan kepalanya dengan malu. "Aku ... aku suka menulis."


Arana mengangguo acuh. "Ya, itu bagus untukmu. Berimajinasi adalah kelebihan dari penulis. Tidak masalah, mungkin beberapa masalah akan datang kedepannya, tapi jika itu kau, sepertinya bisa."


Mungkin dia terdengar meremehkan, namun percayalah. Arana benar-benar mengatakannya dengan maksud tulus. Arana percaya bahwa jika Civanya menyukai menulis, dia bisa menjadi penulis seperti yang dikehendakinya. Bahkan bisa saja, Civanya menjadi seorang penulis skenario film.


Yah, tergantung keberuntungan dan kerja kerasnya.


Tapi, Arana yakin.



Ps:


Halo, sebelumnya maaf karena aku nggak update dalam beberapa hari ini. Seharusnya aku sudah update 5 bab, tapi karena aku disibukkan dengan persiapan ujian sekolah, jadwalku menulis berkurang. Juga dua hari yang lalu aku retret keluar dari wilayahku ke Kaliurang, dan aku bahkan gak bisa pegang hp sama sekali.


Jadi hari ini aku bakal update 3 bab.


Buat yang nanyain kabar AlvaRana aku ucapin makasih banget, pake banget karena kalau kalian minta update, aku malah senang meski emang susah karena harus nulis dan nulis. Tapi justru itu memotivasi aku pake banget, bikin moodboster.


Jadi, jangan lupa baca bab selanjutnya yaa~


[Maaf banget pake banget. Aku niat update tadi malem, tapi reviewnya nggak bisa-bisa sampai pagi, jadi masih belum bisa ke update.]

__ADS_1


__ADS_2