My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 13: Annoying Cousin


__ADS_3

"Jangan memperlakukanku seperti aku seorang lumpuh, Va." Arana berkata dengan senyuman kaku ketika Alva mendorong kursi rodanya, menyusuri taman yang ada disekitar rumah Arana.


Alva memiliki pendapat bahwa berada didalam rumah saja tidak akan baik untuk Arana. Dan Arana sendiri merasa bahwa itu benar, karena selama 2 hari ini, dia terus terkurung di dalam rumahnya tanpa boleh melakukan apapun, kecuali makan dan tidur. Oh, mandi juga tentunya. Masalahnya sekarang adalah, Arana tidak diperbolehkan turun dari kursi rodanya, bahkan disaat lukanya hanya luka dikulitnya, dan bahkan itu sudah berkeropeng. Jujur, dia malu dengan salah satu kaki yang diperban tipis, didorong keliling taman seolah adalah pasien lumpuh. Jika orang tahu bagaimana sebenarnya lukanya, Arana khawatir mereka akan menatapnya seperti menatap orang bodoh.


Alva dibelakangnya berkata, "Bagaimana mungkin? Aku hanya ingin kamu merasa nyaman dan tidak menyakiti tubuhmu dengan kegiatan yang melelahkan."


Wajah Arana cengo, pikirannya sedikit dipaksa lebih keras untuk memahami maksud Alva. Berjalan, adalah kegiatan yang melelahkan? Oh, tentu saja iya, jika dirinya berjalan dari Jakarta ke Roma. Tapi dia hanya perlu berjalan tidak sampai 200 meter dari rumahnya menuju taman perumahan itu. Apakah itu masuk akal membuatnya kelelahan atau bahkan dia khawatir dirinya akan pingsan dan masuk rumah sakit lagi?


"Tapi itu tidak sampai 100 langkah dari rumah, sayang." Arana berucap sembari menggelengkan kepalanya seolah bingung dengan logika Alva.


Alva menghentikan kegiatan mendorongnya ketika mereka tiba di sebelah kursi taman yang ada dibawah pohon berbunga yang rindang dan lebat. Ada bunga kuning dan bunga mawar yang tumbuh di sisi dalam jalanan, dan lampu-lampu tiang menjadi akses penerang ditaman itu. Suasana sedikit ramai, karena pada hari Minggu, setiap pasangan dan atau beberapa dari mereka yang sendiri akan berjalan-jalan ditaman, menikmati suasana alam yang rindang dan angin sejuk yang menyapa.


"Ini menyenangkan, suasana yang teduh." Gumam Arana lirih, mendongak sembari memejamkan matanya.


"Kebetulan sekali bertemu lagi disini, hey kak Alva. Hei Alana!" Sapaan itu membuat Arana menoleh, melihat seseorang yang langsung membuat maniknya melebar. "Sial, bukannya dia yang merusak ponselku?!"

__ADS_1


Tunggu, dia mengenal mereka? Tidak, telinganya salah mendengar ketika laki-laki itu memanggil namanya dan nama Alva, kan?


"Oh, Juan. Apa yang membawamu kemari?"


Juan?


Arana menyunggingkan senyuman kaku. Tubuhnya menegang, dan ingatannya berkelana. Siapa itu Juan? Jelas dia tahu, karena Alana menceritakan tentang Juan kepada dirinya. Juan Esian Wiranata, adalah putra bungsu dari adik kakeknya. Dengan kata lain, Juan adalah sepupunya meski sepupu jauh.


Satu hal yang perlu digarisbawahi, bahwa hubungan Alana dan Juan seperti tikus dan kucing. Setiap kali keduanya bertemu, mereka akan dengan sengaja saling melempar ejekan. Setiap kali mereka bertemu, hampir tidak pernah memberikan sapaan pada umumnya, dan mereka jelas-jelas sangat tidak akur.


"Seperti biasa, kak. Hanya berjalan-jalan, menikmati Minggu pagi yang cerah tentunya. Ya kan, Alana?" Sepasang manik itu memandang Arana, dan Arana entah mengapa merasakan firasat buruk dari sepasang manik hitam itu.


Alva bereaksi, namun reaksinya lebih lambat karena pengalihan Juan yang mengajaknya mengobrol. Ketika sesuatu jatuh ke tangannya, Arana melihat bahwa ada seekor ulat tanpa bulu seukuran ibu jari berwarna hijau ditangannya. Ulat itu menggeliat, nampaknya sudah terbangun dari pingsannya setelah dilemparkan oleh Juan. Arana terpatung selama beberapa saat.


Apakah ini candaan Juan?

__ADS_1


Ingatannya berselancar, dan dia ingat bahwa Alana pernah mengatakan bahwa dirinya sangat membenci dan geli melihat ulat, jenis ulat apapun itu. Baik yang kecil, apalagi yang besar. Oh, tapi Arana tidak pernah takut serangga. Dia hanya takut pada anjing, karena seekor anjing pernah hampir mengoyak daging kakinya saat dia berusia 8 tahun. Anjing itu nampaknya tidak memiliki tuan, dan terancam ketika dia lewat diwilayah.


Tetapi meskipun takut, Arana adalah penyayang binatang. Terkadang ketika dia melihat binatang yang terlantar dan bahkan hampir mati, dia membantunya dengan terkadang memberi mereka makan atau yang terburuk melarikan mereka ke klinik hewan untuk diselamatkan. Rumah penampungan hewan akan menjadi baru mereka setelah itu.


Sejak kecil neneknya juga sangat suka dengan hewan. Memiliki beberapa ayam, beberapa kucing, dua babi, sepuluh kelinci dan beberapa hewan manis lainnya. Neneknya pernah berkata, bahwa hewan juga memiliki nyawa dan perasaan. Mereka bisa merasakan sedih, mereka bisa merasakan sakit dan mereka bisa merasakan rasanya senang. Jadi, Arana tidak boleh berlaku semena-mena pada hewan apapun, kecuali binatang itu membahayakan seperti ular, harimau atau buaya.


Arana menyaksikan Alva mengulurkan tangannya mengambil ulat yang menempel ditangannya. Alva pikir Arana membeku ketakutan, jadi segera mengambil ulat itu dan mmelemparkannyajauh-jauh. Arana tercengang, entah bagaimana nasib ulat itu!


"Tidak apa, aku sudah menyingkirkannya. Kamu tidak perlu mencemaskannya." Kata Alva menenangkan dengan lembut, sembari mengusap tangan Arana, seakan mencoba menyingkirkan jejak ulat tadi, ketika Juan tertawa terbahak-bahak melihat wajah Arana yang tampak seperti orang linglung.


Alva melirik Juan tajam. "Hentikan candaanmu, Juan! Ala sedang terluka, kelakuanmu bisa membuat Alana semakin terluka."


Juan mengedikkan bahunya, "Ayolah. Itu hanya candaan kecil. Dia tidak mungkin akan kenapa-kenapa hanya dengan seekor ulat kecil."


Alva mendesis, "Kau jelas tahu bahwa Ala takut kepada ulat."

__ADS_1


"Aku tidak peduli, tetapi jangan pernah berpikir untuk melakukan itu lagi dimasa depan." Tegas Alva sebelum mendorong Arana menjauh dari Juan yang memandang keduanya sembari menyilangkan tangan, dengan tatapan yang sulit dijelaskan.



__ADS_2