
Arana memandang pantulan dirinya dicermin. Sudah berjam-jam lamanya Arana ada di salon kecantikan ini, gadis yang seumur hidupnya tak pernah merasakan perawatan kini mengerti betapa lelahnya dan rumitnya untuk menjadi cantik lebih cantik.
Setelah diseret kesana kemari mencoba peralatan yang tak pernah diketahuinya, Arana akhirnya selesai. Namun hasil yang didapatkan dari perjuangan berjam-jam begitu memuaskan. Gadis dipantulan cermin nampak seperti Alana. Benar-benar bak pinang dibelah dua. Hanya saja ketika seseorang mengamati dengan lebih jeli, perbedaan keduanya ada disepasang mata itu. Manik Alana tajam dan lebih gelap, sementara milik Arana lembut dan cerah dengan semburat senyuman yang bisa selalu dilihat.
Arana harus merelakan rambut hitam panjangnya dipotong. Meski tidak dipotong sependek milik Alana, rambutnya cukup pendek. Bahkan warna alaminya harus diubah dengan warna coklat lembut dan sedikit dicurly sama seperti milik Alana.
"Haha, akhirnya selesai. Lihat mahakaryaku!" Ucap Manada sembari berkacak pinggang.
Arana menatap pantulan Manada dan tersenyum. "Terimakasih untuk bantuannya, madam. Lain kali mungkin aku akan kemari jika bisa."
"Oh tentu saja! Kamu gadis yang menyenangkan dan sopan, sangat menyenangkan untuk berbicara dengan anak cerdas sepertimu." Tukas Manada membuat Arana tersenyum.
Ia bangkit berdiri. "Kalau begitu aku permisi, madam. Sepertinya aku harus pulang sebelum mama mencariku."
Manada menganggukkan kepalanya. Sebelum memandang Arana yang melangkah pergi dan meninggalkan salonnya dengan mobil. Manada menghela napas dan menggelengkan kepalanya.
"Sembilan belas tahun identitasnya dirahasiakan. Sekarang dia kembali dan langsung diminta menggantikan posisi kembarannya yang manja dan bertempramen buruk itu." Gumamnya.
"Anak yang malang."
...***...
"Wow, hasilnya lumayan." Alana berputar memutari Arana sembari bergumam.
Ia mengangguk, kembali ketempatnya dan menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Duduk diatas ranjang dikamar Arana, dia memberikan kode untuk Arana agar duduk disofa yang ada dikamar gadis itu.
"Aku akan memberitahumu hal-hal yang biasa aku lakukan bersama dengan Alva dan beberapa kebiasaan kecilku." Katanya.
Ia melanjutkan. "Setiap akhir pekan Alva akan datang dan mengajakku jalan-jalan. Tempat kesukaanku adalah pusat perbelanjaan. Jadi jika Alva menawarimu ingin pergi kemana, jawab saja pusat perbelanjaan."
"Setiap bertemu dengannya aku akan menggunakan parfum warna ungu. Jadi pastikan gunakan yang warna ungu." Katanya.
Entah berapa lama waktu yang dihabiskan, namun ketika Alana selesai berbicara dan pergi, langit sudah petang dan mata Arana terasa berat. Alana menjelaskan semuanya dengan detail, mulai dari kebiasannya saat bersama Alva, bersama teman-temannya. Menjelaskan siapa-siapa saja sahabatnya dan bagaimana cara dia bergaul. Bahkan termasuk perbincangan apa saja yang sering mereka bicarakan dan apa saja cara untuk lolos dari situasi sulit percakapan yang tidak dimengertinya.
Arana pening.
Ia menuju kamar mandi, menggosok giginya sebelum jatuh kedalam mimpi ketika menyentuh tempat tidur.
__ADS_1
Keesokan harinya, ada dua Alana dimeja makan. Yang satu dengan manjanya meminta Lidia mengambilkan makanan, sementara yang satunya hanya diam sembari sesekali menyendokkan nasi dan lauk kemulutnya. Meja berisikan empat bangku itu penuh. Seandainya si sulung ada, Arana tidak akan ragu bahwa dirinya akan diminta makan bersama pelayan didapur.
"Hari ini Alana akan menyusul Hiro ke Belanda dan menetap disana bersama nenek Imela. Hari ini juga kamu sudah harus menggantikan posisi Alana. Dua hari lagi Alva akan datang menjemputmu untuk melakukan figthing gaun pengantin." Jelas Lidia membuat Arana menghentikan kunyahannya sesaat sebelum menganggukkan kepalanya tanda bahwa dia mengerti.
"Apa kau bahkan tidak memiliki suara? Awas saja jika kau menggagalkan rencanaku!" Ancam Alana.
Arana meletakkan alat makannya dan mendongak, menatap tajam Alana. "Aku disini bukan sebagai pesuruhmu, Alana. Aku disini, karena mama memintaku menggantikanmu menikah dengan Alva karena kamu tidak mencintainya. Bahkan tanpa keberadaan kalian sebelumnya, aku mampu bertahan hidup sendirian."
Setiap kata yang dilontarkannya membuat mereka bertiga terdiam. "Jadi jangan menggunakan ancaman padaku. Aku bahkan bisa pergi dari sini dan membiarkanmu menikahi lelaki itu jika aku mau. Tolong jaga kesopananmu."
Setelah mengatakan itu, Arana kembali memfokuskan dirinya pada sarapannya.
Alana memerah karena amarah yang tertahan. Ia menoleh pada Lidia dan berseru, "Ma!"
Lidia meraih tangan Alana dan menggeleng. Menyuruhnya untuk tidak mengatakan apapun yang bisa menyinggung Arana. Arana memang benar, dia bisa pergi kapan saja, kapanpun dia mau. Karena nyatanya memang benar, bahwa Arana bisa bertahan hidup sampai sekarang tanpa mereka.
Mendapati bahwa Lidia lebih membela Arana, Alana mendengus sebal dan membanting peralatan makannya sebelum menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
"Menyebalkan!" Dengusnya.
...***...
Sudah sore semenjak Alana menaiki pesawat yang akan membawanya ke luar negeri, jauh dari ibu kota Indonesia. Memandang keluar jendela, Arana memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar kompleks perumahan mewah itu.
Arana meraih jaket baby bluenya dan melangkah turun setelah merapikan rambutnya. Langkahnya melambat kala Lidia yang duduk disofa membelakanginya sembari memegang telepon ditangan kirinya.
"Benarkah? Bagaimana resep terbarunya?" Tanyanya pada orang diseberang sana.
Entah jawaban apa yang didapat, namun nampaknya itu kurang memuaskan saat ekspresi Lidia sedikit mengerut. Arana memandangnya selama dua detik dan membuka belahan bibirnya berucap.
"Ma, aku akan pergi keluar sebentar."
Tetapi bak angin lalu, Lidia nampaknya terlalu fokus pada apa yang dikerjakannya hingga tak mendengar suaranya. Arana menghela napas pelan, sebelum melangkah pergi meninggalkan Lidia dengan kesibukannya.
Jika itu Alana, pasti akan berbeda.
Setelah cukup jauh berjalan, Arana menemukan sebuah taman yang ada dikompleks itu. Taman itu luas, bahkan cukup luas hingga memiliki air mancur bertingkat dan pepohonan yang rindang untuk meminimalisir paparan sinar matahari.
__ADS_1
Arana mendudukkan dirinya disalah satu bangku dan setelah beberapa waktu menikmati taman yang tenang, ia mengeluarkan ponselnya untuk mengecek pesan dari sahabatnya, Amber.
[Arana, apakah kau makan dengan baik disana? Jika tidak aku akan memesan tiket penerbangan dan segera menjemputmu kesana~]
[Aku makan banyak. Makanannya lezat.]
Amber belum membalas. Arana paham jika mungkin Amber masih memiliki kelas dijam-jam seperti ini, jadi Arana segera keluar dari kotak pesan dan hendak bangkit berdiri sebelum seseorang menabraknya. Arana terjungkal kebelakang, hingga ponsel ditangannya terlempar. Sebelum mengeluarkan suara kecipak dari air mancur.
Plung!
"Ponselku!" Pekiknya.
Arana melotot dan segera bangkit menuju air mancur, mengulurkan tangannya menjangkau ponselnya dan memeriksa ponsel hitam itu. Ketika tangannya menekan tombol daya, Arana membeku. Ponselnya retak dibagian depannya, dan tidak mau menyala.
"Apa kamu tidak apa?" Seseorang yang menabrak Arana mendekatinya dan menanyakan keadaannya.
Tepat ketika dia melihat wajah Arana, dia berkata, "Oh! Itu ka—"
"Ponselku mati dan itu salahmu." Kata Arana menatap pemuda didepannya dengan jejak kemarahan dimatanya.
"Apa? Ponsel buruk sep—" Ucapan pemuda itu lagi-lagi dipotong Arana.
"Apakah begitu sulit bagimu untuk meminta maaf? Kau menabrakku dan bahkan merusak ponselku. Tidakkah kau merasa bersalah sedikit saja?" Kata Arana.
Maniknya berkaca-kaca. Ia bahkan mengabaikan kebiasaan menggunakan bahasa inggris. Ponsel itu adalah ponsel pemberian neneknya dan sekarang mati karena orang asing ini. Dan bahkan dia, tidak mengucapkan maaf sedikitpun.
Menyebalkan!
Arana mengangkat kakinya, mendaratkannya keras dikaki pemuda berambut hitam itu hingga membuatnya memekik.,"Auch! Sakit hei!"
"Hmph! Lain kali minta maaf jika membuat kesalahan." Dengus Arana sebelum berlalu pergi.
Pemuda itu masih memegangi kakinya sembari menatap Arana yang berlalu pergi sebelum bergumam samar.
"Itu Alana kan? Apa yang salah dengannya, coba?"
__ADS_1