My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 91: Arana and Erlan?


__ADS_3

"Saya akan menggantinya." Ucap Alva dengan dingin sembari mengeluarkan dompetnya.


Pria itu menggeleng dan menolak dengan tegas. "Tidak! Aku tidak akan menerima kejadian ini berakhir dengan uangmu. Aku akan menghubungi polisi, dan membiarkan masalah ini berakhir ditangan kebenaran!"


Alva mengerutkan keningnya. "Tidak perlu membawa masalah ini ke jalur hukum. Saya sudah meminta maaf dan akan bertanggung jawab kepada kerugian yang anda alami."


Pria itu mengabaikan Alva dan dengan suara keras berbicara dengan polisi. "Halo, polisi? Ya, saya memiliki keluhan disini. Ketika saya berkendara, tiba-tiba mobil didepan saya menginjak rem dengan mendadak dan membuat mobil bagian depan saya rusak karena benturan. Saya ingin meminta keadilan untuk masalah ini!"


Alva memejamkan matanya dan memijat pelipisnya dalam diam. Sial, dia bahkan belum sempat mengganti celananya.


...***...


Duduk di bangku di ruang polisi, Alva memandang datar pemandangan yang ada didepannya. Mengabaikan ocehan pria yang menabrak mobilnya dari belakang, dan dalam sesekali memandang jam ditangannya. Jam sudah menunjuk ke angka 12, yang artinya sudah hampir setengah hari dia terjebak di kantor polisi dan mendengarkan ocehan tidak jelas pria itu.


Jika pria itu mau menerima tanggung jawab Alva, Alva sudah akan selesai sejak tadi, namun pria itu dengan omong kosongnya mengatakan bahwa dia hanya ingin menerima keadilan dan melakukan sesi curhat ria dengan polisi yang dengan bodohnya meresponnya dengan sama antusiasnya. Yang lebih mengesalkan lagi, tidak ada satupun diantara orang-orangnya yang bisa dihubungi, bahkan Arana sekalipun!


Brak!


Tidak tahan, Alva menggebrak meja dan dengan dingin berkata, "Saya akan memanggil pengacara saya sekarang juga jika anda masih berlaku semena-mena seperti ini. Sudah saya terangkan bahwa saya siap bertanggung jawab atas kerusakan material dan imaterial yang anda alami. Dengan kekeras kepalaan anda, anda sudah menyita setengah hari waktu saya yang bisa menghasilkan jutaan dollar. Apakah anda siap bertanggung jawab untuk waktu saya yang terbuang percuma?"


Pria itu mengabaikan Alva, melirik ponselnya dan dengan senyuman cerah segera melambaikan tangannya. "Lupakan, lupakan! Kekasihku akan segera tiba di bandara dan aku harus menjemputnya. Pak polisi, terimakasih sudah mendengarkan cerita saya!"


"Sampai jumpa lagi!"


Segera setelahnya, pria itu berlari keluar tanpa sekalipun menyinggung soal ganti rugi yang membuat Alva memandang dengan tercengang kearah pintu. Polisi yang melihat keanehan Alva segera menyapanya, "Halo, Pak? Anda tidak pergi? Ingin lebih lama disini?"


Alva menoleh, menatap polisi didepannya selama dua detik sebelum dengan tenang bangkit berdiri dan hendak mengucapkan salam terimakasih ketika polisi itu segera berkata, "Oh! Apakah anda terlalu terkejut sehingga tidak sengaja menumpahkan muatan anda? Tidak masalah, tidak masalah. Seseorang bisa ketakutan dan bisa saja mengompol."


Sialan.


Dengan wajah suram, Alva tidak mengatakan sepatah katapun dan pergi dari kantor polisi dengan penuh kemarahan.


Seumur hidupnya, dia tidak akan pernah minum teh lagi!


Melangkah memasuki mobilnya dengan cepat, Alva membanting pintu mobil dengan keras, ketika dia menyadari bahwa ada sesuatu yang duduk disebelahnya. Tubuh Alva sesaat kaku, dan ketika dia menoleh, dia menemukan seorang nenek-nenek duduk dibangku co-pilot, tengah memandangnya dengan senyuman dan tengah membawa sekantung buah-buahan ditangannya.


"Nak, segera jalankan mobilnya. Kita bisa terlambat mengunjungi teman nenek." Ucap wanita tua itu membuat Alva tercengang.


"Nenek ... nenek siapa?" tanya Alva.


Wanita tua itu mengerutkan dahinya, dan dengan tenang berkata, "Tidak sopan! Berpura-pura tidak mengenali nenekmu sendiri, apakah kamu ingin menjadi cucu yang tidak berbakti? Bagaimana jika nenek mengutukmu menjadi katak?"

__ADS_1


Alva hendak bersuara ketika dia menghela napas dan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menenangkan emosinya dan berkata dengan suara datar dan perlahan kepada sang nenek. "Maaf, nek. Tapi saya bukan cucu nenek. Nenek salah orang, apa mungkin nenek tersesat? Jika iya, saya bisa mengantarkan nenek ke tempat nenek tinggal."


Wanita itu menyipitkan matanya, memandang Alva dan dengan cepat terkejut. "Oh! Kamu bukan cucuku!"


"Siapa kamu?!" lantang nenek itu.


Alva benar-benar tidak bisa melakukan apapun. Dia ingin melompat keluar dan berguling dijalan untuk menyuarakan kekesalannya. Ia dengan sabar menghadapi sang nenek. Sekesal apapun Alva, ia tidak boleh melakukan kekerasan fisik kepada seorang wanita, seperti yang diajarkan oleh Arletta kepadanya. Jadi, dia dengan hati-hati menjelaskan.


"Nenek, nenek sepertinya tersesat. Tidak apa, ada kantor polisi didepan, nenek mau saya membantu melaporkan nenek yang tersesat?" tanya Alva.


Wanita itu menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Antarkan aku pulang! Antarkan aku pulang!"


"Baik, baik," putus Alva, "Dimana rumah nenek? Biar saya mengantar nenek."


Wanita itu menunjuk kedepan. "Ikuti aku, lurus kedepan!"


Menghela napas, Alva dengan sabar mengikuti arahan nenek itu, melajukan mobilnya lurus kedepan hingga menemukan persimpangan. "Nek, saya harus kemana lagi?"


Nenek itu membelokkan tangannya kekanan, "Belok kesana."


Kemudian selama dua jam, Alva dengan tertekan mengikuti arahan nenek itu, dan pada akhirnya berhenti disebuah tempat. Alva memandangnya dengan terkejut, dan ia tidak bisa menahan didalam batinnya.


"Bukankah ini jalan di kantor polisi tadi?!"


Ditarik sedemikian rupa, Alva tidak bisa berbuat banyak dan mengikuti kemana wanita itu membawanya. Ada bangunan didepannya, yang persis berada didepan kantor polisi dimana dia berada tadi. Maniknya memandang kedepan dan menemukan bahwa bangunan itu adalah bangunan panti jompo yang dinamakan Rumah Masa Muda. Memandangnya selama dua detik, dia dengan terpogoh-pogoh diseret wanita tua itu masuk dan bertemu dengan sekelompok orangtua yang tengah berkumpul disebuah balai.


"Guys, aku membawa kembali seseorang!" sapa nenek itu.


"Hah?" Alva tercengang untuk kesekian kalinya mendengar panggilan nenek itu kepada teman-teman sebayanya. Guys?


Dalam sekejab, Alva segera dikelilingi oleh sekelompok orang tua yang berbau khas minyak urut. Alva memandang mereka dengan kepayahan.


"Siapa si tampan ini?'


"Oh, apakah dia cucumu, Bie?"


"Tampannya, persis seperti Marco saat muda."


"Hehe, dia sama sepertiku. Tapi aku lebih tampan saat muda."


Mendengar suara-suara itu disekitar Alva membuat Alva kebingungan, dan tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan, tidak ada penjaga atau pengurus panti jompo yang terlihat yang bisa ia mintai pertolongan. Alva harus dengan berusaha menenangkan mereka. "Maaf, kakek, nenek. Tolong duduk dan jangan membuat kalian kelelahan karena berdiri terus. Mari duduk, saya akan memanggilkan seseorang untuk membantu."

__ADS_1


"Ah! Tidak perlu duduk."


"Tulang kami sangat kuat sehingga seekor sapi bisa tumbang dengan satu pukulan Biela."


Biela adalah nenek yang membawa Alva ke panti jompo itu. Wanita itu saat ini tengah duduk dibangku, menyesap teh yang harum dan mengangguk, menyetujui perkataan temannya. "Benar. Jadi aku akan menghajar siapapun yang berani mengganggu cucu-cucuku yang manis."


"Owh! Betapa manisnya."


Alva memandang mereka, dan sampai hampir setengah tujuh malam, dia baru dilepaskan oleh sekelompok orang tua itu. Setelan menawan yang dia kenakan menghilang, tergantikan dengan pakaian ala-ala pangeran kerajaan. Entah darimana nenek-nenek itu mendapatkan setelan seperti itu, intinya, ketika mereka menangkapnya, Alva bahkan tidak sadar sejak kapan pakaiannya sudah berganti dengan setelan ini.


Alva memandang pantulan dirinya dicermin. Sebuah setelan ala kerajaan berwarna putih membuatnya nampak seperti seorang pangeran. Wajahnya yang tampan memiliki jejak rasa dingin ketika dia merasa kesal dan lelah. Ia menghela napas, menenangkan emosinya dan melajukan mobilnya, ingin segera sampai di apartemen untuk mengadu kepada Arana dan menangis dipelukannya.


Dor!


Ckit!


Ketika Alva mengangkat wajahnya, sepasang mata itu menampilkan tatapan membunuh yang kental. Wajahnya dingin dan tidak ada kehangatan sedikitpun. Alva benar-benar marah dan kemarahannya meradang didalam hatinya. Ia dengan kasar membuka pintu mobil, dan memandang dingin ban mobil sebelah kanannya yang bocor. Ia hendak membuka pintu, ketika pintu tidak bisa terbuka. Sialnya, terkunci.


"Damn!" umpatnya kesal.


"Kurasa aku tidak bisa lebih sial lagi." Gumamnya dengan suara pelan dan dingin.


Ia hendak menghubungi montir pribadinya ketika sebuah suara merangsak naik ke pendengarannya. "Eh, ada pria tampan sendirian disini~"


Nada mendayu diakhir dengan suara itu membuat tulang punggung Alva bergidik ngeri. Dengan gerakan patah-patah, ia berbalik, memandang dengan kosong beberapa pria yang mengenakan pakaian wanita dan rambut palsu bermacam jenis itu. Bibir Alva menganga, dan jantungnya seakan berhenti bekerja ketika salah satu dari mereka melangkah selangkah mendekatinya dengan gerakan malu-malu dan wajah yang dibuat menggemaskan.


"Oh, mau menemani kami?" tanya waria itu dengan senyum menggoda.


Bahkan sebelum otaknya bereaksi, Alva terlebih dahulu berbalik, melangkahkan kakinya untuk berlari dengan kecepatan tinggi yang bahkan melampaui rekor pelari dengan medali emas. Wajahnya menunjukkan rasa syok yang besar, dan bayangan melintas membuat keringat dingin mengalir didahinya dan punggungnya.


Alva tidak tahu seberapa jauh dia berlari dan seberapa lama dia berlari. Hal yang diketahuinya adalah, bahwa ketika dia berhenti berlari, dia merasa bahwa napasnya tinggal berada di hidungnya, dan paru-parunya seakan ditekan batu yang keras hingga membuatnya terengah dengan hebat.


"Hah! Hah!"


Jangankan memperdulikan mobilnya, Alva bahkan akan mengabaikan apartemennya sendiri jika didepan apartemennya ada seseorang seperti itu yang mencoba mendekatinya!


Mendudukkan dirinya dipinggir jalan, dibawah tiang lampu, Alva menarik napas panjang dan mencoba menenangkan detak jantungnya yang tidak karuan. Ia menyeka keringat didahinya ketika dia mendengar notifikasi dari ponselnya. Ada sebuah pesan dari Calvian ketika ia melihat lockscreen, dan ada lampiran foto disana. Ketika Alva membukanya, jantung Alva yang berdetak keras tadi seakan digenggam dan dipaksa untuk berhenti sesaat. Maniknya melebar, dan wajahnya aneh untuk digambarkan.


Didalam sana, ada sebuah pesan dari Calvian. [Bos, aku tidak tahu harus menulis apa. Intinya, mereka ada di taman didekat lokasimu sekarang.]


Kemudian, ada sebuah foto dibawahnya. Foto Arana, tengah menyuapi Erlan dengan senyuman yang nampak bahagia.

__ADS_1


Seketika, retakan muncul diponselnya.



__ADS_2