My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 137: Good News


__ADS_3

Ketika membuka matanya, hal yang dirasakan Arana adalah rasa sakit diperutnya dan pinggangnya. Arana sedikit meringis kala merasakan nyeri yang menyerang perut bagian bawahnya. Arana sedikit memiringkan tubuhnya, meringkuk dan meremas perutnya lembut, mencoba menahan rasa nyeri yang dia rasakan. Meski tidak terasa begitu sakit, Arana yang memang merasa bahwa tubuhnya lemas belakangan ini merasakannya dengan sedikit lebih intens.


"Loh? Nana? Kamu kenapa, sayang?"


Arletta pada awalnya berniat memanggil Arana untuk mengajaknya sarapan. Namun begitu dia masuk, dia justru mendapati Arana nampak menampilkan wajah tidak nyaman. Arletta menghampiri Arana, duduk ditepi tempat tidur dan dengan lembut mengusap kepala Arana yang bertumpu diatas bantal. "Nana kenapa? Sakit?"


Arana sedikit mengangguk. "Perut Nana sedikit kram, mama. Pinggang Nana juga sedikit sakit."


"Apa mungkin kamu sedang akan kedatangan tamu, sayang?" Tanya Arletta membuat Arana menggelengkan kepalanya. "Nana tidak tahu, ma. Nana pikir masih beberapa hari lagi sebelum seperti waktu biasanya. Tapi mungkin ini karena Nana sedikit kelelahan jadi jadwalnya maju dari biasnya."


Arletta dengan pengertian menganggukkan kepalanya dan mengusap surai Arana dengan lembut guna menenangkannya. Arana memejamkan mata dan merasakan kenyamanan yang menjalar ditubuhnya. Dulu sekali, ketika dia merasa tidak nyaman, dia selalu berbaring dipangkuan sang nenek dan sang nenek akan mengelus dan mengusap kepalanya seperti ini yagn akan membuatnya tertidur dengan nyaman dan kemudian akan menjadi lebih baik setelah terbangun.


"Mama, terimakasih.." Gumam Arana membuat Arletta tersenyum. "Kenapa berterimakasih pada mama?"


Arana menggeleng pelan dan sedikit lebih meringkuk. "Mama sangat hangat."


"Mama ambilkan air sebentar, ya? Nana berbaring saja dulu."


Arana mengangguk. "Maaf Nana merepotkan mama."


"Jangan berkata begitu. Kamu tidak akan pernah merepotkan siapapun didalam keluarga ini, nak." Arletta tersenyum sebelum melangkah keluar untuk mengambilkan air minum untuk Arana yang menatap Arletta dan merasa sangat hangat didalam hatinya.


...***...


Di tempat lain, Alva tengah duduk dibangkunya ketika sebuah pemikiran melintas dibenaknya. Ia meraih ponselnya dan menghubungi Erlan yang dalam beberapa dering segera diangkat oleh sang empunya nomor.


[Halo, boss? Ada apa?]


"Jangan muncul dihadapanku seharian ini."


Pernyataan Alva membuat Erlan yang berada diseberang sana segera merasakan kebingungan dan bertanya dengan nada tidak yakin. [Kenapa boss? Aneh sekali, tiba-tiba berkata begitu?]

__ADS_1


Alva membalik halaman dokumennya dan berkata, "Aku tidak tahu. Pokoknya jangan muncul dihadapanku seharian ini. Aku sedang tidak ingin melihatmu. Jika kau punya berkas yang harus diurus, titipkan saja pada orang lain untuk dibawa kepadaku. Hanya, jangan muncul didepanku."


[Bagaimana jika aku tetap muncul dihadapanmu?]


Alva nampak memiliki ekspresi serius diwajahnya. "Jika kamu muncul dihadapanku, mungkin aku akan mencukur botak rambutmu."


Setelahnya, Alva mematikan sambungan telepon dan dengan tenang meletakkan kembali ponselnya diatas meja sebelum kembali bekerja dengan tenang. Ia menyeringai dengan senang dan dengan suasana hati yang baik membalik lembaran demi lembaran dokumen didepannya.


...***...


Alva sudah menjalani beberapa kali meeting dan beberapa kali pertemuan. Selama itu juga dia yang biasanya ditemani oleh Erlan, sekarang ditemani oleh Siska sang sekertaris yang menggantikan Erlan karena perintah dari Alva yang melarang Erlan muncul didepannya. Alva tengah berjalan diruang kerja karyawannya. Ruangan luas itu hanya dibatasi sekat ssetinggi pinggang orang dewasa dan orang-orang bisa saling berkomunikasi dengan memundurkan bangku mereka atau berdiri.


Alva menghentikan langkahnya yang membuat Siska turut menghentikan langkahnya. Ada map dipelukannya yang berisi bahan meeting beberapa waktu lalu.


"Ada apa, pak?" Tanya Siska.


Alva menunjuk kearah meja seorang karyawan. Ada seorang karyawan yang tengah menikmati semangkuk kecil ice cream. "Aku mau ice cream."


"Aku ingin ice cream." Alva dengan senang hati mengulang pernyataannya. "Rasa soda stroberry."


Siska semakin membulatkan bibirnya. "Memangnya ada rasa seperti itu, Pak?"


Jika pria itu meminta rasa yang normal seperti coklat, vanilla atau hanya strobery, Siska bisa mendapatkannya dengan mudah. Namun rasa Soda Stroberi?


Alva menggeleng. "Entahlah, tolong carikan dan segera bawa keruanganku setelah selesai."


Alva kemudian melangkah ke ruangannya, meninggalkan Siska yang terpatung, masih mencoba memikirkan mengapa dan bagaimana menemukan Ice cream dengan rasa soda stroberry. Pada akhirnya, Siska menelpon bagian dapur dan meminta koki membuatkan Ice cream yang diinginkan oleh Alva. Berbekal pengetahuan sang koki dan bermodal nekat, beberapa koki didapur perusahaan membuat es gulung yang dibuat dari jus strobery dan campuran soda serta gelatin yang diratakan diloyang dan dimasukkan kedalam freezer dititik beku dan diserut menggunakan sendok sebelum dimasukkan kedalam sebuah mangkuk.


Pada akhirnya, hari itu Alva bisa makan ice cream soda strawberry.


Alva tengah menyendokkan ice cream kedalam mulutnya ketika Siska sibuk membacakan jadwalnya selama satu minggu kedepan, membahas bagian mana yang bisa dirubah ketika ponsel Alva berdering. Alva menghentikan kegiatannya dan meraih ponselnya, dan melihat nama sang mama tertera dilayar ponselnya.

__ADS_1


"Halo, ma?"


[Alva, pulang sekarang!]


"Ada apa ma? Mama terdengar sangat senang? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Alva tersenyum kala dia menyendok kembali ice cream.


[Kamu akan jadi seorang ayah.]


Gerakan tangan Alva terhenti ketika mendengar ucapan sang mama. Ketika sang mama melanjutkan perkataannya, sendok ditangannya terjatuh dan terbanting dilantai yang dingin.


[Nana hamil, Nan! Nana hamil cucu pertama mama dan papa! Mama sangat bahagia, Nan!]


Manik Alva melebar dan dia membeku selama beberapa waktu. Otaknya tengah memproses apa yang baru saja dia dengar dan ketika dia bereaksi, Alva menutup bibirnya dengan sepasang manik yang bersinar begitu cerah. Jantungnya berdentum dengan sangat keras dan sebuah sensasi luar biasa mengalir keluar dari hatinya.


Siska melihat Alva dengan penuh kebingungan ketika dia juga terkejut sampai melebarkan mata ketika mendengar seruan Alva. "Nana hamil?!"


"Istriku benar-benar hamil, ma?!"


Selama bekerja dengan Alva, dipandangan Siska, Alva adalah sosok pimpinan yang dingin, sopan, berwibawa dan tegas. Setiap tindakannya diperhitungkan dengan matang dan Siska bahkan merasa bahwa Alva adalah gambaran mesin tanpa emosi. Namun dalam beberapa kesempatan setelah Alva memperkenalkan istrinya sebagai istri Alva, Siska melihat sikap lain dari diri Alva.


Pria itu bukan robot tanpa emosi. Karena saat ini, Siska dengan jelas mampu melihat kebahagiaan tiada tara yang tidak bisa terbendung disepasang mata hitam yang berbinar bagai bintang itu.


Alva, tidak pernah tersenyum sebahagia dan selebar itu kepada siapapun kecuali kepada sang istri tercinta.


...***...


Seseorang itu berdiri didekat pintu ruangan Alva yang sedikit terbuka. Ia mengenakan kemeja hitam dan rok biru muda panjang dengan heels setinggi lima centimeter. Bibir merah mudanya mengerut selama beberapa saat sebelum dia bergumam dengan suara samar.


"Jadi dia hamil?"


__ADS_1


__ADS_2