My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 146: Never Regret And Perfect Gifts


__ADS_3

"Mengunjungi anakku."


Exel dengan tenang menjawab pertanyaan Amber. Amber mengerutkan kening ketika mendengar jawaban Exel. Ia tanpa sadar menyentuh perutnya dan menatap tajam pria didepannya.


"Bukankah aku sudah menegaskan bahwa kau tidak memiliki hubungan apapun dengan anak ini? Dia milikku, bukan milikmu."


Exel dengan tenang mengabaikan perkataan Amber dan merogoh kantung celananya, mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat yang tipis. Sembari berkata, "Ada cek didalamnya. Kau bisa menggunakannya untuk membeli kebutuhanmu dan kebutuhannya. Aku akan kemari setiap seminggu sekali untuk memberikannya lagi."


"Mengapa harus kamu? " Amber berkata sembari menerima amplop itu.


Bukannya Amber mata duitan. Amber masih memiliki banyak uang untuk dirinya sendiri, namun Amber hanya tidak ingin membiarkan pria ini lepas dari tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dan seorang pria yang sudah merusak masa depan seseorang. Amber ingin dia terbebani dengan dirinya sendiri yang meminta uang kepadanya. Meski tidak seberapa, namun setidaknya pria itu harus tahu bagaimana bertanggung jawab akan apa yang dia lakukan.


Exel tidak menjawab pertanyaan Amber dan melihat kedalam. Dapur bangunan sederhana itu berada dekat dengan ruang tamu yang bersebelahan dengan ruang utama. Dari pintu luar, Exel dapat melihat ada sesuatu yang direbus didalam panci. Ia kembali memandang Amber.


"Aku lapar."


Amber mengerutkan keningnya dan melirik kedalam rumahnya. "Pergilah ke restourant."


Exel menahan pintu yang hendak ditutup Amber dan menatap gadis itu dengan ekspresi wajah yang tidak berubah. Keduanya saling bersitatap selama beberapa waktu sebelum Amber menghela napas dan berbalik. "Lepas sepatumu sebelum masuk."


Amber melangkah menuju dapur dan meninggalkan Exel yang menatap punggungnya selama beberapa detik sebelum melepas sepatunya dan melangkah masuk. Lantai dingin, namun suasana rumah itu hangat dan nyaman. Exel mendudukkan dirinya di bangku dimeja makan, meletakkan tangannya diatas meja dan menatap sekelilingnya dengan tenang. Sepasang maniknya menatap fitur rumah sederhana bercat putih itu.


Jendela Awning berambang putih menjadi akses keluar masuknya cahaya dan udara segar. Tirai putih semi transparan dan tirai yang lebih tebal berwarna biru gelap diikat menggunakan pita putih. Meja dan sofa diatata dengan rapi didepan televisi besar diatas meja dengan pot bunga disamping kanan dan kirinya. Foto-foto lama tertempel didinding, menampilkan gambaran orang-orang yang asing dimatanya.


Exel bangkit berdiri, melangkah mendekati nakas meja didekat televisi dan dengan santai mengambil sebuah album foto.


Ia membukanya dan menemukan banyak foto. Diantara banyaknya foto itu, ada sosok Amber dari kanak-kanak sampai remaja.


Didapur, Amber melangkah dengan membawa mangkuk makanan. Ia meletakkannya diatas meja dan melirik Exel sebelum berkata. "Apa yang kamu lakukan disana? "


Sebelum kembali menuju dapur untuk mengambil makanan lainnya. Ketika dia kembali kemudian, dia melihat Exel melangkah mendekat ke meja makan dan kemudian duduk menghadap makanan. Makanan mengepul dengan hangat, dan aromanya enak. Meski tidak bisa memasak dengan lihai seperti Arana atau bibinya, Amber masih bisa memasak.


"Habiskan makananmu sebelum bibi kembali. Jika dia melihatmu, aku khawatir kau akan ditendang keluar di detik berikutnya."


"Aku mengerti." Exel mulai menyendokkan makanan kedalam bibirnya dan dengan tenang menyantap makanan yang dimasak oleh Amber.


Amber duduk diseberangnya, tidak mengatakan apapun dan dengan tenang memakan buah strobery yang sudah dipotong dan sudah dicuci. Lima menit kemudian, semangkuk sup sudah habis, dan sepiring ayam jahe juga sudah habis dimakan oleh Exel. Ia menyeka bibirnya dengan tissue dan dengan tenang berdiri.

__ADS_1


"Terimakasih untuk makanannya."


Ia berbalik dan melangkah menuju pintu keluar. Ia membuka knop pintu ketika dia tiba-tiba berhenti untuk sesaat dan berucap dengan nada datar, "Aku tidak pernah menyesal melakukannya di malam itu, Amber."


Kemudian, pintu tertutup.


Amber yang ditinggalkan menghentikan kunyahannya. Ia menatap mangkuk dan piring kosong didepannya dengan tatapan kosong sebelum ia memandang pintu yang tertutup. Ingatan malam itu kembali datang kepadanya. Rasa sakit yang dia rasakan dan perasaan takut dan tidak berdaya yang dia alami. Seperti parasit yang menyebar ke otaknya, rasanya Amber tidak bisa kabur dan tidak bisa menghilangkan bayangan pria itu.


Amber menyeka cairan bening yang meluncur kepipinya dengan segera. Ia berkedip selama beberapa detik sebelum bangkit dan mulai membereskan piring dan mangkuk kotor sebelum mencucinya dengan cepat di washtafel. Setelahnya, Amber membereskan barang-barang yang berantakan dan mengembalikannya ketempat semula.


Langkahnya terhenti ketika ia menatap album yang ada diatas meja, terbaring miring. Ia mengulurkan tangannya dan membuka album tersebut, tersenyum ketika mendapati foto lama dirinya yang dia ingat jelas diambil bersama bibinya.


Amber terus membalik lembar demi lembar album sebelum dia berhenti dan menatap halaman satu halaman kosong album itu. Jika Amber tidak salah ingat, seharusnya ada satu foto dirinya yang disejajarkan dengan bibinya.


"Dimana fotonya? " Gumamnya.


Disisi lain, Exel melangkah memasuki mobilnya dan memandang kedepan selama beberapa detik sebelum mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya. Sebuah foto, dimana Amber yang menggunakan mini dress kuning tengah tersenyum kearah kamera ketika ia merentangkan tangannya yang membawa rangkaian bunga dipantai. Senyumnya yang lebar dengan angin yang berhembus menerbangkan anak rambutnya. Siapapun yang melihat foto itu akan bisa melihat betapa bahagianya dan betapa riangnya gadis itu.


Bibir Exel sedikit menipis, sebelum dia menyimpan foto itu sebelum dia membungkuk dan meletakkan wajahnya diantara kedua lengannya diatas stir mobilnya.


"Hah.."


2 bulan kemudian


Memasuki usia kandungan empat bulan, Arana benar-benar dibatasi dalam banyak hal. Arletta lebih sering berkunjung dan menginap di apartemen Alva dan Arana begitu juga dengan Lidia yang beberapa kali datang.


Berada dirumah sendirian sembari menunggu Arletta yang akan datang, Arana yang bosan karena tidak melakukan apapun memilih untuk melakukan videocall dengan Amber. Karena kehamilan keduanya, keduanya tidak bisa bertemu karena ibu hamil memang dilarang naik pesawat sampai usia kandungan setidaknya mencapai 7 bulan. Arana menunggu panggilan tersambung. Tidak sampai dial ketiga, panggilan tersambung. Arana menyunggingkan senyuman dan hendak menayapa ketika ia melihat wajah seseorang yang dikenalnya berada dilayar ponselnya.


"Loh? Kak Exel? "


[Amber sedang ada di kamar mandi. Tunggulah sebentar.]


Arana melihat tatapan datar Exel dan sedikit bingung dihatinya. Mengapa pria itu ada dirumah Amber?


[Jangan menatapku dengan tatapan penuh kecurigaan seperti itu. Sejujurnya aku tidak jahat, bukankah kamu juga sudah mengetahuinya?]


Arana diam sebelum menghela napas. "Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya bingung, mengapa kak Exel bisa ada dirumah Amber? "

__ADS_1


[Aku kemari setiap minggu. Memberikan uang dan juga memeriksa keadaannya. Bagaimanapun juga, aku adalah ayah anak diperut Amber.]


Ya, bagaimanapun, dia adalah ayahnya dan orang yang seharusnya bertanggung jawab atas bayi diperut Amber. Arana sedikit ragu sebelum dengan samar dia bertanya, "Apa kak Exel benar-benar mabuk ... malam itu? "


Ada keheningan diantara keduanya, sebelum sebuah suara terlebih dulu mengalihkan perhatian keduanya. [Siapa itu?]


[Arana.]


[Eh, kemarikan ponselku!]


Kamera sedikit bergoyang selama beberapa detik. Kemudian, wajah Amber terlihat. Arana dengan tenang menyunggingkan senyuman dan menyapa Amber yang mendudukkan dirinya disofa. "Amber, bagaimana kabarmu? Aku sedih sekali aku tidak bisa kesana untuk mengetahui keadaan keponakanku."


Wajah Amber berkerut sedih. [Kamu pikir aku juga tidak sedih? Kehamilan lima bulan ini membuat aktivitasku semakin sulit. Bukan berarti aku mengeluh, hanya tunggu sampai dua bulan lagi dan aku bisa kesana untuk menyapa keponakanku juga!]


[Ehh~ Ngomong-ngomong, aku kemarin memeriksakan kandunganku dan tebak apa jenis kelaminnya~]


Arana sedikit berpikir sebelum menjawab dengan ragu. "Laki-laki? "


Amber segera menampilkan senyuman cerah. [Iya! Laki-laki!]


[Aku senang sekali. Sebenarnya apapun jenis kelaminnya, aku akan sangat senang. Aku hanya bertanya-tanya, siapa yang akan dia turuni, ya? Nana, bagaimana ini, aku jadi tidak sabar menunggu aku melahirkan!]


Suara Exel terdengar diseberang. [Jangan terburu-buru dan santai saja. Bayinya sudah bisa mendengar.]


[Benarkah? Dokter tidak mengatakan itu kemarin.]


[Kau terlalu girang sampai tidak mendengarkan kata-kata dokter.]


[Ohh..]


Arana mempelajari kata-kata Amber dan segera tersenyum lega. Amber mungkin sudah tidak menyimpan dendam kepada Exel. Dilihat bagaimana Amber masih bisa tersenyum dengan riang dan berkomunikasi dengan Exel membuktikan bahwa Amber benar-benar sudah dewasa secara mentalnya. Meski Exel mungkin menorehkan luka dihatinya dan menghancurkan masa depannya, namun pria itu masih ada disamping Amber dan mendukungnya baik secara finansial maupun secara mental.


Amber menatap Arana dan tersenyum. [Nana, bagaimana denganmu? Bayinya laki-laki atau perempuan?]


Arana menggelengkan kepalanya. "Aku belum mengeceknya. Mungkin, juga tidak akan mengeceknya. Soalnya, Alva bilang lebih baik untuk tidak tahu dan membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Baik laki-laki ataupun perempuan, dia akan menjadi kejutan untuk kami."


"Karena keberadaannya adalah hadiah paling sempurna dari Tuhan untuk kami."

__ADS_1



__ADS_2