
"Astaga, Ala. Bagaimana kamu bisa terluka seperti ini?! Apakah masih sakit, nak? Astaga! Siapa yang tega melakukan ini padamu!"
Arana tahu, didepan semua orang yang hadir diruang perawatan khususnya karena luka dibetisnya, mamanya memperlihatkan bentuk kepedulian dan kecemasan kepada sosok Alana. Jadi dengan penuh drama dia berkata. "Sangat menyakitkan! Mama, kaki Ala sakit!"
Sebenarnya, Arana memang merasakan rasa sakit. Tetapi itu tidak begitu menyakitkan. Itu bukan luka yang parah dan hanya luka gores. Semenyakitkan apapun luka, Arana tak mampu membandingkannya dengan sakit hati yang dirasakannya saat ia memiliki orangtua, namun ia dibuang begitu saja dan bahkan tidak pernah diingat dalam hidup mereka.
Luka ini tidak ada apa-apanya dibandingkan perasaannya, bahkan pada saat ini.
"Aku sudah menyuruh seseorang menyelidiki masalah ini." Kata Alva yang baru saja kembali setelah menghubungi seseorang beberapa waktu lalu.
Masih dengan jas abu-abu yang melekat ditubuh atletisnya, Alva meninggalkan pekerjaannya yang menumpuk dimeja ruang kerjanya. Arana memperhatikan bahwa pria itu benar-benar peduli dan memprioritaskannya.
"Alana sungguh beruntung. Kerasukan apa sehingga dia menolak pria sebaik ini?" Batinnya tak.habis pikir dengan saudari kembarnya itu.
"Baiklah. Tante lega mendengarnya. Terimakasih, Alva." Ucap Lidia membuat Alva mengangguk. Setelahnya, pria itu mengulurkan tangannya dan mengusap lembut rambut Alana.
"Aku berjanji akan menemukan orang yang melukaimu. Maukah kamu menunggu sebentar?" Katanya lembut.
Arana mendongak, memandang tatapan Alva. Bibirnya terbuka selama dua detik, namun tidak ada suara yang keluar. Sebelum Arana menyunggingkan senyuman setipis kertas dan menganggukkan kepalanya. "Baiklah."
...***...
Didalam kamarnya, Arana menutup buku yang baru saja dia baca. Suasana sepi tak terelakkan ketika beberapa waktu lalu Lidia dan Michael sama-sama memiliki urusan pekerjaan. Demikian dengan Alva. Tidak mungkin baginya untuk menahan pria itu hanya karenna dia terluka dan berpura-pura menjadi Alana.
"Huh," Arana bergumam.
Pikirannya berkelana pada kejadian yang menurutnya gila untuk bisa dialami gadis rumahan sepertinya!
"Apakah Alana ditargetkan? Atau itu karena ketidaksengajaan saja?" Batin Arana.
Arana benar-benar berharap bahwa imajinasinya salah. Dia berharap bahwa apa yang membayangi pikirannya hanya karena kesukaannya pada film aksi. Detik kemudian, dia meremat selimut yang menutupi kakinya yang terlapis perban putih. "Tapi jika itu benar, siapa yang mencoba menyakiti Alana?"
__ADS_1
Gadis itu meraih ponsel pribadinya yang tergeletak diatas nakas meja. Ia membuka kolom chat dan mengirim pesan pada Amber sembari berbaring setengah miring.
[Amber, apa kamu sibuk?]
Sekitar sepuluh detik kemudian, ada balasan dari Amber. [Rana! Aku akan mati karena tugas! Kamu tahu, dosen baruku sangat dan sangat menyebalkan! Aku hanya terlambar dua menit Rana. Ingat, dua menit! Tapi dia menyuruhku menyalin seratus soal yang aku bahkan tidak tahu jawabannya!]
[Dia guru terkejam Rana!]
Arana menyunggingkan senyuman dan mengetik balasan. [Mengapa kamu bisa terlambat, Amber? Kamu harus bertanggung jawab untuk kesalahan yang kamu buat.]
[Aku sudah menjelaskan bahwa aku terlambat karena kehilangan kunci mobilku dirumah. Untungnya aku menemukannya segera dibawah bantal sofa. Tapi dia tidak mau percaya padaku.]
[Oh, tunggu Rana! Dosen melihatku dan berjalan kearahku!]
Setelah beberapa waktu kemudian, tak ada pesan lagi dari Amber. Nampaknya gadis itu tengah mengambil kuliah malam dan saat bertukar pesan dengannya, sang dosen melihatnya dan menghampirinya.
Mungkin ponsel sahabatnya itu sudah disita?
Membenamkan wajahnya dibantal, Arana menghela napas dan bergumam dengan suara samar. "Tidak apa Rana. Kamu adalah perempuan yang kuat!"
"Kamu pasti bertahan." Lirihnya.
...***...
"Kudengar pernikahan putrimu akan diundur sampai Rabu, nanti?" Seorang wanita dengan kalung mutiara melingkar dilehernya bertanya dengan kaya ekspresi.
Lidia hanya menyunggingkan senyuman sedih. "Kalian tahu putriku baru saja mengalami kecelakaan kemarin malam. Kakinya terluka, dan butuh beberapa hari untuk memastikan kepulihannya."
"Bagaimana dengan keluarga pihak laki-laki? Kudengar mereka yang mempersiapkan semua kebutuhan pernikahan. Apakah mereka tidak malu saat undangan sudah tersebar?"
Satu lagi perkataan sosialita julid yang senang membicarakan dan bergosip tentang orang lain sampai ketelinga Arana pagi itu. Luar biasanya, mereka bahkan tak segan bergosip didepan yang bersangkutan atau bahkan si protagonis dari bahan gosipan mereka.
__ADS_1
Gadis itu dengan berhati-hati menggerakkan kursi roda yang didudukinya. Sebenarnya Arana tidak terluka begitu parah. Dikamarnya dia bisa bergerak dengan bebas meski sedikit kesusahan. Namun diluar kamarnya, Arana harus menggunakan kursi roda karena ancaman Alva yang akan menyewa pengasuh profesional untuk mengurusnya 24 jam.
Sungguh, itu terasa mengerikan hanya untuk membayangkannya.
"Mengapa harus malu?"
Ketika suara itu terdengar, semua yang ada diruang tamu menoleh. Mendapati Alva melangkah dengan tegas dan penuh wibawa. Dengan gaya rambut yang rapi dan jas hitam yang melekat ditubuh atletisnya, Alva nampak sangat memukau. Ibu-ibu yang bergosip dengan penuh semangat tadi tiba-tiba merasa kehilangan suaranya dan menyunggingkan senyuman menyanjung padanya.
"Alva? Apa kamu ingin menemui Ala?" Tanya Lidia membuat Alva mengangguk singkat.
"Ya, ma. Apa Ala ada dikamar?"
Mendengar pertanyaan itu, Arana segera mengangkat suaranya. Muncul dari dapur yang hanya dipisahkan oleh teralis. Mungkin karena sibuknya mereka bergosip, mereka sampai tak menyadari Arana ada disebelah mereka. "Alva? Apa kamu tidak memiliki pekerjaan di kantor?"
Alva menghampiri Arana, meraih tangannya untuk dikecup. "Pekerjaan dikantor sudah ditangani oleh Erlan. Lagipula, aku merindukanmu. Jadi aku datang."
"Apa kakimu masih sakit?" Pertanyaan itu dijawab dengan gelengan oleh Arana.
Ia berkata dengan nada manja, persis seperti Alana. "Sudah tidak terlalu. Tapi terkadang rasanya perih."
Ia tiba-tiba memikirkan sesuatu. "Apa kamu sudah menemukannya?"
Alva paham arah pembicaraan ini segera. Namun ia menggeleng dengan wajah yang tidak bisa dikatakan baik. "Aku sudah menyewa detektif dan kepolisian terbaik untuk menyelidiki ini. Tapi tampaknya orang itu memiliki koneksi kuat yang membuatnya menjadi semu disini."
"Jadi belum?" Arana sedikit kecewa. Tetapi dia tidak memaksa karena tahu bahwa menangkap penjahat seperti ini tidaklah mudah. Hanya saja, Arana hanya penasaran dengan siapa yang memiliki niatan seburuk itu pada kakak kembarnya hingga membuatnya terluka seperti itu.
"Yah, kuharap kamu bisa segera menangkapnya. Atau aku akan meragukan kekuatan kekasihku ini." Ucapnya setengah bercanda.
Alva menatapnya, mengepalkan tangannya sebelum menganggukkan kepalanya. "Aku pasti akan menangkapnya untukmu."
__ADS_1