
Beberapa jam yang lalu
Memandang sang mama yang berlalu keluar dari kamarnya dengan sepasang manik berbinar, Amber tidak sabar untuk mengejutkan wanita itu. Ada kue ulangtahun kecil ditangannya, dan dia membawa korek kecil sebelum dengan tenang memasuki lemari pakaian sang mama, berniat mengejutkannya ketika dia kembali nanti.
Amber tidak tahu berapa lama dia menunggu Leviana, namun ketika dia merasa kakinya mulai kebas karena berada diruangan yang sempit, ada gerakan dipintu.
Amber memasang senyuman lebar, mengintip dari celah lemari sebelum senyumnya luntur seketika. Ada Leviana disana, tengah terduduk diranjang dan nampak tersenyum memandang kesatu arah. Ketika seseorang mucul, manik Amber melebar dan bergetar dengan liar. Seorang pria muncul, menyambut uluran tangan Leviana ketika tangan kanannya dengan sensual meraih bagian belakang kepala wanita itu dan segera menyerangnya dengan ciuman ganas hingga keduanya terlentang diatas tempat tidur, dibawah pengawasan Amber.
Tatapan Amber kosong. Wajahnya pias ketika suasana menjadi lebih panas dan menjadi lebih tidak layak disaksikan oleh anak seusianya.
"Mnh ... sayang, aku mencintaimu~"
Brak!
Kedua insan manusia yang ada didalam kamar itu terkejut dan terlonjak, memandang kearah suara. Leviana terkejut mendapati Amber tengah berada di depan lemari, membanting pintu dengan wajah yang menampilkan ekspresi yang begitu buruk dan tidak bisa terbaca.
"Amber! Apa yang kamu lakukan disini?!"
Amber tidak membutuhkan penjelasan, Amber tidak membutuhkan kata-kata apapun dari sang mama, apa yang dibutuhkannya sekarang adalan melarikan diri dan mencoba menyuarakan emosinya dengan bantingan kuenya. "Bagaimana mama bisa mengkhianati papa?! Mama kejam!"
Plak!
"Diam Amber! Kembali ke kamarmu, mama akan berbicara dengnamu nanti!" lantang Leviana tanpa sedikitpun perasaan bersalah telah menampar putri semata wayangnya.
"Mama menamparku?!"
Leviana mengerutkan keningnya. "Amber, kembali ke kamarmu."
__ADS_1
"Kenapa mama menamparku? Mama yang bersalah!" Teriak Amber tidak terima ketika dia ditampar seperti itu.
Air mata merambah dikedua pipi Amber ketika rasa panas menyapa pipinya. Meskipun tamparan Leviana tidak begitu keras, namun tetap saja membuat Amber merasakan perasaan sakit. Sakit yang dirasakannya dipipinya nyaris tidak sebanding dengan rasa sakit yang hatinya rasakan. Sang mama yang menyayanginya, menyayangi papanya, ternyata mengkhianati sang papa dibelakangnya.
"Amber!"
Pria dibelakangnya yang sejak tadi diam membuka suaranya. "Oh, ini anak haram yang kamu ceritakan padaku waktu itu? Kamu bilang dia merepotkan dan mengganggu, sepertinya memang benar-benar begitu."
Deg!
Leviana menoleh dan memandangnya dengan sedikit senyuman. "Aku akan mengurusnya."
Amber mengabaikan perintah Leviana yang menyuruhnya kembali ke kamar dan dengan tidak percaya bertanya kepada Leviana. "Aku ... apa yang dia katakan ma? Pria tua ini mengatakan omong kosong, kan? Aku—!"
"Kamu memang anak haram Amber. Sejak awal, aku tidak pernah berniat melahirkanmu kedunia ini." Kata Leviana membuat Amber tercenang.
Leviana tidak lagi menyembunyikan dirinya yang sebenarnya dan dengan tenang berkata, "Sejak awal aku sudah tidak menyukaimu. Betapa kau mengingatkanku pada laki-laki menjijikkan yang memperkosaku waktu itu. Perasaan benci itu kurasakan ketika aku melihatmu. Aku bahkan pernah berniat membunuhmu, sayangnya, kamu tidak mati."
"Mama bohong!'
Leviana memandang rendah Amber. "Apa kau pikir aku bercanda sekarang?"
Amber berbalik dan berlari keluar.
Tentu saja Amber tidak akan menuruti perintah Leviana yang menyuruhnya ke kamar. Dia berlari keluar, mengabaikan pelayan yang nampak memanggilnya dengan cemas ketika melihatnya menangis begitu turun dari lantai dua. Amber mengabaikannya dan terus melangkahkan kakinya menapak dijalanan. Amber tidak tahu kemana dia menuju, dia hanya berlari kemana kakinya membawanya. Sampai pada satu titik, Amber merasa lelah dan dia menyadari bahwa dia ada disebuah taman yang nampaknya jauh dari rumahnya.
Taman sepi karena itu bukan hari libur. Amber menyembunyikan dirinya dibalik pohon, menenggelamkan wajahnya dilipatan kakinya dan menangis tanpa suara.
__ADS_1
Amber sungguh tidak percaya bahwa Leviana menganggapnya sebagai pengganggu dan seseorang yang merepotkan selama ini. Leviana tidak pernah sekalipun mengatakan tentang identitasnya sebagai anak haram, dan bahkan dia baru mengeetahuinya hari ini karena pria asing itu. Amber tidak menduga bahwa kelahirannya adalah sesuatu yang tidak diharapkan oleh orangtuanya. Sang ayah yang sudah lebih dahulu membuangnya, bukan karena meninggal dan sang mama yang berpura-pura baik sebelum pada akhirnya menjatuhkannya dengan telak kedalam rasa sakit.
Amber tidak tahu berapa lama dia disana, menangis dan mencela dirinya sendiri.
Ketika dia menyadarinya, sepasang maniknya tidak lagi memiliki cahaya. Dia memandang kosong kedepan dan tidak sedikitpun menitikan air matanya lagi.
"Jika mereka tidak menginginkanku, bukankah aku bisa tidak menginginkan mereka juga?" Lirih Amber sembari menopang dagunya di lipatan tangannya.
"Amber!"
Amber menoleh ketika merasa namanya dipanggil oleh suara yang familiar. Ada dua orang yang melangkah cepat kearahnya dan dengan cepat mengelilinginya. "Amber, apa yang terjadi? Mengapa kamu disini? Tunggu, apakah kamu habis menangis?"
Arselyne adalah yang paling awal bertanya dan pertanyaannya hampir sepanjang kereta mini. Amber mendengarnya dan memandangnya dengan linglung, namun hampir tidak ada emosi yang tampak disepasang maniknya yang sewarna perak lembut. Abu itu benar-benar memikat jika memiliki kilauan, namun apa yang Arana temukan hanyalah sepasang manik sayu Amber.
Arana mengangkat kedua tangannya, mendaratkannya kewajah Amber, menangkup kedua pipinya dan membawanya untuk memandang kearah Arana. Ketika merasa Amber sudah terfokus padanya, Arana dengan lembut menarik Amber kedalam pelukannya dan dengan ringan menepuk punggungnya sembari bergumam disampingnya.
"Kalau kamu ingin menangis, tidak apa. Kami sudah disini Amber."
"Kami adalah keluargamu. Kami ada disini untukmu, jangan merasa sendirian dan jangan merasa bahwa hidupmu tidak berarti. Apapun masalahmu, kami akan selalu ada untukmu dan membantu sebisa kami." Ucap Arana, membuat manik Amber berkaca-kaca.
Melihat keduanya, Arselyne mau tak mau mengerutkan bibirnya sedih dan mengikuti Arana untuk memeluk Amber. Hingga posisi Amber berada diantara pelukan Alana dan Arselyne.
"Jangan menangis. Kamu tambah jelek." Kata Arselyne.
"Hiks ... hiks ..." Amber mulai terisak, "Na ... Lily mengataiku jelek, hiks! Jelek, huu!"
Tapi Arana merasakan, pelukan balasan yang erat dipinggangnya.
__ADS_1
Amber benar-benar membutuhkan mereka untuk saat ini.