
Arana melangkah menghampiri seorang pria yang berdiri disamping mobil mewah berwarna hitam. Entah apa modelnya, tapi Arana yakin harganya pasti selangit. Pria muda yang berdiri didepannya menggunakan kemeja dan jas hitam. Nampaknya, dia adalah Erlan, asisten Alva.
"Silakan masuk. Bos sudah menyuruh saya mengantar anda ke butik." Ucap Erlan dengan intonasi datar.
Arana melihat tatapan Erlan dan tidak bisa menahan membatin dibenaknya. Pria didepannya, nampaknya cukup tidak menyukainya. Oh, ralat——tidak menyukai Alana.
"Kalau begitu jangan sampai terlambat. Aku harus memastikan gaun pernikahanku secantik yang aku mau." Ucap Arana mencoba meniru Alana.
Selama beberapa hari berbaur dengan Alana, Arana tahu bahwa Alana itu sombong dan berharga diri tinggi. Kata-katanya terkadang tajam, dan dia tidak pernah suka memuji orang lain. Tidak suka berdekatan dengan yang lebih rendah darinya. Dan yang lebih utama adalah dia tidak pernah mengucapkan terima kasih bahkan jika seseorang menyelamatkannya.
Ia terlalu, menjunjung tinggi kesombongan yang dimilikinya.
Erlan tidak mengubah ekspresinya dan menutup pintu setelah Arana masuk dan mendudukkan dirinya dibangku penumpang belakang. Arana tahu bahwa sebenarnya, normalnya dia seharusnya duduk dibangku penumpang depan untuk menghormati Erlan. Sebab Erlan bukan supirnya, dia harusnya duduk didepan. Tetapi sekali lagi, kembali pada sifat dan sikap Alana.
Jadi Arana hanya bisa duduk dibelakang.
"Bagaimana ini? Sepertinya dia sangat tidak menyukai Alana. Suasana dimobil ini terlalu dingin hingga membuatku gugup." Batin Arana menenangkan dirinya.
Ia merogoh ponselnya dan mulai memainkan ponselnya. Menelusuri pencarian apapun untuk berpura-pura sibuk. Sepanjang perjalanan hingga akhirnya keduanya sampai dibutik setelah 35 menit perjalanan tanpa kemacetan, keduanya diam larut dalam perhatian mereka masing-masing.
Arana yang canggung dan berusaha mempertahankan image Alana, sedangkan Erlan yang bahkan mungkin menganggap keberadaan Arana bagai angin.
"Kau bisa kembali, atau terserah padamu." Ucap Arana tanpa memandang Erlan.
"Betapa arogannya." Erlan membatin.
Membiarkan Arana melangkah menjauh dengan rasa tidak nyaman dihatinya. Di Melbourne, Arana sama sekali tidak pernah bersikap seperti ini. Ia ramah pada siapapun, dan orang lain pun menyukai sifat hangatnya. Tetapi sekarang, ia harus berpura-pura menjadi kembarannya yang entah bagaimana sifatnya bisa sangat berbanding terbalik dengannya.
Tanpa mengatakan sepatah katapun, Erlan pergi setelah Arana memasuki butik. Lagipula Alva tidak menyuruh dirinya untuk menemani Arana yang diketahuinya adalah Alana.
"Sangat bagus," batin Arana kala melihat arsitekstur bangunan butik itu.
Ada cahaya lembut yang menyorot dimanapun. Disetiap sisi bahkan sampai setiap sudut. Gaun-gaun yang dipajang dietalase kaca didinding sangat menarik dengan sentuhan marmer hitam dan latar belakang kotak putih yang disorot cahaya lembut.
__ADS_1
Arana hanya bisa terpukau dengan gaun-gaun yang terpajang. "Sangat cantik!"
"Nona Alana?" Panggilan seseorang membuat Arana menoleh.
Ada seorang wanita yang mengenakan pakaian sederhana. Ada kacamata persegi bertengger diwajahnya yang sudah setengah baya. Penampilannya lembut dan pembawaannya terlihat ramah.
"Bu Karina, dimana saya harus menaruh gulungan kain yang berbeda ini?"
Belum sempat Arana membuka suaranya, ada suara lain yang membuat wanita bernama Karina itu menoleh dan berkata, "Letakkan saja dikotak penyimpanan warna hijau didekat mejaku. Aku akan mengurusnya nanti."
Perempuan yang tengah membawa beberapa kain yang nampak khusus ditangannya mengangguk dan undur diri dari sana.
"Apakah gaunku sudah jadi?" Tanya Arana ketika menyadari bahwa wanita didepannya adalah sang pemilik butik sendiri.
Karina Andini, lahir bukan dari keluarga berlatarbelakang kaya. Ibunya hanyalah buruh cuci sementara ayahnya pekerja bangunan. Ia hidup sederhana dan bahkan mungkin sedikit kekurangan. Tetapi, keluarganya adalah keluarga yang hangat. Didikan ayah dan ibunya membuatnya tumbuh menjadi sosok hangat dan mandiri.
Sejak dia sadar bahwa dia senang menggambar, terutama mendesain pakaian, dia berusaha meraih beasiswa diuniversitas terbaik dinegara itu dengan belajar dengan giat.
"Ya, gaunnya sudah jadi. Anda bisa mengikuti saya untuk mencoba gaunnya." Ucap Karina sembari tersenyum lembut.
Untuk sesaat, Arana tertegun dengan senyuman itu. Senyuman yang sama persis seperti senyuman yang selalu dilayangkan neneknya untuk dirinya dikala sang nenek masih hidup. Arana menahan emosi didalam benaknya dan mencoba bersikap sealami mungkin. Berjalan mengikuti Karina hingga keruangan dimana gaun pernikahan yang sebenarnya adalah untuk Alana, namun akan dikenakannya.
Ketika pintu besar itu terbuka, sepasang manik Arana sedikit melebar.
...***...
"Rapat selesai."
Begitu berucap, Alva bangkit berdiri dan melangkah keluar, sebelum staf lain menyusul untuk kembali kedepartemen mereka masing-masing. Dengan efisiensinya sebagai CEO muda genius, rapat yang seharusnya bisa berjalan selama satu hingga satu setengah jam dapat diselesaikannya hanya dalam waktu setengah jam saja.
Ia menemukan Erlan tengah berjalan kearahnya dan bertanya, "Sudah menjemput Alana?"
Erlan mengangguk. "Yah, sudah kuantarkan sampai dibutik dengan aman."
__ADS_1
Alva menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu sekarang antar aku kesana."
Erlan memprotes. "Hey, memangnya aku supir pribadimu?"
"Mungkin." Berjalan meninggalkan Erlan sembari membenahi jasnya. Ditinggalkan, Erlan dengan cepat menyusul sembari bergumam dalam hatinya. "Sungguh sahabat yang menyebalkan, huh!"
Lift khusus untuknya membawanya turun kebasement. Erlan duduk dibangku pengemudi sementara Alva duduk dibangku co-pilot, membuka ponselnya dan nampak mengutak-atik sesuatu selama Erlan mengendarai mobil mewah itu menuju Karina's Butique.
Disisi lain beberapa saat kemudian, Arana tengah memandang dirinya didepan pantulan cermin. Ada gaun indah melekat ditubuhnya. Gambaran sempurna terpampang didepan matanya, tetapi Arana tidak begitu bersemangat atau merasa harus bergembira dengan cantiknya gaun itu.
Arana merasa bersalah telah mengikursertakan gaun indah ini dalam rencana yang disetujuinya. Sangat disayangkan, gaun yang dibuat dengan cinta kasih dan rasa syukur ini harus dikotori dengan kepalsuan.
Arana menghela napas, berbalik membelakangi cermin untuk melepas anting dan hiasan rambut yang dipasangkan oleh Karina.
"Kamu cantik sekali."
Jantung Arana bak dihantam sesuatu. Arana terkejut dengan aksi tiba-tiba seseorang yang memeluknya dari belakang. Melingkarkan lengannya dipinggangnya dan menempelkan dagunya kebahunya.
Set! Brugh!
Arana bergerak bahkan tanpa disadarinya. Tangannya menyikut perut seseorang dibelakangnya, menarik lengannya, menggantungkannya dibahunya dan membantingnya sebelum mundur selangkah sembari mendengar rintihan seseorang yang berbaring dilantai sembari memegangi punggungnya.
"Akhh!!" Ringis seseorang itu.
Ketika tirai terbuka, Erlan membelalak dan berkata terkejut. "Bos?! Apa yang terjadi denganmu?!"
Bos?
Bosnya Erlan?
Mendengar itu, Arana melotot sebelum memekik tanpa sadar. "Alva?!"
__ADS_1