
Pintu terbuka ketika Arana perlahan membuka matanya. Telinganya menangkap suara Lidia yang bergema diruangan itu. "Alana, sayang!"
Dari pintu, Lidia melangkah masuk disusul Alva dan Amber. Wanita itu menatap sekeliling mencari Arana, sebelum menemukan gadis itu perlahan bangkit dari posisi tidurnya di sofa. Maniknya sedikit basah oleh air mata, dan hidungnya sedikit memerah. Lidia langsung memberikan Arana pelukan. Gadis itu melirik Lidia yang menangis, dan dalam hati mencibir bahwa wanita itu menangis palsu. Meskipun lebih jauh di lubuk hatinya, dia merasakan perasaan sakit saat menyadari pelukan ini semata-mata untuk menenangkan sosok Alana.
"Sayang, mama benar-benar tidak berpikir bahwa ada seseorang yang akan menyakitimu. Mama khawatir kamu terluka, sayang." Disela tangisnya, Lidia berkata dengan sedih. Pemandangan itu membuat Amber yang berdiri paling belakang merotasi bola matanya malas. Hampir saja kelewatan untuk mencibir dan berdecih.
"Oh, drama yang bagus." Batinnya. Tidak perlu khawatir untuk melewatkannya. Wanita ini bahkan akan melakukannya setiap waktu selama dia dikelilingi oleh orang-orang penting. Oh, tentu saja.
Dia benar-benar tidak suka dengan Lidia dan Michael.
Arana mengusap punggung Lidia dan berkata dengan senyuman yang setengah melengkung. "Ala tidak apa ma. Aku tidak terluka. Jangan menangis."
Lidia menganggukkan kepalanya, dan memberikan ruang untuk Alva bergantian mengungkapkan kekhawatirannya. "Kamu baik-baik saja? Kamu tidak terluka, kan?"
Arana menggelengkan kepalanya. "Tidak, tapi aku masih takut."
Tentu saja Arana berbohong. Oke, dia memang takut. Tapi itu beberapa waktu lalu, hanya sesaat karena terkejut. Sekarang dia sudah baik-baik saja. Tapi dia harus berakting seperti Alana yang, ah, bagaimana mengatakannya?
Cengeng, pemarah, pendendam dan tidak pernah memaafkan?
Tangan Alva menyentuh pipi Arana. "Aku akan memastikan perempuan itu mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang terjadi padamu hari ini."
Arana hendak mengatakan sesuatu. Namun mengingat apa yang terjadi, menyadari siapa dirinya saat ini, dia menelan suaranya dan menganggukkan kepalanya. Dia merasa bersalah kepada Olivia, atas kemungkinan terburuk bahwa gadis itu akan mendekam dipenjara karena berusaha menyukainya. Namun, atas apa yang terjadi, dia tidak bisa membiarkan Olivia bebas berkeliaran dan kemungkinan terburuk akan kembali melukainya.
__ADS_1
Lebih baik mengantisipasi bukan?
"Kamu pasti terguncang sekali. Sayang, kedepannya, tolong jangan membuatku cemas seperti ini. Jika kamu menemukan sesuatu yang mencurigakan, kamu harus selalu mengatakannya kepadaku agar aku bisa mencegah hal seperti ini terjadi." Kata Alva penuh perhatian.
Arana menatap Alva dan menganggukkan kepalanya. Meski dalam hati, gadis itu memuji betapa kerennya pria ini, karena begitu penuh perhatian dan penyayang. "Alva benar-benar pria yang sempurna. Alana seharusnya bersyukur bisa dicintai pria sebaik dan sepeduli Alva."
"Terimakasih, sayang." Ucapnya mendapatkan balasan senyuman dari Alva.
...***...
Apartemen Golden Sun, K**amar 903**
Setelah pesta berakhir, Alva memboyong Arana ke apartemen yang selama ini sudah dibelinya sejak setahun yang lalu. Apartemen itu luas dan berlantai dua. Daripada apartemen, Arana lebih yakin jika itu sebenarnya sebuah rumah karena begitu mewah!
Begitu Arana menginjakkan kakinya kedalam, dia terperangah dan hampir menganga, ketika dia membatin dalam benaknya yang tersakiti. "Gajiku seumur hidup tidak akan cukup bahkan untuk menyewa apartemen ini semalam."
Sepasang manik hazel itu bergerak menelusuri setiap hal yang bisa tertangkap retina matanya. Semuanya mahal dan indah. Kilauan hampir bisa menggetarkan dompet kosong Arana yang ada di Melbourne. Teronggok ditumpukan kertas coretannya diatas meja kosan yang entah bagaimana nasibnya setelah dia kembali nanti.
Gila, bahkan apartemen tempat tinggal Lily saja tidak seperti ini. Atau rumah Amber, ya hampir mirip, sih dengan rumah Amber.
"Kamu bisa mandi lebih dulu." Arana mengangguk ketika Alva berkata demikian. Pesta berlangsung berjam-jam, dan tubuhnya benar-benar lengket dan terasa berat. Tidak perlu beralasan bahwa dia lelah, semua orang juga tahu bahwa badannya seperti tertimpa berkantung-kantung beras.
30 menit berlalu, Arana keluar dari kamar mandi. Set baju tidur celana setengah paha dan lengan pendek berwarna hitam itu mengungkap kulit putihnya. Pinggang rampingnya tercetak sempurna, dan rambut basah yang tengah dikeringkannya membuat penampilan Arana lebih segar. Memandang kamar luasnya yang kosong, Arana mengerutkan kening. Oh, apakah Alva mandi di kamar mandi bawah?
__ADS_1
Ternyata laki-laki mandi, lebih lama daripada yang dia pikir.
Gruluu~
Perutnya bergolak. Menyuarakan protesannya setelah hampir seharian belum mengkonsumsi makanan. Oh, terutama nasi atau roti. Sekarang Arana benar-benar lapar. Dia bahkan berpikir, mampu menghabiskan seekor ayam sendirian. "Sudah lewat jam makan malam. Tapi, Alva mungkin juga lapar."
Setelah bergumam pada dirinya sendiri, Arana meletakkan handuk kegantungan dan melangkah turun. Melewati beberapa anak tangga melingkar disudut ruangan, Arana terkejut ketika melihat Alva tengah berkutat dengan berkas-berkas ditangannya. Menghadap laptop dan ponselnya. Sibuk dengan pekerjaannya.
Pria itu mengenakan piyama persis seperti miliknya, dengan celana panjang. Rambutnya jatuh menutupi dahinya ketika biasanya helaian surai legam itu disisir sedemikian rupa sehingga sempurna. Alva menoleh ketika menyadari keberadaan Arana.
"Kamu sudah selesai mandi, sayang?" Tanyanya. Arana mengangguk. "Sudah."
Alva tersenyum, "Aku sudah membelikanmu makanan. Aku tahu kamu lapar. Jadi makanlah, dan kamu bisa beristirahat lebih dulu."
Arana bertanya. "Bagaimana denganmu?"
Pria rupawan itu menggeleng. "Aku akan mengerjakan ini sebentar dan akan menyusul istirahat. Jangan mengkhawatirkanku. Sekarang duduklah dan makanlah sampai kenyang, setelah itu pergilah istirahat."
Arana agak ragu selama beberapa waktu, namun pada akhirnya dia menganggukkan kepalanya dan melangkah menuju meja makan. Disana, ada beberapa piring makanan yang masih hangat. Ada spageti dan seafood. Oh, ada juga sepiring sosis dan daging panggang.
Arana menatapnya kagum, sebelum mengambil piring dan mengambil apa yang dia inginkan secukupnya. Dia tentu tidak bisa makan langsung dari piringnya, itu tidak sopan bahkan untuk suami sendiri ketika menyisakan makanan sisaan. Jadi dia cukup mengambil dengan piring lain dan menikmatinya dalam diam dan dalam perasaan riang.
"Sangat lezat." Batinnya.
__ADS_1