My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 57: You Only Mine


__ADS_3

Memandang sekelilingnya, Arana memandang bagian dalam hotel yang didatanginya dengab takjub. Langit-langit tinggi dengan ornamen lampu gantung yang berkilau hadir, menyapa indah maniknya. Saat ini pukul 12 siang di Singapura. Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, Arana merasa cukup lelah. Begitu juga dengan Alva.


Seorang pekerja hotel dengan segera menyambut Alva, dan menunjukkan kemana mereka harus pergi.


Arana menoleh menatap sekelilingnya. "Al, dimana Erlan?"


Alva mendorong, sedikit membungkuk sembari menjawab, "Erlan sedang mengurus sesuatu, dia akan kembali lebih lama. Tidak masalah, dia akan menyelesaikan semuanya."


Arana dengan patuh mengangguk. "Baiklah."


Beberapa waktu, keduanya telah sampai didepan sebuah pintu dilorong panjang. Kamar bernomor 2103 itu tepat berada di lantai paling atas, dan bahkan perjalanan kesana memakan waktu beberapa waktu dengan lift.


Arana menyaksikan dalam diam ketika petugas yang mengantarkan mereka menyerahkan sebuah kartu kepada Alva. Key card itu pasti digunakan untuk membuka pintu yang ada didepan mereka.


"Thank You || Terimakasih." Katanya kepada petugas hotel itu. Petugas itu membungkuk dan menjawab sebelum melangkah pergi. "You're welcome, madam. Excuse me, enjoy your time || Sama-sama, nyonya. Saya permisi, selamat menikmati waktu anda."


"Nah, mari kita masuk." Dengan jatuhnya suara Alva, pria muda itu menempelkan key card ke pegangan pintu. Suara pintu otomatis terdengar, dan pegangan dapat diputar dengan mudah untuk membuka pintu itu lebar-lebar, memberikan ruang untuknya agar bisa mendorong Arana masuk kedalam.


"Apa kamu lapar? Ingin makan sesuatu dulu sebelum istirahat?"


Mendengar tawaran Alva, Arana mengangguk. "Mn, mau."


Alva terkekeh, mengusap kepala Arana yang memiliki tampilan patuh. "Ingin makan apa?"


"Apa saja boleh."


"Kalau begitu aku akan memesan laksa dan roti canai . Bagaimana menurutmu?"


Arana mengangguk senang, dan menambahkan kata-katanya. "Roti canainya dengan kari ikan saja ya? Aku tidak begitu suka makan kari kambing."


Alva mengangguk. "Baiklah."


Melangkah meninggalkan Arana di sofa, Alva bergerak menuju telepon yang tergeletak di atas meja dan menekan tombol satu-satunya di atas panel telepon umum itu. Sesaat kemudian, ada suara diseberang sana yang nampak seperti suara mekanis.


[Hello, good afternoon. Guest room 2103. How can we help you? || Halo, selamat siang. Penginap kamar 2103. Ada yang bisa kami bantu?]


Alva dengan nada dinginnya, berkata dengan suara rendah. "I want two laksa, one spicy and one not spicy, two roti canai with fish curry. And a glass of strawberry milkshake || Saya mau dua laksa, satu pedas dan yang satu tidak pedas, dua roti canai dengan kari ikan. Dan segelas milkshake strobery."


[Is there anything else you would like sir? || Apakah ada sesuatu yang lain yang anda inginkan tuan?]

__ADS_1


"No || Tidak."


[Ok sir, we will deliver your order in 10 minutes. Thank you for your order || Baik tuan, kami akan segera mengantarkan pesanan anda dalam 10 menit. Terimakasih untuk pesanan anda.]


Setelah memberikan gumaman pelan, Alva meletakkan kembali telepon itu dan menghampiri Arana yang saat ini tengah bersandar di sofa sembari memainkan ponselnya. "Apa yang kamu lihat?"


Arana mendongak dan tersenyum. "Lihat! Kucingnya lucu sekali~"


"Kucing? Kupikir kamu tidak suka kucing." Gumam Alva disamping Arana dengan santai. Namun ketika suara itu jatuh, Alva merasakan bahwa tubuh disampingnya menegang.


"Iyakah? Aku hanya berpikir mereka terlihat cukup imut. Mungkin karena jenisnya." Gumam Arana.


Meski ia terlihat dengan tenang menggeser layar kebawah, namun sebenarnya otaknya entah memikirkan apa. Ia mencoba menelisik ingatan tentang apakah Alana menyukai kucing atau tidak, dan tidak menemukan ingatan apapun yang berhubungan dengan itu. Alana tidak pernah mengatakan apaphn tentang apakah dia suka dengan kucing ataupun anjing.


Arana menarik napas dengan tajam di dalam hatinya, dan diam-diam melirik Alva yang masih memandang ponselnya dengan perhatian, nampak fokus dengan reels instagram yang tengah diputar. Arana mengerutkan bibirnya.


Arana ingin menciumnya.


"Eh?"


Manik Arana dan Alva membola. Arana menarik wajahnya dari Alva yang memandangnya dengan tatap yang menyiratkan sedikit kejutan. Arana diam-diam memaki dirinya dalam hati karena melakukan apa yang pikiran gilanya pikirkan bahkan untuk sekilas, tanpa disadarinya.


"Emm, ka—kamu terlihat menggemaskan!" Ucapan Arana membuat Alva memandangnya dengan senyuman yang tersungging tulus dibibirnya.


Alva mendekati Arana, dan menjatuhi ciuman lembut dibibirnya. "Yang menggemaskan itu kamu, sayang. Aku tampan, dan tidak menggemaskan."


"Tapi Al, menggemask tidak selalu harus manis, cantik dan perempuan. Laki-laki tampan bisa dikatakan menggemaskan karena tingkah mereka. Bahkan dari ekspresi, mereka bisa juga dikatakan menggemaskan. Seperti kamu tadi, menggemaskan karena ekspresimu. Kamu tampan, tapi kamu membuatku gemas. Itu tidak berarti buruk."


Arana menjelaskan dengan panjang lebar. Memastikan Alva tidak salah paham dan merasa dihina dengan sapaan menggemaskan.


Alva bergerak memeluk Arana. "Aku tahu sayang~ Aku hanya bercanda. Aku hanya begitu senang kamu berpikir begitu tentangku."


"Um?" Gumam Arana sembari melirik bingung Alva yang memejamkan mata sembari meletakkan kepalanya diatas pucuk kepqlq Arana. Tindakan Alva tidak berlangsung lama, karena setelah beberapa menit kemudian, pintu diketuk dari luar.


Alva melirik pintu dengan dingin, dan tidak bergerak melepaskan pelukannya dari Arana.


"Al, sepertinya makanannya sudah datang." Ingat Arana.


"Mn? Iya. Sebentar lagi." Gumam Alva samar sembari menggesekkan pipinya ke helaian surai hazel Arana yang beraroma pixy. Lembut dan menyenangkan.

__ADS_1


Arana mencoba melepaskan pelukan Alva. "Al, kasihan yang mengantarkan makanannya. Dia sudah menunggu didepan pintu. Cepatlah buka."


"Iya, tidak apa-apa."


Arana memandang Alva tajam. Tangannya bergerak menuju pinggang Alva dan mencubitnya dengan kekuatan yang tidak lemah. Setidaknya, cukup untuk membuat Alva mengaduh dan secara refleks melepaskan pelukannya pada Arana. "Sakit, sayang~"


"Buka pintu dan ambil makanannya! Aku sudah lapar~" Titah Arana tanpa bantahan membuat Alva mengerutkan bibirnya dan mengangguk. "Iya, sayang~"


Setelahnya, pria muda itu bangkit berdiri dan melangkah menuju pintu. Ketika dia membuka pintu, ada seorang pria yang berdiri sembari membawa totebag yang cukup besar. Totebag yang nampak didesain untuk membawa makanan itu segera disodorkan.


"Ini makanan yang anda pesan, tuan. Silakan menikmati!"


"Hn." Tangan Alva terulur hendak mengambil totebag itu ketika sebuah suara menghentikan gerakannya. "Alva?"


"Benar Al?"


...***...


Arana menunggu di sofa sembari memandang ke ke arah Alva, ketika dia turut mendengar secara samar seseorang memanggil nama pria itu. Kening Arana sedikit berkerut. "Apa kenalan Alva?"


Brugh!


"Aku merindukanmu!"


Manik Arana melebar ketika mendapati seseorang dengan cepat memeluk Alva. Karena terjangannya, Alva bahkan sedikit terdorong kebelakang. Samar ia menangkap gadis itu berkata, "Apa kamu sengaja datang kesini untuk menemuiku? Aku benar-benar mencintaimu, Al!"


"Selena! Lepaskan." Disana Alva memerintahkan gadis yang memeluknya dengan dingin.


Namun Selena mengeratkan pelukannya pada Alva dan menyandarkan kepalanya ke dada bidang pria jtu. "Aku merindukanmu. Tiga bulan kita tidak bertemu dan aku benar-benar merindukanmu. Aku tidak menyangka kamu akan datang menemuiku, Al."


"Al?"


Manik Selena melebar. Sementara Alva mendorong Selena agar melepaskan diri darinya ketika suara Arana menyapa telinganya. Selena menerobos masuk, mengabaikan kerutan kening Alva dan mendapati Arana duduk disofa, memandangnya bingung dan curiga.


"Dia siapa Al? Kenapa dia ada disini bersamamu?" Pertanyaan itu Selena lontarkan pada Alva yang memandangnya datar.


"Bukankah kau sudah mendengar beritanya?"


Selena memekik dengan nyaring. "Bohong!!"

__ADS_1


Ia meraih kerah Alva dan mendekat dengan agresif. "Kau hanya bisa menikah denganku, Al! Aku mencintaimu dan kau pun sama! Kau hanya milikku!"



__ADS_2