My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 131: Discovery of Selena and Cella


__ADS_3

Rotterdam, Belanda


Selena mengemudikan mobilnya dengan perasaan yang buruk. Manik tajamnya senantiasa menunjukkan kemarahan ketika dia selalu gagal menghubungi Alva. Bahkan meski dia telah menggunakan nomor lain, panggilan teleponnya selalu diabaikan dan dia tidak bisa mencari tahu apa yang sedang dilakukan Alva pada saat ini.


"Aku heran! Sudah jjelas-jelas ja*ang itu berselingkuh seperti itu, mengapa Alva sama sekali tidak mau mempercayaiku dan masih saja mempertahankan Alana?!"


Ia bergumam dengan penuh keheranan dan rasa jengkel dalam setiap kata yang dia ucapkan. Maniknya memandang jalanan malam, dengan kecepatan lambat karena dia menyadari bahwa dia dalam keadaan kesal dan tidak baik berkendara malam-malam dengan kecepatan diatas rata-rata juga. Jika sampai model sepertinya terkena skandal kecelakaan dan sampai membunuh orang, bisa-bisa hancur sudah karirnya.


"Sialan!"


Maniknya tak sengaja berpendar dan menangkap sosok yang membuat maniknya melebar. Selena segera menghentikan mobilnya dan menurunkan kaca mobilnya, melihat ditempat jauh. Ada Alana disana, tengah berjalan dan hendak memasuki sebuah club malam yang terkenal di Rotterdam. Selena mengerutkan alisnya dan buru-buru mengikutinya.


"Itu jelas-jelas Alana, kan? Sedang apa dia sampai ke sini?" Batinnya.


Selena memasuki club malam setelah memverifikasi usianya dan dengan penasaran mengedarkan pandangannya kesekeliling guna menemukan keberadaan sosok yang diyakininya adalah Alana. Ia berjalan beberapa langkah, mendengar nada menggoda dari laki-laki yang meliriknya. Selena melirik mereka dingin sebelum melanjutkan langkahnya kembali. "Dimana jal*ng itu?"


Selena segera menyipitkan matanya dan segera menyeringai ketika dia melihat sosok Alana tengah duduk disebuah sofa. Gadis itu mengenakan baju cami berwarna hitam yang memperlihatkan perut ratanya dan hot pants bahan jeans yang sama berwarna hitam. Celana yang sebatas pangkal pahanya benar-benar menampilkan lekukan kaki rampingnya, dan penampilannya benar-benar jauh dari kata tertutup.


Disisi kanan dan kirinya, terdapat dua pria yang nampak sibuk menyentuh dan mencumbunya, sementara Alana dengan senang hati membalas sapaan mereka tanpa sedikitpun keberatan.


Melihat adegan didepannya, Selena mengangkap ponselnya dan merekam kejadian yang ada dengan ponselnya. Ia meletakkan ponselnya, memperbesar kamera sehingga memperlihatkan dengan jelas keberadaan Alana disana dan duduk diam, menenggak minuman yang sudah tersedia didepannya. Memandang pertunjukan didepannya dengan tenang. Tepat ketika Alana semakin menjadi liar, ia menyeringai dengan jijik.


"Alana, Alana. Betapa menjijikkannya." Gumamnya melirik ponselnya yang masih terus merekam.


...***...


Duduk dibalkon hotel, Arana memandang langit malam dengan tatapan yang sedikit sendu. Maniknya menerawang jauh. Cahaya bulan yang jatuh diwajahnya menawan, lembut namun dingin. Namun ketika jatuh dimata Arana, itu berbinar dengan cerah. Arana menghela napasnya dengan berat dan sesekali mengusap pelipisnya.


"Na, bagaimana kamu bisa tidak tahu sahabatmu sendiri mengalami hal seperti ini? Mengapa kamu tidak bisa mencegahnya?"


Arana membatin dengan suara pelan, memejamkan mata dan mencoba menenangkan emosinya. Arana memandang pemandangan didepan sebelum lagi-lagi menghela napas. Ia bersandar di sandaran bangku, mengeratkan tangannya dan membungkus dirinya dengan cardigan hangat yang lembut namun tidak tebal dan berbahan ringan.


Arana menikmati semilir angin ketika dia merasa sebuah kecupan mendarat dipipi kanannya. Arana membuka matanya dengan terkejut dan seketika merasa lega ketika mendapati bahwa seseorang itu adalah Alva.

__ADS_1


"Al, kamu mengagetkanku saja."


Alva terkekeh pelan dan berucap, "Diluar dingin sayang. Sedang menikmati bulan, ya?"


Bulan memang sedang benderang saat itu. Arana menganggukkan kepalanya membalas pertanyaan Alva. "Bulannya indah. Aku sudah pakai cardigan, jadi tidak terlalu dingin."


"Boleh aku menemanimu?"


Arana dengan tenang menggeser dan memberi Alva lebih banyak ruang untuk duduk dibangku yang cukup panjang itu. Alva duduk disamping Arana dan membawa Arana untuk bersandar padanya, memandang bulan yang megah dilangit malam. Usapan dilengannya membuat hati Arana menghangat dan Arana menyunggingkan senyuman.


"Apa dia bisa dipenjara, Al?"


Alva menatap Arana dan bertanya, "Maksudmu Exel?"


Arana mengangguk. "Iya, Exel. Tindakannya pada Amber sudah sangat keterlaluan. Amber bahkan sampai hamil. Pria itu merusak masa muda Amber, merusak kehidupannya."


"Aku tahu sayang. Orang yang menyelidiki masalah ini adalah orang kepercayaanku dan dia adalah ahlinya. Percayalah padaku, bahwa pria itu akan menerima balasan yang setimpal dengan apa yang dia lakukan."


Alva mengecup pucuk kepala Arana dan dengan lembut menariknya kedalam pelukannya yang erat dan hangat.


...***...


Langkah kaki ramping itu tegas melewati sebuah lorong panjang dengan pencahayaan yang minim. Helaian rambut pirangnya yang diikat kuda bergerak seirama dengan gerakan langkah kakinya. Beberapa pria berjas hitam yang tidak sengaja berpapasan dengannya segera membungkuk hormat sementara seseorang itu dengan tegas melangkah melewati mereka dan segera membanting pintu sebuah ruangan yang berada diujung lorong.


"Alard breng*ek! Apa maksud pesan yang kau kirimkan padaku?!"


Tatapan Cella tertuju pada seseorang yang duduk disebuah kursi diseberang meja kayu berukiran lama yang nampak antik. Aroma cerutu menguar didalam ruangan membuat Cella mengerutkan keningnya dan dengan tegas menyalakan kipas angin yang ada diruangan itu.


"Duduklah."


Suara tegas pria tampan yang duduk dibangku kebesaran itu membuat Cella menghela napas dan mau tak mau duduk diseberang meja dan menatap tepat kearahnya.


"Apa yang terjadi? Mengapa kamu bisa memutuskan bahwa ada seseorang yang mencoba mencelakai Arana?" Tanya Cella.

__ADS_1


Pria itu mematikan cerutu yang tengah disesapnya dan meletakkannya diasbak ketika dia menjawab dengan intonasi yang sama. "Ada seseorang yang menemui anak buahku dan meminta agar seseorang difoto ini menderita. Dia meminta anak buahku melakukan apapun selama membuatnya menderita dan memilih kematian."


Ia berkata sambil mengeluarkan sebuah foto yang membuat Cella melebarkan matanya. "Nana?"


"Bukan, dia Alana."


Otak cerdas Cella segera berputar dan segera menemukan kesimpulan dari beberapa kata yang disampaikan oleh pria didepannya, Alard.


"Jadi maksudmu seseorang mencoba menggunakan jasamu untuk menyiksa Alana?"


"Tapi sekarang identitasnya sedang diisi oleh Arana. Jika sampai anak buahmu melakukan sesuatu kepada Arana, aku akan menghabisi mereka semua!"


"Tenanglah, aku sudah memberitahu mereka." Alard berucap, menenangkan Cella.


"Tapi kesimpulan sebenarnya bukan disana." Alard lanjut berkata, "Seseorang itu memberikan alamat baru Arana tinggal bersama suaminya sekarang. Itu artinya, yang dalam bahaya bukanlah Alana, namun Arana. Jika wanita itu mencoba menyakiti Alana, yang sebenarnya bisa terluka adalah Arana. Bahkan jika bukan karena anak buahku, dia pasti akan mencari cara lain untuk menyakitinya."


Cella terdiam mendengar penuturan Alard sebelum mendengus dengan jijik. "Siapa wanita itu?"


"Anak buahku sedang menyelidikinya."


"Aku mau dia ditangkap hidup-hidup. Aku ingin melihat siapa yang sudah berani mencoba menyakiti Arana."


Alard membenarkan. "Sebenarnya targetnya adalah Alana."


"Sial! Diam!" Kesal Cella. "Tetap saja dia bisa berniat menyakiti Nana kesayanganku!"


Alard memutar bola matanya malas sebelum kembali berkata sembari mengeluarkan ponselnya dan mengutak atiknya sejenak, "Aku sendiri sudah menyelidiki soal Lidia dan Michael yang kau minta padaku waktu itu, dan aku menemukan sesuatu yang menarik."


Cella mendekat dan melihat ponsel Alard. Maniknya seketika melebar dan dia tertawa dengan penuh kegirangan.


"Seperti yang diharapkan dari mafia paling berbahaya di Belanda. Ini luar biasa sekali!"


__ADS_1


__ADS_2