
"Nona Karina?" Bisik Erlan pada dirinya sendiri.
Karina bersitatap dengan Alva dan dengan tanpa rasa bersalah melirik ketiganya. "Jadi ini rencana kalian untuk melindunginya dan menangkapku, ya? Kalian cukup hebat juga."
"Kenapa kau melakukannya?" Tanya Alva. Ekspresinya masih dingin.
"Kenapa aku melakukannya? Karena aku membencinya. Aku membenci wanita itu sampai ke tulang-tulangku dan sampai ke jiwaku! Aku ingin membunuhnya dan aku ingin membuatnya menderita dibawah tanganku! Aku membenci Alana si iblis itu!"
"Dia itu pembunuh! Dia membunuh putriku!" Karina berteriak dengan amarah yang tidak bisa dia bendung lagi. Sepasang maniknya melotot karena amarah. "Apa kau tahu rasanya kehilangan putrimu yang berharga hanya karena seseorang? Putriku yang malang, dia bunuh diri karena iblis itu merundungnya. Ia bunuh diri didepan mataku dan meninggalkan sepucuk surat kepadaku bahwa dia sangat membenci Alana. Bagaimana aku bisa tidak melakukannya dan diam saja?"
Ia menyeringai dengan penuh kesedihan dan kegilaan. "Aku dengar dia hamil, jadi aku berniat menggugurkan kandungannya. Agar dia merasakan apa yang aku rasakan. Namun kalian justru menggagalkan rencanaku!"
Alva dengan dingin mengulurkan tangannya dan mencekik Karina dengan sebelah tangan sebelum mendorongnya kedinding. Wanita itu terbatuk dan meringis kesakitan, mencoba memberontak dari lengan Alva yang menyumbat pernapasannya. Suara Alva terdengar dingin.
"Jika kau ingin balas dendam, pastikan kau melakukannya pada orang yang tepat."
Tatapannya hampir seperti dia siap membunuh. "Yang kau celakai adalah istriku, bukan Alana."
Karina sedikit mengerutkan alisnya ketika wajahnya memerah karena kesulitan bernapas. "A-Apa?"
Erlan menepuk bahu Alva. "Berhenti mencekiknya, Al. Kamu tidak ingin dia berakhir pingsan sebelum menjelaskan semuanya, kan?"
Alva dengan dingin menarik tangannya. "Aku akan menunggu diluar."
Setelahnya, tanpa mendengarkan jawaban, dia melangkah keluar. Diluar, Alva menarik napasnya dalam dan meraih ponselnya dan menghubungi sebuah nomor. Ia mengangkat ponsel sejajar wajahnya dan dia menata ekspresinya.
[Halo, sayang!]
Alva tersenyum ketika mendapati sosok Arana berada diseberang, tengah memainkan permainan papan bersama dengan Amber yang melambaikan tangan kearahnya. "Sedang bersenang-senang, sayang?"
Arana diseberang menunjukkan deretan kartu yang dimilikinya dan berkata dengan senyuman sombong. [Aku akan mengalahkan Amber sebentar lagi, jadi dia akan membuatkanku jus. Itu taruhannya.]
Alva menyipit dan menatap Amber. "Amber, jangan berikan taruhan macam-macam pada Nana."
Amber menggigit sepotong apel. [Kau pikir kau bisa mengancamku? Aku akan menyuruh Nana untuk memeluk seseorang jika dia kalah.]
__ADS_1
"Aku ragu kau bisa mengalahkan Nana."
Amber meraung. [Jadi kenapa kau khawatir? Kau kan juga tahu kalau Nana itu tidak akan bisa dikalahkan olehku dalam hal kecerdikan.]
"Kau mengakuinya."
[Lihat saja kau.]
[Sudah, ah. Amber hentikan, jangan bercanda terus. Lagipula, Al. Kami hanya bermain untuk bersenang-senang, jadi tidak akan terjadi apa-apa.]
Alva tersenyum lembut. "Aku hanya bercanda sayang. Apa kamu sudah makan?"
Obrolan keduanya berlangsung dengan hangat, dengan sesekali Amber turut masuk kedalam obrolan. Setengah jam kemudian, Alva mematikan panggilan video dan membiarkan Arana bersenang-senang dengan Amber. Bersamaan dengan dia yang menurunkan ponselnya, pintu terbuka dan Erlan berdiri diambang pintu, mengangguk kepadanya. Alva menjauh dari dinding dan berjalan masuk ke ruangan untuk segera menemukan Karina duduk ditempat tidur, menunduk dan memandang kosong kelantai yang dingin.
"Sudah dengar semuanya, kan? Jadi bagaimana?"
Karina mendongak, menunduk kembali. "Aku minta maaf yang sebesar-besarnya kepadamu dan kepada istrimu."
"Aku tidak terlalu butuh permintaan maafmu. Kami akan menyerahkan bukti yang ada kepada polisi, dan bersiaplah mendekam dipenjara. Aku paling benci ada seseorang yang berani menyentuh milikku, sengaja ataupun tidak sengaja." Ungkap Alva sembari berbalik.
"Tunggu!"
"Aku mohon, tolong bantu aku membalas dendam kepada Alana. Bantu aku menghancurkannya dan membuatnya menderita."
Karina tidak memohon ampun untuk keselamatannya atau kebebasannya. Dia hanya memohon untuk dibantu. Membantu membalaskan dendam kepada Alana yang telah merenggut nyawa putri kesayangannya bertahun-tahun yang lalu. Ia membungkuk, bersimpuh dan memohon dengan penuh ketulusan. Tidak ada air mata diwajahnya ketika dia mendongak. Hanya ada tatapan, seolah dia tengah melihat penyelamatnya dan satu-satunya harapannya.
"Kau akan menghancurkan Alana, kan?"
Alva meliriknya dengan dingin sebelum kembali berbalik dan melangkah pergi. "Tanpa kau mintapun, aku akan menghancurkannya sampai dia tidak akan mau hidup didunia ini lagi."
Ruangan itu kembali hening. Jejak langkah kaki Alva yang menghilang membuat suasana semakin mencekam. Karina memandang lantai dengan tatapan kosong selama beberapa detik sebelum dia menyunggingkan seringaian yang dipenuhi dengan kegembiraan dan harapan.
"Alana akan hancur, sayang. Kemudian, tunggu mama menyusulmu, ya? Mama harus menyaksikan dengan mata kepala mama sendiri, bahwa dia akan hancur. Hancur sepenuhnya, baik fisik maupun jiwanya."
"Alana, tunggu kematianmu."
__ADS_1
Flashback End.
...***...
Arana memandang langit-langit kamarnya selama beberapa saat sebelum tidak bisa menahan untuk tidak menghela napasnya. Ia benar-benar masih terkejut mendapati fakta bahwa yang mencoba menyakitinya di bar adalah Karina. Bagaimana dia bisa mengetahuinya, adalah karena dugaannya dimana Karina ditetapkan sebagai orang yang membunuh bartender di tempat dimana dia hampir dilecehkan oleh pria hidung belang yang terkadang ketika mengingatnya hampir membuat Arana ingin muntah.
Baginya, Karina adalah sosok yang tenang dan sangat mirip dengan sang nenek. Namun Arana tidak pernah menyangka bahwa Karina akan setega dan sekejam itu bahkan tega menghilangkan nyawa orang lain dengan alasan yang Arana masih belum ketahui.
"Tapi jika memang benar dia yang berusaha mencelakai Alana, apa alasannya?" Arana bergumam, "Tida mungkin seseorang membenci dan menargetkan seseorang tanpa alasan. Jika dia menargetkan tanpa alasan, itu berarti dia gila, atau memang tidak memiliki hati nurani."
Arana menghela napas dan memiringkan tubuhnya, "Yang penting sekarang, aku tidak akan terancam lagi. Baby diperutku juga tidak akan terancam karena ulah Alana dimasa lalu, selama aku memperhatikan sekitarku dengan lebih hati-hati."
Arana mengusap perutnya dengan penuh kasih sayang. "Mama akan memastikan kamu bahagia dimasa depan, sayang."
Ia menyelimuti dirinya sendiri sebelum dengan tenang memejamkan mata dan perlahan jatuh kedalam alam mimpi.
...***...
PLAK!
Suara tamparan keras itu membuat Issabella yang duduk disudut ruangan sembari menyesap wine melirik dengan penuh minat pada dua orang yang tengah berdebat. Maniknya menyipit penuh dengan kepuasan ketika telinganya menangkap setiap lontaran kata tajam dan penuh kemarahan dari Alana. "Sialan kau Josh!!"
"Beraninya kau melakukan ini padaku setelah semua yang aku lakukan untukmu! Kau berani berselingkuh dengan uang yang kau pinjam dariku?!"
Suara Alana membuat Josh yang basah kuyup karena air minum menghela napas berat, berkacak pinggang dan memandang Alana dengan jejak kemarahan dan intimidasi dari sepasang maniknya yang tajam. "Pinjam darimu? Kau yang memberikannya, wanita bodoh."
"Kau berani mengatakannya kepadaku?!" Alana menjerit penuh emosi.
"Ya!"
Alana meraih tangan Josh. "Kembali bersamaku! Ada banyak hal yang mesti kita bicarakan! Jangan ada jal*ng itu diantara kita!"
Josh menepis tangan Alana dan dengan dingin memandangnya. "Jangan berani memanggilnya jal*ng. Itu adalah kau, bukan dia. Bell adalah wanita yang sempurna dan baik. Dia menawan dan dia sangat cerdas, berbanding terbalik dengan gadis bodoh sepertimu. Aku tidak membutuhkanmu, jadi pergilah dari hadapanku."
Alana mencengkram lengannya. "Kau membuangku disaat aku hamil anakmu?"
__ADS_1
Mendengar apa yang dikatakan, ada keheningan didalam ruangan itu. Sepasang manik Issabella sedikit melebar dengan rasa penasaran sementara Josh melebar dengan keterkejutan. Ia memandang perut Alana yang memang sedikit lebih membuncit dari biasanya dan dia menatap Alana dengan tatapan terkejut. "Kau ... hamil anakku?"