
Alva melangkah dengan terburu menuju taman yang ada di dekat perusahaannya setelah menyelesaikan rapat dadakan dengan investor dari Jepang. Setelah bahasan yang berbelit-belit, pada akhirnya Alva berhasil menguasai perjanjian dan keduanya resmi bekerjasama.
Tepat ketika dia berpikir akan menemukan Arana dan Erlan yang hanya terdiam di taman, kebosanan menunggunya, ternyata bayangannya salah. Ia justru menemukan keduanya nampak mengobrol dengan asyik dengan seseorang di layar ponsel, meski tampak seperti berdebat, namun pada akhirnya Arana terlihat tertawa dan kembali bercakap dengan seseorang di ponsel.
[Uncle Erlan really can't eat rice? || Om Erlan benar-benar tidak bisa makan nasi?] Pertanyaan Amber membuat Erlan bertanya dengan sinis. Masih marah karena dipanggil om, padahal usianya hanya berbeda 5 tahun saja. "So what? || Memangnya kenapa?"
[How strange! I'm the only foreigner who always eats rice, you know~ Why doesn't uncle like to eat rice? Don't be afraid, okay? || Kan aneh! Aku saja yang orang luar negeri selalu makan nasi, lho~ Kenapa om justru tidak suka makan nasi? Jangan-jangan om takut, ya?]
Erlan mengernyit. Tidak akan membiarkan bocah itu mempermalukannya. "I don't eat rice. Don't you know that people who want to build an athletic body must eat less rice and eat more meat and vegetables? || Aku bukannya tidak makan nasi. Apakah kamu tidak tahu jika orang ingin membentuk tubuh atletis harus mengurangi makan nasi dan memperbanyak daging dan sayur?"
[Eihh! Do you have a good body? I thought uncle's body was emaciated! || Eihh! Memangnya badan om bagus? Kupikir badan om kurus kering!]
Erlan menyeringai. Inilah waktu pembalasan. "My body is good. Unlike you. With your short stature, you deserve to be called a child. Are you malnourished? || Tubuhku bagus. Tidak sepertimu. Dengan tubuh pendekmu, kau pantas disebut sebagai anak kecil. Apa kau kekurangan gizi?"
Arana memandang Erlan geli. Dia pikir Erlan adalah seorang pria yang kaku dan dingin, namun ternyata dia adalah pria yang cukup cerewet dan tidak suka kalah saat berdebat. Lihat saja bagaimana pria itu menampilkan seringaian puas ketika wajah Amber diseberang sana memerah karena marah dan malu.
[Hey!! I'm not short! I'm pretty tall among my friends! Nana alone is like a power pole. That's why in the photo earlier, I look short. || Hei!! Aku tidak pendek! Aku cukup tinggi diantara teman-temanku! Nana saja yang seperti tiang listrik. Makanya di foto tadi, aku terlihat pendek.] Elak Amber menyalahkan Arana.
"Ehh, salahku?" Ucap Arana yang sejak tadi diam.
[Whose fault are you tall! You're both electric poles! || Salah siapa kamu tinggi! Kalian sama-sama tiang listrik!]
Amber bersungut-sungut, nampak cukup tersentil dengan ledekan Erlan yang menyebutnya pendek. Sejak dulu, gadis itu memang selalu kesal jika ada yang menyebutnya pendek. Apalagi jika menghinanya benar-benar didepannya, tidak terbayang bagaimana Amber akan menghajarnya.
"Heh, you're so small that you blame other people || Heh, kau kecil malah menyalahkan orang lain." Ucap Erlan dengan senyuman meremehkan yang membuat Amber makin terbakar oleh amarah kekanakannya.
__ADS_1
[Listen, uncle! My mom is 175 cm tall, and my dad is 180 cm tall! My brothers is 182 cm tall! I just haven't grown yet! I can be 175 in height later! || Dengar ya, om! Ibuku setinggi 175 cm, dan ayahku setinggi 180 cm! Kakakku setinggi 182 cm! Aku hanya belum bertumbuh! Tinggiku bisa 175 nanti!]
Arana tersenyum kecil. Melirik Erlan yang makin menyeringai setan, ia tahu bahwa Amber tidak seharusnya berbicara seperti itu. Tapi Erlan benar-benar memprovokasinya. "See! Are you really their family not a foster child? Actually, someone your age can no longer grow taller || Lihat! Apakah kamu benar-benar keluarga mereka bukan anak pungut? Sebenarnya, yang seusiamu sudah tidak bisa lagi bertambah tinggi."
"Hentikan Lan. Kau sangat kekanak-kanakan."
Keduanya menoleh. Alva berjalan mendekati keduanya setelah sekian lama memperhatikan keduanya dengan senyuman yang ada diwajahnya. Erlan melirik Arana dan membatin. "Tidak pernah tersenyum, huh? Lihat bagaimana dia menjadi sugar boy karena Arana."
"Sayang? Kamu tahu berapa lama aku menunggumu disini?" Arana bertanya dengan kening yang berkerut.
Cukup kesal juga karena hampir satu jam menunggu. Meskipun ada Amber dan Erlan yang menemani, dia tetap saja menunggu.
Alva merasakan kekesalan Arana dan tersenyum tidak berdaya. Bagaimanapun, dia tidak tahu bahwa investor dari Jepang akan datang hari itu karena kebetulan mereka sedang ada di Indonesia. Alva juga tidak menduga dan dia tidak bisa membiarkan investornya mendapatkan perlakuan tidak sopan dan berdampak buruk pada citra perusahaannya dikancah Internasional, karena perusahaan investornya tersebut merupakan perusahaan yang cukup aktif di kancah Internasional.
Alva berjongkok dengan sebelah kaki di depan Arana, meraih tangannya."Maafkan aku, sayang. Sekertarisku mengatakan bahwa ada investor Jepang yang tiba-tiba datang. Aku tidak memiliki pilihan lain selain mengadakan pertemuan darurat."
Manik Arana menatap Alva sebelum melirik ke arah Erlan yang juga menatapnya. Detik berikutnya, pria itu memegang ponsel yang menampilkan wajah Amber. Keduanya tersenyum penuh arti, yang membuat Arana sama tersenyum penuh arti di dalam hatinya.
Oh, menarik.
"Entahlah, kamu sudah kerap kali membuatku menunggu. Aku tidak akan pergi menemuimu lagi."
Ucapan Arana disertai tarikan tangannya dari genggaman pria itu membuat Alva terkejut. Ia memasang wajah syok yang membuat Erlan hampir tertawa terbahak. Yah, sekali-kali Erlan harus mendapatkan hiburan setelah sekian lama tertekan dalam tuntutan pekerjaan yang dilakoninya dibawah naungan bos sekaligus sahabatnya yang sedingin es batu.
Alva hendak meraih tangan Arana, namun Arana menghindari tangannya. Membuat Alva kelimpungan.
__ADS_1
"Sa—Sayang, maafkan aku, okey? Aku benar-benar tidak bermaksud untuk membuatmu menunggu. Kamu bisa bertanya kepada sekertarisku jika tidak percaya." Kata Alva mencoba membujuk Arana.
Arana tetap pada kejahilan, dan bahkan Erlan mulai memanas-manasi dengan berkata, "Iyakah? Rasanya Siska tidak memberitahukan apapun padaku."
"Erlan, jangan mencoba memperkeruh suasana. Aku sedang membujuk istriku agar mau memaafkanku. Lagipula, sejak kapan Siska menjadi mata-matamu untuk mengetahui jadwalku?"
"Siska menjadi mata-mata? Kenapa dia tidak bilang padaku, boss?"
Diseberang layar, Amber bersandar di pinggiran kasur, memeluk guling besar sembari memakan kue kering dari toples. Oh, seharusnya dia membeli popcorn tadi. Tapi tidak masalah, tiada rotan, akarpun jadi. Tiada popcorn, cookies pun boleh juga.
[Oh, lanjutkan, lanjutkan.]
"Apa maksudmu?" Tatapan Alva menajam menatap Erlan, namun Erlan masih kekeh dengan pendiriannya untuk membuat Alva tertindas. "Apa maksudnya bos? Jadi Siska bukan mata-mata? Dan kenapa dia harus memberitahumu?"
"Apa sih? Kenapa malah membicarakan masalah Siska? Tunggu, apa kamu selingkuh dengannya?!"
"Tidak!" Alva menoleh dengan cepat kearah Arana. "Tidak sayang, tidak!"
Alva menggelengkan kepalanya. "Aku tidak selingkuh. Siska adalah sekertarisku, dan hubungan kami hanya sebatas rekan kerja. Jangan dengarkan omong kosong Erlan tentang Siska dan hentikan perbincangan ini sampai disini, oke?"
"Tapi kalian selalu membahas tentangnya. Bagaimana aku bisa tidak berpikir bahwa kamu dan dia selingkuh? Kamu bahkan tidak mengizinkan Erlan berkomunikasi dengan Siska itu." Keluh Arana.
"Sayang, itu karena Erlan berkata bahwa dia adalah mata-mata. Aku kebingungan dan bertanya, tapi ucapannya membuatku bingung sehingga kami jadi membahasnya cukup lama. Lagipula, bagaimana aku bisa berselingkuh dengan Siska jika aku memiliki istri secantik dan sesempurna kamu?"
Arana mendelik. "Jadi jika aku jelek dan aku tidak sempurna kamu akan selingkuh dariku begitu?"
__ADS_1