My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 124: Ernad, Erlan And Bianca


__ADS_3

"Aku mendengar kabar bahwa kamu menikah." Ernad menjeda perkataannya, "Awalnya kupikir itu hanyalah rumor dan candaan mereka. Jadi aku tidak ambil pusing. Namun melihat reaksimu yang seperti ini, aku harus bilang, apakah kamu benar-benar sudah menikah?"


Arana menarik tangannya dari Ernad. Ia hendak berbicara ketika Aki terlebih dahulu menyela ucapan Arana dan melangkah ketengah-tengah keduanya. "Aku sudah mengatakan diawal. Jangan mendekati orang lain dengan sembarangan. Dia adalah kakak iparku, jadi menjauhlah darinya dan jangan pernah mendatangi kak Alana lagi."


Aki memang baru berusia 14 tahun, namun perawakannya sudah nampak seperti remaja berusia 17 atau 18 tahun. Aki lebih pendek dari Arana, namun tatapan tajam dan dinginnya mengintimidasi siapapun yang mencoba menggertaknya.


"Kakak ipar?"


Ernad bertanya dengan nada seolah apa yang dikatakan Aki adalah perkataan anak kecil, sementara Arana dibelakang Aki juga cukup terkejut. Arana tahu bahwa Aki memang pendiam dan tatapannya bisa sedikit mengintimidasi jika orang tidak mengenalnya, namun Arana tidak pernah tahu bahwa Aki bisa menjadi begitu berani. Dia berbicara dengan bahasa Inggris, dan nada suaranya menjadi lebih dingin daripada biasanya. Aki menatap tegas Ernad dan dengan tenang berkata, "Kak Alana sudah mengatakan tidak memiliki hubungan lagi denganmu, jadi jangan mengganggunya. Kakakku bukan orang yang senang beramah tamah dengan seseorang yang mengganggu keluarganya. Jadi, jangan pernah mengganggu kak Alana lagi."


Aki berbalik dan menatap Arana, mengisyaratkan Arana untuk pergi. Arana segera paham, berjalan menuju kasir dan membayar pesanan mereka kemudian meninggalkan Ernad yang memandang keduanya dengan senyuman main-main diwajahnya.


"Benar-benar menarik."


...***...


Arana dan Aki berjalan disepanjang trotoar dengan situasi yang canggung. Arana sedikit ragu untuk memulai pembicaraan dan Aki selalu menjadi yang pendiam diantara mereka. Arana menatap kedepan sembari berjalan. Ia banyak memiliki pikiran dalam benaknya. Alana belum menceritakan apapun pada Arana. Alana tidak bercerita tentang Stephen. Alana tidak menceritakan tentang David. Alana tidak bercerita bahwa dia mungkin, masih memiliki hubungan dengan pemuda bernama Ernad tadi.


Alana hampir tidak bercerita apapun yang bisa membuat Arana tahu, sebenarnya bagaimana kehidupan Alana.


Masih banyak hal yang tidak bisa dipahami Arana. Dan Arana merasa masih banyak hal yang disembunyikan Alana darinya, bahkan orangtuanya. Arana tidak mengerti. Alana tumbuh besar dengan kasih sayang Lidia dan Michael. Apapun yang diinginkannya dipenuhi oleh Lidia dan Michael, tanpa syarat. Bahkan hanya karena tidak ingin menikah dengan Alva, kedua orangtuanya sampai membawa dirinya kembali dari luar negeri untuk menggantikan Alana menikah.


Mengapa Alana bisa bertindak sejauh itu?


Dia bahkan sampai masuk dalam oergaulan bebas yang membuatnya hamil. Dia sampai hamil dan sampai pada istilah menelantarkan putranya sendiri karena kesalahan yang dia lakukan.


Ia juga pernah hampir terbunuh karena Olivia yang menaruh dendam pada Alana. Kecelakaan yang selama ini dialaminya karena seseorang yang menargetkan Alana, yang sampai sekarang bahkan belum diketahui siapa orang itu.

__ADS_1


Alana benar-benar tidak bisa dipercaya dan tidak bisa diprediksi.


Arana menghela napas dalam hatinya, mengangkat kepalanya dan terkejut ketika mendapati seseorang berdiri dihadapannya. Arana melebarkan matanya sedikit ketika melihat Erlan tengah bergandengan tangan dengan seorang wanita cantik.


"Loh? Erlan?"


"Eoh? Kau disini, Na?" Erlan juga sama terkejutnya, dia menoleh dan menatap Aki. "Ada Aki juga. Astaga, aku sudah lama tidak melihatmu dan kamu sudah setinggi ini saja, Aki."


Aki merotasikan matanya, namun tetap sedikit membungkuk. "Senang bertemu denganmu lagi, kak Erlan. Lama tidak melihat kakak, sepertinya kakak juga sudah mendapatkan pasangan saja."


Mendengar apa yang dikatakan Aki, Erlan sedikit tersipu dan tersenyum. Arana memperhatikan wanita yang digandeng Erlan dan tidak bisa menahan perasaan bahwa keduanya cocok. Erlan tampan dan wanita itu cantik, dengan sentuhan lembut diwajahnya. Arana tersenyum dan menyapanya.


"Halo, aku Arana. Teman Erlan. Senang bertemu denganmu."


Wanita itu menyunggingkan senyuman dan sedikit menundukkan kepala. "Saya bekerja diperusahaan milik suami nona. Jadi saya tahu anda. Nama saya Bianca."


Erlan menyeringai geli. "Buat apa memberitahunya? Aku akan memberi kalian kejutan pada awalnya, sehingga kalian tidak akan bisa pamer keuwuan kalian didepanku lagi. Tapi karena sudah ketahuan ya mau bagaimana lagi. Sebenarnya kami sudah berkencan sejak dua minggu yang lalu."


"Licik sekali. Tidak boleh begitu, sayang!" Bisik Bianca sembari memukul lengan Erlan dengan pelan yang membuat Erlan terkekeh gemas.


Arana tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Kami akan melanjutkan perjalanan. Nikmati waktu kalian berdua."


Erlan menganggukkan kepalanya dan membalas, "Kalian juga. Oh, ada taman bermain untuk anak kecil didekat taman. Ada ayunan yang bisa kalian mainkan bersama."


Arana dan Aki sama-sama mengerutkan kening cemberut. "Kami bukan anak kecil lagi!"

__ADS_1


"Haha!" Erlan tertawa karena kekompakan Arana dan Aki.


Arana mendengus dan akhirnya tersenyum pada Bianca. "Kak Bianca, kami duluan. Silakan lanjutkan menikmati waktu berdua. Senang bertemu denganmu."


Bianca mengulas senyuman. Suaranya tenang, "Tidak, aku yang senang bertemu denganmu. Hati-hati dijalan, nona."


Arana sedikit merasa aneh ketika mendengar perkataan Bianca. Tatapannya membuat Arana sedikit tidak nyaman dan ketenangannya membuat Arana tanpa sadar merasa bahwa dia tengah diawasi. Arana sedikit tidak bereaksi untuk dua detik sebelum menyunggingkan senyuman dan menganggukkan kepalanya dengan tenang.


"Ya. Sampai jumpa lagi."


Kemudian bersama dengan Aki, Arana berbalik dan berpisah dengan Bianca dan Erlan. Arana merasa punggungnya sedikit dingin. Ketika Arana sedikit menoleh, Bianca masih menatapnya dengan tatapan dan senyuman yang sama. Arana menarik tatapannya dan menahan perasaan aneh didalam hatinya dan melanjutkan berjalan beriringan dengan Aki.


...***...


Erlan dan Bianca menatap Arana dan Aki yang berjalan pergi untuk beberapa waktu. Erlan menggenggam tangan Bianca dan dengan lembut menariknya untuk kembali melanjutkan jalan-jalan mereka yang sempat tertunda karena berpapasan dengan Arana dan Aki.


"Nona Alana sangat cantik, ya." Bianca bergumam.


Erlan menoleh, tersenyum pada Bianca. "Kamu lebih cantik dimataku, sayang."


Bianca terkekeh dan dengan lembut mengeratkan genggaman tangannya pada Erlan. "Dulu sepertinya nona Alana tidak begitu ramah dan baik padamu. Sekarang, sepertinya kalian sangat akrab. Nona Alana juga nampak ramah."


Erlan tersenyum. "Semua orang kan bisa berubah. Alana memang menyebalkan dan sangat tidak rasional, namun sekarang dia sudah menjadi pribadi yang lebih baik. Dia ramah, dia baik dan yang terpenting tidak sombong dan arogan lagi."


Bianca menganggukkan kepalanya. "Itu bagus."


Namun ketika dia menunduk, senyumnya hilang.

__ADS_1



__ADS_2