My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 142: Scheme


__ADS_3

Satu minggu kemudian


Sepasang mata itu menatap lurus kedepan. Televisi telah menyiarkan berita mengenai sebuah kasus besar yang membuat publik geram dan merasa begitu tertipu. Luapan emosi dan kegeraman masyarakat membuat beberapa golongan melakukan aksi protes yang berujung penertiban. Kendati demikian, ketika seseorang itu digiring keluar dari mobil menuju penjara, masyarakat dan keluarga korban segera menghujaninya dengan lontaran kata-kata kasar dan kejam, namun tidak bisa menutupi duka yang mereka rasakan.


"Pembunuh!"


"Dasar pembunuh! Hama menjijikkan seperti kalian pantas mendapatkan hukuman mati!"


"Kembalikan anakku! Kembalikan anakku yang telah kau bunuh!"


"Dasar sampah!"


Arana tidak bisa menahan untuk tidak menghela napas dengan berat, menurunkan tatapannya dan menatap ponselnya dengan tatapan kosong selama beberapa detik. Ia menoleh memandang Alva yang duduk disebelahnya, turut memandangnya dengan sepasang manik hitam yang selalu bisa menarik Arana dalam afeksi perhatian.


"Kamu pasti terkejut, sayang." Ungkap Alva.


Arana menganggukkan kepalanya. "Iya, aku hanya sedikit terkejut dan tidak menyangka."


"Manusia itu adalah gambaran dari ketidakpastian, sayang. Kita tidak bisa menilai seseorang dari penampilannya saja."


Arana menatap Alva selama beberapa waktu sebelum dengan tenang menganggukkan kepalanya. "Aku mengerti, Al."


"Kalau begitu, istirahatlah, sayang. Aku akan keruang kerjaku sebentar untuk mengurus beberapa dokumen untuk rapat besok di kantor."


Mendengar ucapan Alva, Arana mengangguk. Memberikan pelukan kepada Alva sebelum dia berbaring ditempat tidur. "Jangan tidur terlalu malam, Al."


"Baik sayang." Alva mengecup kening Arana dan berkata, "Mimpi indah, sayangku."


Arana bergumam, memandang Alva yang berjalan keluar dari kamarnya sebelum memejamkan mata dan berusaha untuk tidur. Alva yang melihat Arana sudah memejamkan mata perlahan menutup pintu dan melangkah menuju ruang kerjanya. Ia menutup pintu ruang dimana dia menghabiskan banyak waktu untuk berpikir sebelum dia meraih ponselnya.


[Aku sudah melihat beritanya di internet. Kerja bagus, nak!]


"Aku berterimakasih pada bibi. Berkat bantuan bibi, kami juga bisa mengetahui bahwa dia adalah adalah pelaku pembunuhan bartender yang mencampur minuman Arana."


Flashback

__ADS_1


Dua hari yang lalu


Cella tengah duduk dibangku taman dirumahnya dengan santai ketika sebuah mobil datang memasuki bangunan rumahnya. Ia menurunkan bingkai kacamatanya dan menatap mobil itu sebelum dengan tenang kembali membaca majalah bulanan ditangannya.


"Aku ada informasi penting."


Suara itu datang langsung begitu pintu mobil ditutup. Cella bertanya tanpa mengalihkan tatapannya dari majalah ditangannya. "Ada apa?"


"Anak buahku sudah menemukan lokasi bartender itu."


"Dimana dia? Apa dia masih hidup?"


"Tidak, dia sudah mati. Dia ditemukan di dalam koper didalam perbatasan kota. Kondisinya sudah sangat parah sampai tidak bisa dikenali, namun masih ada sisa bukti disana. Termasuk rekaman CCTV mobil yang membawa koper itu keperbatasan. Meski jalanan gelap, namun masih ada beberapa bukti. Anak buahku sudah mengirim pesan secara anonim ke polisi disana, dan tinggal menunggu rencana Alva selanjutnya." Ucap Alard yang duduk disebelah Cella, yang dibatasi oleh meja bundar berisikan minuman dingin dan beberapa makanan ringan kesukaan Cella.


Cella menganggukkan kepalanya dan menyeringai geli. "Mengerikan sekali. Wanita itu begitu kuat sampai bisa membunuh seorang pria. Obsesi membuatnya begitu menyeramkan, ya~"


"Jika dia mencari masalah dengan orang lain, aku tidak akan peduli. Namun, dia berani menaruh tangannya pada Nana, dan aku tidak akan bisa membiarkan hal itu terjadi."


Alard mengunyah kue kering dimulutnya, bersandar pada bangku dan menyilangkan kakinya ketika dia bergumam, "Kau sangat menjaga anak itu, ya."


"Ya, hanya saja, kau memang begitu memanjakannya. Kau bahkan tidak memperlakukan Arse seperti ini."


"Arse kan anak laki-laki." Ungkap Cella, "Begitu dia lulus, dia akan meneruskan bisnis-mu. Tentu saja aku tidak boleh memanjakannya."


"Itu bagus." Gumam Alard.


"Ngomong-ngomong, dimana Jake?" Tanya Alard.


Cella menunjuk kedalam rumahnya. Melihatnya, Alard bangkit berdiri dan melangkah menuju rumah ketika Cella berkata sembari memincing menatapnya. "Jangan macam-macam dengan suamiku, mengerti?"


Alard hanya mengedikkan bahunya acuh dan menyeringai. "Mungkin aku hanya akan menyentuhnya sedikit."


Setelahnya, Alard meninggalkan Cella yang tergelak diluar. "Alard sialan!"


Ia mendengus dan meraih ponselnya sebelum mengirim pesan kepada Alva tentang apa yang diberitahukan Alard kepadanya. Diseberang sana, Alva menerimanya dengan segera. Sepasang manik hitamnya memandang rentetan kata yang dikirimkan oleh Cella ketika dia dengan serius memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.

__ADS_1


Namun kemudian, keesokan harinya tersebar kabar burung bahwa Alana masuk kerumah sakit karena jatuh, dan harus mendapatkan perawatan intensif dirumah sakit. Hanya beberapa orang yang boleh berkunjung, dan kondisinya benar-benar lemah.


"Dia akan baik-baik saja, kan?" Tanya Alva pada Angga.


Angga menganggukkan kepalanya. "Aku jamin dia akan baik-baik saja."


...***...


Ada keheningan malam yang dingin. Beberapa perawat terlihat berkeliling sebelum kembali menghilang dibalik tembok rumah sakit. Di jam-jam itu, semua pasien telah tertidur. Perawat memang hanya berkeliling untuk mengecek pasien sebelum kembali beristirahat di ruang perawat.


Bayangan itu bergerak. Suara langkah kakinya teredam oleh sepatu dengan bawahan busa. Langkahnya membawanya menuju sebuah ruangan. Pintu bercat putih dengan kaca yang ada dibagian tengah, untuk melihat keadaan didalam. Wanita itu memastikan nomor ruangan dan dengan tenang membuka pintu, dan perlahan menutupnya.


Ia melangkah menuju bagian bawah tempat tidur dan menatap nama yang tertempel disana.


Alana.


Ia berdiri disamping tempat tidur dan memandang sosok yang tengah berbaring membelakanginya. Helaian surai coklat sebahu itu masuk kepandangannya. Sepasang maniknya menyipit penuh kebencian sebelum ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah suntikan dengan cairan berwarna putih ada ditangannya. Ia melirik selang infus dan kemudian dengan cepat menyuntikkan cairan itu kedalam kantung infus dan membuka katup infus agar cairan lebih cepat mengalir.


Bibirnya yang terpalis lipstik dengan perlahan tersungging. "Menderitalah, Alana."


Ketika dia hendak berbalik, cahaya terang menyala dari ruangan itu. Lampu yang menyala membuatnya melebarkan mata, terlebih ketika melihat sosok dua orang yang berdiri didepan pintu. Dari belakangnya, suara kekehan terdengar.


"Dia benar-benar muncul."


Sosok itu menoleh dan menatap sosok Flora yang tengah melepas wig yang digunakannya dengan sepasang mata melebar. Ia segera menundukkan kepalanya dan menyembunyikan wajahnya dibalik tudung jaket yang dikenakannya.


Langkah Alva menatap sosok itu. Sepasang manik hitamnya menyorot wanita itu dengan tatapan kejam dan berbahaya yang bahkan membuat Flora yang duduk diranjang merasakan perasaan sedikit bergidik karena ngeri.


"Jadi kau orangnya."


Tangan wanita itu sedikit gemetar, sebelum dengan lemah jatuh dan ia mendongak dan menyeringai. "Aku ketahuan."


Dibelakangnya, manik Erlan sedikit melebar. Benar-benar tidak menduga siapa yang saat ini ada dihadapannya, seseorang yang mencoba membunuh Alana dan menyebabkan ketegangan yang ada selama ini.


__ADS_1


__ADS_2